"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Ombak di Pesisir Dewata
Pesawat yang membawa Hana dan Raka mendarat di Bandara Ngurah Rai saat matahari mulai condong ke barat, menyepuh cakrawala dengan warna keemasan yang magis. Udara Bali terasa berbeda—ada aroma dupa, kamboja, dan garam laut yang bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang menenangkan namun sekaligus penuh misteri. Namun bagi Hana, kedatangannya ke Pulau Dewata bukan untuk berlibur. Ia datang untuk menjawab surat dari sekumpulan perajin tenun di desa pedalaman Karangasem yang merasa terhimpit oleh tengkulak internasional.
"Pulau ini cantik sekali, Na," ujar Raka saat mereka berkendara menuju Ubud, tempat basis sementara tim ekspansi "Ruang Temu". "Tapi aku bisa merasakan kegelisahan di balik keindahan ini."
Hana mengangguk, matanya menatap deretan toko suvenir mewah di pinggir jalan. "Di sini pariwisata adalah napas, Ka. Tapi seringkali, napas itu hanya dinikmati oleh mereka yang punya modal besar. Para ibu pembuat tenun di desa hanya mendapatkan remah-remahnya, sementara kain mereka dijual ribuan dolar di butik-butik Paris atau Milan."
Misi Bab 33 adalah membangun pusat distribusi dan pelatihan yang adil di Bali, yang menghubungkan langsung perajin desa dengan pasar global tanpa melalui perantara yang mencekik. Namun, Hana sudah diperingatkan oleh Laras bahwa ada seorang investor asing bernama Julian Vance yang sudah lama memonopoli kontrak eksklusif dengan desa-desa tenun tersebut.
Keesokan harinya, Hana dan Raka tiba di sebuah desa terpencil di kaki Gunung Agung. Di sebuah bale-bale bambu, belasan wanita paruh baya duduk dengan alat tenun tradisional mereka. Suara ketukan kayu—tak, tak, tak—terdengar ritmis, menciptakan simfoni kesabaran.
Seorang wanita tua bernama Ni Ketut menyambut mereka dengan senyum yang tulus namun sarat akan beban. "Ibu Hana, kami ingin mandiri. Tapi Tuan Julian bilang, jika kami menjual kain pada orang lain, dia akan menghentikan pasokan benang warna-warni yang selama ini hanya dia yang punya aksesnya. Kami takut tidak bisa makan jika menentangnya."
Hana menyentuh kain tenun ikat yang sedang dikerjakan Ni Ketut. Teksturnya halus, warnanya berasal dari akar-akaran alami yang dipadukan dengan benang sintetis impor. "Ni Ketut, benang itu bukan satu-satunya yang ada di dunia. Kami di 'Ruang Temu' punya jaringan di Makassar dan Surabaya. Kami bisa mendatangkan benang kualitas terbaik langsung dari pabriknya, bahkan kami bisa membantu Ibu-ibu di sini mengembangkan pewarna alami dari tanaman lokal agar nilai jualnya jauh lebih tinggi di pasar ramah lingkungan."
Saat sedang berdiskusi, sebuah mobil SUV mewah berhenti di depan bale-bale. Seorang pria bule dengan kemeja linen putih dan kacamata hitam turun dengan angkuh. Julian Vance.
"Mrs. Keiko, saya asumsikan?" Julian bicara dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih namun bernada meremehkan. "Saya sudah mendengar reputasi Anda di Jakarta. Sangat mulia. Tapi ini Bali. Bisnis di sini punya aturan main yang berbeda. Anda tidak bisa begitu saja datang dan merusak ekosistem yang sudah saya bangun selama sepuluh tahun."
Hana berdiri, merapikan selendang batiknya. "Ekosistem yang Anda bangun, Mr. Vance, lebih mirip dengan penangkaran. Anda membiarkan mereka tetap hidup, tapi Anda tidak membiarkan mereka terbang. 'Ruang Temu' bukan datang untuk merusak, tapi untuk menawarkan pilihan. Dan di negara demokrasi ini, para perajin berhak memilih siapa mitra kerja mereka."
Julian tertawa sinis. "Silakan saja. Tapi ingat, tanpa akses distribusi ke galeri-galeri saya di Seminyak dan Canggu, kain-kain ini hanya akan jadi taplak meja di pasar loak. Jangan beri mereka harapan palsu."
Setelah Julian pergi, suasana bale-bale menjadi sunyi. Ketakutan terpancar dari mata para wanita itu. Raka melangkah maju, ia membawa sebuah kotak kayu berisi sampel furnitur yang ia desain khusus untuk memajang kain tenun.
"Ibu-ibu," suara Raka yang berat dan tenang memberikan rasa aman. "Saya seorang tukang kayu. Saya tahu bahwa kayu yang paling indah sekalipun butuh bingkai yang tepat agar orang bisa melihat harganya. Kami tidak butuh galeri Mr. Vance di Seminyak. Kami akan membangun galeri kita sendiri di sini, yang menggabungkan kafe 'Ruang Temu' dengan workshop tenun hidup. Wisatawan akan datang ke sini bukan cuma untuk beli kain, tapi untuk melihat jiwa di balik kain itu."
Malam harinya di Ubud, Hana menerima telepon dari Jakarta. Bukan dari Maya, melainkan dari pengacara Aris.
"Ibu Hana, klien saya, Bapak Aris, mulai menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan di lembaga pemasyarakatan. Beliau mulai rajin mengikuti kegiatan kerohanian dan... beliau mulai menulis. Beliau menitipkan surat-surat refleksi ini untuk dibacakan kepada anak-anak di Pondok Literasi. Beliau ingin berbagi tentang betapa mahalnya harga sebuah kejujuran."
Hana terdiam cukup lama. "Terima kasih informasinya. Silakan kirimkan surat-surat itu ke Maya. Jika isinya memang membangun dan tidak berisi manipulasi, biarkan tim pendidik di Pondok Literasi yang memutuskan apakah layak dibacakan atau tidak."
Hana menutup telepon dan menatap Raka yang sedang menggambar sketsa bangunan galeri untuk Karangasem. Ia merasa aneh. Masa lalunya (Aris) kini sedang mencoba berbuat baik, sementara masa depannya (perjuangan di Bali) sedang diadang oleh keserakahan baru.
"Kenapa, Na?" tanya Raka tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya.
"Hanya berpikir tentang perubahan, Ka. Bagaimana orang yang dulu sangat menghancurkanku kini mencoba menjadi bagian dari perbaikan. Dan bagaimana orang yang tidak kukenal seperti Julian Vance bisa begitu benci padaku hanya karena aku ingin berbagi sedikit keuntungan dengan para perajin."
Raka meletakkan pensilnya, menatap Hana dalam-dalam. "Itulah hidup, Na. Ada yang belajar dari kesalahan, ada yang belum sadar bahwa mereka sedang berbuat salah. Tugas kita bukan mengubah Julian, tapi menguatkan Ni Ketut dan teman-temannya."
Dua minggu berikutnya adalah perjuangan fisik dan mental bagi Hana. Ia harus bolak-balik Denpasar untuk mengurus izin pembangunan "Ruang Temu Bali - Galeri Tenun Agung". Julian Vance tidak tinggal diam; ia mulai menyebarkan rumor di kalangan pemasok benang agar tidak melayani pesanan Hana.
Namun, Julian meremehkan satu hal: kekuatan jaringan koperasi yang sudah dibangun Hana di dua kota sebelumnya.
"Mbak Hana, pengiriman benang dari Makassar sudah sampai di Pelabuhan Padang Bai!" lapor Laras melalui radio komunikasi. "Ibu-ibu nelayan di Makassar menitipkan pesan semangat untuk ibu-ibu perajin di Bali. Mereka bilang, 'Kita adalah saudara satu laut'."
Momen haru terjadi saat truk-truk benang itu sampai di Karangasem. Ni Ketut menangis melihat tumpukan benang berkualitas tinggi yang harganya jauh lebih murah dari harga yang dipatok Julian. Dukungan dari sesama anggota koperasi di kota lain membuat para wanita Bali itu merasa tidak lagi sendirian.
Konflik memuncak saat Julian Vance mencoba menyabotase peresmian galeri sementara dengan melaporkan bahwa bangunan tersebut melanggar aturan zonasi. Namun, Hana sudah menyiapkan "senjata" pamungkasnya. Ia mengundang tokoh adat tertinggi di desa tersebut serta perwakilan dari dinas pariwisata provinsi yang sudah lama mengagumi model koperasi "Ruang Temu" di Surabaya.
Saat Julian datang bersama petugas satpol pp untuk mencoba menghentikan acara, ia justru mendapati dirinya berhadapan dengan pejabat pemerintah yang sedang memberikan sambutan pujian untuk Hana.
"Mr. Vance," bisik Hana saat berpapasan dengannya di pintu masuk galeri. "Pariwisata berkelanjutan adalah tentang pemberdayaan, bukan eksploitasi. Di Bali, kami menyebutnya Tri Hita Karana—hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Anda hanya fokus pada keuntungan, itu sebabnya Anda akan kalah."
Julian pergi dengan wajah merah padam, menyadari bahwa eranya sebagai penguasa tunggal tenun Karangasem telah berakhir.
sementara 7 tahun lalu mereka masih mengontrak.
ingat2 Thor apa yg ditulis.