NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:616
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

Han masih menahan wanita itu di balik tumpukan peti ketika suara mobil patroli benar-benar menghilang dari lorong pelabuhan. Sunyi kembali turun. Namun kali ini terasa lebih berat.

“Gila nih cewek, tendangannya kenceng banget,” kata Damar yang meringis sambil mengusap perutnya.

Wanita itu melotot tajam ke arahnya. Han perlahan melepaskan bekapan mulutnya. Namun tangannya yang lain tetap menahan bahu wanita itu kuat-kuat. Tatapan mereka bertemu.

“Aku tanya sekali,” bisik Han rendah. “Siapa kamu?”

Wanita itu justru menyeringai tipis.

“Kalau aku jawab, emangnya kalian bakal lepasin aku?”

“Tidak.”

“Ya udah.”

Damar mendecak. “sebenarnya gue suka type yang begini,” gumamnya. “Tapi sayang hari ini gue lagi capek.”

Han mengabaikan mereka. Tatapannya bergerak ke arah gudang tujuh belas di kejauhan. Lalu ia berbicara pelan pada Damar.

“Ada security yang ku lumpuhkan di sisi barat.”

 “Suruh anak buahmu buat keributan kecil.”

“Jarah beberapa kontainer dekat gudang.”

“Bikin terlihat seperti pencurian biasa.”

Damar menyipitkan mata beberapa detik dan paham arah pikirannya. Han melanjutkan cepat.

“Kalau mereka sadar ada yang mengintai, area ini bakal dibersihkan total.”

“Dan kita akan kehilangan jejak.”

Damar mengangguk, dan langsung mengambil ponselnya. Ia menjauh sedikit sambil mulai memberi instruksi singkat pada anak buahnya.

Tak sampai lima menit. Suara gaduh mulai terdengar dari sisi lain pelabuhan. Teriakan liar dan suara barang jatuh. Lalu suara motor yang meraung keras. Lampu sorot gudang tujuh belas langsung bergerak liar ke arah keributan. Beberapa penjaga berlarian keluar.

Arga yang baru tiba bersama Nara dari sisi gedung lain langsung melongo.

“…serius mereka langsung mulai ngerampok?”

“Distrik lama style,” jawab Damar santai sambil kembali mendekat. “Anak buah gue emang kreatif.”

Han akhirnya menarik wanita itu berdiri.

“Bawa dia.”

Wanita itu mencoba memberontak lagi. “Eh! Lepasin ngga!! ”

Han langsung memutar lengannya sedikit. Wanita itu meringis.

“Kalau mau bahumu mau copot, ayo lanjutkan.”

Ia langsung diam. Arga memperhatikan mereka sambil berjalan menuju van.

“Entah kenapa gue rasa, sekarang ini kita terlihat seperti penculik.”

“Karena memang begitu,” jawab Nara.

“Bagus. Mental moral kita masih sehat,” balas Arga lagi.

Beberapm menit kemudian, sereka masuk ke dalam mobil van tua itu. Damar duduk di kursi pengemudi. Han di tengah bersama wanita misterius itu. Sementara Nara dan Arga duduk di belakang.

Pintu van ditutup dan mesin menyala pelan. Begitu kendaraan mulai bergerak, Han langsung bekerja cepat. Tangan wanita itu diikatnya dengan tali plastik.

“Serius?” protes wanita itu.

Han tidak menjawab. Ia menyumpal mulut wanita itu dengan kain kecil dari tas taktisnya.

“Mmfff!!”

Lalu mengambil kupluk hitam wanita itu sendiri dan menariknya turun hingga menutupi matanya.

“MMMMFF!”

Nara langsung protes.

“Han, kasihan.”

Han tetap tenang.

“Dia memotret fasilitas Helios diam-diam.”

“Bisa jadi dia mata-mata atau pembunuh.”

Wanita itu mencoba menendang Han tapi gagal. Han bahkan tidak bergeser. Arga menatap itu beberapa detik lalu berbisik pada Nara,

“…gue mulai paham kenapa dia terlihat menakutkan.”

Van melaju melewati jalanan pelabuhan yang gelap. Suasana di dalam kendaraan canggung. Hanya suara mesin dan dengusan kesal wanita misterius itu yang terdengar sesekali. Damar melirik kaca spion.

“Kayaknya dia bukan orang biasa.”

Han mengangguk, “iya…gerakannya sudah terlatih.”

Nara memperhatikan wanita itu diam-diam. Meski matanya ditutup, wanita itu tidak terlihat panik. Tidak gemetar, tidak memohon tapi justru terlalu tenang. Dan itu membuat Nara jadi tidak nyaman.

Perjalanan menuju bunker memakan waktu hampir tiga puluh menit. Ketika van akhirnya berhenti di jalur tersembunyi bawah pelabuhan, wanita itu mulai sedikit gelisah. Mungkin akhirnya sadar kalau mereka membawanya ke tempat rahasia.

Han menariknya turun tanpa bicara. Lorong menuju bunker terasa dingin dan lembap. Suara ombak terdengar samar dari balik dinding beton. Wanita itu berjalan sambil sesekali mencoba mengingat arah. Han sadar akan hal itu. Ia dengan sengaja beberapa kali memutar jalurnya sebelum masuk ruang utama bunker.

Pintu besi ruangan itu akhirnya terbuka. Cahaya terang menyambut mereka. Han mendudukkan wanita itu di kursi besi dekat meja kerja. Baru setelah semuanya aman, ia melepas kupluk yang menutupi mata wanita itu.

Wanita itu langsung berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang menyilaukan matanya. Tatapannya cepat menyapu ruangan.

Komputer tua.

Dokumen.

Senjata.

Peta.

Dan akhirnya, tatapannya berhenti di wajah Han. Mata wanita itu sedikit menyipit. Seperti mengenali sesuatu.

Han kemudian duduk di kursi seberangnya. Tenang dan diam, namun tekanan dari tatapannya terasa sangat jelas.

“Aku tanya sekali lagi,” katanya rendah.

“Siapa kamu?”

Wanita itu bersandar dengan santai meski tangannya masih terikat.

“Kalau aku jawab jujur…” tatapannya bergeser ke Arga, “…apa yang rambutnya mirip ayam stres itu bakal buka ikatanku?”

Arga langsung tersinggung.

“Eh. Ini style model baru.”

Nara memijat pelipisnya, bingung, tapi Han tetap tidak bereaksi.

“Apa tujuanmu di gudang tujuh belas?”

Wanita itu tersenyum kecil.

“Kerjaan.”

“Kerjaan untuk siapa?”

“Klien.”

“Nama.”

“Rahasia.”

Damar mendecak kesal.

“Boleh gue tonjok sekali aja ngga sih?”

Wanita itu malah tersenyum makin lebar.

“Kamu, dipukul sama cewek aja sudah tumbang tadi.” Katanya sambil tersenyum tipis.

“Han,” kata Damar sambil menunjuk wanita itu, “izinin dong.”

Han tetap tenang. Namun matanya tidak lepas dari wanita itu sedikit pun. Sementara itu di sisi lain ruangan, Arga mulai menghubungkan kamera DSLR hitam milik wanita itu ke laptopnya.

“Kalau dia fotografer biasa,” gumamnya sambil mengetik, “ngga mungkin, ini kameranya mahal banget.”

Layar laptop menyala. Folder foto mulai muncul satu per satu. Dan ekspresi Arga langsung berubah.

“…uh.”

Nara mendekat. “…Apa?”

Arga membuka salah satu foto. Gambar gudang tujuh belas muncul jelas. Lalu foto berikutnya. Penjaga yang bersenjata. Simbol ritual. Anak-anak diturunkan dari truk.

Dan foto close-up pria bertato leher yang turun dari SUV hitam tadi. Han langsung berdiri saat melihat wajah itu muncul di layar. Tatapannya mengeras.

Wanita itu memperhatikan reaksi Han pelan. Lalu senyum kecilnya pun menghilang.

“Ah,” katanya pelan. “Jadi kau memang mengenalnya.”

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!