"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Obat
“Aku udah janji sama dia!”
Mika berjalan menuju kamar mandi. Ia membawa pakaian yang pernah Arlan belikan. Meski pakaian itu terlihat tidak pantas dikenakan.
Baju linger sexy tipis berwarna hitam. Dengan satu tali yang hanya bisa di kaitkan pada leher.
Mika melihat tubuhnya pada kaca kamar mandi. Postur tubuhnya cukup ideal. Lekukkan terlihat jelas mengenakan baju tersebut.
Mika pun keluar kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Duduk di atas ranjang sambil menyilangkan kakinya.
“Semoga dia nggak masuk saat ini!” ucapnya hampir seperti berbisik.
Mika memiringkan kepalanya hingga rambut yang panjang tergerai ke samping. Mempermudah dirinya mengeringkan rambut.
Saat memiringkan kepala kearah sebaliknya. Mika terkejut melihat pantulan kaca jendela yang memperlihatkan Arlan berdiri menatapnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Ekspresi datar terlihat di wajah Arlan. “Ini kamarku!”
“Oh—” Mika langsung melihat sekeliling. Benar saja itu kamar Arlan.
“Jadi … ini baju punya Nona Kamalia?” Mika langsung spontan berdiri. “Astaga, aku pikir ini baju yang kamu belikan waktu itu!”
Arlan meneguk liur melihat tubuh Mika. Ia langsung memalingkan badannya.
“Oh, shit, sorry!” Mika juga langsung menyadari. Ia langsung menutup tubuhnya dengan handuk.
“Sebentar aku ganti baju yang lain dulu,” ucap Mika yang salah tingkah.
Mika langsung bergerak cepat. Namun, langkahnya terhenti. Tangannya ditarik oleh Arlan.
“Jadi, begini cara kamu menepati janji!” kata Arlan.
Mata Mika terlihat bingung. “Maksudnya?!”
Arlan tak percaya Mika melupakan janji yang ia ucap dengan sendirinya.
“Udahlah, ganti pakaianmu! Nggak cocok sama kamu!” katanya sinis.
Tanpa menunggu balasan Mika, Arlan langsung pergi ke ruang kerjanya.
Ia memejamkan mata sambil memegang keningnya. Tak lama kemudian, Mika datang dengan pakaian yang sama.
“A—apa setelah ini utangku lunas?” tanya Mika sambil menggenggam erat pakaiannya.
Arlan melihat di mata Mika tidak ada keraguan sedikitpun. “Aku nggak janji.”
“Em—”
Mika berjalan pelan mendekat. Ia menuangkan minuman di gelas kaca Arlan. Lalu, memberinya dengan gerakan lembut dan menggoda.
“Ada apa denganmu?!” tanya Arlan, curiga.
Perlahan tangan Mika membuka satu per satu kancing kemeja hitam Arlan.
“Hei, hentikan!” Arlan menghentikan pergerakan tangan Mika.
Arlan memeriksa suhu kening Mika. “Kamu panas! Istirahatlah!”
“Aku baik-baik aja. Jangan khawatir!”
Mika benar-benar bukan seperti yang ia kenal. Tatapan matanya cukup terlihat aneh. Seperti seseorang sedang mengonsumsi obat berbeda.
Arlan langsung membopong Mika masuk ke kamarnya. Ia melihat di meja masih ada obat pereda nyerinya.
“Kamu salah minum obat!” kata Arlan.
“Aku baik-baik aja!” kata Mika yang sangat terlihat pengaruh obat.
Mika berdiri dan menjatuhkan Arlan di ranjang. Lalu, ia pun melakukan hal yang sama.
“Mika, jangan salahkan aku kalau—” ucapan Arlan terpotong.
Bibir Mika telah membungkam mulut Arlan. Segala kekuatan Arlan untuk menahan hasrat yang mengalir deras di dadanya akhirnya terlepas.
Mereka pun dengan liarnya bercumbu mesra. Hingga pagi tiba, Mika terlelap dipelukkan Arlan.
“Emm—” Mika dengan manjanya, sedikit meregangkan tubuh.
Dengan masih dalam keadaan mata terpejam. Mika meraba tubuh kekar Arlan.
“Waw, kekar banget! Mimpi ini indah!” Ngigaunya.
Ketika Mika hampir menyentuh aset hidup Arlan, tangannya langsung dicengkram.
“Buka matamu bodoh!”
Mendengar suara itu spontan mata Mika langsung melebar. Mika mencoba pergi, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak.
“Auh—” lirihnya sakit.
Arlan sambil memejamkan mata berkata, “Makanya kalau lagi sakit jangan memulai!”
Mika mendengus kesal. Kebodohan kesekian kalinya terasa nyata. Tiba-tiba teringat tentang temannya.
“Astaga!” Spontan ia langsung duduk. Rasa sakit di badannya semakin menyiksa.
“Bisa Nggak sih, pergerakanmu pelan?” Arlan marah.
“Tunggu sebentar. Aku harus tolong temanku!” Mika bergegas ingin pergi. ketika langkah besarnya turun dari ranjang, Arlan kembali menariknya.
“please, Tuan Arlan. Kali ini aku mau tolong temanku!” Kepanikkan Mika begitu besar.
“Hei, tenangkan dirimu dulu!” Arlan memegang pundak Mika dengan erat. “Temanmu, Nurma ‘kan?”
“Tau dari mana?”
Arlan tersenyum tipis. “Apa yang nggak aku tau darimu?!”
“Baiklah. Tapi aku minta tolong kali ini aja. Di sekolah kemarin aku sempat lihat dia diperlakukan tidak senonoh sama teman sekelas. Tapi, dia diam aja!” Mika sangat kesal.
Arlan hanya diam. Mika yang terus mencerocos, langsung dibungkam oleh Arlan.
“Bisa diam!” kata Arlan.
Ekspresi Mika terheran. Bibirnya ditekuk dan ia hanya mengangguk.
Tiba-tiba suara ketukan terdengar di depan pintu.
“Tuan, ada Nona Kamalia!” ucap pengawal.
“Nona kamalia?” gumamnya sangat pelan, lebih berbisik.
“Di mana Arlan?”
Seketika jantung Mika tersentak. Kamalia tiba di depan pintu kamar Arlan.
Duk! Duk! Duk!
“Honey, kamu ada di dalamkan? Buka dong! Kitakan harus fitting baju pernikahan!” terianya di depan pintu.
Degg!
Mika benar-benar tersentak. Kali ini detak jantungnya tak beraturan.
Jelas Mika terkejut. Arlan tidak pernah menceritakan kalau mereka akan menikah.
Lirikan mata Mika menusuk tatapan dingin Arlan. Namun, ia tidak bisa berkata apa pun.
Arlan langsung turun dari tempat tidur dan mengenakan pakaian.
Sebelum Arlan membuka pintu, Mika telah beranjak untuk bersembunyi.
Cklik!
“Sayang, kamu ngapain, sih? Kok dari tadi nggak buka?” kata Kamalia manja.
Arlan menghempaskan tangan Kamalia. “Aish, berisik. Aku lagi istirahat kenapa?”
“Kok, begitu! Coba kalau gadis kampungan itu ngomong pasti jawabanmu nggak begitu!” Kamalia naik pitam.
Arlan masih dengan ekspresi datarnya, hanya mendengar. “Kamu bisa jalan?”
“Bisa, sayang.”
“Kalau begitu, pergi sendiri!” jawab Arlan singkat.
Kamalia menghentakkan kakinya. Ia sangat kesal dengan Arlan.
“Kalau begitu aku kasih tau kakek. Kalau kamu nggak mau ke butik untuk fitting!” ujar Kamalia.
Arlan menghela napas panjang. Ia sangat tidak menyukai Kamalia. “Tunggu di bawah!” kata Arlan sinis.
Pintu kamar ditutup rapat. Sementara Mika sudah bersiap untuk pergi.
“Mau ke mana?” tanya Arlan.
“Mau pulang, apa lagi?” balas Mika ketus.
Arlan menyipitkan matanya. Lalu, berkata, “Cemburu?!”
“Najis! Najis banget sumpah! Na … jis!” Suara Mika terdengar lantang. Setelah itu ia pergi.
Dengan yang tidak sempurna, Mika menuruni anak tangga. “Auh, sakit!” rintihnya. “Kurasa dia benar-benar binatang liar! Kayaknya besok aku harus ke rumah sakit!” gumamnya pelan.
“Nona Mika mau saya antar?” kata asisten saat ia melihat Mika berjalan.
Mika langsung melambaikan tangan, menolak. “Nggak usah! Tapi boleh aku minta tolong?”
“Apa itu, Non?”
“Tolong, kalau kalian lihat kucing berwarna putih dengan bulu tebal, hubungi aku, ya,” ucap Mika.
“Kucing?” Asisten menaikkan alisnya, heran. “Di sini nggak ada kucing, Non!”
Mika merasa bingung. “O—oh begitu. Tapi kalau kalian lihat hubungi aja aku, ya!”
“Baik, Non.” Asisten menunduk hormat. Seolah Mika seperti Tuan besar di apartemen itu.
Mika pun pergi menggunakan taksi online. Saat sampai di kontrakan, Tristan sudah berada di depannya.
“Ada perlu apa?” tanya Mika ketus.
Tristan hanya diam. Sekian menit Mika menunggu maksud tujuan Tristan ke kontrakkannya. Namun, tidak ada alasan yang Mika dengar.
“Kalau nggak ada yang dibicarakan, silakan pergi!” Mika membuang muka. Lalu, ia pergi sambil tertatih-tatih.