Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.
Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.
Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Lift yang membawa Hani dan Reza ke lantai dasar terasa bergerak begitu lambat, berbanding terbalik dengan detak jantung Hani yang berpacu menggila. Kabar dari rumah sakit meremukkan seluruh pertahanan diri yang baru saja ia susun.
Pria yang baru saja menjadi topik perdebatan panas di ruang direksi, pria yang ia klaim tidak peduli lagi padanya kini terbujur kritis di ruang instalasi gawat darurat dengan selembar foto dirinya sebagai satu-satunya petunjuk identitas.
Begitu pintu lift terbuka, Hani melangkah keluar dengan tubuh yang limbung. Langkah kakinya goyah, pandangannya mengabur tertutup kabut air mata yang mendadak tumpah tanpa bisa dibendung.
"Hani, pakai mobilku. Aku yang setir," ujar Reza sigap. Tanpa menunggu persetujuan, Reza menuntun Hani menuju basemen, membukakan pintu penumpang depan untuk wanita itu, lalu memutari mobil sport hitamnya dengan cepat.
Sepanjang perjalanan menembus kemacetan ibu kota, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil. Hanya terdengar suara helaan napas Hani yang patah-patah menahan tangis. Kedua tangan wanita itu saling bertaut di atas pangkuan, mencengkeram tas tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya memutih.
Reza sesekali melirik Hani dengan tatapan penuh kecemasan. Ia mengulurkan tangan kanan, berniat menggenggam tangan Hani untuk menyalurkan kekuatan, namun ia mengurungkan niatnya.
Ia tahu, dalam kondisi sedingin ini, Hani masih memiliki jarak yang membentang di antara mereka. Reza hanya bisa menginjak pedal gas lebih dalam, membelah jalanan sesegera mungkin.
Begitu mobil berhenti di lobi Rumah Sakit Pusat Jakarta, Hani langsung membuka pintu sebelum mobil benar-benar berhenti sempurna. Ia berlari panik menyusuri lorong beraroma obat yang menyengat, mencari papan penunjuk arah ruang IGD. Di belakangnya, Reza setengah berlari menyusul, memastikan wanita itu tidak terjatuh atau salah arah.
"Suster, pasien tabrak lari yang... yang membawa foto saya..." Hani terbata-bata di depan meja administrasi IGD, suaranya habis digerus kepanikan.
Seorang perawat paruh baya menatap Hani dengan pandangan yang seketika berubah sendu. "Saudari Hani Adisa Putri?"
Hani mengangguk cepat, setitik harapan tipis membubung di dadanya. "Iya, saya Hani. Di mana ayah saya, Sus? Bagaimana keadaannya?"
Perawat itu menghela napas berat, lalu keluar dari balik meja administrasi dan menyentuh lengan Hani dengan lembut. "Mari ikut saya, Mbak Hani."
Firasat buruk langsung menghantam dada Hani saat perawat itu menuntunnya melewati tirai-tirai IGD, berlanjut menuju sebuah lorong yang lebih sepi dan dingin di bagian belakang rumah sakit. Langkah kaki Hani terasa seberat timah. Pintu ruangan di ujung lorong itu bertuliskan Kamar Jenazah.
"Maafkan kami, Mbak Hani. Tim dokter sudah melakukan segala upaya terbaik," ucap perawat itu lirih saat mereka berdiri di dalam ruangan yang sunyi. "Benturan di kepalanya terlalu parah akibat kecelakaan tabrak lari itu. Pasien dinyatakan meninggal dunia lima menit sebelum Mbak tiba di sini."
Dunia Hani runtuh seketika. Lututnya lemas, membuat tubuhnya merosot ke atas lantai ubin yang dingin jika saja sebuah lengan kokoh tidak dengan cepat menahan pinggangnya. Reza menangkap tubuh Hani yang kehilangan seluruh kekuatannya.
Dengan tangan gemetar, Hani mendekati ranjang besi di tengah ruangan. Perawat perlahan membuka kain putih yang menutupi wajah jenazah tersebut.
Wajah itu tampak jauh lebih tua dari ingatan terakhir Hani saat SMA. Guratan-guratan halus dan rambut yang mulai memutih menghiasi sosok pria yang pernah menjadi pahlawan masa kecilnya sebelum badai perceraian memisahkan mereka.
Di atas meja kecil di samping ranjang, terletak barang-barang peninggalan korban yaitu sebuah dompet usang yang robek, dan selembar foto masa SMA Hani yang sudah kusam, dipenuhi noda darah kering di sudut-sudutnya.
Ayahnya telah pergi. Pergi untuk selamanya tanpa sempat mendengar kata rindu dari bibir Hani, tanpa sempat menjelaskan mengapa dia menghilang, dan tanpa sempat melihat bahwa putri kecilnya kini telah tumbuh menjadi wanita yang begitu luar biasa.
"Ayah..." Suara Hani pecah. Tangisnya yang sejak tadi tertahan kini meledak memenuhi ruangan dingin tersebut. Ia memeluk tubuh kaku ayahnya, meratapi kepedihan dan penyesalan yang terlambat.
Mengapa ego dan amarah harus menguasai hatinya saat berbicara di depan Narendra tadi? Mengapa ia harus mengatakan tidak peduli, jika pada kenyataannya, melihat ayahnya terbujur kaku seperti ini membuat jiwanya serasa ikut mati?
Reza berdiri satu langkah di belakang Hani, membiarkan wanita itu menumpahkan seluruh kesedihannya. Air mata Reza sendiri ikut menetes melihat pemandangan memilukan di depannya.
Hati pria itu tersayat mendengar setiap rintihan pilu yang keluar dari mulut Hani. Di dalam hatinya, Reza berjanji, ia tidak akan meninggalkan Hani sendirian menghadapi badai ini.
...****************...
Proses administrasi rumah sakit yang rumit dan membingungkan diselesaikan oleh Reza dalam waktu singkat. Pria itu mengurus semua biaya, ambulans, hingga koordinasi dengan pihak TPU setempat agar jenazah ayah Hani bisa segera dibawa pulang dan dimakamkan dengan layak.
Hani yang sudah terlalu rapuh hanya bisa duduk diam di sudut ruangan dengan pandangan kosong, memeluk foto masa SMA-nya yang telah dibersihkan dari noda darah.
Sore harinya, langit ibu kota tampak mendung, seolah ikut berduka mengiringi prosesi pemakaman. Ambulans tiba di area pemakaman yang mulai basah oleh rintik gerimis tipis.
Hani melangkah di bawah payung hitam yang dipegang oleh Reza di sampingnya. Tubuh wanita itu tampak begitu ringkih, wajahnya pucat tanpa rona, dan matanya bengkak akibat menangis tanpa henti selama berjam-jam.
Beberapa kerabat jauh yang sempat dihubungi Reza tampak hadir, namun Hani tidak memedulikan sekitar. Fokusnya terkunci pada tanah merah yang perlahan menimbun peti jenazah ayahnya.
Buk. Buk. Buk.
Suara tanah yang dihantam sekop terdengar begitu menyiksa di telinga Hani. Setiap timbunan tanah seolah mempertegas kenyataan bahwa kini ia benar-benar sebatang kara di dunia ini. Ibunya telah tiada, dan sekarang ayahnya pun pergi menyusul, meninggalkan dirinya dalam kesendirian yang pekat.
Setelah gundukan tanah merah itu selesai dibentuk dan ditaburi bunga mawar serta melati, satu per satu pelayat mulai pamit beranjak pergi karena gerimis yang turun semakin deras. Hingga akhirnya, area pemakaman itu kembali sunyi. Hanya menyisakan Hani dan Reza yang masih berdiri di depan nisan kayu yang masih basah.
Hani perlahan berlutut di atas tanah yang becek. Ia menyentuh nisan kayu bertuliskan nama ayahnya, membiarkan tetesan air hujan menyatu dengan air matanya yang kembali mengalir deras.
"Ayah... maafkan Hani," bisik Hani lirih, suaranya parau dan bergetar hebat karena kedinginan dan duka. "Maaf karena Hani pernah membenci Ayah... maaf karena Hani terlambat..."
Bahunya terguncang hebat. Isak tangis Hani terdengar begitu menyayat hati di tengah rintik hujan yang semakin lebat. Rasa bersalah karena telah mengucapkan kalimat-kalimat kasar tentang ayahnya di kantor tadi pagi terus merongrong pikirannya, menciptakan penyesalan terdalam yang tidak akan pernah bisa ia perbaiki seumur hidup.
Reza yang sejak tadi berdiri setia memayunginya, tidak sanggup lagi melihat kerapuhan Hani. Egonya, rasa bersalah masa lalunya, dan seluruh perasaan mendalam yang ia miliki untuk wanita ini melebur menjadi satu.
Reza menjatuhkan payung hitam di genggamannya ke atas tanah, membiarkan tubuhnya sendiri ikut basah kuyup oleh guyuran air hujan. Pria itu kemudian berlutut di samping Hani, mengulurkan kedua lengannya yang kokoh, dan menarik tubuh ringkih Hani ke dalam dekapannya.
Reza memeluk Hani dengan sangat erat, menyembunyikan wajah wanita itu di dada bidangnya.
Hani sempat tersentak, tangannya sempat bergerak hendak mendorong dada Reza untuk menjauh. Namun, kehangatan dari pelukan Reza di tengah dinginnya air hujan dan badai duka, meruntuhkan sisa-sisa pertahanannya.
Kelelahan fisik dan mental yang luar biasa membuat Hani menyerah. Ia mencengkeram kemeja basah Reza dengan kedua tangan kecilnya, menenggelamkan wajahnya di sana, dan menangis sejadi-jadinya.
"Menangislah, Hani... tumpahkan semuanya," bisik Reza lembut, mendekap kepala Hani dengan satu tangannya, membiarkan air mata wanita itu membasahi kemejanya. "Kamu tidak sendirian lagi. Aku di sini. Aku berjanji, aku akan selalu di sini untukmu."
Di bawah langit yang semakin menggelap dan guyuran hujan yang kian deras di area pemakaman, sikap dingin Hani seolah mulai terkikis oleh ketulusan pelukan Reza. Namun, di tengah momen emosional itu, sebuah bayangan hitam dari balik pohon besar di sudut pemakaman tampak mengawasi mereka dengan tatapan tajam.
Pria misterius yang mengenakan jaket bertudung hitam itu memegang sebuah kamera lensa panjang, mengambil beberapa foto kedekatan Reza dan Hani di atas makam tersebut, sebelum akhirnya berbalik pergi menembus hujan dengan senyuman penuh arti.