Kisah seorang ilmuan gila yang melawan pemerintah dunia yang dzalim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Michael Jack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negeri Es
Aren dan yang lainnya akhirnya keluar dari portal dan jatuh dari langit, tepat di depan gerbang markas mereka.
Rey mengeluh sambil berdiri dan membersihkan debu dari pakaiannya.
"Aren... kau benar-benar ingin membunuh kami," ucap Rey dengan nada kesal.
Aren menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung.
"Hehehe... maaf ya. Aku masih belum bisa menentukan titik koordinat yang tepat."
Mereka pun segera masuk ke gedung rapat untuk menemui Jack dan Vickery. Namun ketika mereka sampai di sana, mereka hanya menemukan Vickery yang sedang duduk santai.
Rey menarik sebuah kursi lalu duduk di atasnya.
"Di mana Jack?"
Vickery menyeruput secangkir kopi dengan tenang.
"Hm... dia bilang ingin menyelidiki penyebab air laut yang tiba-tiba membeku."
Aren mendecakkan lidahnya.
"Ckckck... dia tidak mengajakku."
Rey menoleh ke arah Vickery.
"Apa tidak ada misi baru?"
"Tidak ada. Bahkan bisa dibilang kita sedang berada dalam masa tenang," jawab Vickery santai.
"Begitu ya... baiklah, aku pulang dulu," ucap Rey sambil berdiri dari kursinya dan berjalan keluar dari ruangan.
Vickery juga bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju dapur.
"Oh iya, Aren... Jack sudah menyiapkan rumah untukmu. Kau bisa pergi ke sana dengan diantar oleh penjaga yang sedang patroli."
Aren terlihat sedikit tercengang.
"Eee... baiklah."
Aren pun keluar dari gedung rapat dan mulai berjalan-jalan di sekitar markas.
"Huh... orang-orang gila," gumamnya pelan.
Saat ia sedang berjalan santai, ia melihat seorang prajurit yang berlari ke arahnya.
"Siapa dia? Apa dia ingin menemuiku?" pikir Aren.
Prajurit itu berhenti tepat di depan Aren, terengah-engah.
"Huh... huh... huh... a-apakah benar anda Tuan Aren?"
Aren menatapnya dengan sedikit sinis.
"Ya benar, itu aku. Ada apa?"
"Aku diperintahkan oleh Tuan Pio untuk menjadi pengawal anda selama anda berada di sini," jawab prajurit itu.
Aren mengangguk pelan.
"Oh... begitu ya."
Prajurit itu kemudian berdiri tegak.
"Perkenalkan, namaku Sebastian. Mohon bantuannya."
Aren pun akhirnya diajak berkeliling markas oleh Sebastian untuk melihat-lihat lingkungan sekitar.
Sementara itu, Jack telah sampai di langit Kutub Utara.
Karena tidak dapat menggunakan jalur laut akibat seluruh permukaan laut membeku, Jack terpaksa terbang tinggi di atas awan agar tidak terdeteksi oleh penjaga di wilayah Kekaisaran Es.
Namun ketika ia baru saja sampai di langit Kutub Utara, ia langsung terkejut.
Di langit terdapat banyak sekali alat pendeteksi pergerakan yang terbang mengawasi wilayah udara.
"Alat pendeteksi pergerakan? Apakah teknologi di tempat ini sudah sangat maju?" gumam Jack.
Karena takut terdeteksi, Jack akhirnya memutuskan untuk mendarat dan berjalan di daratan.
Ia berhasil mengelabui para penjaga yang berada di gerbang masuk sehingga dapat menyelinap masuk dengan mudah.
Jack kemudian bergerak dengan hati-hati, melompat dari satu rumah ke rumah lainnya.
Tak lama kemudian ia sampai di sebuah pangkalan militer milik Negeri Es.
Jack cukup terkejut melihat berbagai peralatan perang yang ada di sana.
Teknologi mereka tampak jauh lebih modern dibandingkan teknologi milik organisasinya.
Ia kemudian menyelinap masuk ke sebuah tenda komando.
Di dalam tenda itu terdapat sebuah peta besar.
Ketika Jack melihat peta tersebut, matanya langsung terbelalak.
Di peta tersebut, benua Eropa ditandai dengan tanda silang besar.
Itu berarti mereka berencana menyerang dan menghancurkan organisasi Four Eyes.
"Cih... pantas saja mereka membekukan laut. Ternyata mereka memang ingin berperang denganku," gumam Jack dalam hati.
Jack juga menemukan fakta mengejutkan lainnya.
Negeri Es ternyata tidak hanya menguasai Kutub Utara.
Mereka juga menguasai Kutub Selatan.
Bahkan ibu kota kekaisaran mereka diam-diam telah dipindahkan ke Kutub Selatan tanpa diketahui oleh dunia.
Saat Jack masih mencoba mencari petunjuk lain, tiba-tiba seorang prajurit masuk ke dalam tenda.
Prajurit itu langsung terkejut melihat Jack.
Tanpa ragu ia langsung menembakkan senjatanya.
Namun karena Jack adalah seorang Phoenix, peluru itu hanya menembus tubuhnya tanpa memberikan luka.
Jack segera bergerak cepat dan membunuh prajurit tersebut, lalu keluar dari tenda.
Para prajurit lain yang mendengar suara tembakan langsung berlari menuju lokasi.
Mereka melihat Jack keluar dari tenda lalu terbang ke langit.
Para prajurit segera menembaki Jack dengan berbagai senjata.
Namun semua peluru hanya menembus tubuhnya tanpa memberikan luka.
"Makhluk apa itu?! Mengerikan sekali!" teriak salah satu prajurit.
Tiba-tiba seorang jenderal menerobos kerumunan prajurit.
"Minggir! Kalian bukan tandingannya!"
Jenderal itu bernama Sky.
Ia dijuluki Blue Bird karena kekuatannya adalah es dan ia mampu berubah menjadi burung es raksasa.
Sky kemudian menumbuhkan sayapnya dan terbang mengejar Jack.
Di belakangnya muncul puluhan tongkat es yang melesat menuju Jack.
Namun Jack berhasil menangkis semua serangan itu.
"Michael Jack! Hari ini kau harus mati!" teriak Sky.
"Coba saja jika kau sanggup!" balas Jack.
Jack berubah menjadi Phoenix lalu menukik ke bawah sebelum kembali terbang tinggi ke atas untuk mencoba melarikan diri.
Namun Sky terus mengejarnya.
Burung es itu melesat cepat lalu menghantamkan cakarnya ke kepala Jack hingga membuat Jack jatuh.
Jack sempat terluka, tetapi luka-lukanya langsung sembuh berkat kemampuan regenerasinya.
Jack kemudian terbang kembali dan meluncurkan bola api ke arah dada Sky.
Serangan itu tidak membakar tubuh Sky karena perlindungan esnya, namun gelombang kejutnya membuat Sky terpental dan menghantam awan es.
Sky mencoba menstabilkan sayapnya agar tidak jatuh.
Ia kemudian terbang lebih tinggi lalu menukik tajam ke arah Jack.
Tubuhnya berubah sepenuhnya menjadi burung es dan dilapisi oleh zirah es yang sangat keras.
Jack juga tidak mau kalah. Ia kembali berubah menjadi Phoenix dan langsung terbang ke arah Sky. Keduanya berniat saling menabrakkan diri.
Tabrakan besar pun terjadi. Dentuman keras mengguncang langit. Salju tebal langsung menutupi mereka berdua.
Beberapa saat kemudian, Jack terbang keluar dari gumpalan salju tersebut. Sementara Sky jatuh tak sadarkan diri.
Pasukan Negeri Es segera menembaki Jack dengan berbagai senjata berat, bahkan rudal.
Jack tersenyum sinis. Ia berbalik dan mengangkat tangan kanannya ke arah serangan itu.
"Kalian... jangan pernah macam-macam dengan kami."
Semua rudal dan serangan tersebut meledak di udara seolah-olah menabrak sesuatu yang tak terlihat.
Para pasukan musuh kebingungan. Sementara Jack hanya tersenyum tipis.
"Kekuatanmu sangat berguna kek," gumam Jack dalam hati.
Jack kemudian terbang menuju langit tempat alat pendeteksi pergerakan berada. Ia mengambil salah satunya. Sementara alat-alat lainnya ia hancurkan hingga jatuh ke kota seperti meteor. Beberapa rumah warga hancur akibat jatuhnya alat-alat tersebut.
Setelah itu Jack terbang pergi dari sana dengan tawa yang menyeramkan. Ia melakukan hal tersebut sebagai peringatan agar mereka tidak pernah macam-macam dengan organisasi Four Eyes.
Jack akhirnya kembali ke markas. Ia segera memperingatkan seluruh masyarakat untuk bersiap, karena dalam waktu dekat Negeri Es kemungkinan besar akan menyerang.
Jack juga menyerahkan alat pendeteksi pergerakan yang ia bawa kepada para ilmuwan di laboratorium untuk diteliti.
Selain itu ia memerintahkan seluruh pasukan militer untuk mulai mempersiapkan senjata mereka.
Sementara itu, para warga yang hidup di bawah naungan organisasi Four Eyes juga mulai bersiap. Baik tua maupun muda, pria maupun wanita.
Meskipun mereka hanyalah masyarakat biasa, semangat nasionalisme mereka sangat tinggi. Mereka tidak ingin kembali dijajah untuk kedua kalinya. Karena itu, mereka siap membantu mempertahankan tanah mereka dari serangan pasukan Negeri Es yang akan datang.