NovelToon NovelToon
Dinikahi Sang Ahli Forensik

Dinikahi Sang Ahli Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.

​Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.

​"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."

​Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."


​Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Alarm Biologis

​​"Mundur, Cala." Suara Ronan terdengar lebih serak dari biasanya.

​Pria itu memundurkan tubuhnya dengan sangat kaku. Tangannya bertumpu kuat pada tepi meja baja, berusaha menjaga jarak aman dari wajah Cala yang sangat menantang.

​Cala tersenyum penuh kemenangan. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, telinga dokter forensik yang dingin bagai es itu kini berubah merah padam.

​"Kenapa mundur, Dokter? Takut logikamu runtuh oleh wangi parfum murahan ini?" goda Cala.

​Ronan berdehem keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang sempat goyah. "Jarak personal yang normal untuk sebuah percakapan adalah empat puluh sentimeter. Kamu baru saja melanggar batas privasi spasial."

​"Bilang saja kamu gugup." Cala memutar tubuhnya, mengambil cangkir kopinya kembali. Ia berjalan santai meninggalkan dapur dengan perasaan sangat puas. Ia menang telak.

​Ronan menatap punggung Cala dengan rahang mengeras. Ia menenggak habis sisa cairan elektrolit di gelasnya, lalu mencuci gelas itu dengan gerakan kasar. Air mengalir deras dari keran, seolah membantu menyiram kewarasan Ronan yang mendadak kacau karena jarak yang terlalu dekat itu.

***

​Sinar mentari yang menembus kaca anti peluru apartemen terasa semakin terik, memantulkan cahaya menyilaukan di atas lantai marmer. Cala sudah duduk bersila di atas sofa ruang tamu. Laptopnya menyala terang, dan ponselnya menempel erat di telinga.

​"Iya, Ibu Siska. Aku tahu tenda birunya kurang gelap. Tapi pihak vendor sedang mencari kain gantinya." Cala meringis mendengar teriakan klien dari seberang telepon.

​Ronan keluar dari dapur membawa komputer tabletnya. Pria itu duduk di kursi tunggal yang letaknya berjauhan dari sofa. Ia mulai membaca laporan autopsi digital, berusaha keras mengabaikan keberadaan Cala. Namun, suara Cala benar-benar mendominasi ruangan steril itu.

​"Bu, tolong tenang dulu. Bunga melatinya pasti tiba tepat waktu. Tidak, Bu. Jangan ganti vendor katering sekarang. Acaranya tinggal tiga hari lagi!" seru Cala panik.

​Ronan memutar bola matanya. Ia menekan pelipisnya perlahan. "Kecilkan volume suaramu. Frekuensi lengkinganmu merusak tingkat konsentrasiku."

​Cala menutup bagian bawah ponselnya dengan telapak tangan. "Aku sedang bekerja keras! Klienku ini nyaris membatalkan seluruh pesanan gedung gara-gara kekacauan vendor!"

​"Itu bukan urusanku sama sekali. Apartemen ini bukan pasar tumpah," balas Ronan tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya.

​Cala kembali membuka telapak tangannya. "Halo, Ibu Siska? Maaf tadi ada gangguan sedikit. Iya, soal kursi tamunya bisa kita atur ulang."

​Ronan mendengus kasar. Ia bangkit dari kursi tunggalnya, lalu berjalan mondar-mandir di depan rak buku. "Bagaimana bisa manusia menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk meributkan warna kain dan jenis bunga? Sungguh sebuah pemborosan energi yang tidak masuk akal."

​Cala mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Ia menatap Ronan tajam. "Kamu pikir semua orang hidup hanya untuk membedah mayat dan meneliti bakteri pembusuk? Kami punya masalah nyata di dunia luar. Pernikahan itu acara sakral bagi umat manusia!"

​"Acara sakral yang memicu stres, tekanan darah tinggi, dan kerugian finansial luar biasa," timpal Ronan cepat. "Laporan medis menyebutkan tingkat stres menjelang pernikahan sama tingginya dengan saat manusia mengalami kecelakaan ringan. Logikanya, buat apa merayakan sesuatu yang justru menyiksamu?"

​"Karena ada rasa kebahagiaan luar biasa setelahnya, Dokter!" Cala berseru gemas. "Kamu tidak pernah jatuh cinta, makanya mulutmu sangat pahit dan pesimis."

​"Aku mengandalkan fakta medis, bukan perasaan fana," jawab Ronan datar. Ia meletakkan tabletnya di atas meja konsol. "Selesaikan semua teriakanmu sebelum aku pulang nanti. Aku harus pergi ke laboratorium kepolisian sekarang juga. Komandan menungguku untuk membahas bukti serat karbon dari jaket pembunuh bayaran itu."

​Cala terdiam sesaat mendengar kata pembunuh. Realita yang kejam kembali menamparnya kuat-kuat. Ia tidak sedang menginap santai di hotel mewah gratis, ia sedang bersembunyi karena nyawanya terancam bahaya.

​"Kamu pergi berapa lama?" tanya Cala pelan. Ada nada cemas yang tidak bisa ia sembunyikan dari suaranya.

​Ronan mengambil kemeja hitam dari dalam lemari kecil di sudut ruangan, memakainya sebagai luaran untuk melapisi kaus putihnya. "Sesuai jadwal reguler kepolisian. Empat jam observasi, dua jam rapat koordinasi. Tidak perlu takut berlebihan. Sistem keamanan apartemen ini tidak akan pernah bisa ditembus, kecuali kamu ceroboh dan membukakan pintu utama untuk orang asing."

​"Aku tidak seceroboh itu," gerutu Cala membela diri.

​Ronan merapikan letak jam tangan pintarnya. Jam tangan medis itu berwarna hitam legam, selalu menempel ketat di pergelangan tangan kirinya. Benda pintar itu terus memonitor detak jantung, kadar oksigen dalam darah, dan suhu tubuhnya secara waktu nyata tanpa henti.

​Pria itu berjalan tegap mendekati pintu utama, menekan beberapa digit kode sandi untuk membuka kunci otomatis. Cala bangkit dari sofa, mengekor pelan di belakang Ronan. Entah kenapa, melihat pria dingin ini akan pergi membuatnya merasa sedikit waswas dan kesepian.

​"Pastikan kamu tidak menyentuh alat-alat kerjaku sedikit pun," pesan Ronan lagi dengan nada memperingatkan.

​"Iya, iya, Dokter Sempurna. Aku hanya akan duduk diam di atas sofa kerasmu sampai badanku rata," sahut Cala malas.

​Ronan memutar tubuhnya, hendak memberikan satu peringatan terakhir, namun langkahnya terhenti mendadak. Cala berdiri sangat dekat di depannya. Sedekat jarak saat mereka berdebat panas di dapur tadi.

​Cala menatap leher Ronan lekat-lekat. Kerah kemeja hitam pria itu terlipat ke dalam dengan sangat berantakan. Mata perencana pernikahan Cala yang selalu menuntut kesempurnaan visual merasa sangat gatal melihat pemandangan tidak rapi itu.

​Tanpa meminta izin sama sekali, Cala mengangkat kedua tangannya. Ia menjangkau leher Ronan dengan berani.

​Mata Ronan membelalak kaget. Tubuhnya kaku seketika layaknya patung pajangan. Pria itu menahan napas saat jari-jari lentik Cala menyentuh kain kemejanya secara langsung. Kulit hangat Cala sesekali bergesekan ringan dengan kulit leher Ronan yang terasa sedingin es.

​"Apa yang sedang kamu lakukan?" desis Ronan tertahan.

​Cala sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu. Ia terlalu fokus membalik kerah kemeja hitam itu hingga terlihat rapi sempurna. Gerakan Cala sangat lambat, sengaja membiarkan aroma parfum mawar dan kembali menguar tajam, menantang ruang pribadi sang dokter forensik yang anti kuman.

​"Kerah bajumu berantakan sekali. Tidak pantas dipakai oleh ahli forensik terbaik kepolisian saat bekerja," bisik Cala pelan. Ia menepuk pelan dada Ronan yang bidang setelah lipatan kerah itu tatanannya sempurna dan simetris.

​Senyum jahil kembali terbit menghiasi bibir Cala. Ia mendongak ke atas, menatap langsung ke dalam mata Ronan yang kini terlihat sangat tidak fokus. Pria kaku itu seperti mendadak kehilangan seluruh kosa kata ilmiah andalannya.

​Ronan menelan ludah dengan susah payah. Ia benar-benar ingin melangkah mundur menjauh, tapi seolah seluruh otot tubuhnya menolak perintah otaknya sendiri. Bau manis  mawar itu sukses besar mengacaukan sistem saraf pusatnya.

​Cala menarik kedua tangannya perlahan. Ia baru saja membuka mulut untuk melontarkan lelucon demi mengejek wajah tegang pria di hadapannya, namun sebuah suara nyaring memecah keheningan mutlak di apartemen steril tersebut.

​Tit! Tit! Tit! Tit!

​Suara peringatan berfrekuensi sangat tinggi itu berasal dari pergelangan tangan kiri Ronan. Layar jam tangan pintar medis milik pria itu berkedip-kedip dengan cahaya merah menyala. Angka digital di layarnya melesat naik dengan sangat cepat dan tidak masuk akal, menembus batas normal manusia yang sedang berdiri santai. Seratus sepuluh detak per menit.

1
Bu Dewi
ditunggu kelanjutannya kak👍👍😍
Watie Zack
wow keren, serasa ikut didalam cerita👍
Anbu Hasna
Tanteku punya hotel. dan benar, dia lebih jujur ke pihak WO biar printilan pesta bisa masuk tanpa menganggu pelanggan, daripada ke pihak paspampres. masa bodo sama keselamatan presiden, biarkan dia lewat pintu depan 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
ronan takut terjadi sesuatu pada cala. dia takut gagal dalam melindungi cala.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
puyeng aq
ElHi
seruuu euyyy....kyk detective conan🔥🔥
Savana Liora: maacii
total 1 replies
Nor aisyah Fitriani
uppp truss thirt
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mulai terkuak semoga saja cepat tertangkap ya mereka" yg jahat sama Cala biar mereka mendekam dlm sel penjara dan di hukum mati 😡😡
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
wajarlah Ronan kesel sama kepolisian karna nyawa mereka td dipertaruhkan untung Ronan bisa menghindar dan saksi satu"nya malah di bawa pergi lelet banget atasan dan bawahannya 😏😏
Watie Zack
semoga kebongkar dalangnya
Watie Zack
wow Ronan aku padamu😍
Watie Zack
ada apa dgn tasnya Cala????
Watie Zack
awalnya drama lama² kecantol beneran nih si Rolan
Watie Zack
jgn² orang dekat cala ada yg terlibat😄
Watie Zack
semakin penasaran semangat Thor
Deasy Suryandari
ikut deg²qn bacanya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bagus Ronan kamu sdh antisipasi dngn menancapkan alat pelacak ke pelayan palsu itu 👍👏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ayo bawa ke markas Ronan biar th dalang semuanya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
gerakan Ronan gercep banget sigap kl enggak pasti Cala dlm bahaya oleh cairan itu 🤗🤗
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Cala bawa tas mu dr sana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!