Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.
Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan
Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENGATAN BALIK SANG PANGERAN
Sengatan balik dari seorang Alvaro Pramudya datang jauh lebih cepat dan lebih taktis dari yang sempat diperkirakan oleh Devan.
Sore itu, jarum jam dinding besar di selasar sekolah telah menunjukkan pukul lima sore lewat lima belas menit. Kompleks SMA Nusantara Jaya sudah sangat sepi, menyisakan keheningan yang janggal. Kayla terpaksa pulang terlambat karena harus membersihkan sisa-sisa kekacauan di kelasnya; beberapa murid sengaja menyembunyikan tas ranselnya di dalam gudang olahraga belakang. Ketika ia akhirnya berjalan keluar dengan langkah lelah menuju area parkir motor luar, langkah kakinya mendadak terhenti.
Sepeda motor bebek tua kesayangannya tidak berada di tempat semula.
Kayla panik. Motor itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan urat nadi usaha laundry keluarganya. Tanpa motor itu, ayahnya yang sakit-sakitan tidak akan bisa mengantarkan pakaian bersih kepada para pelanggan tetap mereka.
"Mencari barang rongsokan ini, Rumput Liar?"
Sebuah suara bariton yang sangat familiar terdengar memecah kesunyian dari arah lapangan basket terbuka yang terletak persis di samping area parkir utama.
Kayla menoleh cepat. Di tengah-tengah lapangan basket, sepeda motor bebek tuanya terparkir dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Kedua bannya telah dikempiskan total hingga peleknya menyentuh lantai semen, dan kedua kaca spionnya pecah berantakan menjadi serpihan kecil. Di samping motor tersebut, Alvaro Pramudya berdiri tegak sambil memantul-mantulkan sebuah bola basket di tangan kanannya. Ia tidak lagi memakai blazer sekolahnya, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung kasar hingga ke siku, memberikan kesan pemberontak yang kasual namun sangat berbahaya.
Di tribun lapangan, empat orang pengawal pribadi berbadan tegap dan berpakaian hitam-hitam berdiri bersedekap, memastikan tidak akan ada siapa pun yang berani mengganggu "waktu bermain" tuan muda mereka.
"Alvaro! Apa yang kamu lakukan pada motorku?!" jerit Kayla, berlari memasuki lapangan basket dengan amarah yang kembali menyala membakar dadanya.
Alvaro melempar bola basket di tangannya ke udara, lalu menangkapnya kembali dengan sangat santai. Senyum iblisnya yang angkuh kembali menghiasi wajah tampannya. "Hanya memberikan sedikit modifikasi yang cocok untuk pemiliknya. Motor sampah ini benar-benar merusak pemandangan estetik di sekolahku."
"Ini motor untuk mencari nafkah keluargaku, tahu!" Kayla berdiri satu meter di depan Alvaro, napasnya memburu cepat karena marah yang memuncak. "Kamu benar-benar keterlaluan! Kalau kamu punya masalah denganku, selesaikan denganku! Jangan merusak barang milik orang tuaku!"
"Oh, jadi sekarang kamu akhirnya tahu cara merasa tidak berdaya?" Alvaro melangkah maju, mengintimidasi Kayla dengan tinggi badannya yang dominan. Ia membungkuk sedikit, menatap lurus ke dalam mata Kayla yang mulai berkaca-kaca karena menahan tangis marah. "Rasa sakit di dadaku akibat tendanganmu tadi siang belum hilang, Kayla Shaqueena. Dan harga diriku tidak bisa dibeli dengan harga sebuah motor bekas yang tidak ada harganya ini."
Kayla mengepalkan tinjunya, bersiap untuk melayangkan pukulan mentah. Namun sebelum tangannya sempat bergerak, Alvaro dengan kecepatan refleks yang luar biasa menangkap kedua pergelangan tangan Kayla dengan satu tangan besarnya, menguncinya dengan sangat kuat hingga Kayla tidak bisa bergerak sedikit pun.
"Lepaskan aku! Sakit, Alvaro!" rintih Kayla, mencoba memberontak namun cengkeraman tangan Alvaro terasa seperti borgol besi yang dingin.
"Dengar baik-baik, Anak Laundry," desis Alvaro, suaranya rendah, berat, dan penuh ancaman mutlak. "Aku bisa menghancurkan toko laundry keluargamu hanya dengan satu kali panggilan telepon ke dinas tata kota. Aku bisa membuat ayahmu yang sakit-sakitan itu diusir dari rumah sakit tempat dia berobat karena semua sahamnya milik keluargaku. Aku punya kuasa penuh untuk menghapus eksistensi keluargamu dari kota ini dalam waktu semalam."
Kata-kata Alvaro bagaikan air es yang disiramkan langsung ke kepala Kayla. Seluruh keberaniannya mendadak lumpuh total. Kenyataan pahit menghantam kesadarannya: di hadapan kekuasaan absolut Pratama Group, ia dan keluarganya hanyalah semut kecil yang bisa diinjak kapan saja. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi pipinya yang kemerahan.
Melihat Kayla menangis, entah mengapa ada sesuatu yang berdesir aneh di dalam dada Alvaro. Ada rasa puas, namun di saat yang sama, ada rasa tidak nyaman yang menusuk hatinya melihat air mata gadis itu. Namun, ego sang tuan muda menolak untuk mengalah begitu saja.
"Jika kamu ingin aku memaafkanmu, dan jika kamu ingin keluargamu tetap aman..." Alvaro menurunkan wajahnya, berbisik tepat di telinga Kayla, "Berlututlah sekarang di depanku. Minta maaf dan katakan bahwa kamu hanyalah sampah yang tidak berguna di hadapanku. Lakukan, dan aku akan mengembalikan motormu dalam kondisi baru besok pagi."
Kayla mematung. Air matanya terus mengalir deras. Pilihannya sangat kejam: mempertahankan harga dirinya namun menghancurkan masa depan orang tuanya, atau mengorbankan harga dirinya demi keselamatan keluarganya.
Perlahan, lutut Kayla mulai bergetar hebat. Ia mulai menurunkan tubuhnya secara perlahan ke arah lantai semen yang kasar. Alvaro menatapnya dengan pandangan kemenangan yang mutlak. Akhirnya, kamu tunduk juga pada kekuasaanku, Rumput Liar, pikir Alvaro dalam hati.
Namun, tepat sebelum lutut Kayla menyentuh lantai lapangan basket, sebuah suara raungan mesin motor sport yang menderu kencang memutus ketegangan ekstrem di lapangan tersebut.
VROOOOM!!!
Sebuah motor Ducati hitam pekat melesat masuk ke dalam area lapangan basket melalui gerbang samping, melakukan manuver drift yang sangat tajam hingga menciptakan decitan ban yang memekakkan telinga tepat di antara Alvaro dan Kayla. Debu-debu lapangan beterbangan ke udara.
Cengkeraman Alvaro pada tangan Kayla terlepas seketika karena terkejut. Alvaro mundur beberapa langkah, menatap tajam ke arah pengendara motor sport tersebut yang masih mengenakan helm full-face hitam pekat.
Pengendara itu mematikan mesin motornya, menurunkan standar besi, lalu perlahan membuka helmnya. Rambut kecokelatannya yang sedikit berantakan terkuak ditiup angin sore.
Devan Narendra.
"Devan?!" Alvaro terbelalak kaget, rahangnya mengeras. "Apa yang kamu lakukan di sini? Jangan mencampuri urusan pribadiku!"
Devan tidak menghiraukan ucapan Alvaro sedikit pun. Ia turun dari motornya, berjalan mendekati Kayla yang masih terduduk lemas di lantai sambil menangis sesenggukan. Tanpa ragu, Devan mengulurkan tangannya yang hangat, membantu Kayla bangkit berdiri, lalu menarik gadis itu ke belakang punggung tegapnya—melindunginya sepenuhnya dari tatapan intimidasi Alvaro.
"Permainanmu sudah kelewat batas, Alvaro," kata Devan dengan suara yang tenang namun memiliki ketegasan yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun. Matanya yang biasanya teduh kini menatap Alvaro dengan pandangan yang sangat serius.
"Kelewat batas?" Alvaro tertawa sinis, langkahnya maju mendekati Devan dengan emosi yang kembali tersulut. "Dia menendangku, Devan! Dia mempermalukanku di depan seluruh sekolah! Dan kamu sekarang membelanya? Sejak kapan seorang Devan Narendra peduli pada urusan orang miskin?"
"Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya mengingatkanmu pada aturan E4 yang kita buat bersama sejak awal masuk sekolah ini," balas Devan, suaranya tetap stabil tanpa getaran emosi. "Kita tidak pernah melibatkan keluarga atau merusak mata pencaharian orang lain dalam permainan kartu merah. Jika ibumu atau pihak media tahu kamu menggunakan kekuasaan korporasi untuk menindas anak beasiswa yayasan, citra Pratama Group akan hancur di bursa saham. Kamu ingin mengecewakan Nyonya Diana lagi?"
Nama "Ibu" tampaknya menjadi tombol darurat yang paling mematikan bagi Alvaro. Mendengar nama itu disebut, tubuh Alvaro seketika menegang kaku. Amarah di wajahnya mendadak surut, digantikan oleh ekspresi frustrasi yang tertahan dalam. Ibunya, Nyonya Diana Pratama, adalah satu-satunya orang di dunia ini yang paling ia takuti sekaligus hormati.
Alvaro mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga urat tangannya menonjol, menatap Devan dan Kayla bergantian dengan napas yang gusar. "Kamu... berani mengancamku menggunakan nama ibuku, Devan?"
"Aku tidak mengancam. Aku hanya mengingatkan seorang sahabat," sahut Devan tenang. Ia menoleh ke belakang, menatap Kayla yang masih menghapus sisa air matanya. "Ayo pergi, Kayla. Aku akan mengantarmu pulang."
"Tapi... motorku..." bisik Kayla dengan suara serak, menunjuk motor bebeknya yang rusak parah.
Devan melirik ke arah empat pengawal pribadi Alvaro yang berdiri di pinggir lapangan. "Kalian. Angkut motor ini ke bengkel resmi terbaik sekarang juga. Perbaiki semua kerusakannya, ganti dengan suku cadang baru, dan antarkan ke alamat rumah Kayla besok pagi dalam kondisi sempurna. Mengerti?"
Para pengawal itu saling pandang dengan ragu, lalu menoleh ke arah Alvaro untuk meminta persetujuan akhir. Alvaro yang masih diliputi rasa frustrasi yang mendalam hanya membuang muka dan memberikan lambaian tangan tanda setuju secara malas.
"Bawa dia pergi dari hadapanku sekarang juga, sebelum aku benar-benar kehilangan kendali," desis Alvaro dingin, berbalik memunggungi mereka berdua.
Devan menarik tangan Kayla dengan lembut, menuntunnya untuk naik ke jok belakang motor Ducati-nya. Kayla yang masih syok dan lemas akibat tekanan mental hanya bisa pasrah menuruti perintah Devan. Ia naik ke atas motor besar itu, berpegangan erat pada jaket rajut tebal milik Devan saat motor sport tersebut mulai melaju kencang meninggalkan kompleks sekolah Nusantara Jaya.
Alvaro tetap berdiri sendirian di tengah lapangan basket yang kini kembali sepi seiring matahari yang mulai tenggelam. Angin sore berembus kencang, menerbangkan rambut ikalnya yang berantakan. Ia menatap kepergian motor Devan dengan perasaan campur aduk yang sangat mengganggu ketenangan pikirannya. Ada amarah karena rencananya digagalkan, ada rasa dikhianati karena sahabatnya sendiri membela musuhnya, namun di atas semua itu... ada rasa cemburu yang teramat sangat yang mencubit hatinya melihat Kayla pergi bersama Devan.
"Kenapa harus Devan?" gumam Alvaro pada dirinya sendiri, jemarinya mencengkeram bola basket di tangannya begitu kuat hingga kukunya memutih. "Kenapa kamu menatap Devan dengan pandangan penuh rasa syukur seperti itu, sedangkan kepadaku kamu hanya memberikan tatapan kebencian yang mendalam?"
Motor Ducati Devan membelah jalanan Jakarta yang mulai dipadati oleh gelombang kendaraan jam pulang kantor. Di atas motor, Kayla hanya terdiam membisu, membiarkan angin sore menerpa wajahnya dan mengeringkan sisa-sisa air mata di pipinya. Aroma maskulin yang lembut dan menenangkan dari tubuh Devan entah bagaimana memberikan sebuah rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya selama hidup di kota yang keras ini.
Setengah jam kemudian, motor sport besar itu berhenti tepat di depan ruko laundry milik keluarga Kayla. Kehadiran motor mewah seharga ratusan juta rupiah itu tentu saja langsung menarik perhatian beberapa tetangga sekitar yang sedang nongkrong di warung sebelah ruko.
Kayla turun dari jok motor secara perlahan, membenarkan posisi rok sekolahnya. "Terima kasih banyak... Devan. Kamu sudah menyelamatkanku dua kali hari ini dari amukan Alvaro."
Devan membuka kaca helm hitamnya, menatap wajah Kayla dengan tatapan mata yang sangat lembut. "Jangan terlalu dipikirkan. Alvaro hanya sedang bersikap kekanak-kanakan karena egonya terluka. Dia tidak akan pernah berani menyentuh keluargamu setelah peringatan yang kuberikan tadi."
"Kenapa kamu melakukan ini semua untukku?" tanya Kayla, memberanikan diri menatap lurus ke dalam manik mata teduh milik Devan. "Kamu adalah bagian dari E4. Kamu seharusnya berada di pihak Alvaro dan mendukung apa pun tindakannya."
Devan tersenyum tipis—sebuah senyuman menawan yang selalu berhasil membuat jantung Kayla berdegup tidak karuan tanpa alasan yang jelas. "Mungkin karena aku sudah terlalu bosan melihat semua orang di sekolah itu selalu menunjukkan wajah kepatuhan yang sama. Kamu berbeda, Kayla. Kamu seperti rumput liar yang tumbuh di tempat yang salah, penuh dengan duri, tapi menolak untuk mati diinjak keadaan."
Devan menyalakan kembali mesin motor Ducati-nya yang menderu halus. "Masuklah ke dalam ruko dan istirahatlah yang cukup. Sampai jumpa besok pagi di sekolah."
Kayla berdiri mematung di depan rukonya, menatap kepergian Devan hingga bayangan motor sport hitam itu benar-benar menghilang di ujung tikungan jalan raya. Di dalam dadanya, sebuah perasaan baru yang asing mulai tumbuh dan mekar perlahan. Perasaan kagum, nyaman, dan ketertarikan yang mendalam kepada sang pangeran penyelamat, Devan Narendra.
Namun, Kayla sama sekali tidak mengetahui bahwa di sudut jalan seberang ruko miliknya, sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca film yang sangat gelap sedang terparkir secara misterius di bawah bayangan pohon. Di dalam mobil itu, Alvaro Pramudya duduk di kursi belakang dengan rahang yang mengeras penuh kecemburuan, menyaksikan seluruh interaksi manis antara Kayla dan Devan sejak awal.
"Permainan ini belum selesai, Kayla Shaqueena," bisik Alvaro di dalam keheningan mobilnya, matanya berkilat tajam memancarkan obsesi baru yang berbahaya. "Jika Devan ingin menjadi pahlawan pelindungmu, maka aku akan menjadi penjahat yang akan memaksamu untuk hanya melihat ke arahku saja."
Bersambung