( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Fall of Peak Cavalry
Keruntuhan Peak Cavalry
Roberto menahan jendela dengan tubuhnya, memastikan tidak ada celah sedikit pun bagi Clarissa untuk melihat kekacauan di luar. Namun dalam hitungan detik, sesuatu dari luar menghantam kaca dengan kekuatan penuh. Bukan sekadar menerobos—makhluk itu memang sengaja menabrakkan dirinya ke arah jendela.
Ledakan kaca pecah menyebar ke seluruh ruangan. Roberto tidak sempat menghindar sepenuhnya, dan tangan kirinya terkena hantaman langsung hingga terputus. Darah mengalir deras, membasahi lantai dan seragamnya. Meski begitu, ia tetap berdiri, menggertakkan gigi menahan sakit, lalu langsung mencabut pedangnya.
Makhluk itu muncul dari balik pecahan kaca, bentuknya menyerupai singa dengan kepala elang. Paruhnya bergerak liar, mengeluarkan suara melengking yang membuat udara terasa semakin sesak. Roberto langsung mengarahkannya dengan tebasan cepat, namun paruh itu menangkis serangannya dengan keras.
Makhluk itu kemudian menyerang balik dengan gerakan cepat, berusaha mematuk kepala Roberto. Namun tepat sebelum serangan itu mengenai, Clarissa melemparkan selimut dari tempat tidur dan menutupi kepala makhluk tersebut. Gerakannya terhenti sejenak, memberi ruang bagi Roberto untuk bereaksi.
Tanpa ragu, Roberto menarik Clarissa menjauh dan menyarungkan pedangnya kembali. Ia memutuskan bahwa bertahan di ruangan itu bukan pilihan. Di luar, suara jeritan dan benturan terus mengguncang istana Peak Cavalry. Darah dan kepanikan sudah menyebar ke seluruh penjuru kerajaan.
Di sisi lain, aula istana utama juga tidak lebih baik. Raja Maximilian dan sang ratu telah dikelilingi oleh para penjaga yang berusaha mati-matian menahan serangan makhluk yang berhasil menembus pertahanan. Situasi berubah menjadi kekacauan total, tanpa pola, tanpa kendali.
Roberto menilai situasi dengan cepat. Matanya bergerak ke setiap sudut ruangan, mencari kemungkinan tempat aman. Lalu ia memutuskan satu tempat yang paling masuk akal—dapur bawah tanah istana, yang hanya memiliki satu akses masuk dan relatif lebih sulit dijangkau.
Ia menarik Clarissa dengan cepat menuju lorong dapur. Langkah mereka tergesa, namun tetap berhati-hati di tengah suara kehancuran yang semakin dekat. Saat sampai di pintu dapur bawah tanah, Roberto mencoba membukanya, namun pintu itu terkunci rapat.
Ia mengetuk keras, lalu memukul gagang pintu dengan pedangnya hingga patah. Pintu akhirnya terbuka, memperlihatkan kepala koki Deon yang sedang bersembunyi di dalam dengan wajah penuh ketakutan. Tanpa banyak waktu, Roberto langsung membawa Clarissa masuk.
Di dalam dapur, Roberto menyerahkan Clarissa kepada Deon. Namun Clarissa langsung menolak dan menatap Roberto dengan panik, terutama saat melihat darah yang terus mengalir dari lengannya. Ia meminta Roberto untuk tetap tinggal dan mengobati lukanya terlebih dahulu.
Roberto menolak dengan halus. Ia mengatakan bahwa tugasnya adalah melindungi Clarissa, dan ia harus kembali ke aula untuk membantu pasukan. Clarissa langsung meninggikan suara, melarangnya pergi dan memaksanya tetap tinggal. Dalam keadaan terdesak, ia merobek sebagian gaunnya sendiri dan membalut luka Roberto.
Roberto terdiam, terlihat jelas ia tidak setuju, tapi tidak mampu menolak. Clarissa menatapnya dengan mata yang gemetar, lalu hanya berkata pelan agar ia tidak mati. Roberto hanya bisa menunduk, lalu berjanji akan melindunginya sampai akhir.
Belum sempat suasana tenang, pintu dapur dihantam keras dari luar. Edward muncul dalam keadaan terluka dan segera menyuruh siapapun ikut menahan pintu bersama dirinya. Suara benturan semakin kuat, menandakan makhluk di luar tidak akan berhenti.
Clarissa langsung ikut membantu tanpa ragu. Roberto pun akhirnya berdiri dan ikut menahan pintu meski Clarissa sempat melarangnya. Tidak ada lagi waktu untuk berdebat—yang ada hanya bertahan.
Setelah beberapa saat, Roberto mulai berpikir cepat. Ia menanyakan berapa jumlah makhluk yang mengikuti Edward. Dari jawaban Edward, ia menyimpulkan bahwa hanya satu yang benar-benar mengejar dirinya sampai ke dapur.
Dari situ, Roberto menyusun rencana. Mereka akan membuka pintu secara bersamaan, lalu membiarkan makhluk itu masuk melesat dengan cepat dan langsung tertusuk pedang Roberto yang sudah siap dengan lengan kanannya. Tidak ada pilihan lain yang lebih aman dalam kondisi itu.
Hitungan dimulai. Satu… dua… tiga.
Pintu dilepas.
Makhluk itu langsung menerobos masuk dan menghantam ujung pedang Roberto dengan keras. Meski tertusuk, tubuhnya masih bergerak liar. Deon langsung memukul kepalanya dengan panci, sementara Edward menusuk matanya dengan garpu dapur.
Akhirnya makhluk itu jatuh, tidak lagi bergerak. Namun keadaan di sekitar mereka tetap tidak aman. Roberto menyadari bahwa bertahan di tempat itu hanya akan mengundang lebih banyak bahaya. Ia memutuskan mereka harus segera meninggalkan istana.
Edward mengusulkan kereta kuda di gerbang kerajaan sebagai satu-satunya cara keluar. Namun Clarissa langsung menolak. Ia tidak ingin meninggalkan orang tuanya dalam keadaan seperti ini. Suaranya bergetar, namun penuh tekad.
Roberto terdiam cukup lama. Ia menatap Clarissa, lalu akhirnya membuat keputusan berat. Tanpa peringatan, ia memukul leher Clarissa hingga pingsan agar ia tidak bisa lagi menolak atau memaksa kembali.
Edward dan Deon terkejut, tetapi tidak menghentikannya. Roberto menggendong Clarissa di punggungnya, lalu memerintahkan mereka bergerak. Tidak ada waktu untuk penyesalan.
Mereka berlari melewati koridor istana yang sudah dipenuhi darah dan reruntuhan. Di luar, suara makhluk masih terdengar di kejauhan, seperti mengejar sisa-sisa kehidupan yang tersisa. Langit semakin gelap, menandakan malam yang tidak akan membawa ketenangan.
Sesampainya di area kereta kuda, mereka menemukan satu-satunya kendaraan yang masih bisa digunakan. Namun di atasnya sudah ada jasad pedagang yang telah kehilangan nyawanya. Roberto tidak membuang waktu, ia segera menyingkirkan tubuh itu dan mempersiapkan kuda.
Kuda itu sendiri sudah terluka, namun tidak ada pilihan lain. Mereka menaiki kereta dan segera meninggalkan istana. Roberto memegang kendali di depan, bersama Edward, sementara Deon dan Clarissa berada di dalam.
Beberapa waktu di perjalanan, Clarissa akhirnya sadar. Ia langsung menangis dan meminta mereka untuk kembali ke istana. Ia tidak ingin meninggalkan orang tuanya. Suaranya pecah di tengah guncangan kereta.
Roberto tetap pada keputusannya. Ia mengatakan bahwa ini demi keselamatan Clarissa. Namun kata-kata itu justru membuat Clarissa semakin hancur. Ia berteriak bahwa ia akan membenci Roberto jika tidak memutar balik.
Roberto tidak menjawab. Ia hanya menggigit bibirnya, menahan semua perasaan yang tidak bisa ia ucapkan. Kereta terus melaju, menembus hutan di perbukitan Gray Hills, menjauh dari kerajaan yang sedang runtuh.
Clarissa masih berteriak di dalam kereta, suaranya pecah di antara suara roda yang menghantam jalanan hutan.
“Kembalikan aku…! Aku bilang kembalikan aku ke istana…!”
Air matanya tidak berhenti. Tangannya gemetar, berusaha meraih apa pun yang ada di depannya, seolah dunia masih bisa diputar ulang hanya dengan kemauannya.
Di depan, Roberto tidak menjawab.
Tubuhnya sudah mulai kehilangan tenaga.
Panah di bahunya terasa semakin berat, seolah bukan hanya menembus dagingnya, tapi juga mengikat kesadarannya.
Ia menoleh sedikit ke belakang.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, suaranya tidak tegas seperti biasanya.
“…maafkan saya, Nona.”
Clarissa langsung membeku.
“Setidaknya… jika saya mati…”
Napasnya tersendat.
“…jangan benci saya.”
Keheningan jatuh sesaat.
Lalu tubuh Roberto goyah.
Satu detik ia masih mencoba memegang kendali kereta.
Detik berikutnya… tangannya terlepas.
Dan ia jatuh.
Tidak ada kata lanjutan. Tidak ada teriakan dari dirinya.
Hanya suara roda kereta yang terus berjalan, seolah dunia tidak peduli seseorang baru saja hilang di belakangnya.
“TUAN ROBERTO!!!”
Jeritan Clarissa pecah, tapi kereta tidak berhenti.
Dan untuk pertama kalinya…
tidak ada yang kembali menoleh.
Edward segera mengambil alih kendali kereta sambil menangis. Clarissa berteriak histeris dibarengi oleh Deon yang menahan keras tangisannya, namun tidak ada yang bisa dilakukan. Goblin yang mengejar mereka akhirnya berhenti sejenak, memberi ruang bagi kereta untuk terus melaju menjauh dari neraka Peak Cavalry yang runtuh di belakang mereka.
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.