NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Antara Patung, Darah, dan Hutang

Sejak deretan pohon jeruk sudah kelima kalinya meliuk akibat hembusan angin malam, Huang Shen masih mematung di ambang jendela. Patung kuda emas dalam genggaman kirinya memancarkan kehangatan ganjil, seolah ada detak jantung yang terperangkap di dalam logam mustika tersebut.

Sedangkan di pelataran bawah sana, Yue Xin berlutut tak berdaya di bawah cengkeraman dua pengawal. Tali rami yang kasar melilit pergelangan tangannya, menggores kulit pucat itu hingga menyisakan jejak merah yang kontras. Apalagi bangsawan bernama Zhao Yuan itu masih melolong bagai babi dari arah balkon. Jubah sutranya yang tersingkap memperlihatkan perut buncit yang bergetar hebat seiring makian yang keluar dari mulutnya.

Huang Shen menimbang dalam bisu. Masalahnya dunia kultivasi adalah rimba yang tak berbelas kasih, tak ada utang, tak ada piutang budi. Empat tahun menempa diri di jalanan telah memahat satu hukum di sukmanya, hanya diri sendiri yang bisa diandalkan. Manusia lain hanyalah pejalan kaki yang sibuk menyelamatkan nyawa masing-masing dari taring takdir.

Secara logika, ia hanya perlu melesat ke dalam kegelapan malam. Patung kuda emas akan jatuh ke tangan Xin Jielong, amarah Zhao Yuan akan menguap seiring waktu, dan Yue Xin? Wanita itu bukanlah tanggung jawabnya, tentu saja. Ia telah memberi peringatan, dan jika peringatan itu diabaikan, maka maut adalah konsekuensi yang adil.

Kendati demikian, kakinya seolah terpaku pada kayu jendela.

Saat Yue Xin mendongak. Matanya bertemu dengan tatapan Huang Shen yang ia kenal sejak malam di kedai Kota Yunan. Sejak saat itu pula, ia tahu bahwa pria di hadapannya ini adalah tipe pembunuh yang paling mengerikan, seseorang yang tak memiliki memori, tak memiliki keterikatan, dan yang terpenting, tak memiliki keinginan untuk peduli. Begitu cuek sampai-sampai dia ingin menjitak kepalanya harap-harap bisa mewujudkan perubahan ekspresi dari sosok bernama Huang Shen itu.

Namun Yue Xin lebih memilih untuk menunduk, membiarkan helaian rambutnya menutupi wajahnya yang kuyu. Tak ada isak tangis ataupun permohonan yang keluar. Di tatapannya itu hanya ada penerimaan yang lebih mirip disebut pasrah.

“Pergilah… .” bisik Yue Xin, lebih kepada jiwanya yang mulai lelah berharap.

Namun, sayangnya Huang Shen tidak pergi.

Tubuhnya melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya sebelum nalar sempat memenangkan perdebatan. Bukan karena rasa iba, bukan pula karena tuntutan moral. Namun karena ada tepat di mana Gerbang Iblis bersemayam, ia yang memberontak, menolak membiarkan nyawa wanita itu padam di tangan sampah seperti Zhao Yuan.

Kecepatan Inti Emas level delapan yang dipadukan dengan teknik Resonansi bukanlah sesuatu yang sanggup ditangkap indra manusia awam. Huang Shen mendarat di pelataran dengan hentakan super halus. Dalam satu putaran tubuh yang sangat presisi itu, dua pengawal yang menahan Yue Xin tewas seketika dengan leher yang terpilin. Tak ada teriakan, tak ada darah yang menyembur keluar selain bunyi patahan tulang yang kelewat nyaring, menyerupai ranting yang diinjak.

“Tangkap dia! Bunuh keparat itu!” Zhao Yuan melolong histeris dari balkon. “Apa kalian buta?!”

Para pengawal yang tersisa merangsek maju dengan wajah pucat pasi. Huang Shen mengayunkan pedang pinjaman dari Xin Jielong, memutuskan tali rami di tangan Yue Xin dengan sekali tebas. Bilah itu begitu dingin dan tajam, hingga Yue Xin tak menyadari tangannya telah bebas sebelum ia sempat merasakan hembusan anginnya.

“Pergi dari sini,” titah Huang Shen. Suaranya datar meski ketara sekali dia tidak bermain-main dengan ucapannya.

Yue Xin hanya bisa tertegun, matanya yang basah menatap Huang Shen dengan penuh tanda tanya. “T-tapi… mengapa kamu… ?”

“Jangan banyak bicara. Pergilah,” ulang Huang Shen tanpa menoleh.

Namun dari atap bangunan, pria bertopeng besi melompat turun. Darah masih merembes dari luka di dadanya, membasahi jubah bulu serigala yang ia kenakan. Sayangnya itu tidak berdampak olehnya, lantaran sepasang matanya itu tetap setajam silet, mengunci pergerakan Huang Shen dengan perhitungan yang dingin.

“Kau baru saja menutup jalan hidupmu sendiri, anak muda,” desis pria bertopeng itu. Suaranya berat dan tanpa emosi. “Seharusnya kau melarikan diri saat memiliki kesempatan.”

Huang Shen tak menjawab dan memilih untuk mengangkat pedang hitamnya, memosisikan bilahnya sejajar dengan garis mata.

Sang pria bertopeng pun menyerang. Serangannya kini jauh lebih ganas, seolah rasa sakit di dadanya justru menjadi bahan bakar bagi amarahnya. Setiap tebasannya membawa tekanan udara yang berat, menyerupai gunung yang hendak runtuh menimpa bumi. Satu kesalahan kecil saja akan berakibat pada hancurnya tengkorak Huang Shen.

Tiba-tiba, sebuah denting logam yang diikuti desingan angin mengejutkan semua orang di malam itu.

“Jangan lengah, Huang Shen!”

Sebilah pedang melesat dari arah barat, menghantam bilah pria bertopeng dan membelokkan arah serangannya beberapa inci dari pelipis Huang Shen. Xin Jielong berdiri di puncak atap, jari-jarinya bergerak lihai menarik kembali pedang itu menggunakan untaian Qi yang tak kasat mata.

“Kita harus pergi!” teriak Xin Jielong sembari bersiap menerjang. “Patung kuda emas itu adalah tujuan utama kita!”

Namun, langkah Huang Shen tidak bergeser sedikit pun karena Zhao Yuan, bersama tiga pengawal yang tersisa, mulai mengepung Yue Xin yang masih berusaha berdiri dengan kaki yang mungkin terkilir. Bangsawan gendut itu menjambak rambut Yue Xin, menariknya ke belakang hingga leher gadis itu mendongak paksa.

“Lihat ini! Gara-gara kalian, kesenanganku hancur total!” teriak Zhao Yuan dengan wajah merah padam. “Kalian tahu berapa emas yang kuhabiskan untuk pelacur itu?!”

Yue Xin mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan perih di kulit kepalanya. Matanya menatap Huang Shen, menyiratkan permohonan agar pria itu tidak memedulikannya.

“Lari, Huang Shen! Jangan hiraukan aku!” teriak Yue Xin meringis getir.

Adapun Huang Shen malah melirik Xin Jielong yang sedang beradu senjata dengan pria bertopeng di tengah udara. Benturan baja bertemu baja menciptakan percikan api yang menerangi kegelapan. Xin Jielong takkan bisa memberikan bantuan lebih dari ini.

Dunia memang tidak berutang apa pun padanya. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidup, Huang Shen merasa perlu membayar utang kepada harga dirinya sendiri.

Manakala patung kuda emas itu ia lemparkan ke arah Xin Jielong, benda mustika itu berkilau indah di bawah cahaya purnama sebelum akhirnya ditangkap dengan sempurna oleh tangan kiri sang pemburu senior.

“Kau gila?! Apa yang kau lakukan?” seru Xin Jielong terkejut.

“Bawa patung itu pergi. Urusan di sini biar kuselesaikan,” kata Huang Shen.

Xin Jielong mendecak, sejenak ragu sebelum akhirnya melompat mundur. “Pedang itu hanya kupinjamkan! Jangan sampai patah, dan pastikan kau tetap hidup, atau bagian emasmu akan kuhabiskan sendiri!”

Pria bertopeng besi tidak mengejar Xin Jielong. Perhatiannya kini sepenuhnya tertumpu pada Huang Shen. “Keputusan yang sangat bodoh. Kau membuang bantuan demi menyelamatkan wanita yang bahkan bukan siapa-siapamu.”

Huang Shen tidak menggubris cacian itu. Ia memantapkan genggamannya pada pedang hitam. Di dalam rongga dadanya, Gerbang Iblis dalam Darah mulai terbuka lebar. Kali ini bukan untuk menyedot darah musuh, melainkan untuk melepaskan esensi kekuatan maha dahsyat yang selama ini ia segel rapat.

Cahaya merah mulai berpendar dari tubuh Huang Shen. Namun, ada yang berbeda kali ini karena semburat emas tipis mulai menyelimuti aura merah tersebut, menyerupai api penyucian yang tidak hanya menghancurkan, namun juga memurnikan.

Sepasang mata Huang Shen mulai berubah. Warna merahnya kini memiliki lingkaran emas di tepinya, memancarkan tekanan batin yang membuat para pengawal di sekelilingnya bergetar hebat. Pedang di tangan mereka begitu berisik kala beradu dengan lutut yang lemas. Sementara Zhao Yuan terkesiap, tangannya yang menjambak rambut Yue Xin mendadak lunglai.

1
lily
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
lily: makasih Thor
total 2 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!