Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Perkara nama
"Om baik yang kemarin, ya?”
Gatra hampir saja terlonjak karna kaget sesaat setelah ia selesai mengunci pintu unitnya. Suara anak kecil itu tiba-tiba terdengar dari samping, begitu dekat.
Saat menoleh, ia mendapati anak yang kemarin ditolongnya sudah berdiri di sana. Wajahnya tampak tenang, bahkan tersungging senyum ramah yang entah kenapa justru membuat Gatra kesal.
“Iya, kamu anak keras kepala yang kemarin itu, kan?” balas Gatra ketus. Ia kembali ke sikap dinginnya seperti biasa, tidak ramah pada orang yang baru dikenalnya, apalagi anak kecil.
Kemarin anggap saja dirinya baik karna belum mengetahui bagaimana anak itu serta ia ingin mendengarkan saran dari psikologi agar tidak meledak-ledak pada anak kecil. Gatra di minta mendengarkan dulu, memikirkan kalimat yang akan keluar atau diam saja jika tak suka.
Tapi sepertinya kedatangan anak ini tidak tepat karna suasana hatinya kurang bagus. Di tambah lagi anak itu tinggal di samping unitnya, membuat Gatra semakin tidak menyukainya.
"Nanti Rayyan ngga akan gitu lagi, Om. Rayyan janji!" Ungkap Rayyan sambil tersenyum tidak enak pria dewasa itu.
"Terserah kamu saja." Baru saja Gatra melangkah tiba-tiba saja Rayyan sudah berdiri di depannya. "Awas bocah, saya mau lewat!"
"Aku mau tanya sesuatu, boleh ngga Om?" Tanya Rayyan dengan wajah polos tanpa sadar pria dewasa di depannya menahan amarah. "Kenapa kemarin Om ngga jujur sama Mama?"
"Saya kasihan sama kamu." Gatra masih sabar.
"Kenapa Om kasihan? Padahal kita baru kenal." Rayyan menunggu pria itu membuka suara. "Rayyan ngga nyangka Om kayak gitu, padahal kemarin, Rayyan udah nyiapin alasan yang masuk akal supaya ngga terlalu di marahi Mama, Om."
"Kamu mau bohongin Mamamu?" Tanya Gatra tak percaya. "Saya nyesel ngga jujur aja sama dia gimana kelakuan anaknya."
"Rayyan enggak pernah mau bohongin Mama, Om. Rayyan terpaksa melakukannya, soalnya Mama ngga akan izinin Rayyan ikut les renang lagi kalau Mama tahu aku nekad masuk ke kolam dewasa."
Gatra menggeleng makin-makin menyesal sudah membantu anak di depannya. "Dasar bocah tak tahu diri, itu salahmu sendiri kenapa enggak dengerin omongan saya? Saya nyesel jadi kasihan sama kamu! Ya udah dari pada saya tambah kesal terus ngata-ngatain kamu mending kamu pergi cepat dari sini!"
"Ngga mau sebelum aku tahu nama Om!"
"Kenapa kamu mau tahu?" Tanya Gatra balik karna menurutnya tidak terlalu penting berkenalan dengan anak kecil. "Walau kita tetangga, tapi kita ngga akan ketemu lagi."
"Ngga mungkin kayak gitu, Om. Kita pasti ketemu setiap hari jadi ngga lucu kalau ngga tahu nama-nama tetanggaku sendiri."
"Banyak omong juga ya kamu, ngga kayak anak-anak lainnya. Tapi sayangnya saya sedang tidak memiliki banyak stok kesabaran jadi lebih baik pergi sekarang juga!"
"Kenalan dulu dong, Om."
"Kenapa kamu maksa? Saya ngga mau dekat sama tetangga!"
"Om aneh deh, masa sama tetangga sendiri ngga mau kenalan atau deket? Nanti kalau ada apa-apa sama Om, siapa yang akan nolong pertama kali? Ya pasti tetanggalah."
"Bukan, tapi keluarga saya." Balas Gatra mulai muak. "Jadi kenapa–"
"Kalau kata Mama karna keluarganya jauh jadi kita harus baik-baik sama tetangga karna mereka yang akan nolong kita pertama kalinya."
"Saya tahu, nama saya Gatra bocah! Udah kan? Jadi kamu bisa pergi!" Gatra semakin tidak suka karna anak itu seolah sedang menasehatinya tentang kehidupan bertetangga.
Tahun ini usianya sudah menginjak tiga puluh lima tahun jadi sudah kenyang dengan segala nasehat dan perjalan kehidupannya. Untuk itu jika ada siapapun bahkan anak kecil yang seusia atau mungkin lebih muda sedikit dari keponakannya melakukan itu padanya maka tak heran membuatnya marah.
"Sabar, sabar, Om. Rayyan cuma nanya. Oh ya, kenalin namaku Rayyan, usia empat belas tahun, anak dari Mama Nayra dan Papa–"
"Saya ngga peduli, jadi cepat katakan urusan kamu ke sini itu apa lagi? Saya ngga bisa lama-lama soalnya udah di tunggu orang penting."
"Om mau kemana sih? Perasaan sekarang hari Minggu jadi semua orang libur."
"Ngga semuanya, bocah."
"Iya, emang engga semuanya contoh pertamanya adalah Mamanya Rayyan. Kalau enggak ingat baru pindahan dia pasti ngga ada di rumah."
Gatra menghela nafas lelah mendengar Rayyan. Padahal ia sudah sangat bersabar tapi yang di dapatkan malah seperti ini.
"Kamu memang ngga bisa di sabarin ya." Gatra akhirnya buka suara mendapatkan Rayyan yang tidak terlihat takut melihatnya. "Kamu tahu tidak kalau kayak gini bisa di laporan ke satpam di bawah? Atas kelakuan tidak menyenangkan. Oh, atau kamu mau terusir dari gedung apartemen ini ke juga?"
"Ngga mau, Om Rara kok jahat banget? Padahal kemarin baik karna ngga bilang aku kayak gitu juga karna salahku."
"Saya memang jahat, tadi kamu panggil saya apa? Ra... Ra? Nama saya Gatra, bocah! Kamu bisa panggil Tra atau Ga, jangan Rara kayak perempuan." Kata Gatra dengan jengkel.
"Susah bilangnya, Om. Enakkan manggil Rara atau Om mau dipanggil Yaya? Eh, kok nama kita hampir mirip, Rara, Rayyan dan nama mamaku, Nayra."
"Oke-oke, iya, terus sekarang mau kamu apa?"
"Sebenarnya Mama mau tahu Om tinggal di unit yang mana," ungkapnya tanpa dosa.
"Buat apa Mamamu mau tahu tempat tinggal saya, bocah?" Gatra benar-benar tidak habis pikir karna tidak anak atau Mama dari tetangganya itu sama-sama aneh.
"Om, kenapa jadi emosian gini sih? Kemarin waktu ngobrol sama Mama sabar bangat. Malahan Om ngga bilang kalau aku yang salah karna ngga dengerin peringatan, Om."
Gatra menarik nafas dalam-dalam karna kejengkelannya pada Rayyan sudah sampai di tahap paling tinggi. Andai saja sosok di depannya bukan anak kecil maka Gatra tak akan ragu untuk melayangkan tinjunya.
Harusnya sekarang Gatra sudah sampai di rumah salah satu sahabatnya, tapi karna adanya bocah ini membuatnya terpaksa tetap ada di sini.
Sementara Rayyan berusaha senyum tanpa memutuskan tatapan polos dari pria dewasa yang baru di kenalinya. "Om, jangan marah nanti cepet tua. Tapi tadi salah Om juga langsung menyela padahal aku mau lanjuti penjelasannya."
"Selain cepat tua, salah saya apa lagi? Cepet katakan bocah!"
"Ngga ada, Om baik banget soalnya." Rayyan nyengir sambil berjalan mundur. "Oh ya, kuenya nyusul ya, Om. Nanti Rayyan antar. hati-hati di jalan, Om Rara."
Pria terdiam untuk beberapa saat sambil terus menatap Rayyan yang menekan tombol di pintu tak jauh dari unitnya lalu anak itupun melambai tak lupa dengan tersenyum lebarnya dan buru-buru masuk menghilang dari pandangan Gatra.