Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka luar dalam
Pagi ini terasa lebih ramai dari biasanya. Tangisan Kenzo, suara drina yang mencari kotak pensilnya yang entah dimana dia lupa menaruhnya. Dan kak Satya pagi ini cukup menyebalkan, dia menaruh handuk basah di atas tempat tidur.
Arghhh, kepalaku terasa mau pecah.
"Mama ndra, kotak pensilnya ternyata ada di bawah meja" ucap drina dia menghampiriku yang sedang mencoba menenangkan Kenzo.
"Iya na, itu rambutnya sisir dulu." aku lihat rambut drina yang masih acak acak.
"Ndra, dasi hitam aku kamu taruh dimana." belum lagi kak Satya, yang riweh mencari dasi hitamnya. Padahal tadi aku sudah menyiapkan semua pakaiannya.
"Mama ndra tolong rambutku aku susah di sisir" ucap drina, gadis kecil itu menghampiriku dengan sisir yang menempel di atas kepalanya.
"Ndra tolong cariin dasi aku dulu."
Arghh kepalaku makin pening.
Kenzo yang masih menangis, entah apa yang bayi itu inginkan. Aku tidak mengerti.
"Aku udah siapin semua pakaianmu kak, tadi dasinya aku taruh diatas kemeja. Kenapa tiba-tiba ga ada?."
"Awww mama ndra, pelan pelan sakit."
"Kenapa rambut kamu jadi kusut begini na".
Aku melirik kak Satya yang masih celingukan mencari keberadaan dasi itu.
"Tadi ku pegang dasinya ndra, tapi aku lupa naruh dimana."
Setelah menyisir rambut drina, aku menghela nafas pelan kemudian bangkit dan membantu kak Satya mencari dasinya. Dan langkah yang masih pincang aku mencari dasi kak Satya, di setiap sudut kamar.
Itu?, aku melihat dasi kak Satya yang terjatuh di bawah nakas. Aku sedikit berjongkok untuk meraihnya.
JEDUKKK.
Dahiku menghantam sudut nakas, cukup keras. Aku menutup mata menikmati setiap denyutan di kepalaku.
"Kenapa?". Sepertinya kak Satya berjalan menghampiriku.
Nanya kenapa?, gak lihat aku memegang dahiku yang sedikit benjol.
"Udah gapapa kak, cuman nabrak nakas" ucapku sambil bangkit menyerahkan dasinya dan berlalu kembali menuju Kenzo.
Karena kaki masih sakit dan tidak bisa menginjak pedal gas jadi untuk hari ini yang antar jemput sandrina sekolah adalah kak Satya. Tidak keberatan katanya sewaktu aku tanya. Karena jarak kantor dengan sekolah sandrina cukup dekat.
Sandrina dan kak Satya sudah siap, aku dengan menggendong baby Kenzo menyaksikan sandrina yang sedang dibantu kak Satya memakai sepatunya.
"Udah, ayok berangkat."
"bye baby Kenzo, kak drina sekolah dulu ya."
"Oke kak drina bye..., sekolah yang pinter ya..." aku yang menjawab.
"Ndra aku berangkat ya."
"Iya kak hati-hati". Ucapku, aku menatap manik kak Satya, ada guratan lelah disana.
Dan.... hup.
Tangan kak Satya menyentuh dahiku yang sedikit memar.
"Memar dikit ndra, kamu ga obatin."
"Belum sempat, nanti saja kak, lagian cuman memar dikit"
"Yaudah, maaf" ucapnya sambil mengusap-usap pelan dahiku yang memar tadi.
Kak Satya dan drina sudah keluar dari pintu apart.
Aku menarik nafas pelan, mencoba menetralkan debaran jantungku.
Sentuhan kak Satya tadi membuat jantungku tidak aman.
***
"Gimana ndra, Kenzo rewel ga?"
"Bukan lagi na, rewel karena gak di ajak emak bapaknya seneng seneng".
Leona dan Izhar terkekeh. Pasangan itu datang ke apart untuk menjemput Kenzo.
"Maaf ya San sudah ngerepotin kamu". Ucap bang Izhar di sela kekehannya.
"Ganggu waktumu dengan Satya".
"Ya gapapa, asal jangan sering sering"
kita bertiga tertawa bersamaan, baby Kenzo kini sudah anteng dalam dekapan ibunya.
Setelah Leona dan Izhar pergi kini tinggal aku seorang diri di dalam apart. Aku membersihkan terlebih dahulu apartemen yang seperti kapal pecah. Menyapa lantai kemudian mengepelnya.
Setelah menjalin rumah tangga dengan kak Satya selama lima bulan menjadi aku jadi menyadari menjadi istri sekaligus menjadi ibu bukanlah hal yang mudah. Membutuhkan fisik dan mental yang kuat. Apalagi aku yang harus menjadi istri dadakan dan tiba-tiba menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah. Aku harus bisa memanej waktu sebaik mungkin agar semuanya bisa Ter urus dengan baik.
Harus membagi waktu aku kerja, mengurus kebutuhan kak Satya dan sandrina , mengurus rumah yang sangat menguras waktu dn tenaga.
Namun, aku ikhlas menjalaninya.
Tidak terasa adzan duhur pun tiba, aku harus segera membersihkan diri untuk menunaikan ibadah salat.
Air wudhu masih terasa sejuk di kulitku. Setelah menunaikan salat dzuhur, aku duduk sejenak di atas sajadah. Apartemen yang tadi riuh kini terasa begitu sunyi.
Terlalu sunyi.
Aku menghela napas pelan, lalu tanganku tanpa sadar menyentuh dahi yang tadi terbentur. Masih terasa sedikit nyeri.
Aku bangkit kemudian melipat sajadah dan mukena yang tadi aku pakai.
berjalan ke depan pintu lemari untuk memilih pakaian yang akan aku kenakan. Mataku tertuju pada tunik berwarna navy dan celana bahan berwarna broken white, aku memilih pakaian santai saja karena hari ini aku tidak akan kemana mana.
setelah makeup tipis dan merapikan rambut aku memilih untuk melanjutkan tontonan yang sempat tertunda.
Tidak terasa setelah dua jam menonton aku sudah menonton sebanyak dua episode serial drama turki.
Dertt... Dertt
Ponsel disamping ku terus berbunyi. Aku menoleh dan tertera di layar nama kak Satya.
"Iya assalamualaikum kak"
Kak Satya : Perlengkapan renang Drian udah siapa belum ndra?.
"iya kak aku sudah siapin"
Satya : Yasudah kita on the way menuju apart. ndra kamu ga sekalian ikut?
Tawar kak Satya di sebrang telpon.
Iya si memang bosan di dalam apart seharian, tapi kaki ku belum sepenuhnya sembuh. Ga kuat kalau harus berdiri lama di depan kolam berenang.
"Boleh deh, kak. Bsen juga di apart seharian, yasudah aku tunggu dibawah aja ya".
Beberapa menit kemudian, aku sudah duduk di dalam mobil.
Perjalanan menuju tempat les renang tidak terlalu jauh. Sepanjang jalan, Drina terlihat sangat antusias—terus bercerita tentang pelajaran renang hari ini.
Sesampainya di sana, suasana kolam renang cukup ramai. Suara cipratan air, tawa anak-anak, dan instruksi pelatih bercampur menjadi satu.
Aku memilih duduk di bangku pinggir kolam.
Angin lembap khas kolam renang menyentuh wajahku. Bau klorin cukup menyengat, tapi suasananya… hangat.
Drina berdiri di tepi kolam bersama teman-temannya. Mengenakan baju renang dengan pelampung di lengannya.
“Siap, semuanya masuk air!” suara pelatih terdengar tegas.
Byur!
Anak-anak itu masuk hampir bersamaan. Drina sempat meringis saat pertama menyentuh air, lalu perlahan mulai tersenyum.
Aku tanpa sadar ikut tersenyum.
“Bagus, Drina! Kakinya digerakkan!” teriak pelatih.
Drina mencoba menendang air, percikan kecil mengenai wajahnya. Ia tertawa, lalu mencoba lagi.
Kak Satya berdiri tidak jauh dariku, sesekali memperhatikan Drina.
“Dia cepat belajar,” ucapnya pelan.
“Iya…” jawabku singkat, tapi mataku tetap tertuju pada Drina.
Di tengah riuhnya suasana kolam…
Aku merasa… hangat.
Sederhana.
Aku menatap kagum pada putri kecil Satya dan Raisya itu, ia pintar sekali.
Anak-anak yang berlatih mulai naik ke atas kolam, aku melihat sandrina yang sedang berbincang antusias dengan teman-temannya. Walaupun badannya sedikit menggigil.
"Mama Ndra...." Sandrina melambaikan tangannya kepadaku. Akupun membalasnya.
Aku melirik kak Satya di sebelahku, yang ternyata keberadaanya sudah tidak ada. Entah kemana perginya pria itu.
Fokus ku kembali pada Drina.
Setelah jam les selesai gadis kecil itu berlari-lati kecil kearahku.
Namun.
Anak laki laki kecil berbadan gempal, berlari lawan arah kemudian menubruk sandrina. Drina kembali tercebur kedalam kolam dengan kedalaman dua meter.
Sontak aku berteriak. "Drina.....". Dengan kaki pincang aku berlari untuk menolong sandrina.
Tanpa berfikir lama. Tanpa peduli dengan aku yang tidak bisa berenang. Yang ku pikirkan hanyalah menolong sandrina.
Byurrr....