Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Keras.
Nyaris satu bulan berlalu, Bang Rinto memperhatikan Anyelir dari atas ruang gedung utama. Setiap tahapan seleksi penerimaan tentara wanita selalu ada dalam pengawasannya namun tak sedikit pun ia turut campur dalam hal tersebut.
"Ijin, Dan. Dari hasil pengamatan hingga sampai besok, sudah di pastikan putri Kadis lolos tapi, kami melihat sebenarnya beliau setengah hati untuk masuk tentara." Jawab salah seorang anggota.
Bang Rinto terdiam sejenak, ia kembali melihat ke arah lapangan. Memang wajah Anye tidak nampak seberapa bahagia.
"Ada campur tangan bapaknya??" Tanya Bang Rinto.
"Tidak ada. Murni, Dan." Jawab anggota tersebut.
"Ya sudah, kembalilah bekerja. Biar saya amati sendiri situasinya." Kata Bang Rinto.
"Siap."
...
Sore harinya pengumuman kelulusan casis. Anye memasang telinga sebaik mungkin untuk mendengarkan dengan seksama pantauan akhir tersebut.
"Dan terakhir, nomer casis xxx345, lolos." Nomer
Anye cukup syok mendengarnya.
Bang Rinto memejamkan matanya rapat, akhirnya Anye lolos tes tersebut.
"Ijin bertanya. Bisakah saya tidak potong rambut??" Tanya Anye membuat Bang Rinto membuka matanya lebar.
"Bisa saja, pakai hijab ya." Jawab panitia.
"Bagaimana kalau tidak mau??"
Tatapan tajam langsung mengarah pada Anye tapi beberapa detik kemudian pelatih wanita melirik Letnan Rinto yang sudah menatap mereka dengan tajam.
"Kamu tidak bisa jadi tentara." Jawab seorang pelatih wanita lainnya dengan asal.
"Ya sudah, saya nggak mau jadi tentara." Anye mengambil tasnya lalu beranjak dari duduknya.
"Banyak orang yang menginginkan sampai di posisimu saat ini tapi kamu malah menolaknya hanya karena tidak mau potong rambut?????" Tegur panitia tersebut.
"Saya nggak suka jadi tentara." Ujar Anye jujur.
"Nggak suka??? Lantas kenapa kamu daftar untuk jadi tentara wanita??? Perjuanganmu sudah sejauh ini. Kalau tidak jadi tentara, kau mau jadi apa??" Sampai gemas ibu panitia, beliau tidak hbis pikir dengan tindakan Anye.
Sejenak tak ada suara, akhirnya Anye menatap wajah panitia tersebut. "Mau jadi ibu rumah tangga."
Bang Rinto yang mendengarnya melotot tapi juga tersenyum tipis namun senyum itu segera tenggelam.
...
Malam harinya Pak Herliz tiba di tempat pendidikan, ia menghampiri putrinya. Kekecewaan seorang ayah tak terbendung dengan kelakuan putri kecilnya.
Pak Herliz melihat hasil seleksi Anye dengan nilai yang bagus. Namun saat melihat team seleksi dan mendapati nama Letnan Rinto, amarahnya semakin tersulut.
"Rinto?? Apa dia yang mempengaruhi Anye????" Tanya Pak Herliz pada rekan team lain yang berada disana.
"Memangnya Bang Rinto ada disini??" Anye yang benar-benar tidak paham sampai bengong saking bingungnya.
"Ijin Kadis, Letnan Rinto sama sekali tidak terlibat dalam hal ini." Jawab salah seorang anggota team.
Pak Herliz tidak langsung percaya, beliau langsung menemui Bang Rinto yang saat itu sedang berkumpul bersama rekan team yang lain.
"Rintoooo.. Apa yang kamu bilang sampai Anye tidak mau masuk jadi tentara?????" Tegur keras Pak Herliz masih memasang wajah geram.
"Ijin, saya tidak pernah mengatakan apapun dan selama test berlangsung, saya tidak pernah bertemu secara langsung dengan Anye." Kata Bang Rinto.
"Apa maksudnya tidak bertemu??? Kalau kamu team seleksi jelas kamu bertemu dengan Anye." Suara Pak Herliz sampai berapi-api.
"Saya masuk dalam jajaran seleksi pusat." Jawab Bang Rinto.
"Kalau kapasitasmu team seleksi pusat, lantas kenapa kamu ada disini???? Bukankah seharusnya kamu ada disana???"
"Siap.. Ijin, Kadis.. Saya memang team disini, tapi saya di balik layar, multi job. Saya mendapat tugas khusus dari panglima sebagai Intel. Jadi, untuk seleksi ini, saya tidak terlibat secara langsung." Ujar Bang Rinto menjelaskan keadaan secara perlahan.
Setelah mendengarnya, Pak Herliz terdiam. Beliau hanya melirik tajam ke arah Bang Rinto seolah menegaskan bahwa tatapan mata itu menolak untuk menyukai pria tersebut.
"Saya sudah bilang, jauhi putri saya..!!"
"Bagaimana, jika saya menolak??" Tanya Bang Rinto tanpa rasa takut.
Pak Herliz menarik krah pakaian seragam Bang Rinto, sungguh dirinya tidak menyukai pria di hadapannya. Apa yang pernah di dengernya selama ini tentang Letnan Muda di hadapannya sangat mengganggu pikirannya.
"Kamu pikir saya tidak tau masa lalumu?? Silakan kalau kau memang ada niat mendekati wanita, asal bukan putri saya..!! Biarkan dia mengejar mimpinya..!!" Ucap tegas Pak Herliz.
Dengan tenang Bang Rinto menurunkan cengkeraman tangan Kadis.
"Jika itu memang mimpinya, Anye pasti sangat bahagia. Tidak kah Kadis melihat Anye sangat tertekan. Jika bukan karena Anye sangat menyayangi Kadis, dia tidak akan ada disini."
"Jangan bicara seolah kamu lebih paham darinya..!!" Bentak Pak Herliz.
"Jika berkenan, tanyakan saja keinginannya." Bang Rinto menunduk dan berpamitan, ia berusaha menjauh dari Pak Herliz.
Pak Herliz pun terpaku, ia mulai teringat tentang putrinya. Ada rasa kesal tersimpan karena ucapan Letnan Rinto seakan menyindirnya dalam kenyataan.
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu
💪💪