NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Ruang Hukuman

Langkah Damian di depanku terasa berat. Bukan seperti biasanya yang selalu tenang, terukur, seperti setiap gerakannya sudah dihitung dalam milimeter. Kini ia berjalan seperti orang kelelahan. Seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan kembali.

Kami melewati lorong panjang menuju sayap timur mansion. Aku tidak pernah ke sini sebelumnya. Dinding-dinding di sini tidak dilapisi kayu jati atau marmer seperti bagian lain. Hanya cat abu-abu yang mengelupas di beberapa sudut. Lampu-lampu di langit-langit berkedip tidak stabil, membuat bayangan kami bergoyang-goyang seperti dua hantu yang tersesat.

Damian berhenti di depan pintu kayu jati tebal. Tanpa pola. Tanpa gagang yang mencolok. Hanya sebuah permukaan kayu polos dengan satu lubang kecil di bagian tengah—seukuran jari telunjuk.

Aku melihat lubang itu, lalu menatap Damian.

Ia tidak menatapku. Tangannya menyentuh permukaan kayu dengan lembut, seperti sedang membelai sesuatu yang sudah lama tidak ia temui.

“Ini pintu yang sama,” ucapnya. Suaranya pelan. Hampir seperti bisikan. “Ukurannya sama. Warnanya sama. Bau kayunya... sama persis.”

Aku tidak bertanya. Aku tahu ia belum selesai.

“Ayahku membangun ini,” lanjut Damian. “Kamar yang persis seperti kamar tempat dia mengurungku dulu. Agar aku tidak lupa.” Ia menoleh ke arahku. Matanya kosong. Bukan marah, bukan sedih. Kosong seperti sumur yang sudah kering. “Aku tidak akan lupa. Tidak akan pernah.”

Ia mendorong pintu. Kayu jati itu terbuka tanpa bunyi. Seperti mulut raksasa yang menganga diam-diam menunggu mangsa.

---

Udara di dalam langsung menyergapku.

Bukan bau apek atau lembap yang kukira. Tapi bau kayu tua, debu, dan sesuatu yang manis—manis seperti bunga yang membusuk perlahan.

Aku berdiri di ambang pintu, tidak berani melangkah masuk. Lampu di langit-langit ruangan itu hanya satu, bohlam kuning gantung dengan kabel panjang, bergoyang pelan meski tidak ada angin. Menerangi ruangan berukuran tiga kali tiga meter. Kosong. Hanya lantai kayu yang sudah usang.

Tapi di dinding...

Aku melihat coretan-coretan. Bekas goresan di cat putih yang mengelupas. Ada yang berbentuk lingkaran, ada garis-garis patah, ada tulisan-tulisan yang sudah hampir tidak terbaca. Di sudut kiri, coretan kapur yang lebih tebal: angka-angka yang dihitung mundur. 87, 86, 85...

“Ayahku menghitung,” Damian masuk ke dalam. Ia berjalan ke tengah ruangan, lalu duduk bersila di lantai. Seperti anak kecil yang sedang duduk di kelas. “Setiap hari, sebelum meninggalkan aku di sini, ia menghitung mundur dari seratus. Katanya, setiap kali hitungannya selesai, aku akan menjadi anak yang baik.”

“Apa yang terjadi kalau hitungan selesai?” suaraku keluar lebih pelan dari yang kuinginkan.

Damian tidak menjawab. Ia menatap coretan di dinding seberang. Di sana, di ketinggian sekitar satu meter dari lantai, ada telapak tangan—bekas darah yang sudah menghitam.

Aku tidak perlu melihat visi untuk tahu darah itu milik siapa.

“Dia tidak pernah menyelesaikan hitungan,” Damian akhirnya bicara. “Karena aku selalu menangis sebelum angka nol. Dan ayahku benci tangisanku.”

Tangannya meraih sesuatu di lantai. Sebuah buku kecil bersampul kain biru—mungkin sengaja diletakkan di sana. Ia membukanya perlahan. Halaman-halamannya sudah menguning, tulisan tangan anak kecil dengan pensil yang hampir pudar.

“Aku menulis ini,” katanya. “Dia menyuruhku menulis. Setiap hari. Sebagai laporan.”

Aku melangkah masuk. Kakiku terasa berat, tapi aku memaksakan diri. Aku duduk di samping Damian. Jarak satu lengan. Cukup untuk melihat tulisan di buku itu.

Hari ke-1. Aku dimasukkan. Ayah bilang aku harus diam. Aku diam. Aku baik.

Hari ke-3. Aku minta keluar. Ayah bilang belum. Aku menangis. Ayah marah. Maaf, Ayah.

Hari ke-7. Ada tikus. Aku takut. Ayah bilang tikus tidak takut padaku. Aku harus seperti tikus.

Hari ke-12. Perutku sakit. Tidak ada makanan sejak kemarin. Aku makan kertas. Kertas tidak enak.

Hari ke-20. Aku lupa suara Ayah. Aku coba ingat. Susah.

Hari ke-31. Hari ini Ayah masuk. Aku senang. Ayah bawa pisau. Ayah bilang aku harus belajar.

Aku belajar.

Hari ke-40. Aku tidak mau belajar lagi. Ayah marah. Ayah taruh di sini lagi.

Aku minta maaf. Ayah tidak dengar.

Hari ke-58. Aku lihat Ibu. Ibu datang ke sini. Ibu tersenyum. Aku senang. Tapi Ibu tidak nyata. Ibu sudah mati. Aku lihat Ibu mati. Aku lupa Ibu mati kapan.

Hari ke-72. Aku tidak mau menulis lagi. Ayah suruh tulis. Aku tulis ini. Aku benci Ayah. Ayah bilang aku durhaka. Mungkin Ayah benar.

Hari ke-87. Aku sudah tidak marah. Aku hanya lelah. Aku ingin tidur lama-lama. Tapi takut tidak bangun. Kalau tidak bangun, Ayah marah lagi.

Hari ke-99. Besok seratus. Ayah bilang kalau seratus, aku boleh keluar. Tapi aku tidak percaya. Ayah pernah bilang begitu di hari ke-50. Di hari ke-70. Di hari ke-90.

Hari ke-100. Ayah masuk. Ayah bawa makanan. Ayah bilang aku anak baik. Aku keluar. Aku tidak mau masuk lagi.

Aku tidak mau.

Aku tidak mau.

Aku tidak mau.

---

Tanganku gemetar saat membaca halaman terakhir. Tulisan di sana bukan lagi dengan pensil, tapi dengan sesuatu yang merah. Pudar, tapi masih terlihat. Kata-kata yang sama diulang berkali-kali sampai kertasnya robek.

Damian menutup buku itu perlahan.

“Setelah itu, aku tidak pernah lagi dimasukkan ke ruang itu,” katanya. “Tapi bukan karena ayahku kasihan. Karena aku sudah tidak menangis lagi. Karena aku sudah tidak takut lagi. Karena...” Ia berhenti. Matanya menatap lurus ke dinding seberang. “Karena aku sudah mati di dalam sini.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Di kepalaku, semua teori psikologi forensik yang kupelajari selama bertahun-tahun runtuh. Tidak ada istilah yang cukup untuk menggambarkan apa yang terjadi pada anak laki-laki yang duduk di sampingku ini. Trauma. Disosiasi. Gangguan kepribadian. Kata-kata itu terasa dangkal. Terlalu kecil untuk muara kesakitan yang sedalam ini.

“Damian...” aku mulai.

“Jangan panggil aku Damian,” potongnya. “Itu bukan namaku. Bukan nama yang ibuku berikan.”

Aku menoleh. Wajahnya masih tenang, tapi aku bisa melihat—di sudut matanya, di lekuk rahang yang mengeras—sesuatu yang berusaha keras ditahannya.

“Namaku Damar,” katanya. “Damar Satya Adhiratria. Damian adalah nama yang ayahku pilih. Artinya ‘yang menjinakkan’. Dia ingin menjinakkan aku.”

Aku menahan napas.

“Tapi dia gagal,” lanjut Damian—Damar. “Karena yang lahir dari ruang ini bukan anak yang jinak. Bukan Damar yang dulu suka menggambar bintang dan menangis saat melihat kucing terluka. Yang keluar dari ruang ini adalah Damian.”

Ia menoleh padaku. Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat sesuatu yang lain di matanya. Bukan dingin. Bukan kosong. Tapi api kecil yang menyala di kedalaman yang sangat jauh.

“Aku yang membunuh Damar,” katanya. “Aku yang mematikannya di ruang ini. Karena kalau Damar tetap hidup, ia tidak akan bisa bertahan. Ia terlalu lembut. Terlalu takut. Terlalu manusiawi.”

Ia berdiri. Tangannya meraih coretan di dinding—bekas telapak tangan berdarah yang sudah menghitam itu.

“Ini darah Damar,” katanya. “Bukan darah ayahku. Bukan darah siapa pun. Damar yang memukul tembok ini sampai tangannya berdarah, berteriak minta tolong, berteriak minta ampun. Tapi tidak ada yang datang.”

Aku berdiri juga. Kakiku lemas, tapi aku memaksa.

“Lalu apa yang terjadi?” tanyaku.

Damian—aku akan tetap memanggilnya Damian karena ia memilih nama itu—melepaskan tangannya dari dinding. Ia melihat bekas merah di ujung jarinya, lalu mengusapnya ke celana.

“Aku belajar,” katanya. “Aku belajar bahwa menangis tidak berguna. Bahwa takut tidak menyelamatkan. Bahwa satu-satunya cara untuk tidak terluka adalah dengan menjadi sesuatu yang lebih besar dari rasa sakit itu.”

Ia berjalan ke arahku. Satu langkah. Dua langkah. Kini ia berdiri tepat di depanku, cukup dekat untuk kulihat bulu matanya yang panjang dan lebar—ciri yang sama dengan Damar kecil yang kutemui di lorong.

“Aku menjadi Damian,” katanya. “Aku menjadi pria yang tidak bisa disentuh. Yang tidak bisa dilukai. Yang tidak bisa ditakuti. Aku menciptakan monster agar monster itu tidak memangsaku.”

“Tapi Damar tidak mati,” kataku pelan.

Damian mengerjap. Untuk pertama kalinya, ada getaran di wajahnya.

“Aku bertemu dia,” lanjutku. “Di lorong. Malam itu. Dia masih ada. Dia masih di sini.”

“Dia bukan Damar,” suara Damian mendadak keras. “Dia hanya sisa-sisa. Bayangan yang tidak tahu kalau ia sudah mati.”

“Tapi dia merindukanmu.”

Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menahannya.

Damian terdiam. Matanya membesar. Hanya sekejap—sebelum ia mengalihkan pandangan.

“Dia merindukan Damar,” kataku. “Dia bilang padaku. Dia bilang dia tidak tahu siapa Damian. Dia hanya tahu kalau ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang dulu hangat.”

“Cukup.”

Damian membalikkan badan. Ia berjalan ke pintu. Tapi kakinya berhenti di ambang. Ia berdiri di sana, punggung menghadapku, tangannya menggenggam kusen pintu hingga buku-buku jarinya memutih.

“Ayahku meninggal tiga tahun lalu,” ucapnya, tiba-tiba. “Aku yang membunuhnya.”

Darahku terasa membeku.

“Bukan dengan tangan ini,” lanjut Damian. “Tapi aku yang menyusun skenario. Aku yang mengatur agar ia bertemu dengan musuhnya. Aku yang memastikan tidak ada yang menyelamatkannya.”

Ia menoleh. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.

“Dia mati persis seperti aku dulu di ruang ini. Sendirian. Takut. Tidak ada yang datang.”

Aku menatap Damian. Laki-laki yang berdiri di ambang pintu ruang penyiksaan masa kecilnya, mengaku telah membunuh ayahnya. Dan di matanya—di sela-sela ketenangan yang ia paksakan—aku melihat sesuatu yang membuat dadaku terasa ditusuk.

Bukan kebencian.

Bukan kepuasan.

Tapi kesedihan yang terlalu besar untuk diucapkan. Kesedihan seorang anak laki-laki yang tidak pernah bisa menjadi anak laki-laki. Yang dipaksa menjadi monster sebelum ia sempat menjadi manusia.

“Kau menyesal?” tanyaku.

Damian tidak menjawab. Ia menatapku lama. Lalu matanya beralih ke sesuatu di belakangku.

“Sudah larut,” katanya. “Kembalilah ke kamarmu.”

Ia keluar. Langkahnya cepat, seperti ingin menjauh sejauh mungkin dari ruangan itu. Dari masa lalu. Dari dirinya sendiri.

Aku berdiri sendiri di ruang hukuman. Lampu gantung masih bergoyang pelan. Coretan-coretan di dinding tampak seperti bisikan-bisikan yang tidak pernah didengar.

Aku menunduk. Buku harian kecil bercover biru itu masih tergeletak di lantai. Aku memungutnya. Halaman terakhir yang robek itu hampir lepas. Aku membaliknya perlahan, dan di balik halaman robek itu, ada satu tulisan terakhir yang tidak sempat kulihat sebelumnya.

Tulisan itu berbeda. Bukan dengan pensil. Bukan dengan darah. Tapi dengan tinta biru yang masih jelas, ditulis oleh tangan yang lebih besar—tangan dewasa.

Aku membacanya.

“Hari ini aku membunuh ayahku. Aku pikir aku akan lega. Tapi yang kurasakan bukan lega. Yang kurasakan adalah Damar yang menangis di dalam kepalaku. Menangis karena ayahnya mati. Menangis karena ia masih anak kecil yang ingin dicintai ayahnya. Aku mencoba membungkamnya. Tapi suaranya tidak pernah benar-benar pergi. Mungkin karena Damar bukan bayangan. Mungkin karena Damar adalah aku. Dan aku yang terus membunuhnya setiap hari.”

Aku memejamkan mata.

Damian Kecil muncul di sampingku. Tanpa suara. Ia menatap buku di tanganku, lalu menatapku.

“Kak,” katanya pelan. “Damian dewasa sedih ya?”

Aku membuka mata. Menatap bocah laki-laki dengan piyama terlalu besar itu.

“Iya,” kataku. “Dia sedih.”

“Aku juga sedih,” kata Damar kecil. “Tapi aku tidak tahu kenapa.”

Ia mengulurkan tangan. Tangannya yang mungil menggenggam ujung bajuku.

“Kak, jangan pergi ya,” katanya. “Kalau kakak pergi, Damian dewasa jadi jahat lagi. Aku takut kalau dia jahat.”

Aku berlutut. Menyamakan tinggi dengan Damar kecil. Aku meraih tangannya yang dingin itu—dan sekali lagi, aku melihat visi.

Tapi kali ini berbeda.

Bukan Damian yang mati. Bukan diriku yang membunuh.

Aku melihat seorang anak laki-laki, berdiri di tengah ruang kosong. Di sekelilingnya, bayangan-bayangan gelap mencoba merenggutnya. Tapi ia tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menatap lurus ke depan, menunggu seseorang menjemputnya.

Dan dari kejauhan, aku melihat diriku sendiri—berlari sekencang-kencangnya, menerjang bayangan-bayangan itu, meraih tangan anak laki-laki itu.

Tapi anak laki-laki itu bukan Damar.

Bukan Damian dewasa.

Ia adalah Damian. Utuh. Satu. Tanpa terbelah.

Dan saat aku meraih tangannya, ia tersenyum.

Visi itu pecah.

Aku kembali ke ruang hukuman. Damar kecil masih menggenggam bajuku. Lampu kuning masih bergoyang.

“Aku tidak akan pergi,” kataku pada Damar. “Aku janji.”

Bocah itu tersenyum. Senyum yang sama dengan visiku tadi.

“Kak,” katanya. “Nanti, kalau aku sudah jadi Damian dewasa lagi, tolong jaga dia ya. Dia sebenarnya baik. Cuma lupa caranya.”

Aku mengangguk. Tenggorokanku terasa sesak.

Damar kecil melepaskan genggamannya. Ia melangkah mundur, lalu berangsur-angsur memudar. Menghilang seperti kabut yang tertiup angin.

Aku berdiri. Buku biru itu masih di tanganku. Aku menyimpannya—memasukkannya ke dalam saku jaket.

Aku keluar dari ruang hukuman. Di lorong, tidak ada Damian. Tidak ada siapa pun.

Aku berjalan kembali ke kamarku. Setiap langkah terasa berat, seperti baru saja menempuh jarak yang sangat jauh.

Saat aku sampai di depan pintu kamar, aku melihat sesuatu tergantung di gagang pintu.

Sebuah lampu tidur kecil berbentuk bintang. Dengan cat biru yang tidak rapi, sepertinya dilukis tangan.

Di bawahnya, secarik kertas.

Aku membacanya.

“Damar kecil yang memintaku membelikan ini. Katanya kau takut gelap. Aku tidak percaya. Tapi aku tetap beli.”

Aku tersenyum. Air mataku jatuh sebelum aku sempat menahannya.

---Bersambung---

Cliffhanger alami: Visi baru Alea tentang Damian yang utuh, bukan terbelah. Apakah itu pertanda bahwa Damian Kecil dan Damian dewasa akan bersatu? Atau justru pertanda bahwa salah satu dari mereka harus mati selamanya?

---

Apakah kalian juga merasa tersayat membaca perjalanan Damian? Damar kecil yang tersisa di ruang hukuman itu... bagaimana menurut kalian, apakah Alea bisa menyelamatkan mereka berdua? Dukung cerita ini dengan like, komentar, dan share biar semakin banyak yang tahu tentang Damian dan Damar. Karena setiap suara kalian adalah cahaya di ruang gelap mereka.

Jangan lupa vote dan komen ya, raiders! Siapa yang mau Damian dewasa dan Damar kecil bersatu? Atau kalian lebih suka mereka tetap terpisah? Tulis di kolom komentar!

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!