Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Pulang
"Orang yang tepat?" gumamnya setelah ibu itu pergi.
Asido duduk di kursinya sambil memegang berkas pasien yang baru saja selesai diperiksa. Namun bukannya langsung melanjutkan pekerjaan, ia malah terdiam beberapa saat.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.
"Jangan ditunda-tunda......"
Asido menggeleng pelan sambil tersenyum sendiri.
"Elisya?" ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Astaga!!!" gumamnya sambil tertawa kecil pada dirinya sendiri. "Baru juga sekali jumpa......"
Sebagai dokter, ia terbiasa mengambil keputusan berdasarkan logika dan fakta. Tetapi urusan yang satu ini terasa jauh dari keduanya.
"sudah..... sudah...." ucapnya sambil berdiri lalu pergi menuju ruang kerjanya.
Baru sampai di sana, ketukan pelan terdengar dari pintu ruang kerja Asido.
"Masuk"
Seorang perempuan masuk membawa tablet dan beberapa berkas. Ia adalah Yani, manajer operasional klinik yang sehari-hari mengurus jadwal dokter, operasional, dan berbagai urusan administrasi.
"Dok, ada yang perlu saya konfirmasi."
Asido mengangguk sambil tetap menandatangani beberapa dokumen.
"Untuk hari Jumat pukul sepuluh pagi, ada pertemuan dengan dokter orthodontist yang kemarin menghubungi kita."
Asido mengangkat pandangan.
"Yang soal kerja sama itu?"
"Iya. Mereka ingin membahas kemungkinan kerja sama rujukan pasien dan penggunaan fasilitas klinik untuk beberapa tindakan ortodonti."
Asido mengangguk pelan.
"Sudah dijadwalkan?"
"Sudah. Mereka menunggu konfirmasi final dari dokter."
Asido meraih agenda kerjanya yang terletak di sudut meja. Begitu membuka halaman minggu itu, dahinya langsung berkerut.
Asido menggeleng pelan.
"Tidak bisa."
"Bentrok jadwal pasien?" tanya Yani.
"Bukan,"
"Kalau begitu?" lanjut tanya Yani.
Manager itu memang cukup akrab dengan Asido karena mereka memang sudah lama berkenalan.
"Saya ada urusan mulai hari Rabu sampai tiga hari ke depan." jelas Asido.
"Urusan apa?"
Selama bekerja, Yani terbiasa tidak terlalu sungkan untuk bertanya pada Asido.
Asido menatap Yani dan mengatakan dengan tegas.
"Pindahkan saja jadwalnya."
Asido tak memberi jawab atas apa yang ditanyakan Yani.
"Baik, Dok. Saya pindahkan ke minggu depan saja."
"Cari hari yang kosong minggu depan."
Yani mencatat perubahan jadwal tersebut.
"Saya kabari mereka sore ini."
"Terimakasih," balas Asido.
Manajer operasional itu keluar dengan ekspresi sedikit berbeda dari saat ia masuk tadi.
Asido menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap agenda yang masih terbuka di depannya.
Yani keluar dari ruang kerja Asido sambil membawa tablet di tangannya. Namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah pintu yang sudah tertutup.
"Apaan sih....." gerutunya.
Yani berjalan cepat menuju ruangannya. Sesampainya di meja kerjanya, ia langsung duduk begitu saja.
"Kenapa?" tanya salah satu staf administrasi sekaligus teman dekatnya.
"Dokter mu itu." ucapnya kesal.
"Asido?"
"Iya lah....."
"Ada apa lagi?"
Yani memutar kursinya.
"Aku kan tanya ada urusan apa sampai tiga hari penuh, jawabannya cuma 'ADA URUSAN.'"
Staf itu tertawa kecil.
"Memang begitu orangnya."
"Iya sih...... Tapi kan aku juga yang harus mengatur ulang semua jadwal."
Yani membuka kalender operasional klinik di layar komputer.
"Dan yang bikin heran, jadwal praktiknya kosong. Tidak ada seminar. Tidak ada pelatihan. Tidak ada konferensi dokter."
"Jadi?" tanya Feni sambil mengernyit.
"Yahhh......ya gak papa sih, aku cuma penasaran." ucap Yani sambil berdiri dan langsung memalingkan wajahnya.
Feni tertawa lagi.
"Yakin cuman penasaran?"
"Iya, profesional."
Feni di belakangnya hanya mengangguk sambil mengangguk tipis.
Yani mendecakkan lidah. Ia kembali melihat kalender yang terbuka.
Rabu. Kamis. Jumat. Tiga hari penuh. Padahal biasanya Asido termasuk orang yang sulit mengambil libur panjang. Bahkan ketika sedang demam sekalipun, ia masih sempat memeriksa pasien sebelum pulang. Karna itu alasan ada urusan terasa sangat mencurigakan.
"Jangan-jangan....." ucap Feni pelan.
Yani langsung menoleh padanya, "Jangan-jangan apa?"
"Dia......dia....mau menikah tapi....diam-diam." ucap Feni ragu.
"Hah? Tidak mungkin!!!" balas Yani tegas.
Yani kembali balik badan, berjalan ke arah jendela.
"Hei.... Kenapa tidak mungkin?" tanya Feni.
"Karna kalau dokter Asido punya pacar, satu klinik pasti sudah tau." gumamnya.
Staf itu perlahan kembali fokus pada pekerjaannya. Namun Yani tidak bisa langsung kembali fokus. Dia memang sudah kembali duduk. Tapi pikirannya tak bisa tenang.
"Saya ada urusan mulai hari Rabu sampai tiga hari ke depan."
Ia mengingat kembali percakapannya dengan Asido.
Padahal biasanya, untuk urusan jadwal penting, Asido cukup terbuka mengenai alasan ketidakhadirannya.
Yani memutar pulpen di tangannya.
"Jangan-jangan dia memang menyembunyikan sesuatu?" ucapnya dalam hati.
Lalu diikuti dengan celetukan temannya tadi.
"Jangan-jangan dia mau menikah diam-diam." ucapnya lagi dalam hati.
Yani langsung menggeleng.
"Tidak mungkin...." gumamnya pelan. "Fokus!! Fokus....." ucap Yani sambil menghela napas.
Tapi beberapa detik ke depan ia kembali berpikir.
"Tapi....." ucapnya.
Kalau ia pikir-pikir, usia Asido memang sudah cukup matang. Pekerjaannya mapan, kliniknya berkembang pesat, dan keluarganya pasti sudah sering menanyakan soal pasangan hidup.
Selama ini hanya saja tidak pernah ada yang melihatnya dekat dengan siapapun. Tidak ada foto pasangan di meja kerjanya. Tidak pernah cerita tentang pacar. Tidak ada tanda-tanda yang bisa dijadikan petunjuk.
"Fokus..... Fokus!! Kerja dulu....." ucapnya pada dirinya sendiri.
Saat mulai mengetik laporan, satu pertanyaan masih sempat melintas di benaknya.
"Kalau bukan urusan pekerjaan..... Sebenarnya dia mau kemana selama tiga hari itu?" tanyanya.
"Akh....!!!" Yani memukul mejanya pelan.
Sementara itu, Asido masih berada di ruang kerjanya. Saat ia baru berdiri, ponselnya bergetar.
Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya langsung melunak.
Among.
Ayahnya menelpon dari kampung. Asido segera mengangkat panggilan itu.
"Horas, Bapa."
"Horas, Amang. Lagi sibuk?"
"Masih di klinik, Pa, tapi bisa bicara. Ada apa, Pa?"
Suara ayahnya terdengar hangat dari seberang sana.
"Syukurlah, Mang. Bapa cuma mau memastikan. Jadi pulang kan minggu ini?"
Asido tersenyum kecil.
"Jadi Bapa. Rencananya Rabu berangkat." ucapnya sambil duduk kembali.
"Sudah pasti itu, Mang?" tanya ayahnya memastikan.
"Nungga, Bapa. Jadwal di klinik juga sudah kuatur."
Terdengar helaan napas lega dari seberang telepon.
"Syukurlah. Dari kemarin..... Omak mu terus bertanya. Takut kau batal datangnya karna kerjaan."
Asido tertawa kecil.
"Tidak akan batal kali ini."
"Baguslah, Mang. Sudah lama juga kau tidak pulang." balas ayahnya.
Ada jeda singkat di antara mereka, membuat mereka sama-sama diam.
"Mang? Halo Amang?" panggil ayahnya.
"oh.... iya? Aku masih disini kok, Pa? Aku dengar kok."
"Engga akan ada masalah kan, Mang.....kalo kamu harus pulang?" nada ayahnya sedikit khawatir.
"Engga, Pa....Engga" Asido menggeleng cepat.
"Betulan kan, Mang?" tanya ayahnya memastikan lagi.
"Iya, Pa....."
Asido memutar kursinya pelan sambil menatap ke luar jendela. Mengingat kampung halamannya yang selalu punya cara membuat orang rindu.