"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Kesaksian dari Balik Kanvas Iblis
Langkah Arini dan Baskara terhenti di depan pintu besi berat yang berkarat, namun di mata batin Arini, pintu itu memancarkan hawa hitam yang mendidih. Aroma kemenyan, darah busuk, dan formalin beradu, menciptakan bau kematian yang sangat pekat.
"Bas, di dalam... suasananya sangat kacau," bisik Arini. Tangannya yang menggenggam batu giok Yogyakarta mulai berkeringat dingin.
Baskara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memeriksa senjatanya, lalu menendang mekanisme pengunci pintu yang sudah rapuh karena hantaman energi giok Arini.
BRAAK!
Ruangan itu terbuka. Sebuah pemandangan gila menyambut mereka. Ruangan itu tampak seperti ruang operasi rumah sakit, namun meja operasinya dikelilingi oleh tujuh kepala kerbau yang masih meneteskan darah di atas nampan kuningan. Di atas meja itu, bukan raga Bella yang ada—karena raganya sudah di ruang jenazah—melainkan sukma Bella Luna yang sedang diikat dengan ratusan benang merah.
Seorang dukun tua dengan jubah hitam yang kumal sedang berdiri di ujung meja, tangannya memegang belati perak yang diarahkan ke jantung sukma Bella. Di belakangnya, sosok hitam besar—Sang Raja Jin—menunggu dengan mulut menganga, siap menelan cahaya terakhir dari jiwa sang artis.
"Kalian tidak akan bisa membawanya!" raung sang dukun, suaranya seperti gesekan logam karat. "Jiwa ini adalah persembahan agung untuk Penguasa Museum!"
"Tutup mulutmu!" bentak Baskara. Ia tidak bisa melihat Bella atau sang Jin, tapi ia bisa melihat sang dukun. Tanpa ragu, Baskara menerjang maju, menghindari ayunan belati sang dukun dengan gerakan taktis. "Hukum manusia mungkin terlambat menyelamatkan raganya, tapi aku tidak akan membiarkanmu menyiksa batinnya!"
Perkelahian fisik terjadi dengan sangat intens. Baskara menggunakan keahlian beladirinya untuk mengunci pergerakan sang dukun, sementara Arini mendekati meja ritual.
"Bella... dengarkan aku," Arini berbisik, suaranya bergetar namun penuh tekad. ia menempelkan batu giok hijau itu tepat di tengah simpul benang merah yang mengikat jiwa Bella.
CRIING!
Cahaya hijau zamrud meledak, menghanguskan benang-benang merah itu dalam sekejap. Sang Raja Jin melolong kesakitan, terhempas ke sudut ruangan karena tidak tahan dengan kemurnian energi Yogyakarta.
Begitu benang itu putus, sosok sukma Bella yang tadinya merintih kini tampak bercahaya putih bersih. Ia tidak lagi tampak ketakutan. Perlahan, arwah Bella mendekati Arini. Ia tidak bicara lewat mulut, melainkan lewat rasa.
Bella memeluk Arini. Rasanya dingin, namun ada kehangatan yang menjalar ke hati Arini. Sebuah pelukan terima kasih yang sangat dalam.
"Terima kasih, Dokter..." bisik Bella tepat di telinga Arini, suaranya halus seperti desis angin. "Keadilan untukku sudah dekat... tapi tugasmu belum usai."
Arini terpaku. "Apa maksudmu, Bella?"
Arwah Bella menunjuk ke arah dinding utama di depan mereka. Di sana, terdapat sebuah lukisan raksasa yang sangat megah, menggambarkan sosok Raja Jin yang sedang dipuja oleh ribuan manusia. Lukisan itu tampak sangat hidup, seolah matanya terus mengawasi setiap gerak-gerik mereka.
"Bukan hanya aku, Dok... yang menderita di sini. Di balik lukisan pemujaan itu... ada sesuatu yang lebih mengerikan," bisik Bella lagi dengan nada peringatan yang kuat. "Ruangan itu... adalah jantung dari semua dosa mereka."
Arini menoleh ke arah lukisan itu. Ia melihat energi hitam yang luar biasa besar berdenyut dari balik kanvas tersebut. Baskara yang baru saja memborgol sang dukun yang pingsan, menghampiri Arini dengan napas tersengal.
"Arini? Apa yang dikatakannya?" tanya Baskara.
Arini menatap suaminya dengan tatapan ngeri. "Bas... Bella bilang di balik lukisan itu ada ruangan lain. Ruangan yang menjadi alasan kenapa semua ini terjadi."
Baskara menatap lukisan raksasa itu. Ia mendekat, meraba pinggiran bingkai emasnya yang berat. Ia menemukan sebuah celah kecil, sebuah mekanisme rahasia yang tersembunyi dengan sangat rapi.
"Mika! Jangan masuk dulu!" teriak Arini saat melihat Mika dengan penasaran hendak mengintip.
"Aduh, Rin! Baunya... baunya lebih aneh lagi dari sini!" Mika menutup hidungnya, wajahnya yang transparan berubah menjadi biru pucat.
Baskara menarik sebuah tuas tersembunyi di samping bingkai. Lukisan raksasa itu perlahan bergeser ke samping, menampakkan sebuah pintu baja tebal dengan jendela kaca kecil. Begitu pintu itu terbuka sedikit saja, Arini dan Baskara terdiam mematung.
Di dalam ruangan itu, bukan hanya peralatan medis atau sesajen yang mereka temukan, melainkan barisan tabung kaca raksasa berisi cairan pengawet, dan di dalamnya...
Arini menutup mulutnya, air matanya jatuh seketika. "Ya Tuhan... Bas..."
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣