Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Malam turun perlahan di rumah sederhana itu.
Angin berembus pelan melewati halaman belakang, menggoyangkan daun-daun pisang yang tumbuh di samping pagar bambu. Suara jangkrik terdengar bersahutan, menciptakan kesunyian yang terasa panjang… dan sedikit melankolis.
Dita duduk di bangku kayu kecil di taman belakang.
Lampu kuning dari dapur memantul samar di rambutnya yang tergerai. Tangannya memegang ponsel, menatap layar yang baru saja menyala.
Nama Tama muncul di sana.
Dita menarik napas pelan sebelum menekan tombol jawab.
“Halo.”
Suara Tama terdengar dari seberang. Dalam, tenang… seperti biasa.
“Kamu belum tidur?”
Dita tersenyum kecil.
“Belum. Lagi di belakang rumah.”
Beberapa detik hening.
Tama seolah berpikir sebelum melanjutkan bicara.
“Besok pagi kita harus ke kelurahan,” katanya akhirnya. “Ngurus surat pengantar nikah.”
“Iya.”
“Kamu siap?”
Nada suaranya terdengar datar. Tidak banyak emosi. Seperti sedang membicarakan urusan pekerjaan.
Namun Dita sudah mulai mengenal sifat pria itu.
Tama memang begitu.
Dingin di luar… tapi sebenarnya perhatian.
“Aku ikut saja,” jawab Dita pelan. “Apa saja yang perlu dibawa?”
“Fotokopi KTP, kartu keluarga, dan pas foto. Aku sudah siapkan sebagian.”
“Baik.”
Hening lagi.
Angin malam berembus sedikit lebih kuat.
Dita menggambar garis kecil di bangku kayu dengan ujung jarinya.
“Capek?” tanya Tama tiba-tiba.
Dita sedikit terkejut.
“Kenapa?”
“Tadi… suasana di rumahmu.”
Nada suara Tama tetap datar. Tapi ada sesuatu di balik kalimat itu. Kekhawatiran yang disembunyikan rapi.
Dita tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa.”
“Kamu kelihatan menahan diri.”
Dita terdiam.
Beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab.
“Sudah biasa,” katanya pelan.
Tama tidak langsung menanggapi.
Lalu ia berkata singkat,
“Kalau ada yang bikin kamu tidak nyaman, bilang saja.”
Dita menunduk sedikit.
“Tidak ada.”
Hening lagi.
Tama seolah ingin mengatakan sesuatu… namun tertahan di ujung lidahnya.
Ia ingin bertanya banyak hal.
Tentang masa lalu Dita.
Tentang Bakri.
Tentang luka yang pernah membuat perempuan itu pergi merantau jauh dari desa ini.
Namun akhirnya ia hanya berkata,
“Besok aku jemput jam delapan.”
“Baik.”
“Jangan terlambat.”
Dita tertawa kecil.
“Iya, Pak.”
Tama mendengus pelan.
“Tidur yang cukup.”
“Baik.”
“Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Telepon pun terputus.
Dita menatap layar ponselnya beberapa detik lagi sebelum mematikannya.
Ia menghela napas pelan.
Entah kenapa… percakapan singkat itu membuat hatinya terasa lebih ringan.
Ia berdiri dari bangku taman.
Lampu dapur sudah dimatikan oleh nenek Supinah. Hanya lampu kecil di ruang tengah yang masih menyala.
Dita melangkah menuju pintu belakang rumah.
Namun baru beberapa langkah—
“Sebenarnya kamu serius?”
Suara itu tiba-tiba terdengar dari kegelapan.
Dita tersentak.
Tubuhnya refleks berhenti.
Matanya mencari sumber suara… hingga akhirnya melihat sosok pria yang berdiri di dekat pohon mangga.
Bakri.
Jantung Dita berdetak lebih cepat.
“Astaga…” gumamnya pelan. “Ngapain kamu di sini?”
Bakri melangkah sedikit lebih dekat.
Wajahnya tampak tegang dalam cahaya remang.
“Kamu benar mau menikah?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tanpa basa-basi.
Dita langsung memalingkan wajah.
Ia melanjutkan langkah menuju pintu.
“Aku tidak punya urusan membahas itu dengan kamu.”
Namun sebelum ia sempat masuk—
Bakri meraih pergelangan tangannya.
Dita terkejut.
“Lepasin.”
“Jawab dulu.”
Nada suara Bakri rendah… tapi keras.
“Benaran kamu mau nikah sama dia?”
Dita menoleh tajam.
“Bakri.”
“Kenapa?” potong Bakri. “Cinta kamu ke aku segitu pendeknya?”
Dita mengerutkan kening.
“Setelah semua yang kita lalui… kamu pergi merantau… lalu pulang-pulang bawa orang kota buat dinikahin?” lanjut Bakri. “Apa ini cuma buat manasin aku?”
Kalimat itu membuat Dita tertawa kecil.
Namun tawanya pahit.
“Serius kamu mikir begitu?”
Bakri menatapnya tajam.
“Jawab.”
Dita menghela napas.
“Maaf saja,” katanya dingin. “Aku tidak punya pikiran sekecil itu.”
Bakri mencengkeram tangannya sedikit lebih kuat.
“Jadi kamu benar-benar mau menikah?”
Dita menatapnya lurus.
Tatapan yang dulu pernah penuh cinta… kini hanya datar.
“Kenapa kamu merasa jadi orang paling penting sedunia?” katanya pelan.
Bakri terdiam.
“Seolah-olah semua yang aku lakukan harus ada hubungannya dengan kamu.”
“Dit—”
“Dengarkan.”
Nada suara Dita kini lebih tegas.
“Dulu aku memang sangat mencintai kamu.”
Bakri menelan ludah.
“Tapi kamu yang menghancurkan semuanya.”
Kata-kata itu keluar pelan… namun terasa seperti pisau.
“Kamu yang memilih menikah dengan sepupuku sendiri,” lanjut Dita. “Kamu yang mengkhianati aku.”
Bakri menatap tanah.
Rahangnya menegang.
“Jadi jangan sok merasa jadi orang paling benar,” kata Dita lagi.
Suasana hening beberapa detik.
Lalu Dita berkata lebih pelan,
“Aku tidak secinta itu lagi dengan kamu, Bakri.”
Kalimat itu membuat Bakri membeku.
Benar-benar membeku.
Dita menarik tangannya dengan keras.
Kali ini Bakri tidak menahan.
Tangannya terlepas.
Dita mundur satu langkah.
“Jangan urus hidup aku lagi.”
Suaranya tenang… tapi sangat tegas.
“Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa.”
Lalu tanpa menunggu jawaban, Dita berbalik.
Ia masuk ke dalam rumah.
Pintu ditutup perlahan.
Bakri tetap berdiri di halaman belakang… sendirian.
Angin malam berembus pelan.
Namun dadanya terasa jauh lebih sesak dari sebelumnya.
---
Pagi datang dengan udara yang masih sejuk.
Langit desa tampak cerah.
Dita sudah berdiri di depan rumah dengan pakaian sederhana namun rapi. Blus putih dan rok panjang biru tua.
Nenek Supinah berdiri di sampingnya.
Tak lama kemudian sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar.
Tama turun dari kursi pengemudi.
Seperti biasa… wajahnya terlihat tenang.
Namun matanya langsung mencari Dita.
“Kamu siap?” tanyanya singkat.
Dita mengangguk.
“Siap.”
Nenek Supinah mendekat.
“Hati-hati di jalan,” pesannya.
“Iya, Nek.”
Dita mencium tangan neneknya.
Beberapa tetangga kembali melirik dari kejauhan.
Mobil itu kemudian melaju meninggalkan halaman rumah.
Sepanjang perjalanan… suasana cukup hening.
Tama fokus menyetir.
Dita memandang keluar jendela.
Sesekali Tama meliriknya sekilas.
“Kamu kelihatan kurang tidur,” katanya tiba-tiba.
Dita menoleh.
“Kelihatan?”
“Sedikit.”
Dita tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa.”
Tama tidak bertanya lebih jauh.
Namun rahangnya terlihat sedikit menegang.
Sekitar dua puluh menit kemudian mereka sampai di kantor kelurahan.
Bangunan kecil dengan cat putih yang mulai memudar.
Beberapa warga sudah duduk menunggu di kursi plastik depan kantor.
Tama mematikan mesin mobil.
“Yuk.”
Mereka masuk bersama.
Di dalam ruangan, seorang pria sedang duduk di balik meja administrasi.
Ia sedang memeriksa beberapa berkas.
Dita melangkah lebih dulu.
Namun begitu pria itu mengangkat wajah—
Dita langsung berhenti.
Tubuhnya kaku.
Sementara pria di balik meja itu juga membeku.
Bakri.
Pria itu menatap Dita… lalu Tama… dengan wajah yang sulit dijelaskan.
bener dita, jangan menye2.. masa sama jalang aja takut2!!!! di samping mu noh calon camer dan suami mu, pasti bakal bantuin dan lindungi kamu!! jadi jangan takut... lawan aja perempuan gk tau diri dan cowok murahan mantan km itu!!