NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Pewaris Berbahaya

Dijodohkan Dengan Pewaris Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / CEO
Popularitas:993
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Brak!

Dokumen laporan keuangan kuartal pertama dihempaskan ke tengah meja rapat berbahan kaca tebal. Suara hantaman itu tidak keras, namun sanggup membuat belasan direktur senior yang duduk di dalam ruang rapat utama Gedung Maheswara Group menahan napas serentak. Udara di dalam ruangan luas bernuansa minimalis modern itu mendadak turun hingga ke titik beku.

Di ujung meja, Alvaro Regantara Maheswara duduk dengan posisi menyandar angkuh. Kemeja hitamnya yang dipadukan dengan dasi senada tampak tanpa cela, melambangkan kekuasaan mutlak yang tak tergoyahkan. Sepasang mata elangnya yang dingin dan kejam menyapu satu per satu wajah para petinggi perusahaan yang usianya jauh di atasnya.

"Dua puluh persen penurunan laba di sektor hulu, dan kalian menyebut ini 'dinamika pasar'?" Suara bariton Alvaro terdengar datar, namun setiap kata yang keluar memiliki ketajaman yang sanggup menguliti harga diri lawan bicaranya.

Pria berumur 28 tahun itu menegakkan punggungnya, menopang dagu dengan sepuluh jari yang saling bertautan. Tatapan matanya berhenti tepat pada Direktur Keuangan, seorang pria paruh baya yang kini sudah mandi keringat dingin meski pendingin ruangan berfungsi maksimal.

"T-Tuan Muda Alvaro... inflasi global dan keterlambatan pasokan bahan baku dari Australia membuat kami—"

"Aku tidak menggaji kalian untuk mendengar alasan," potong Alvaro, suaranya merendah namun sarat akan intimidasi yang mematikan. "Aku memberi waktu tiga kali dua puluh empat jam. Perbaiki angka-angka busuk ini, atau silakan tanda tangani surat pengunduran diri kalian sebelum matahari terbenam."

Tidak ada satu pun dari direktur senior itu yang berani mendongak, apalagi membantah. Mereka semua gemetar. Di dunia bisnis, Alvaro dijuluki "Pewaris Berbahaya" bukan sekadar isapan jempol. Pria ini dingin, kejam dalam berbisnis, dan tidak pernah memberikan kesempatan kedua bagi siapa pun yang menghambat kemajuan Maheswara Group. Bagi Alvaro, bisnis adalah medan perang, dan kelemahan adalah dosa terbesar.

Setelah rapat yang mencekik itu dibubarkan, Alvaro melangkah kembali ke dalam kantor pribadinya yang megah di lantai paling atas. Begitu pintu kaca kedap suara tertutup, ia melepaskan kancing teratas kemejanya, berjalan menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan seluruh kota dari ketinggian.

Drrt... Drrt...

Ponsel pintar di atas meja kerjanya bergetar. Alvaro melirik layar, menampilkan nama yang paling ia hormati sekaligus ia waspadai.

Mahendra Maheswara.

Alvaro menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Bagaimana rapatmu, Alvaro?" suara berat Mahendra menggelegar dari seberang sambungan. "Aku harap kamu tidak lupa bahwa malam ini kita memiliki agenda penting. Gadis dari keluarga Pradipta itu sudah menyetujui kesepakatan."

Alvaro menipiskan bibirnya, memancarkan ekspresi ketidaktertarikan yang sangat jelas. "Aku tidak peduli dengan siapa aku harus duduk di meja makan malam nanti, Ayah. Jika ini hanya tentang menyelamatkan perusahaan Pradipta yang hampir mati itu, sekretarisku bisa mengurusnya dalam lima menit."

"Ini bukan sekadar bantuan finansial, Alvaro! Ini tentang aliansi," tegas Mahendra. "Alyssa Carissa Pradipta adalah wanita yang cerdas. Dia memiliki mental baja yang kamu butuhkan untuk mengamankan posisimu dari incaran Arsen."

Mendengar nama sepupunya disebut, kilat kejam di mata Alvaro semakin menajam. Namun, raut wajahnya tetap sedingin es. "Bagiku, pernikahan ini hanyalah kontrak di atas kertas. Dan Alyssa... dia hanyalah bagian dari kesepakatan bisnis yang kau rancang, Ayah. Jangan harap aku akan memperlakukannya seperti seorang istri sungguhan."

Bagi Alvaro, cinta hanyalah sebuah kelemahan yang tidak berguna. Luka masa lalu yang tersimpan rapat di lubuk hatinya telah lama membunuh kemampuannya untuk percaya pada sebuah ketulusan. Wanita yang mendekatinya selama ini hanya mengincar harta dan kekuasaannya—termasuk Vanessa Hartono, mantan tunangannya yang manipulatif.

"Lakukan sesukamu, Alvaro. Yang terpenting, bawa dia ke hadapan publik sebagai usahamu mengamankan stabilitas saham kita," ujar Mahendra sebelum akhirnya memutus sambungan telepon.

Alvaro menurunkan ponselnya, kembali menatap kosong ke arah deretan gedung pencakar langit di luar sana. Bayangan tentang Alyssa yang malam nanti akan resmi diserahkan kepadanya sama sekali tidak mengusik ketenangannya. Di mata sang Pewaris Berbahaya, Alyssa hanyalah pion baru yang masuk ke dalam teritorinya. Dan ia akan memastikan bahwa gadis itu tahu cara bermain yang benar di dalam sangkar emas yang mematikan miliknya.

...****************...

Alvaro melangkah mundur dari jendela besar, berjalan menuju meja kerjanya yang bersih dari pajangan pribadi. Ia menjatuhkan diri di atas kursi kulit hitamnya, lalu menekan tombol interkom. "Rendra, masuk ke ruanganku."

Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh detik bagi Rendra, sekretaris pribadi sekaligus orang kepercayaan Alvaro sejak lama, untuk mengetuk dan melangkah masuk. Pria itu membawa sebuah tablet digital dan satu map tipis berwarna abu-abu.

"Ada informasi baru mengenai Alyssa Pradipta, Tuan Muda," ujar Rendra tanpa perlu diminta. Ia meletakkan map tersebut di atas meja kerja Alvaro.

Alvaro melirik map itu sekilas, namun tidak ada niat dalam dirinya untuk menyentuh kertas-kertas di dalamnya. "Katakan saja. Aku tidak punya waktu untuk membaca biografi seorang mahasiswi."

"Alyssa Carissa Pradipta, dua puluh tiga tahun. Mahasiswi tingkat akhir jurusan bisnis internasional dengan predikat akademis yang hampir sempurna," Rendra menjabarkan poin-poin penting yang sudah ia hafal luar kepala. "Dia bukan tipe sosialita yang menghabiskan waktu di klub malam atau pusat perbelanjaan mewah. Dari data yang kami peroleh, dia sangat jeli dalam menganalisis pergerakan pasar. Bahkan, beberapa esai analisisnya sempat memenangkan penghargaan nasional."

Alvaro menaikkan sebelah alisnya. Kilat ketertarikan yang sangat tipis muncul di sepasang mata elangnya, namun segera tergantikan oleh pandangan dingin yang biasa. "Cerdas di atas kertas tidak menjamin dia bisa bertahan hidup di lingkaran kita, Rendra. Di dunia nyata, kecerdasan tanpa kelicikan hanya akan membuatnya menjadi mangsa empuk."

"Ada satu hal lagi, Tuan Muda," lanjut Rendra, suaranya sedikit merendah. "Berdasarkan pelacakan aktivitas finansial Grup Pradipta dalam empat puluh delapan jam terakhir, kerugian mereka tidak terjadi secara natural. Ada pola manipulasi arus kas dari pihak luar yang sengaja menekan likuiditas mereka hingga ke titik nol. Seseorang menginginkan keluarga Pradipta hancur dengan cepat."

Mendengar hal itu, jemari Alvaro yang mengetuk meja kerja mendadak berhenti. Sepasang matanya menyipit tajam, memancarkan aura kejam yang pekat. Spekulasi bisnis di otaknya langsung bekerja melompati beberapa langkah ke depan.

Seseorang sengaja menghancurkan Pradipta agar mereka mendatangi Maheswara? Atau seseorang sedang mencoba memasukkan bidak ke dalam rumahku? batin Alvaro tajam. Sifatnya yang waspada dan penuh perhitungan membuatnya langsung mencium aroma konspirasi yang sedang dimainkan di balik layar.

"Cari tahu siapa yang bermain di belakang Grup Pradipta," perintah Alvaro, suaranya terdengar sedingin es yang membekukan udara di dalam ruangan. "Aku tidak suka ada variabel tidak diketahui yang bergerak di sekitarku."

"Baik, Tuan Muda. Saya akan segera mengerahkan tim investigasi independen," jawab Rendra sambil membungkuk hormat.

"Dan satu lagi," Alvaro menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah pintu keluar. "Siapkan draf perjanjian pranikah yang paling ketat. Masukkan semua klausul yang mengunci hak finansial dan publiknya. Aku ingin dia tahu sejak awal bahwa dia masuk ke rumah ini bukan sebagai seorang putri, melainkan sebagai komoditas yang harus membayar utang keluarganya."

"Dimengerti." Rendra mencatat instruksi tersebut dengan taktis sebelum akhirnya mengundurkan diri dari ruangan.

Setelah sekretarisnya pergi, Alvaro kembali mengalihkan pandangannya pada map abu-abu di atas meja. Perlahan, tangannya bergerak membuka lembaran pertama, menampilkan foto formal Alyssa. Gadis itu menatap lurus ke arah kamera dengan dagu yang terangkat sedikit, memancarkan harga diri dan keberanian yang jarang ditemukan pada wanita seusianya.

Alvaro menipiskan bibirnya, membentuk segaris senyuman sinis yang sarat akan intimidasi. "Kita lihat saja, Alyssa. Seberapa lama harga dirimu itu bisa bertahan di bawah kendaliku."

...****************...

Alvaro menutup map itu kembali dengan gerakan lambat namun pasti. Pikirannya beralih pada agenda yang akan bergulir beberapa jam lagi. Jamuan makan malam di kediaman utama ayahnya bukan sekadar formalitas keluarga, melainkan panggung politik korporasi tempat setiap gerak-gerik akan dinilai.

Bagi Alvaro, kehadiran Alyssa di sisinya nanti malam harus memberikan dampak instan: membungkam spekulasi media tentang ketidakstabilan kepemimpinan di Maheswara Group, sekaligus mengirimkan pesan tegas kepada Arsen dan sekutunya bahwa takhta pewaris tunggal tetap berada di bawah cengkeramannya yang mutlak.

Ia melirik jam tangan mewahnya. Waktu bergerak konstan. Pria berumur 28 tahun itu bangkit berdiri, merapikan jas hitamnya yang melekat sempurna, lalu melangkah keluar dari ruang kerja dengan aura dominan yang mengintimidasi setiap karyawan yang berpapasan dengannya di koridor foya gedung.

...----------------...

Beberapa jam kemudian, malam pun jatuh di kediaman utama keluarga Maheswara.

Seperti yang telah direncanakan, jamuan makan malam itu berjalan dengan ketegangan yang merayap di bawah permukaan. Di ujung meja panjang berbahan kayu mahoni, Alvaro duduk dengan pembawaan sedingin es, menyaksikan bagaimana draf perjanjian pranikah yang disusunnya akhirnya disetujui setelah perdebatan sengit dan interupsi berani dari Alyssa.

Ketika Mahendra mengumumkan jadwal pertemuan besok pagi untuk penandatanganan berkas resmi di hadapan notaris, Alvaro hanya memberikan konfirmasi pendek yang memotong keheningan ruangan dengan ketajaman yang mutlak.

"Jangan terlambat. Aku tidak suka membuang waktu untuk orang yang tidak disiplin," ucap Alvaro, sepasang mata elangnya mengunci pergerakan Alyssa tanpa ada binar kehangatan sedikit pun.

"Saya akan siap tepat waktu, Tuan Alvaro," balas Alyssa, menatap lurus ke dalam manik mata sang Pewaris Berbahaya tanpa keraguan.

Setelah keluarga Pradipta pamit undur diri dan mobil mereka meluncur membelah kegelapan malam meninggalkan pelataran istana, Alvaro tetap berdiri di teras depan yang megah. Angin malam yang dingin berembus kencang, memainkan ujung kemeja hitamnya.

"Wanita yang menarik, bukan?" sebuah suara ramah yang sarat akan intrik tiba-tiba terdengar dari arah belakang.

Alvaro tidak perlu membalikkan badan untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. Arsen Maheswara melangkah maju dari kegelapan koridor luar, berdiri di samping sepupunya dengan senyuman khasnya yang selalu tampak hangat di depan kamera terasa penuh bisa di mata Alvaro.

"Aku tidak menyangka seleramu bergeser pada gadis dari keluarga yang hampir bangkrut, Alvaro," lanjut Arsen, nada suaranya terdengar seperti candaan santai, namun matanya memancarkan kilat spekulasi yang tajam. "Apakah pernikahan kontrak ini benar-benar bisa menyelamatkan posisi sahammu jika publik tahu bahwa Pradipta hanyalah beban?"

Alvaro memutar kepalanya sedikit, menatap Arsen dengan pandangan menguliti yang sanggup membuat direktur senior gemetar. Aura kejam dan mematikan seketika menguar kuat dari tubuhnya.

"Jangan pernah mencampuri urusan bisnis yang berada di bawah kendaliku, Arsen," ucap Alvaro, suaranya bariton merendah namun penuh dengan ancaman yang mutlak. "Gadis itu adalah bagian dari kesepakatanku. Dan siapa pun yang mencoba mengusik bidak di atas papan caturku, aku akan memastikan mereka hancur bersama dengan ambisinya."

Tanpa menunggu balasan dari sepupunya, Alvaro berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan Arsen yang kini perlahan memudarkan senyum ramah di wajahnya, digantikan oleh tatapan dingin yang sarat akan dendam.

Malam itu, di bawah langit malam yang pekat, sang Pewaris Berbahaya telah menetapkan batas teritorinya. Alyssa Pradipta mungkin hanyalah sebuah kontrak bisnis di matanya, namun di dalam perang kekuasaan yang sedang membakar keluarga Maheswara, Alvaro tidak akan membiarkan siapa pun merebut apa yang telah menjadi miliknya.

...****************...

Alvaro melangkah menyusuri koridor dalam rumah menuju ruang kerjanya sendiri di sayap barat istana Maheswara. Derap langkahnya yang konstan terdengar menggema di atas lantai marmer, memecah keheningan malam yang kian larut. Pikirannya tidak tertuju pada ancaman terselubung Arsen, melainkan pada kejanggalan yang baru saja terjadi beberapa menit lalu sebelum ia masuk ke ruang perjamuan.

Ia mengingat betul posisi berdiri Adrian Pradipta di dekat meja konsol dokumen rahasia koridor utama, dan bagaimana Alyssa dengan begitu taktis pasang badan untuk melindungi ayahnya.

Gadis itu menyembunyikan sesuatu, batin Alvaro, matanya menyipit tajam dalam kegelapan ruang kerja yang baru saja ia masuki.

Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu meja antik yang memancarkan pendar kuning temaram. Alvaro duduk di kursi kebesarannya, lalu meraih ponsel pribadinya. Jemarinya bergerak cepat mengirimkan pesan singkat kepada Rendra.

Perketat pengawasan di sekitar kediaman Pradipta malam ini. Laporkan jika ada aktivitas keluar masuk yang mencurigakan, atau jika mereka menghubungi pihak ketiga, ketik Alvaro.

Jawaban dari Rendra masuk dalam hitungan detik: Baik, Tuan Muda. Tim sudah berada di posisi masing-masing sejak satu jam yang lalu.

Alvaro meletakkan ponselnya kembali di atas meja dengan ketukan pelan. Sifatnya yang waspada dan penuh perhitungan membuatnya tidak pernah meremehkan hal sekecil apa pun. Jika keluarga Pradipta mengira mereka bisa memanfaatkan pernikahan kontrak ini untuk bermain dua kaki dengan musuh-musuhnya, maka mereka sedang berjalan menuju lubang eksekusi mereka sendiri.

Ia bersandar pada kursi kulitnya, membiarkan keheningan malam menyelimuti dirinya. Di bawah temaram lampu, bayangan wajah Alyssa yang menatapnya dengan penuh keberanian di koridor tadi kembali melintas. Pria berumur 28 tahun itu tersenyum sinis, sebuah ekspresi dingin tanpa kehangatan sedikit pun.

"Pernikahan ini hanyalah transaksi, Alyssa," gumam Alvaro lirih pada ruangan yang sunyi. "Dan besok pagi, aku sendiri yang akan memastikan kamu menandatangani akta penyerahan kebebasanmu."

Bagi sang Pewaris Berbahaya, cinta dan belas kasihan telah lama mati di dalam kamus hidupnya. Yang tersisa hanyalah kalkulasi bisnis yang dingin dan kekuasaan mutlak yang harus dipertahankan dengan cara apa pun. Dengan keyakinan kejam itu, Alvaro mematikan lampu meja, membiarkan ruangan tenggelam dalam kegelapan pekat yang sama seperti rencana-rencana besar yang siap ia eksekusi esok hari.

...****************...

Keesokan paginya, matahari baru saja naik separuh ketika Alvaro sudah menyelesaikan rutinitas paginya. Pria berumur 28 tahun itu berdiri di depan cermin besar kamarnya, merapikan letak kerah kemeja hitamnya sebelum mengenakan blazer formal berwarna abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Tidak ada gairah atau ketegangan seorang pengantin pria di wajahnya; yang terpancar hanyalah fokus tajam seorang eksekutif yang bersiap mengeksekusi akuisisi besar.

Tepat pukul sembilan lewat tiga puluh menit, Rendra sudah menunggunya di depan mobil Rolls-Royce hitam yang terparkir di pelataran istana Maheswara.

"Bagaimana laporan dari tim pengawas semalam?" tanya Alvaro dingin sembari melangkah masuk ke dalam kabin belakang mobil yang mewah.

Rendra segera menutup pintu dan duduk di kursi kemudi, memutar tubuhnya sedikit menghadap sang atasan. "Semua tenang, Tuan Muda. Tidak ada aktivitas keluar masuk dari kediaman Pradipta. Namun, tim mendeteksi adanya lalu lintas data yang cukup padat dari alamat IP rumah mereka pada sepertiga malam. Tampaknya ada yang sedang melakukan pembersihan jejak digital atau enkripsi dokumen."

Alvaro menipiskan bibirnya, memancarkan kilat kejam di sepasang mata elangnya. "Sudah kuduga. Gadis itu tidak sebodoh yang terlihat. Dia tahu aku sedang mengawasinya."

"Apakah kita perlu menunda penandatanganan ini, Tuan Muda?" tanya Rendra hati-hati.

"Tidak. Jalankan mobilnya," perintah Alvaro tanpa keraguan. Sifatnya yang dominan dan penuh perhitungan justru tertantang oleh perlawanan terselubung ini. "Justru semakin cepat dia berada di bawah atapku, semakin mudah bagiku untuk menguliti semua rahasia yang coba disembunyikan keluarganya."

Mobil mewah itu meluncur membelah jalanan kota yang padat, bergerak konstan menuju kawasan perumahan keluarga Pradipta. Sepanjang perjalanan, Alvaro tidak lagi menyentuh tablet digitalnya. Ia menyandarkan kepalanya, membiarkan otaknya menyusun skenario terbaik untuk menjinakkan bidak barunya.

Tepat pukul sepuluh kurang satu menit, Rolls-Royce hitam itu berhenti dengan presisi di depan pagar rumah Adrian Pradipta. Alvaro menurunkan kaca mobil sedikit, menatap langsung ke arah pintu depan rumah yang beberapa detik kemudian terbuka.

Sosok Alyssa melangkah keluar.

Alvaro memperhatikan bagaimana gadis itu memilih mengenakan setelah blazer putih sebuah pilihan warna yang melambangkan kemurnian, namun potongan formalnya menegaskan bahwa dia datang untuk berbisnis, bukan untuk menyerah. Tatapan mata mereka bertemu di udara pagi yang basah, saling mengunci dan melempar percikan perang dingin yang tak kasat mata.

Alvaro membuka pintu mobilnya sendiri, melangkah keluar dengan keangkuhan seorang predator mutlak. Ia melirik jam tangan mewahnya, lalu menatap Alyssa yang kini sudah berdiri di hadapannya.

"Tepat waktu," ucap Alvaro datar, memecah keheningan di antara mereka. "Setidaknya kamu tahu cara menghargai waktu pentingku."

Alyssa membalas tatapan tajam itu dengan senyuman tipis yang sarat akan ketegasan, menolak untuk terlihat kecil di bawah bayang-bayang kekuasaan Maheswara. "Saya selalu menepati janji, Tuan Alvaro. Mari kita selesaikan transaksi kontrak ini."

Alvaro menaikkan sebelah alisnya, merasakan denyut keberanian yang begitu pekat mengalir dari pembawaan calon istrinya. Tanpa sepatah kata pun, ia memberi isyarat kepada Rendra untuk membukakan pintu penumpang. Babak perkenalan telah usai, dan kini sang Pewaris Berbahaya siap membawa Alyssa masuk ke dalam teritorinya, tempat di mana hukum kontrak dan kekejaman bisnis akan menjadi satu-satunya aturan yang berlaku.

1
THE GIRL COOL😑
peransaran gue sama foto nya
THE GIRL COOL😑
wkwkwk! pas di meja makan gue sampe mau ketawa untuk ke tahan😭
THE GIRL COOL😑
gue baca nya ngakak banget!!! bagus thor kau berbakat👍👍👍😍
reyanzarayyanfahlevy_: hehehhe bisa aja😍, masih pemula kakak😭😍
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
🤣🤣🤣
THE GIRL COOL😑
gue kadang heran... Alvaro sama cewek nya Alyssa sama "AL" depan nya😍
reyanzarayyanfahlevy_: iyaaaapppp🤭
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
brak² aja🤣 sabar²👍
reyanzarayyanfahlevy_: wkwkwk🤣🤣
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
gue baca peraturannya kesel cok
THE GIRL COOL😑
Berarti si Al Siapa namanya Si ceweknya itu nggak usah membuat makanan buat dia nggak boleh nyiapin apalah Pokoknya nggak boleh gituan dilarang sekalian gitu biar Alvaro nya tuh gua kesel
THE GIRL COOL😑
wow sok kali ini alvaro🤣🤣🤣
THE GIRL COOL😑
seangkuh itukah seangkuh itukah Alvaro
reyanzarayyanfahlevy_
Aku Bangga dengan Karya Ku...........
THE GIRL COOL😑
gue yg baca aja sakit cok🤣
THE GIRL COOL😑: yg alvaro bilang kalau apa gitu ada lah😭😭🤣🤣🤣
total 2 replies
THE GIRL COOL😑
kejambah woiii😭😭😭
reyanzarayyanfahlevy_: wekduyyy
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
jjangan di kasihani al!!!
reyanzarayyanfahlevy_: 😭🤭🤭 wkwkwkwk🤣🤣
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
jijik
THE GIRL COOL😑
terharu wehhh😭
THE GIRL COOL😑
di jodohi emang gak enak, bukti nya kk aku
THE GIRL COOL😑: serius!!!
total 2 replies
THE GIRL COOL😑
isss sombong
THE GIRL COOL😑
bagusss menunjukan ke dewasaan yg kuat💪💪
THE GIRL COOL😑: hehehe🤭
total 9 replies
THE GIRL COOL😑
aduhhhh alvaro
reyanzarayyanfahlevy_: wkwk😭😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!