“Segera pulanglah,, Kita butuh kamu untuk menjadi saksi Kha!”
Mendapat kabar tentang pernikahan kedua sahabatnya, kini Arka yang memang menetap tinggal di Italia Kembali dengan Sangat mendadak, Bagaimana tidak Dua sahabat baiknya akan menikah dan Arka harus menghadirinya.
Namun beberapa langkah Arka tiba di tempat dimana janur kuning melengkung terdapat juga bendara kuning di sampingnya.
Bayu Putra!
Bagaimana bisa sahabatnya meninggal tepat di acara sakralnya?
“Aku hancur Kha, Kenapa Bayu harus meninggalkan aku?”
Arka tak mampu menahan tangisnya, di peluk Vina dengan penuh belas kasih.
“Bagaimana Acaranya? Penghulu sudah datang namun pernikahan tidak bisa di lanjutkan!”
Arka menatap Vina yang sudah berderai air mata, rasanya dia ingin menghapuskkan kesedihan sahabatnya itu, tapi bagaimana caranya?
Kesedihan menyelimuti kediaman mempelai, pernikahan sudah pasti batal.
Namun, Satu pucuk surat yang Bayu tinggalkan untuk Arka membuat suasana semakin mencekam, Bayu meminta Arka yang menggantikan dia menikahi Vina.
Dan menikahi SAHABATNYA sendiri tidak pernah terlintas di dalam benak seorang ARKANA.
“Lanjutkanlah,, Arka yang akan menjadi pengantin penggantinya!”
Satu pernnyataan Sang Ibu yang membuat seluruh mata mendelik.
“Mah!”
“Lanjutkan Nak, Hujudkan permintaan terakhir sahabatmu!”
Apa Akra akan mengabulkan permintaan terakhir sahabatnya? Dan bagaimana bisa dia menikahi sahabat perempuannya?
Tidak!!
Pria Tampan itu gelisah memandang Cincin tunangan di jemari kirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANCAMAN YANG NYATA
BAB 25
Ancaman yang Nyata
Matahari Italia terasa menyengat di lokasi syuting yang terletak di pinggiran kota Roma yang klasik.
Kebisingan kru yang mengatur pencahayaan, teriakan asisten sutradara, hingga deru generator listrik menjadi latar belakang yang memusingkan bagi Arka.
Pria itu duduk di kursi lipatnya, mencoba mendalami naskah yang sebenarnya sudah ia hafal di luar kepala, namun pikirannya tetap tertinggal di rumah, pada Vina yang ia tinggalkan bersama sejuta rahasia.
Tiba-tiba, suasana riuh itu sedikit teredam oleh kedatangan sebuah mobil mewah yang berhenti di dekat area wardrobe. Tanpa memberi kabar terlebih dahulu, Sefa muncul dari balik pintu mobil.
Gadis itu mengenakan gaun tipis yang membuatnya tampak begitu rapuh namun mempesona. Begitu matanya menangkap sosok Arka, Sefa langsung berlari kecil, mengabaikan tatapan mata para kru yang mengagumi kecantikannya.
Ia menghambur ke pelukan Arka, membenamkan wajahnya di dada pria itu. Arka menghela napas, tangannya secara otomatis membalas pelukan itu, meski hatinya terasa seperti dicubit.
"Aku merindukanmu, Kak. Di rumah terasa begitu sepi," bisik Sefa sambil mendongak, menunjukkan lembaran naskah yang baru saja ia terima dari manajernya.
“Kan ada Vina di rumah, Sef.”
“Tapi tidak ada kamu.”
Arka mencubit hidung Sefa, begitu gemas dengan gadis bule ini.
"Ada revisi adegan lagi untuk take hari ini, Kak."
Arka mengambil lembaran itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Matanya memindai baris demi baris kata yang tertulis di sana.
Rahangnya mengeras seketika. Tentu saja, ia tahu persis apa yang dimaksud oleh Sefa. Revisi itu merujuk pada penambahan detail untuk adegan ranjang yang seharusnya hanya berupa siluet, kini diubah menjadi adegan yang lebih intim dan berani.
Bagi industri film, ini adalah profesionalisme.
Namun bagi Arka, yang kini menyandang status sebagai suami sah Vina, meskipun rahasia adegan itu adalah sebuah penghinaan terhadap komitmen barunya.
Bagaimana mungkin ia bisa melakukan adegan seperti itu dengan tunangannya, sementara bayangan istrinya yang sedang menangisi kepergian Bayu terus menghantui pikirannya? Ini bukan lagi sekadar urusan acting,ini adalah benturan antara tuntutan karier dan kesucian rumah tangga yang sedang ia jaga dengan susah payah.
"Nanti kita bicarakan dengan sutradara, Sef. Kakak tidak yakin adegan ini diperlukan untuk memperkuat alur cerita," ucap Arka dengan suara rendah namun tegas.
"Tapi Kak, sutradara bilang ini penting untuk menunjukkan chemistry kita. Lagipula, kita kan tunangan di dunia nyata, orang-orang pasti menantikan ini," Sefa mencoba membujuk, tidak menyadari badai yang sedang berkecamuk di dalam diri Arka.
Namun, perhatian Arka teralih.
Di sudut lokasi yang riuh, dekat tenda konsumsi, mata Arka menangkap sosok yang sangat ia kenali.
Rendy.
Sahabatnya itu berdiri di sana dengan raut wajah dingin yang memancarkan permusuhan yang tak lagi disembunyikan.
Rendy mengenakan jaket kulit hitam, tangannya memegang kantong makanan berlogo restoran ternama.
“Mau apa Rendy kesini?” Arka menatap Rendy dengan sorot mata penuh kewaspadaan.
Lelaki itu datang hanya untuk membawakan makanan favorit Sefa, sebuah tindakan perhatian yang biasa ia lakukan dulu sebelum Sefa resmi bertunangan dengan Arka.
Namun hari ini, kehadiran Rendy terasa seperti sebuah deklarasi perang. Rendy masih sangat marah,ia bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah Arka, menganggap pria itu tidak ada di sana.
“Kak Rendy?”
“Hai Sefa.”
Arka mengembuskan napas panjang, dadanya terasa sesak. Ia melihat Rendy berjalan menghampiri mereka, lalu dengan sopan meminta izin pada Arka untuk berbicara dengan Sefa tanpa sedikit pun menatap mata Arka.
"Sefa, aku membawakanmu risotto favoritmu. Kamu harus makan, jangan sampai sakit karena jadwal yang padat," ucap Rendy dengan suara lembut yang hanya ditujukan untuk Sefa.
"Oh, KakRendy! Terima kasih banyak. Kamu selalu tahu kapan aku butuh semangat," jawab Sefa dengan senyum tulus.
Arka hanya bisa mematung di tempatnya. Ia dirayapi ketakutan yang luar biasa. Ia tahu betul bahwa Rendy adalah pria yang sangat nekat.
Rendy mencintai Sefa dengan cara yang diam namun mendalam, dan kini Rendy memiliki alasan kuat untuk membenci Arka karena "pengkhianatan" yang ia lihat di restoran tempo hari.
“Dia bisa saja nekat, aku tau itu!”
Arka menatap Rendy dengan sinis.
Arka takut Rendy tidak akan berhenti hanya dengan memberinya tatapan sinis. Ia takut Rendy, dengan segala keberaniannya, akan mulai menyelidiki siapa sebenarnya Vina.
Jika Rendy menemukan bukti pernikahan rahasia itu, Arka tahu dunianya akan runtuh dalam semalam. Sefa akan hancur, kariernya akan tamat, dan Vina akan menjadi korban kebencian publik.
Saat Sefa sedang sibuk berbincang dengan Rendy, Arka menarik Zidan ke samping.
"Dan, kamu lihat Rendy? Dia ada di sini," bisik Arka penuh kecemasan.
Zidan mengintip ke arah Rendy dan Sefa.
"Iya, aku lihat. Dia sepertinya tidak akan melepaskan ini begitu saja, Kha. Kamu harus hati-hati. Rendy itu bukan orang bodoh. Dia punya banyak koneksi di kalangan jurnalis."
"Aku tidak takut pada jurnalis, Dan. Aku takut dia bicara pada Sefa sebelum aku punya waktu untuk menjelaskan semuanya pelan-pelan," Arka mengepalkan tangannya.
"Masalahnya, Arka, penjelasan macam apa yang bisa kamu berikan? Kamu menikahi sahabatmusecara rahasia sementara kamu masih bertunangan dengan Sefa. Tidak ada kata-kata yang bisa memperhalus kenyataan itu," Zidan menatap Arka dengan iba.
“Aku tau Dan, lalu aku harus bagaimana?”
Arka kembali menatap ke arah Sefa yang kini tertawa kecil mendengar lelucon Rendy.
Pemandangan itu seharusnya membuatnya cemburu sebagai seorang kekasih, namun yang ia rasakan justru rasa takut yang melumpuhkan.
Ia merasa seperti sedang berdiri di atas panggung sandiwara yang paling berbahaya dalam hidupnya. Setiap lampu sorot di lokasi syuting ini seolah-olah menjadi mata yang siap menelanjangi rahasianya.
"Kha! Arka! Masuk set sekarang!" teriak asisten sutradara.
Arka berjalan menuju set dengan langkah berat. Ia harus berakting mencintai Sefa di depan kamera, sementara di luar kamera, ia harus menjaga jarak agar tidak menyakiti Vina, dan di saat yang sama, ia harus mengawasi Rendy yang siap menusuknya dari belakang.
Di lokasi syuting yang megah ini, Arkana menyadari bahwa ia bukan lagi aktor yang sedang memainkan peran. Ia adalah seorang pria yang sedang terjebak dalam jaring laba-laba yang ia tenun sendiri, dan setiap gerakannya kini hanya akan membuat jaring itu semakin menjerat lehernya.
“Kenapa aku merasa kau terlalu tegang Kha?”
Deg!
Arka menoleh pada Rendy yang sudah tepat di sampingnya.
“Mau apa kamu kesini?”
“Bertemu Sefa. Apa lagi?”
“Jangan terlalu sering. Sefa bisa makan bersamaku.”
Rendy tertawa remeh, seolah dia sedang meremehkan sahabatnya.
“sudah ketauan selingkuh masih saja terlihat seperti baik-baik saja!”
“Kau!”