Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARGA SEBUAH BANTUAN
Malam setelah kemunculan makhluk Pengintai itu terasa jauh lebih menggigit dibanding malam-malam sebelumnya. Dinginnya udara seolah menembus hingga ke sumsum tulang, membuat tak ada seorang pun di antara mereka yang benar-benar bisa memejamkan mata dengan tenang. Bahkan, deru angin yang menyusup di antara celah rongsokan kendaraan di Jalan Tol Kematian kini terdengar berbeda; serak dan mengancam, seolah ada sesuatu yang sedang bersembunyi di balik kepekatan malam. Sesuatu yang terus mengawasi, menunggu, dan mempelajari mereka.
Damar masih dihantui oleh ingatan beberapa jam lalu. Bayangan makhluk kurus tinggi yang bertengger di atas truk itu menolak pergi dari benaknya. Terutama senyuman itu—sebuah tarikan bibir yang begitu lebar dan sinting, yang sama sekali tidak selayaknya dimiliki oleh sesuatu yang telah kehilangan seluruh kemanusiaannya.
Sembari memandangi bara merah api unggun yang perlahan memudar menjadi abu, Damar duduk bergeming seorang diri. Di sekelilingnya, beberapa anggota kelompok mencoba mencuri waktu untuk beristirahat. Alya tertidur pulas dengan posisi meringkuk bersandarkan tas ransel besarnya, sementara Rania mendekap erat boneka beruang lusuh yang bulunya sudah rontok di beberapa bagian.
Di sudut perimeter, Kapten Rendra masih berdiri tegak menjaga kewaspadaan. Tak jauh dari sang kapten, Rendy tampak duduk santai di atas sebuah ban bekas, sibuk membersihkan kapak taktisnya. Gerakan jemarinya begitu ritmis, tenang, dan terlatih, hampir menyerupai sebuah ritual sakral yang tak boleh diganggu.
Damar mengamatinya dalam diam. Rasanya masih sulit dipercaya bahwa pria berwajah keras di depannya ini adalah Rendy yang dulu—sahabat satu almamater yang selalu punya lelucon konyol di ruang kuliah, orang yang sama yang nekat menerobos kepungan awal wabah demi mendobrak pintu kosnya. Kini, sosok itu telah bermutasi menjadi pribadi yang teramat dingin, seolah dunia luar telah mengikis habis sisa-sisa kehangatan dari dalam jiwanya.
"Mau terus-terusan ngelihatin gue kayak gitu, atau mau ngomong sekalian?" celetuk Rendy tiba-tiba tanpa menghentikan aktivitasnya.
Damar terkekeh kecil, tertangkap basah. "Insting lo masih sensitif ternyata."
"Dan lo masih cerewet kayak dulu," balas Rendy, menyunggingkan senyum tipis yang hanya bertahan sesaat sebelum wajahnya kembali datar.
Keheningan kembali menyergap di antara mereka berdua, hanya ditemani suara retakan kayu bakar yang sekarat.
"Kota di depan... beneran seburuk itu, Ren?" tanya Damar akhirnya, mencoba mengorek informasi.
Gerakan tangan Rendy yang sedang mengelap bilah kapak mendadak terhenti. "Kota mana maksud lo?"
"Sektor selatan."
Detik itu juga, ada riak perubahan yang melintas di bola mata Rendy. Tidak kentara memang, namun cukup bagi Damar untuk menyadari bahwa ada lembaran memori hitam yang coba ditekan rapat-rapat oleh sahabatnya itu.
"Sektor selatan itu bukan masalah terbesar kita sekarang," ucap Rendy, mengalihkan pandangannya ke arah kegelapan tol yang pekat.
"Maksud lo?" Damar mengernyitkan dahi.
"Kota kedua," sahut Rendy pendek. Ia langsung berdiri, menyelipkan kapaknya ke pinggang, dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan area api unggun. Pria itu membiarkan pertanyaan Damar menggantung tanpa jawaban di udara malam yang dingin.
Keesokan paginya, rombongan kembali melanjutkan perjalanan dengan formasi yang sama. Bus Baja menceruk aspal di barisan depan sebagai pembuka jalur, sementara mobil kelompok Damar mengekor di belakang dengan jarak konstan. Langit di atas mereka menggantung kelabu, sarat akan uap lembap yang membuat atmosfer terasa kian menjemukan.
Rute yang mereka lalui kini menjelma menjadi labirin besi yang karut-marut. Mobil-mobil yang saling bertubrukan pasca-kepanikan massal berbulan-bulan lalu memaksa laju kendaraan mereka berjalan merayap. Tak ada tanda-tanda keberadaan *infected*, tak ada geraman menjijikkan, bahkan tak ada kepakan sayap burung. Namun, justru kesunyian yang mati total inilah yang perlahan menyiksa mental mereka sepanjang jalan.
Damar berjalan beriringan dengan Kapten Rendra di dekat pembatas jalan, memastikan pandangannya tetap menyisir perimeter. "Kita hampir sampai ke tujuan, Kapten?"
Rendra membuka lipatan peta lusuhnya yang sudah robek di beberapa bagian. "Kalau koordinat dari Jaka gak meleset, kita harusnya bakal berpapasan sama komunitas nomaden sore ini."
"Komunitas nomaden? Di daerah konflik kayak gini?"
"Mereka gak punya basis tetap. Prinsip mereka sederhana: terus bergerak atau mati tertimbun," jelas Rendra pelan. Damar manggut-manggut paham. Di masa sekarang, menetap di satu tempat terlalu lama memang sama saja dengan menyerahkan daftar nama ke malaikat maut, entah karena terendus oleh *infected* atau tercium oleh kelompok manusia lain yang jauh lebih ganas.
Menjelang matahari tergelincir ke ufuk barat, tanda-tanda kehidupan yang dijanjikan akhirnya mulai terlihat. Gulungan asap tipis tampak membubung dari balik perbukitan gundul di sisi tol, disusul sayup-sayup deru suara mesin diesel yang menderu berat.
Begitu melewati tikungan tajam di ujung bukit, pemandangan di depan mereka sukses membuat Damar terperangah. Di sana, puluhan kendaraan berskala besar—mulai dari truk kontainer, bus antarkota, hingga mobil bak terbuka—berkumpul membentuk satu lingkaran raksasa. Semua bodi kendaraan itu telah dimodifikasi secara masif dengan tambahan pelat baja dan kawat berduri, menciptakan sebuah benteng bergerak yang kokoh.
Di dalam barikade mobil tersebut, aktivitas manusia tampak berdenyut. Anak-anak kecil berlarian di antara roda-roda raksasa, para wanita sibuk mengaduk masakan di atas tungku darurat, sementara beberapa pria bertelanjang dada terlihat mengelas bodi truk yang penyok. Untuk pertama kalinya sejak dunia runtuh, Damar kembali menyaksikan sesuatu yang menyerupai tatanan masyarakat fungsional—bukan kamp isolasi militer yang kaku, bukan pula tempat pengungsian darurat yang mencekam, melainkan sebuah koloni kecil yang berjuang keras untuk tetap hidup.
"Selamat datang di Kamp Roda," ucap Jaka dari atas pintu busnya, tersenyum tipis melihat ekspresi rombongan Damar. "Ini rumah kami."
Namun, begitu melangkah lebih dalam melewati celah barikade, Damar mulai melihat sisi lain dari kamp tersebut. Realitasnya tidak seindah permukaannya. Mereka miskin—teramat miskin. Makanan dibagikan dengan takaran yang sangat ketat, fasilitas medis hampir tidak terlihat, dan sebagian besar armada kendaraan mereka sebenarnya sudah ringsek dan dipaksa berjalan dengan onderdil seadanya. Wajah-wajah yang berpapasan dengan mereka menyiratkan kelelahan kronis yang mendalam. Mereka memang hidup, tapi nyaris tidak bertahan. Setiap hari bagi mereka tak lebih dari sekadar perjudian nasib untuk bisa melihat matahari esok hari.
"Jadi... ini rupa dunia luar yang sebenarnya," gumam Alya lirih, matanya menyapu pemandangan miris di sekelilingnya.
Rendy yang berjalan di dekatnya mendengar gumaman itu, lalu mendengus sinis. "Kenapa? Lo kecewa?"
Alya hanya diam, namun binar matanya tak bisa berbohong. Selama ini, mereka yang terisolasi di dalam wilayah karantina selalu mengabaikan imajinasi bahwa dunia luar adalah tempat yang lebih hijau, tempat yang masih menyisakan sisa-sisa harapan. Kenyataan hari ini menampar mereka dengan fakta yang jauh lebih brutal.
Ketika malam kembali menguasai langit, kelompok Damar diberikan tempat beralih di dalam kabin sebuah bus kota tua yang mesinnya sudah mati total. Saat mereka baru saja menyelesaikan jatah makan malam yang minim, Jaka mendadak muncul di ambang pintu bus.
"Ikut gue sekarang. Ada seseorang yang perlu kalian temui," ujar Jaka, tatapannya langsung mengunci Kapten Rendra.
"Siapa?" tanya Rendra, menuntut kejelasan.
"Orang yang punya kunci jawaban atas semua teka-teki rute yang kalian cari."
Atmosfer di dalam kabin bus langsung berubah tegang. Damar, Alya, dan Rendra saling pandang. Mereka tahu persis apa arti kalimat Jaka: Jalur keempat. Terowongan rahasia yang menjadi satu-satunya celah untuk keluar dari kepungan kota terkutuk ini.
Mereka bergegas mengekor Jaka menuju sebuah trailer tua yang diparkir terisolasi di titik tengah Kamp Roda. Di dalam ruangan sempit yang pengap itu, tinggal seorang pria tua berumur sekitar enam puluh tahunan. Tubuhnya ringkih dan kurus, dengan rambut putih yang tumbuh berantakan. Namun, sepasang matanya yang kelabu masih memancarkan kilat ketajaman yang mengintimidasi.
"Namanya Hendra. Dulu dia teknisi utama utilitas bawah tanah kota sebelum semuanya berantakan," Jaka memperkenalkan singkat.
Pria tua bernama Hendra itu mengamati rombongan Damar satu per satu dengan saksama. Tatapannya yang lambat dan menyelidik akhirnya berhenti tepat di depan seragam lusuh Kapten Rendra. "Jadi... kalian kawanan nekat yang nyari dokumen jalur keempat?" tanyanya dengan suara serak, tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan, melainkan sebuah konfirmasi.
Kapten Rendra melangkah maju, meletakkan kedua tangannya di atas meja kerja Hendra. "Kami butuh peta dan akses informasinya, Pak."
Hendra melepaskan tawa kecil yang terdengar lelah dan hambar. "Semua orang di dunia baru ini butuh informasi, Kapten." Pria tua itu meraih cangkir logamnya, menyesap isinya sedikit sebelum melanjutkan, "Pertanyaannya... kenapa gue harus berbaik hati ngasih itu ke kalian?"
Ruangan itu seketika dilingkupi keheningan yang canggung. Damar langsung menyadari akar masalahnya. Di era apokalips, informasi berharga adalah komoditas tertinggi, setara dengan emas di masa lalu. Dan sialnya, mereka datang ke tempat ini dengan tangan kosong.
Diskusi taktis itu berjalan alot selama hampir satu jam tanpa membuahkan hasil. Hendra jelas mengetahui seluk-beluk jalur bawah tanah tersebut, namun ia mengunci rapat mulutnya. Hingga akhirnya, Jaka yang mulai tidak sabar mengembus napas kasar dan memotong pembicaraan. "Sebut aja langsung harganya, Pak. Berapa?"
Hendra menyunggingkan senyum penuh kemenangan di balik kerutan wajahnya. Ini adalah kalimat yang sejak tadi ia tunggu-tunggu. "Makanan kaleng. Amunisi aktif. Dan semua sisa persediaan obat-obatan yang kalian punya."
Setiap kata yang meluncur dari bibir keriput Hendra terasa laksana pukulan telak di dada mereka. Semua item yang ia sebutkan adalah modal utama kelompok Damar untuk bisa menyambung nyawa.
Kapten Rendra mengatupkan rahangnya rapat-rapat, matanya menatap tajam. "Kami gak punya stok sebanyak itu untuk dibuang."
"Gue juga gak punya banyak waktu buat ngurusin orang asing," sahut Hendra dingin tanpa beban. "Makanya kita sebut ini barter. Gak ada barang, gak ada peta."
Malam itu juga, kelompok Damar mengadakan rapat darurat di dalam kabin bus kota tempat mereka menginap. Situasinya jauh dari kata kondusif; emosi beberapa anggota mulai tersulut.
"Ini pemerasan namanya! Gila!" Bayu menjadi orang pertama yang melompat berdiri, wajahnya merah padam menahan amarah. "Kita udah taruhan nyawa buat ngumpulin semua suplai itu sepanjang jalan!"
Yanto ikut mengangguk lemah, menyetujui kekhawatiran Bayu. "Kalau kita serahkan semua stok medis dan amunisi kita ke orang tua itu, kita bisa mati konyol karena infeksi luka atau kehabisan peluru bahkan sebelum kita sampai ke gerbang jalur keempat, Kapten."
Alya tampak bimbang, sementara Kapten Rendra hanya duduk terkurung dalam kebungkamannya sendiri. Opsi yang ada di depan mata mereka benar-benar buah simalakama. Makanan berarti energi, amunisi berarti pertahanan, dan obat-obatan adalah satu-satunya dinding pembatas antara hidup dan mati saat tubuh mereka terluka. Menyerahkan semuanya terasa seperti menyerahkan leher mereka ke jagal.
"Kalian semua terlalu sibuk meratapi apa yang bakal hilang dari tas kalian," sebuah suara datar dari sudut gelap bus seketika menghentikan perdebatan.
Rendy. Pria itu sejak awal pertemuan hanya duduk diam menyandarkan kepala ke kaca jendela yang retak, namun kini ia akhirnya angkat bicara.
Bayu mendengus sinis, tidak suka dengan nada bicara Rendy. "Oh ya? Terus menurut lo kita harus pasrah aja jadi korban perampokan orang tua itu?"
Rendy menatap Bayu dengan pandangan sedingin es, membuat nyali pria itu sedikit menciut. "Lo masih bisa bertahan hidup tiga hari tanpa sebutir makanan pun di perut lo. Lo masih punya peluang buat lari seminggu penuh tanpa sebutir peluru di senapan lo. Dan lo masih punya waktu sebulan buat bertahan tanpa obat-obatan." Rendy menjeda kalimatnya, merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Tapi kalau kita salah ambil rute dan terjebak di jalur buntu Sektor Selatan?"
Tak ada satu pun dari mereka yang berani menyahut. Kebungkaman massal kembali mengunci kabin bus.
"Kita semua bakal mampus hari ini juga, gak perlu nunggu besok," lanjut Rendy ketus sembari kembali menyandarkan tubuhnya. "Informasi yang bisa menjamin keselamatan rute kita itu nilainya jauh lebih tinggi dibanding semua barang rongsokan di dalam tas lo pada."
Kata-kata Rendy malam itu sukses menampar ego semua orang. Karena jauh di lubuk hati mereka, mereka tahu persis bahwa apa yang dikatakan mantan sahabat Damar itu adalah sebuah kebenaran yang mutlak.
Keesokan paginya, keputusan pahit akhirnya resmi diambil. Mereka akan melakukan barter dengan Hendra. Meski tidak menyerahkan seluruh isi tas, volume suplai yang harus mereka korbankan sukses memangkas drastis separuh dari aset bertahan hidup mereka.
Damar menyaksikan sendiri bagaimana gurat berat di wajah Alya saat menyerahkan kotak obat-obatan krusial mereka, tatapan enggan Yanto ketika menghitung mundur butiran amunisi cadangan, serta sumpah serapah lirih Bayu saat kantong makanan mereka menyusut drastis. Proses itu terasa sangat menyakitkan, namun mereka tidak memiliki alternatif lain jika ingin terus melangkah maju.
Tepat pada waktu siang, mereka kembali mendatangi trailer milik Hendra. Setelah memastikan kualitas dan kuantitas barang barteran yang diterimanya sesuai kesepakatan, barulah sikap pria tua itu melunak sedikit. Ia berbalik, membuka sebuah peti logam tua bersandi yang tersembunyi di bawah tempat tidurnya.
Dari dalam peti tersebut, Hendra mengeluarkan beberapa lembar peta cetak biru utilitas kota yang permukaannya sudah menguning dan rapuh. Tangan Kapten Rendra tampak menegang saat menerima lembaran kertas itu—inilah jembatan menuju kebebasan yang selama ini mereka kejar.
"Hanya ada satu jalur evakuasi bawah tanah yang strukturnya belum amblas total," Hendra membeberkan peta itu di atas meja kerja, membiarkan garis-garis blueprint terlihat jelas.
Semua orang spontan merapat, menahan napas dalam-dalam. Jari keriput Hendra yang bernoda oli bergerak, menunjuk sebuah titik koordinat tersembunyi di area ujung Sektor Selatan. "Terowongan servis utilitas air bersih. Ini sistem drainase lama yang dibangun jauh sebelum proyek karantina militer didirikan."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama didera ketidakpastian, Damar merasakan secercah harapan yang nyata. Ini bukan lagi sekadar desas-desus atau mitos pengantar tidur para pengungsi; ini adalah petunjuk konkret yang memiliki fondasi fisik.
Namun, belum sempat mereka bernapas lega, ekspresi wajah Hendra mendadak berubah drastis. Kerutan di dahinya kian mendalam, memancarkan aura suram yang pekat. "Tapi... ada satu harga mahal lagi yang harus kalian lewati sebelum bisa menginjakkan kaki di terowongan itu."
Kapten Rendra menyipitkan mata. "Masalah apa lagi?"
Jari tua Hendra bergeser menjauh dari Sektor Selatan, bergerak merayap menuju sebuah area urban padat yang areanya sengaja dikosongkan tanpa nama di peta. "Kalian gak punya pilihan lain selain memotong jalan lurus membelah wilayah kota ini."
Semua pasang mata terpaku pada titik hitam besar tersebut. Tak ada label nama faksi atau penanda militer di sana.
"Dulu, sebelum evakuasi massal gagal, proyek pembangunan wilayah itu dinamai Kota Baru," lanjut Hendra dengan suara yang mendadak bergetar samar. "Tapi sekarang, bagi kami para nomaden yang bertahan di luar barikade... tempat itu dikenal dengan nama Kota Kedua."
Atmosfer di dalam trailer tua itu seketika drop ke titik nadir. Bahkan Jaka yang biasanya selalu memasang wajah angkuh, kini tampak membuang muka dengan gestur tubuh yang tidak nyaman.
"Kenapa tempat itu dinamai Kota Kedua?" tanya Damar penasaran.
Pria tua itu terdiam selama beberapa detik, matanya menatap kosong ke arah blueprint di depannya sebelum akhirnya menjawab dengan nada lirih yang mencekam. "Karena kota asal tempat kalian melarikan diri kemarin... itu sudah resmi dianggap mati. Dan kota yang satu ini..." Hendra menjeda kalimatnya, menatap lekat mata Damar, "...jauh lebih buruk dari neraka yang pernah kalian lihat."
Tak ada yang bersuara setelah kalimat itu meluncur. Kebungkaman yang berat mendadak menyelimuti ruangan. Bahkan Rendy yang biasanya selalu punya argumen sinis kali ini memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat.
Hendra menyapu pandangan terakhirnya ke arah rombongan. "Lima bulan lalu, ada satu faksi mandiri berkekuatan penuh yang nekat masuk ke sana buat nyari suplai senjata."
"Berapa orang dari mereka yang berhasil keluar?" tanya Alya, menahan gejolak takut di dadanya.
Pria tua itu menatap Alya cukup lama, sebelum akhirnya menjatuhkan jawaban yang meruntuhkan mental semua orang. "Satu orang."
Ruangan itu seketika terasa makin pengap. Dan kalimat penutup dari Hendra terbukti jauh lebih mengerikan dari dugaan mereka. "Dan orang itu mutusin buat bolongin kepalanya sendiri pakai pistol dua hari setelah dia berhasil keluar dari sana."
Malam harinya, kelompok Damar berdiri berjajar di atas sebuah bukit berbatu kecil yang terletak di pinggiran perimeter Kamp Roda. Di kejauhan, teramat jauh di batas garis cakrawala yang memisahkan bumi dan langit, tampak siluet samar dari sebuah kompleks megapolitan raksasa.
Kota itu tampak gelap gulita, mati, dan membisu. Tak ada satu pun pendar cahaya lampu, tak ada tanda-tanda aktivitas kehidupan. Ia menjelma menjadi sesosok bayangan hitam monster raksasa yang menjulang tinggi di bawah dominasi langit malam yang pekat.
"Itu dia bangunan yang dimaksud orang tua tadi," suara Jaka mendadak terdengar dari arah belakang, berjalan menghampiri mereka. "Kota Kedua."
Tak ada yang membalas ucapan Jaka. Karena entah mengapa, bahkan dari jarak sejauh puluhan kilometer ini, visualisasi kota tersebut memancarkan aura yang salah. Seolah ada sesuatu yang teramat kelam dan tidak semestinya yang kini tengah bersarang di dalam labirin betonnya—sesuatu yang membuat embusan angin malam di sekitar bukit terasa kian berat dan mencekam.
Rendy melangkah maju, berdiri tepat di samping Damar dengan pandangan yang terkunci mati pada siluet gedung-gedung tinggi di kejauhan. Pria itu menatapnya sangat lama, hingga akhirnya ia membuka suara dengan nada rendah yang nyaris menyerupai bisikan angin. "Kalau lo semua masih punya niat buat putar balik dan nyari rute lain..."
Damar menoleh cepat, menatap profil samping wajah sahabatnya. Rendy tidak membalas tatapan tersebut; matanya tetap terpaku lurus ke depan.
"...gue saranin kita lakuin hal itu sekarang juga sebelum terlambat, Mar."
Jantung Damar berdenyut dua kali lebih cepat mendengar peringatan itu. "Situasi di dalam sana... beneran se-ngeri itu sampai orang kayak lo bisa ngomong kayak begini, Ren?"
Untuk pertama kalinya sejak mereka dipertemukan kembali oleh takdir, Damar melihat secercah keraguan yang nyata di mata Rendy. Itu bukan sekadar rasa takut primal yang biasa diperlihatkan orang saat melihat *infected*, melainkan sesuatu yang jauh lebih destruktif: sebuah trauma mendalam dari masa lalu.
"Gue... pernah nekat masuk ke pinggiran kota itu sekali dulu," getar suara Rendy, nadanya mendadak terdengar sangat rapuh.
Suasana di atas bukit itu seketika membeku.
"Apa... apa yang lo lihat di dalam sana sampai bisa berubah kayak gini, Ren?" desak Damar lirih.
Rendy tidak langsung menjawab. Tatapannya mendadak kosong, seolah jiwanya baru saja ditarik paksa kembali ke masa lalu untuk menyaksikan kengerian yang selama delapan bulan ini berusaha ia kubur hidup-hidup. Setelah jeda panjang yang menyiksa, ia akhirnya berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Gue berharap... memori gue bisa dihapus supaya gue gak perlu nginget apa yang terjadi di dalam sana, Mar."
Angin malam kembali berembus kencang, menerbangkan debu-debu kering di sekitar kaki mereka. Dan jauh di ujung cakrawala, siluet Kota Kedua tetap berdiri tegak dalam keheningan yang mati—setia menunggu kedatangan mangsa baru untuk masuk ke dalam perangkap betonnya.