Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.
Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.
Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Wisuda dan Janji Setia
Pagi itu, udara di sekitar gedung auditorium terasa sesak oleh aroma parfum yang bercampur dengan kegembiraan ribuan orang. Karangan bunga berjajar rapi di sepanjang selasar, membawa ucapan selamat bagi para wisudawan yang hari ini resmi menanggalkan status mahasiswa.
Dinara berdiri di depan cermin besar di lobi, merapikan toga hitamnya. Wajahnya dipoles riasan tipis yang natural, namun matanya tak bisa menyembunyikan binar kebahagiaan sekaligus sedikit sisa kesedihan. Di belakangnya, Ibu sibuk membetulkan letak samir yang melingkar di leher Dinara, sementara Bapak berdiri tegak dengan batik sogan kebanggaannya, menatap putri satu-satunya dengan dada membusung.
"Sudah cantik, Dek. Wes, ayu pol," puji Ibu sambil menepuk pundak Dinara.
Dinara tersenyum, namun matanya mencari sosok pria yang sejak tadi izin ke parkiran untuk mengambil buket bunga. "Mas Dimas mana ya, Bu? Katanya sebentar."
"Tadi pamit ke mobil, mungkin cari parkir yang lebih teduh. SUV-nya kan besar, susah nyelip di jam segini," sahut Bapak tenang.
Tak lama, Dimas muncul dari kerumunan. Ia mengenakan setelan jas abu-abu tua yang dipadukan dengan kemeja putih bersih. Penampilannya sangat rapi, jauh dari kesan penulis santai yang biasanya hanya memakai kaos oblong saat di apartemen. Di tangannya, ia membawa buket bunga mawar putih berukuran sedang dan sebuah tas kecil.
Dimas mendekat, namun ada gurat tipis yang tertangkap oleh radar Dinara. Dimas tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. Dinara tahu apa yang mengganggu pikiran suaminya. Pagi tadi, sebuah telepon dari Blitar memastikan bahwa orang tua Dimas tidak bisa hadir. Alasannya klasik: ada acara kerabat yang tidak bisa ditinggalkan, namun keduanya tahu ada ganjalan lain soal restu yang belum sepenuhnya mencair terkait pilihan karier Dimas sebagai penulis.
"Mas... nggak apa-apa," bisik Dinara saat Dimas berdiri di sampingnya.
Dimas menoleh, sedikit terkejut istrinya bisa membaca pikirannya secepat itu. Ia menghela napas, lalu menggenggam tangan Dinara sejenak. "Maaf ya, Sayang. Ibu sama Bapak di Blitar titip salam. Katanya selamat buat kelulusanmu. Mereka... nggak bisa datang hari ini."
Bapak yang mendengar itu menepuk pundak Dimas dengan mantap. "Gak apa-apa, Dim. Ada kami di sini. Kamu itu sudah mewakili seluruh keluargamu. Jangan dipikir berat, hari ini harinya Dinara."
Dimas mengangguk pelan. "Nggih, Pak. Maturnuwun."
Prosesi wisuda berlangsung khidmat. Di dalam ruangan yang megah itu, Dinara duduk di antara barisan toga lainnya. Suara rektor yang membacakan janji wisudawan menggema, memenuhi setiap sudut ruangan. Saat namanya dipanggil dan ia melangkah ke atas panggung untuk pemindahan kuncir toga, Dinara sempat melirik ke arah tribun penonton.
Di sana, ia melihat Dimas berdiri paling depan di barisannya. Pria itu tidak berteriak, tidak juga melambai berlebihan. Ia hanya berdiri tegak dengan kamera tergantung di lehernya, menatap Dinara dengan tatapan yang penuh dengan kebanggaan. Di sampingnya, Bapak dan Ibu tampak berkaca-kaca.
Begitu acara selesai dan pintu auditorium dibuka, gelombang manusia tumpah ke halaman. Dinara mencari sosok suaminya di tengah lautan toga. Saat mata mereka bertemu, Dinara tidak lagi peduli dengan aturan protokoler atau pandangan orang di sekitarnya. Ia berlari kecil menghampiri Dimas.
Tanpa kata, Dinara menghambur ke pelukan Dimas. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, menghirup aroma parfum yang bercampur dengan wangi matahari. Air matanya jatuh, membasahi jas abu-abu Dimas.
"Mas... Dinara sarjana," bisiknya parau.
Dimas membalas pelukan itu dengan sangat erat, seolah ingin mentransfer seluruh kekuatan yang ia miliki. Ia mencium puncak kepala Dinara berkali-kali. "Alhamdulillah, Sayang. Mas bangga banget sama kamu. Perjuanganmu, begadangmu, nangismu... semuanya lunas hari ini."
Dinara melepaskan pelukan sejenak, menatap mata Dimas yang kini terlihat sedikit memerah. "Makasih sudah jadi sandaran paling kokoh selama ini. Kalau nggak ada Mas, Dinara nggak akan berdiri di sini hari ini."
Dimas tersenyum, kali ini senyumnya benar-benar tulus. Ia mengusap sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jari. "Jangan bilang gitu. Ini hasil kerja kerasmu sendiri. Mas cuma bagian sorak-sorai di pinggir lapangan saja."
"Sorak-sorai yang paling berisik," goda Dinara, membuat Dimas tertawa.
Bapak dan Ibu mendekat, membawa suasana haru itu menjadi lebih hangat. Mereka berfoto bersama di bawah pohon peneduh. Dimas dengan sigap mengatur posisi, memastikan Dinara menjadi pusat perhatian dalam setiap jepretan kameranya.
"Habis ini kita makan di tempat favoritmu ya, Dek? Mas sudah pesan tempat," ujar Dimas saat mereka berjalan menuju parkiran SUV.
"Mas... tadi Ibu di Blitar beneran telepon?" tanya Dinara pelan saat mereka sedikit tertinggal dari langkah orang tuanya.
Dimas terdiam sebentar, lalu mengangguk. "Iya. Tadi pagi sebelum Subuh. Ibu nangis sebenarnya, Dek. Beliau ngerasa bersalah nggak bisa datang, tapi ya itu... Bapakmu di Blitar kan keras orangnya. Tapi Ibu bilang, beliau bangga punya menantu sarjana hukum. Katanya, nanti kalau mudik, Ibu mau dibuatkan penjelasan soal surat tanah yang ribet itu."
Dinara tertawa kecil, rasa sesak di dadanya perlahan menguap. Ia tahu, meski raga orang tua Dimas tidak ada di sini, setidaknya ada celah kecil yang mulai terbuka di hati mertuanya.
"Mas juga hebat. Tetap tegak meskipun mereka nggak ada," puji Dinara.
"Lho, kan ada kamu. Kamu itu vitamin Mas paling ampuh. Wes ta, selama ada kamu di samping Mas, dunia mau jungkir balik pun Mas jamin kita tetap aman," Dimas mengerling jahil, kembali ke sifat aslinya. "Tapi sekarang, sarjana hukum ini harus segera dikasih asupan nutrisi. Mas nggak mau ijazahmu itu lecek gara-gara kamu pingsan kelaparan."
Mereka masuk ke dalam mobil. Di dalam kabin SUV yang sejuk, Dinara melepas topinya dan menyandarkan punggungnya. Ia menatap ijazah di pangkuannya, lalu menoleh ke arah Dimas yang mulai menjalankan mobil.
"Mas," panggil Dinara.
"Dalem?"
"Janji ya, temani Dinara terus. Apapun tantangannya nanti, mau Dinara kerja di kantor atau mau jadi ibu rumah tangga saja, Mas jangan bosan ya?"
Dimas menghentikan mobil sejenak di lampu merah. Ia meraih tangan Dinara, mencium punggung tangan itu dengan penuh khidmat. "Mas janji. Mas nggak cuma nikahi mahasiswi hukum yang pinter, tapi Mas nikahi Dinara yang luar biasa. Mas bakal jadi editor hidupmu yang paling setia, Dek. Sampai bab terakhir nanti."
Mobil melaju membelah jalanan kota yang padat. Di bawah terik matahari, ada sebuah janji setia yang kembali terpatri lebih kuat dari sebelumnya. Wisuda ini bukan akhir, melainkan garis start baru bagi mereka. Perjalanan di Surabaya mungkin akan semakin terjal, tantangan profesi menanti di depan mata, namun selama mereka memiliki satu sama lain dan sujud yang sama di sepertiga malam, mereka yakin bab-bab kehidupan selanjutnya akan berakhir bahagia.