Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Apartemen empit itu terasa lebih mencekam. Nara masih memegang ponselnya ketika pesan kedua itu masuk.
Kami tahu kau bersama Han.
Tidak ada nama pengirim dan tidak ada nomor yang bisa dilacak. Hanya initial H yang ada. Satu kalimat pendek yang membuat tengkuk Nara meremang.
Arga berdiri dengan cepat menatap Nara.
“Jangan balas.”
“Aku emang ngga mau balas!” sahut Nara.
Han mengambil ponsel itu dari tangan Nara lalu memeriksa pesannya. Ekspresinya tetap tenang, tanpa ada emosi sedikitpun.
“Apa mereka bisa lacak kita lewat HP?” tanya Arga.
“Bisa.”
“Bagus banget. Malam ini bakal makin menyenangkan,” ujar Arga dengan nada sarkas.
Han mematikan ponsel itu lalu mengeluarkan simcardnya dan meletakkannya di meja.
“Mereka melacak sinyal nomernya,” sambil menyerahkan ponsel kembali pada Nara, “…bukan ponselnya, kecuali didalamnya ini sudah di taruh software pelacak.”
Nara terdiam, dan menggelengkan kepalanya, “ aku ngga pernah install yang aneh aneh.”
Han mengangguk mengerti, “aku tahu…tapi kita harus pindah sekarang.”
Arga mengangguk setuju, “Nah, akhirnya ada keputusan yang pintar.”
“Tunggu, pindah ke mana?” Tanya Nara bingung.
“Tempat lain.”
“Kamu selalu ngomong kayak NPC rusak ya?”
Han mengabaikan protes itu dan mulai mengambil beberapa barang penting dari dalam jaketnya.
Dompet tipis, sebuah pisau lipat kecil. Ponsel model lama dan sebuah kunci tanpa gantungan. Tidak banyak. Seolah hidupnya memang tidak pernah menetap cukup lama untuk memiliki barang-barang pribadi.
Arga membuka lemari kecil dekat dapur lalu mengambil tas ransel lusuh.
“Gue paling benci bagian ini,” gumamnya sambil memasukkan laptop dan beberapa kabel secara asal..
“Kamu ngga harus ikut,” kata Han.
Arga menatapnya datar,“…dan nunggu orang-orang misterius datang ke apartemen gue? Wah, ide lu emang brilian!” lanjut Arga kesal.
Han tidak menyahut lagi, karena Arga benar. Kalau Helios tahu lokasi ini, hanya tinggal tunggu waktu sebelum tempat ini dibersihkan.
Nara memandang kedua pria itu bergantian. Yang satu pembunuh bayaran dengan ekspresi emosional mirip tembok. Yang satunya lagi, pria berisik yang tampaknya sudah level stres permanen. Dan entah bagaimana, saat ini hidupnya bergantung pada mereka.
“Aku masih nggak percaya ini nyata,” gumamnya pelan.
Han mendengarnya.
“Biasanya memang begitu.”
“Apanya?”
“Dunia yang buruk jarang terlihat busuk dari luar.”
Kalimat itu membuat Nara terdiam. Disudut lain Arga mengangkat tas ranselnya ke pundak.
“Oke filsuf pembunuh, kita bisa lanjutin diskusi eksistensi kehidupan sambil jalan nggak?”
Han mengangguk lalu berjalan ke pintu lebih dulu. Sebelum membukanya, ia berhenti sebentar, mendengarkan. Nara memperhatikan perubahan itu. Fokus dan bahunya sedikit menegang.
“Kenapa?” bisiknya.
Han tidak menjawab tapi malah membuka pintu dengan pelan-pelan. Lorong apartemen kosong, lampu koridor yang tadi menyala kini sudah mati.
Arga langsung merinding.
“Ngga ..ngga…ngga… gue ngga suka ini.”
Han melangkah keluar diikuti oleh Nara, lalu Arga sambil menutup pintu apartemennya dengan cepat. Tangga darurat terasa gelap dan sedikit horor. Suara hujan samar-samar terdengar dari luar gedung.
Mereka turun tanpa bicara. Han paling depan dan matanya terus bergerak mengawasi tiap sudut. Nara menyadari sesuatu tentang Han. Pria itu tidak pernah terlihat bingung dalam menentukan arah. Seolah-olah otaknya sudah secara otomatis menghitung semua kemungkinan terburuk setiap saat. Mereka baru sampai lantai dua ketika ada suara langkah kaki yang terdengar dari bawah.
Semuanya langsung berhenti. Han memberi isyarat untuk diam.
Langkah itu naik pelan dan teratur. Bukan seperti penghuni yang mabuk atau orang terburu-buru. Tapi seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu.
Han bergerak cepat menarik Nara masuk ke sela lorong servis sempit di bawah tangga. Arga ikut masuk sambil menahan napasnya. Dari celah kecil, mereka melihat seorang pria menaiki tangga secara perlahan dari lantai bawah. Tubuhnya tegap dan tangan kanannya masuk ke dalam saku jaket hitamnya. Pria itu berhenti di depan pintu tangga lantai tiga. Diam sambil mengamati sekitar lLalu berbicara pelan lewat earphone kecil di telinganya.
“Belum ditemukan.”
Nara tegang, ia menatap Han yang tetap tidak bergerak. Tatapannya dingin dengan fokus penuh. Pria itu mulai melangkah naik lagi.
Satu langkah.
Dua langkah.
Dan semakin dekat.
Nara bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegub kencang. Sementara Arga terlihat pucat, diam sambil membekap mulutya sendiri.
Pria itu tiba di depan lorong servis tempat mereka bersembunyi. Ia berhenti, mengamati lorong gelap itu. Sunyi, tidak ada suara apapun. Han pelan pelan menggeser tangannya ke balik jaket. Nara diam sambil menutup mulutnya, menahan napas.
Lalu, tiba- tiba ada suara pintu apartemen yang terbuka dari lantai atas. Seorang ibu tua muncul sambil membawa kantong sampah.
“Mas? Cari siapa?”
Pria berjaket hitam itu langsung menoleh ke arah sumber suara.
Ini kesempatan. Han langsung bergerak tanpa suara. Ia keluar dari tempat persembunyian dan menghantam belakang leher pria itu dengan cepat dan presisi. Tubuh pria itu langsung roboh sebelum sempat bersuara.
Ibu tua di atas tangga menatap dengan bingung. Han dengan cepat mengangkat tubuh pria itu sedikit agar tidak terlihat jelas.
“Maaf bu, teman saya sedang mabuk,” katanya datar.
“…oh.”
Ibu itu menatap mereka selama beberapa detik, lalu masuk kembali ke apartemennya.
Arga melongo. “Serius? Itu berhasil?”
Han hanya diam, tapi tangannya bergerak cepat, mengeledah ke balik jaket pria itu. Ia menemukan hal yang ia butuhkan. Sebuah pistol yang dengan peredam dan magazen yang berisi penuh. Matanya memeriksa senjata itu sekilas. Model ringan, sangat ringkas dan cocok untuk operasi jarak dekat.
Profesional.
Han memasukkan magazennya kembali kedalam pistol lalu menyelipkannya ke balik jaketnya sendiri. Arga menatapnya tidak percaya.
“Oke… gue resmi bakal makin takut sama lu.”
“Jalan…,” kata Han singkat.
Ia mendorong tubuh pria tak sadarkan diri itu ke sudut tangga agar tidak langsung terlihat. Han tidak mau membuang waktu lebih lama. Karena kalau satu orang sudah masuk dalam gedung, kemungkinan besar ada rekannya di luar.
Mereka menuruni tangga secepat mungkin. Begitu keluar dari gedung, udara malam yang digin langsung menyambut mereka. Hujan sudah reda dan jalanan terlihat makin sepi sekarang. Han langsung berjalan menuju sebuah gang kecil di samping gedung.
“Kita mau ke mana?” tanya Nara.
“Stasiun.”
“Buat kabur?”
“Buat menghilang sementara.”
Arga berjalan cepat di belakang mereka.
“Gue cuma mau bilang,” katanya sambil terengah-engah, “ini bukan malam yang ideal buat olahraga.”
Han tidak menanggapinya. Mereka berjalan melewati jalan-jalan kecil yang dipenuhi warung tutup dan motor yang parkir sembarangan. Lampu neon berkedip kedip di beberapa tempat. Kota masih tetap hidup, tapi terasa makin jauh dari mereka.
Nara melirik Han diam-diam. Ia tidak terlihat panik sedikit pun. Lelah mungkin, tegang pasti, tapi takut? Kayaknya ngga. Dan itu membuat Nara makin penasaran.
“Apa kamu pernah gagal?” tanyanya tiba-tiba.
Han meliriknya sekilas, “Dalam pekerjaan?”
Nara mengangguk.
Beberapa detik Han tidak menjawab.
“Sekali.”
Arga langsung nyeletuk dari belakang.
“Dan hasilnya sekarang kita semua diburu organisasi rahasia. Keren.”
Han mengacuhkan ucapan Arga. Nara menoleh Han lagi.
“Kenapa gagal?”
Han diam cukup lama sampai Nara pikir ia tidak akan menjawabnya. Lalu akhirnya…
“Karena targetnya menatapku,” katanya pelan.
Nara mengernyit bingung.
“Itu alasan yang aneh.”
“Ya.”
Han tidak menjelaskan lebih lanjut, tapi Nara merasa melihat sesuatu di balik wajah dingin itu. Kelelahan, dan sesuatu yang lebih berbahaya, penyesalan.
Mereka hampir sampai ke jalan utama ketika Han tiba-tiba berhenti. Matanya menatap ke arah sebuah mobil hitam yang terparkir di seberang jalan. Mesinnya menyala pelan tapi lampunya mati. Dan seseorang sedang duduk di kursi pengemudi.
Menunggu.