“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”
Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.
Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.
Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.
Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.
Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2
Tepat pukul delapan malam, satu per satu para tamu undangan mulai berpamitan pulang karena hari semakin larut. Kini, hanya tersisa Ningsih, Luna, dan tumpukan kado di ruang tamu. Lilin berangka 6 di atas kue istana cokelat itu masih berdiri tegak, belum sempat disulut api. Luna terus-menerus menolak untuk memulai prosesi tiup lilin.
“Ayo, Sayang,” bujuk Ningsih dengan suara yang teramat lembut, mencoba menyembunyikan rasa sesak di dadanya. “Kita tiup lilinnya sekarang, yuk? Keburu malam, nanti anak Mama ngantuk.”
Luna menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Luna mau nunggu papa!”
“Nanti kalau papa datang, kita bisa pasang lilinnya lagi dan tiup lagi sama papa, oke?”
“Enggak mau! Pokoknya Luna mau tiup lilinnya bareng papa sekarang!” Air mata mulai menggenang di pelupuk mata bocah itu, membuat matanya yang bulat tampak berkilau menyedihkan. “Papa udah janji kelingking sama Luna tadi pagi, Ma... Papa janji...”
Kalimat sederhana yang keluar dari bibir mungil putrinya seketika membuat dada Ningsih serasa dihantam godam besar.
Sakit sekali.
“Papa pasti datang...” Ningsih mencoba menghibur.
“Papa bohong ya, Ma?”
“Sayang, jangan bilang begitu. Papa sedang bekerja.”
“Tapi papa belum datang! Papa bohong!” bibir mungil Luna bergetar hebat. Rasa kecewa yang dipendamnya sejak sore akhirnya pecah. “Papa nggak sayang lagi sama Luna!”
Deg!
Jantung Ningsih bagai diremas dengan kejam hingga ia kesulitan bernapas. “Sayang, jangan pernah ngomong begitu. Papa sayang banget sama Luna.”
“Kalau papa sayang, kenapa papa nggak datang ke pesta Luna? Kenapa papa biarkan Luna nunggu sendirian?” tangis Luna akhirnya pecah dengan histeris. Ia melempar boneka di tangannya dan memeluk erat leher Ningsih. “Mama... Luna mau papa... hiks... Luna mau papa pulang sekarang...”
Ningsih langsung mendekap erat tubuh putrinya ke dalam pelukannya. Air matanya sendiri sudah mengambang di pelupuk mata, namun ia mati-matian menahannya agar tidak tumpah di depan sang anak.
Ia harus kuat. Untuk Luna. Selalu untuk Luna.
“Papa sayang Luna. Papa pasti pulang...”
“Bohong! Papa bohong!”
“Tidak, Nak...”
“Papa ingkar janji...”
Suara tangisan memilukan dari gadis kecil itu menggema memenuhi ruang tamu yang sunyi, menciptakan atmosfer perih yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Termasuk Ningsih, yang kini pertahanannya mulai goyah.
Dengan tangan yang gemetar, Ningsih akhirnya meraih ponselnya di atas meja. Rasa sabar dan pengertian yang selama ini ia agungkan runtuh seketika digantikan kemarahan yang membuncah. Ia bertekad harus meminta penjelasan dari Hendra malam ini juga.
Ningsih menekan tombol panggilan.
Panggilan pertama, nada sambung berdering panjang, namun tidak diangkat.
Panggilan kedua, langsung ditolak secara sepihak.
Panggilan ketiga, masih tetap dialihkan dan tidak dijawab.
Ningsih mulai didera rasa gelisah yang teramat sangat. Sementara di pangkuannya, Luna masih terus sesenggukan, menyembunyikan wajahnya yang basah di dada ibunya.
“Mama... telepon papa lagi... Luna mau dengar suara papa...” ratap Luna di sela isak tangisnya.
“Iya, Sayang. Mama telepon lagi ya,” ucap Ningsih menenangkan.
Ningsih menekan nomor suaminya untuk yang kesekian kalinya. Kali ini, setelah beberapa detik nada sambung berbunyi, panggilan itu akhirnya terhubung. Ningsih seketika mengembuskan napas lega.
”Mas Hendra—”
Sialnya, kalimat yang sudah Ningsih susun mendadak terhenti di udara. Lidahnya mendadak kelu, karena suara yang terdengar dari seberang telepon sama sekali bukan suara Hendra. Melainkan suara seorang wanita.
“Halo? Siapa ya?” tanya wanita di seberang telepon.
Ningsih seketika membeku di tempat. Seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas. Selama beberapa detik, ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar.
“Maaf... ini benar ponselnya Mas Hendra, kan?” tanya Ningsih, mencoba menstabilkan suaranya.
Wanita di seberang telepon terdengar terkekeh kecil, suara tawa yang teramat renyah dan santai. “Iya, benar. Ini hape nya mas Hendra kok. Kenapa?”
“Bisa saya bicara dengan pemilik ponselnya?” tuntut Ningsih, cengkeraman tangannya pada bodi ponsel mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.
“Aduh, maaf ya, nggak bisa sekarang. Mas Hendra nya lagi mandi,” jawab wanita itu tanpa beban sedikit pun.
Deg!
Dunia di sekitar Ningsih seakan berhenti berputar seketika. Kepalanya berdenyut pusing, hantaman kenyataan itu terasa begitu menyakitkan.
Mandi? Malam-malam begini, di jam delapan lewat, suaminya berada di suatu tempat dan sedang mandi, sementara ada wanita lain yang memegang dan berhak mengangkat ponsel pribadinya?
“Halo? Ini siapa sih? Kok diam saja?” tanya wanita itu lagi dengan nada santai. Terlalu santai, seolah keberadaan si penelepon sama sekali tidak berharga dan tidak penting baginya.
Ningsih menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa anyir darah mulai tercecap, mencoba menahan air mata yang mendadak mendesak keluar dari pelupuk matanya.
“Saya istrinya.”
Hening merayap selama beberapa detik di seberang sana.
Bukannya merasa takut atau bersalah, wanita itu justru kembali mengeluarkan tawa kecil yang terdengar mengejek. Tawa yang seketika membuat seluruh darah di dalam tubuh Ningsih mendidih karena murka.
“Oh, istrinya toh. Soalnya nggak ada namanya,” ucap wanita itu. “Mau aku panggilkan mas Hendra nya sekarang? Bentar ya, aku ketuk pintu kamar mandinya dulu.”
Suara gesekan kain dan langkah kaki terdengar dari seberang telepon. Dan tepat di detik berikutnya, suara sayup-sayup seorang laki-laki yang sangat amat dikenalnya selama tujuh tahun terakhir ini terdengar jelas memanggil dari kejauhan.
“Siapa yang telepon, Sayang?” tanya Hendra dari seberang sana, suaranya terdengar begitu mesra, suara yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi Ningsih dengar di dalam rumah mereka.
Tubuh Ningsih kaku bak patung. Napasnya tercekat di tenggorokan, dadanya terasa begitu sesak seperti dihantam ribuan jarum tak kasat mata. Sementara di pangkuannya, Luna masih terus menangis sesenggukan memeluk boneka beruang hadiah ulang tahunnya yang malang.
Anak itu menangis, mengharapkan kehadiran seorang ayah yang bahkan tidak ingat sedikit pun pada janji kelingking yang ia ucapkan tadi pagi. Seorang ayah yang tega menukar malam bahagia putrinya demi bersenang-senang di atas ranjang wanita lain.
Air mata akhirnya runtuh membasahi pipi Ningsih, jatuh menetes mengenai kening Luna.
Ningsih menangis bukan karena ia lemah atau kalah. Tapi karena malam ini, tepat di hari ulang tahun anaknya yang keenam, ia baru menyadari satu kenyataan pahit. Suaminya tidak sedang sibuk bekerja demi masa depan keluarga. Suaminya sedang membagikan tubuh dan cintanya pada wanita lain di luar sana, sementara putri kandungnya menangis kelaparan akan kasih sayang di rumah.
“Jahat kamu, Mas! Tega kamu mengkhianatiku,” batin Ningsih nelangsa.
“H—halo, Ningsih? Maaf, tadi Arumi sekretarisku yang angkat. Ada apa?” tanya Hendra terdengar gelagapan karena keceplosan memanggil Arumi sayang.
“Sekretaris?” Ningsih tersenyum getir.
Sejak kapan panggilan atasan ke bawahan semesra itu?
ingat ya Luna sangat cerdas ,,
ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut