Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal yang Terlihat Sederhana
Aku pernah berpikir…
mungkin semua ini memang nyata.
Bukan sekadar kebetulan,
bukan juga sesuatu yang hanya akan lewat begitu saja.
Raka selalu ada.
Bukan hanya di saat aku butuh,
tapi bahkan sebelum aku sempat merasa sendiri.
Hampir setiap hari, dia menjemputku.
Pagi dan sore.
Tanpa pernah aku minta.
Seolah itu bukan usaha,
tapi sesuatu yang memang ingin dia lakukan.
“Aku di depan.”
Pesannya selalu sama.
Singkat, sederhana…
tapi cukup untuk membuatku merasa diperhatikan.
Dulu, aku terbiasa melakukan semuanya sendiri.
Berangkat kerja sendiri.
Menunggu kendaraan sendiri.
Pulang dengan rasa lelah yang hanya aku pahami sendiri.
Aku tidak pernah merasa itu sebagai kekurangan.
Sampai akhirnya aku merasakan…
bagaimana rasanya ditemani.
Sejak itu, hal-hal kecil mulai terasa berbeda.
Pagi yang biasanya terburu-buru,
kini terasa lebih tenang.
Perjalanan yang biasanya sepi,
kini terasa lebih hidup meskipun kami tidak selalu banyak bicara.
Bahkan diam pun terasa cukup.
Suatu hari, untuk pertama kalinya, dia tidak datang.
Tidak ada pesan.
Tidak ada kabar.
Aku berdiri di depan kantor seperti biasa.
Awalnya aku berpikir mungkin dia terlambat.
Tapi waktu terus berjalan…
dan dia tidak muncul.
Aku mulai melihat sekeliling,
berharap melihat sosok yang sudah terlalu aku kenali.
Tapi tidak ada
Lima belas menit berlalu.
Lalu dua puluh menit.
Dan akhirnya, aku memilih pulang sendiri.
Tidak marah.
Tidak juga ingin menyalahkan.
Tapi ada rasa aneh yang tidak bisa aku jelaskan
Seperti kehilangan sesuatu…
padahal sebelumnya aku tidak pernah merasa memilikinya.
Malamnya, aku mencoba bersikap biasa saja.
Tidak menghubunginya.
Tidak juga menanyakan apa pun.
Sampai akhirnya keesokan harinya, Dina menghampiriku.
“Kemarin kamu pulang sendiri?” tanyanya.
Aku mengangguk pelan.
“Dia nyariin kamu,” lanjutnya.
Aku sedikit terdiam.
“Maksudnya?”
“Dia panik. Bolak-balik ke depan, nanya ke orang-orang. Dia kira kamu masih nunggu.”
Aku tidak langsung menjawab.
Ada sesuatu yang terasa janggal.
Kenapa dia tidak menghubungiku?
Tapi aku memilih untuk tidak memperpanjang pikiran itu.
Siangnya, Raka datang seperti biasa.
“Maaf kemarin ya,” katanya singkat.
Aku menatapnya sebentar.
“Kamu kemana?” tanyaku pelan.
Dia diam sejenak, lalu menjawab,
“Ada urusan.”
Hanya itu.
Tanpa penjelasan.
Aku bisa saja bertanya lebih jauh.
Bisa saja memaksanya untuk jujur
Tapi aku tidak melakukannya.
“Nggak apa-apa,” jawabku akhirnya.
Dan mungkin, di situlah aku mulai belajar…
menerima sesuatu tanpa benar-benar memahaminya.
Hari-hari setelah itu kembali berjalan seperti biasa.
Dia kembali menjemput.
Dia kembali mengantar.
Seolah tidak pernah ada hari di mana aku harus pulang sendiri.
Tapi entah kenapa…
ada sesuatu yang tidak lagi terasa sama
Bukan sesuatu yang besar.
Bahkan mungkin tidak terlihat oleh siapa pun.
Tapi cukup untuk membuatku sesekali berpikir
apakah ini masih seperti yang dulu,
atau aku hanya terlalu ingin percaya bahwa semuanya masih sama?
Malam itu, aku duduk lebih lama dari biasanya.
Menatap ponsel yang sudah tidak berbunyi.
Aku mencoba mengingat kembali semua yang sudah terjadi.
Dari awal kami dekat…
sampai hari-hari di mana dia selalu ada
Semua terasa nyata.
Terlalu nyata, bahkan.
Tapi di tengah semua itu,
aku mulai menyadari satu hal kecil yang tidak bisa aku abaikan
tidak semua yang terlihat sederhana,
akan tetap sederhana selamanya.
Dan mungkin…
tanpa aku sadari,
aku sudah mulai berdiri di titik
di mana bertahan dan pergi
akan terasa sama-sama sulit.