Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 SEBUAH PERTEMUAN (DUA ENERGI YANG LAMA TERPISAH)
Zaki menarik napas dengan perasaan cukup lega. Dan ia kembali duduk dengan santai. Lalu ia mengeluarkan HP dari dalam tas untuk mengecek jam. Karena mulai terasa kantuk pun datang.
"Wah, Mbak, gak kerasa udah jam satu malem ya... Cepet banget rasanya..."
"Eh, masa sih Mas? Kok cepet banget ya..." Nisa pun memeriksa jam di layar HP miliknya.
Sudah pukul 01:12 malam...
"Mbak, aku tidur duluan ya... Gak apa-apa kan?" ucap Zaki setelah ia menguap.
"Oh, iya Mas, gak apa-apa kok. Tidur aja duluan Mas."
"Kamu belum ngantuk Mbak?" tanya Zaki sambil mulai memposisikan tubuhnya di atas bangku, dan menjadikan tas biru tua miliknya sebagai bantal.
"Belum Mas, tapi kayaknya dikit lagi juga aku ngantuk sih..."
"Ya udah, aku tidur duluan ya Mbak."
"Iya Mas Zaki..."
Mulailah Zaki memejamkan ke dua matanya dengan posisi yang sudah dirasa nyaman untuk tidur. Tapi, beberapa saat kemudian ia merasa kalau Nisa masih memperhatikannya.
Sejenak Zaki melirik, dan berkata, "Kenapa Mbak? Kok senyum-senyum?"
"Eh, eng-enggak kok Mas." jawab Nisa sedikit gugup, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela gerbong.
Ketika Nisa memandang ke arah luar, Zaki sedikit lama memperhatikannya. Dan tersenyum tipis.
"Duh, Mbak Nisa..." gumamnya dalam hati.
Kembali ada rasa sedikit khawatir dalam hati Zaki, khawatir jika saat ia terlelap tidur akan terjadi sesuatu pada wanita manis di depannya itu. Namun segera ia tepis semua kekhawatiran itu. Karena ia sudah berkata kepada Sekar Mayang untuk tidak melakukan kejahilan lagi pada Nisa.
Dan...
Perlahan...
Zaki pun bisa terlelap pulas...
Tanpa Zaki tahu, di saat ia terlelap, maka di situlah celah terbuka bagi Sekar Mayang untuk kembali hadir...
.
🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕
🚂🚃🚃🚃🚃🚃🚃🚃🚃🚃
.
"Hihihi... Sudah tertidur lelap ternyata, Zaki ku sayang..."
Ucap Sekar Mayang... Sambil dengan perlahan hadir kembali...
Dan dengan kehadirannya itu, Nisa yang sedang menikmati pemandangan di luar kereta yang melaju, menjadi aktif secara otomatis kemampuan ghoibnya. Tetapi, Nisa masih belum menyadari kehadiran Sekar Mayang.
Seolah-olah Sekar Mayang dengan kemampuannya sebagai perewangan, sengaja menarik Nisa menembus batas dua dimensi.
"Hihihi... Tampan sekali tuanku ini..." Ucap Sekar Mayang sambil membelai pipi Zaki.
Lalu dengan kemampuannya lagi, Sekar Mayang bisa memindahkan kepala tuannya itu ke atas pangkuan pahanya. Tanpa membuat tuannya itu terbangun.
Kemudian, dibelai rambut Zaki dengan sangat lembut oleh Sekar Mayang. Matanya menatap dengan tajam tapi terasa penuh kelembutan ke arah wajah Zaki. Dengan perlahan, dengan kelembutan, Sekar Mayang terus menerus membelai rambut tuannya itu.
Sampai akhirnya...
Sekar Mayang tahu bahwa Nisa mulai menyadari kehadirannya...
Dengan perlahan, Nisa memperhatikannya ke dua kaki Sekar Mayang. Lalu wajahnya sedikit demi sedikit terangkat, memandang ke arah Zaki yang sedang ditumpu kepalanya sambil ia tertidur pulas.
Dan... Akhirnya Nisa bisa melihat secara jelas wujud Sekar Mayang...
Sekar Mayang dengan senyuman tipisnya, memandang lurus tepat ke wajah Nisa yang tampak mulai sedikit gugup itu.
"Si-siapa kamu?" tanya Nisa.
Sekar Mayang tak menjawabnya, malah ia kembali menatap wajah Zaki sambil terus membelai rambutnya dengan penuh kelembutan, layaknya seorang istri kepada suaminya.
Nisa bertanya sekali lagi, "Siapa kamu?" kali ini suara Nisa lebih pelan dan sopan pada Sekar Mayang.
Dan, dengan sengaja Sekar Mayang membuat energi dirinya jadi lebih besar, ia ingin menguji sekali lagi sejauh mana energi Nisa.
Lalu, dijawablah pertanyaan Nisa itu, "Sekar Mayang namaku..."
Perewangan Zaki itu menatap Nisa beberapa saat, ia tahu bahwa wanita itu seperti tertekan oleh energinya.
"Tak usah takut Nisa... Aku sama seperti perewanganmu..." ucap Sekar Mayang, kali ini ia menenangkan Nisa.
"Baiklah... Maaf... Aku tak bermaksud mengganggumu, atau mengganggu istirahat Mas Zaki." respon Nisa.
Sambil terus membelai kepala Zaki dan tersenyum pada Nisa, Sekar Mayang berkata lagi, "Aku tahu kamu adalah orang yang baik Nisa..."
"Terima kasih, Sekar Mayang..."
Dan Sekar Mayang pun mengangguk, sebagai respon bagi Nisa. Lalu... Dengan energinya yang besar, Sekar Mayang seolah memancing perewangan Nisa untuk hadir juga.
Dan itu segera terwujud...
Saat dengan jelas, selendang kuning keemasan milik Dayang Putri muncul, mengalungi pundak Nisa...
"Kita bertemu lagi, Sekar Mayang..." ucap perewangan milik Nisa itu.
"Iya, Dayang Putri..." jawab Sekar Mayang.
"Setelah sekian lama..." lanjut Dayang Putri.
"Sejak perpisahan kita ratusan tahun yang lalu ya..." timpal Sekar Mayang.
Pertemuan kembali antara Sekar Mayang dan Dayang Putri ini, membuat Nisa hanya terduduk diam.
Karena sebagai dua sosok perewangan yang kemampuan dan kekuatannya hampir setingkat ini, mereka berdua bisa membuat Nisa tak merasakan adanya benturan energi antar ke duanya.
"Bagaimana dirimu sekarang Dayang Putri?" Sekar Mayang melanjutkan.
"Seperti yang bisa kau lihat, Sekar Mayang..." jawabnya.
Tampaklah senyuman manis di antara dua sosok perewangan itu.
Dayang Putri melanjutkan, "Sepertinya... Orang yang menjadi Rajamu sekarang adalah manusia yang baik..."
Sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Zaki, sambil terus membelai kepala tuannya itu, Sekar Mayang merespon dengan sebuah pertanyaan, "Emmm... Begitukah menurutmu?"
"Kau pun juga Dayang Putri, sepertinya orang yang menjadi Ratumu sekarang pun orang yang baik ya..." tambahnya.
"Iya... Dia adalah orang yang baik..." jawab Dayang Putri.
KARENA SEKAR MAYANG MEMILIKI KEMAMPUAN UNTUK BISA MELIHAT KE MASA LALU, segera mengetahui adanya sebuah kekosongan dalam diri Nisa, saat ia menatap Nisa.
"Tapi... Aku bisa merasakan kekosongan dalam hatinya... Itu menjadi tugasmu untuk mengisinya dengan sempurna kelak..." ucap Sekar Mayang kemudian.
"Itu bukan urusanmu, Sekar Mayang." respon Dayang Putri dengan cepat.
KARENA DAYANG PUTRI MEMILIKI KEMAMPUAN UNTUK BISA MELIHAT KE MASA DEPAN. Sehingga ia segera mencegah Sekar Mayang untuk ikut campur.
Dan dengan tatapan yang tajam menatap Dayang Putri, Sekar Mayang menjawab, "Hihihi... Sejak dahulu kau memang keras kepala..."
Dan dengan tatapan yang sama tajamnya, Dayang Putri balik merespon, "Jangan lagi kau campuri urusanku. Apakah kau lupa dengan dirimu sendiri Sekar Mayang?"
"Baiklah... Jika memang itu maumu Dayang Putri... Semoga dirimu tetap bisa menjadi pelayan yang baik untuk Ratumu sekarang." ucap Sekar Mayang.
"Dan semoga kau juga tetap bisa menjadi pelayan yang baik untuk Rajamu, Sekar Mayang..." jawab Dayang Putri.
Dan...
Dua sosok perewangan itu secara bersamaan menatap ke arah Nisa...
Karena besarnya energi Sekar Mayang dan Dayang Putri saat bertemu, raga Nisa tak mampu bertahan...
Akhirnya... Nisa pun pingsan perlahan...