Hujan turun tanpa jeda malam itu, di kamar kos sempit berbau lembab, Dian terbaring sendirian, tidak ada keluarga yang menemani Dia hidup sebatang karang, hanya terdengar suara tetesan air dari atap bocor, nafasnya semakin berat. Perutnya kosong sejak kemarin Dian belum makan apapun, Dian sudah terbiasa menahan lapar, sejak kecil Dia hidup tanpa orang tua bekerja serabutan berpindah-pindah tempat tinggal. Menahan hinaan, rasa dingin sendirian, seakan dunia tidak pernah memberinya pilihan.
Namun malam ini terasa berbeda, tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit, pandangannya mulai kabur, Dia menatap langit-langit atap yang bocor dan tersenyum tipis, "Apa memang hidupku cuma sampai disini..?"
Nantikan kelanjutan cerita yaa🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twis G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 33
Yin Yin langsung mengangguk cepat. "Baik, Ayah."
Tanpa membuang waktu, Yin Yin dan Yin Guo Shan segera bersiap. Tak lama kemudian, Paman Luo juga datang, untung mereka belum ke rumah Paman Luo memanggilnya.
"Kalian mau kemana, keliatannya buru-buru sekali." tanya Paman Luo sambil melepaskan jaketnya.
Yin Yin tersenyum. "Paman, kita mau ke rumah Kepala Desa, membicarakan rencana pembuatan roti gandum madu. Kita tidak boleh menunda lagi."
Paman Luo mengangguk mantap. "Baguslah. Paman kira kamu sudah melupakan rencana itu, Aku ikut juga."
Jalan menuju rumah Shen Baichuan masih sedikit becek akibat hujan semalam, namun udara pagi terasa segar. Beberapa warga terlihat mulai beraktivitas, menyapa mereka dengan ramah.
"Pagi, Pak Yin!" sapa seorang pria sambil memanggul kayu.
"Pagi! Mau ke ladang ya?" balas Yin Guo Shan.
"Iya, tapi tanah masih basah sekali hari ini," jawab pria itu sambil tertawa kecil.
Seorang ibu-ibu yang lewat membawa keranjang juga ikut menyapa, "Yin Yin, kamu ikut juga pagi-pagi begini?"
Yin Yin tersenyum sopan. "Iya, Bibi. Ada urusan dengan Kepala Desa.
"Wah, semangat sekali. Hati-hati jalannya licin ya," kata ibu itu mengingatkan.
"Pasti, terima kasih!" jawab Yin Yin.
Paman Luo yang berjalan di belakang hanya terkekeh pelan. "Sepertinya seluruh desa sudah kenal kamu sekarang."
Yin Yin sedikit tersipu. "Ah, Paman..."
Tak lama, mereka tiba di rumah kepala desa.
"Pak Shen! Apakah anda di rumah?" panggil Yin Guo Shan.
Tak lama kemudian, pintu terbuka memperlihatkan Shen Baichuan yang tampak sedang bersiap pergi, sebuah keranjang besar sudah tergantung di punggungnya.
Oh? kalian datang sepagi ini?" katanya sedikit terkejut.
Yin Yin melangkah maju. "Maaf mengangguk Kepala Desa. Kami ingin membicarakan sesuatu penting."
Shen Baichuan mengangkat alis seolah berpikir, lalu tersenyum. "Masuk dulu. Sepertinya ini bukan pembicaraan singkat."
Mereka duduk di ruang tamu sederhana, aroma teh hangat segera memenuhi ruangan.
Yin Yin tidak menunggu lama. "Kepala Desa, tentang rencana membuat roti gandum madu untuk warga desa Shanyin, kami ingin segera memulainya."
Shen Baichuan terdiam sejenak, lalu menatap mereka satu persatu.
"Aku kira kali sudah melupakannya." katanya pelan.
Paman Luo tertawa kecil. "Sempat tertunda, tapi bukan berarti dibatalkan."
Yin Guo Shan menambahkan, "Kami tidak mungkin melupakan rencana itu. Apalagi ini untuk warga desa Shanyin."
Yin Yin mengangguk serius. "Aku juga sudah memikirkan cara membuatnya sederhana, supaya semua orang bisa belajar, bahkan yang belum pernah memasak."
"Bagaimana rencanamu, Nak?" tanya Shen Baichuan, kini tampak benar-benar tertarik.
Yin Yin menarik napas, lalu mulai menjelaskan.
"Pertama, kita kumpulkan warga di balai desa. Aku akan menunjukkan cara membuat roti gandum madu langkah demi langkah."
"Kedua, kita bagi tugas. Ada yang menggiling gandum, ada yang mengolah adonan, dan ada yang memanggang."
"Ketiga, kita gunakan bahan lokal agar biaya rendah."
Paman Luo menambahkan, "Aku bisa membantu membuat tungku sederhana dalam jumlah banyak."
"Dan aku, akan membantu mengatur distribusi bahan." lanjut Yin Guo Shan.
Shen Baichuan perlahan berdiri, wajahnya serius namun penuh semangat.
"Baik. Kita lakukan."
Yin Yin tersenyum puas, "Akhirnya misi di mulai."
"Kapan kita mulai?" tanya kepala desa.
Yin Yin menjawab tanpa ragu, "Bagaimana kalau besok?"
Shen Baichuan tertawa kecil. "Boleh. Semakin cepat semakin baik."
Keesokan harinya. Kabar itu menyebar ke seluruh desa Shanyin.
Warga mulai berkumpul di balai desa dengan rasa penasaran. Ada yang membawa gandum, ada yang hanya ingin melihat.
Yin Yin berdiri di depan balai desa, dengan meja sederhana berisi bahan-bahan.
Di sampingnya, Paman Luo sudah menyiapkan tungku kecil, sementara Yin Guo Shan membantu mengatur kerumunan warga.
Yin Yin menatap mereka semua, lalu tersenyum.
"Hari ini, kita akan membuat roti gandum madu bersama."
Suasana langsung menjadi riuh penuh harapan.
Seorang ibu angkat tangan. "Apa benar kita bisa membuatnya sendiri?"
Yin Yin mengangguk mantap. "Bisa. Dan kalian akan melihatnya sekarang."
Yin Yin mengambil tepung gandum, menuangkan air lalu mulai mengaduk perlahan.
"Yang terpenting bukan hanya resep, tapi kesabaran."
Warga mulai mendekat, memperhatikan setiap gerakannya.
Anak-anak ikut mengintip, sementara para pria membantu menyalakan api di tungku.
Aroma adonan mulai tercium saat madu ditambahkan.
"Madu ini yang membuat roti lebih lembut dan tahan lama." jelas Yin Yin.
Paman Luo bersiul kecil. "Wah, ini bisa jadi dagangan laris di pasar."
Beberapa warga mulai tersenyum, membayangkan kemungkinan itu.
Tak lama, roti pertama masuk ke dalam tungku. Semua orang menunggu dengan penuh harap beberapa menit kemudian, akhirnya roti itu matang juga. Aroma manis hangat langsung memenuhi seluruh balai desa.
Seorang anak kecil berseru, "Harum sekali!"
Yin Yin mengangkat roti itu perlahan, lalu membaginya untuk di coba warga desa.
Gigitan pertama membuat semua orang terdiam, mereka belum pernah makan roti selembut ini.
"Wah! Roti ini begitu lembut." seru salah satu warga desa.
"Benar, ini enak banget." kata yang lainnya.
Senyum mulai menyebar di wajah warga desa Shanyin dan di tengah keramaian itu, suara sistem berbunyi.
DING!
[Progres tugas meningkat]
[Penduduk desa mulai mempelajari roti gandum madu 15%]
Yin Yin tersenyum puas, "Baru 15%, semangat! Yin Yin."
Saat aroma roti pertama mulai memenuhi balai desa, suasana menjadi semakin ramai. Namun di tengah keramaian itu, beberapa sosok baru terlihat ikut bergabung.
Lin Mei Hua datang dengan langkah tenang sambil membawa keranjang berisi bahan tambahan.
"Sepertinya aku tidak boleh ketinggalan," ujarnya lembut.
Yin Yin menoleh dan tersenyum hangat. "Ibu!"
Lin Mei Hua langsung bergabung di samping meja, membantu merapikan bahan-bahan. Tangannya cekatan, menunjukkan pengalaman yang tak perlu diragukan lagi.
"Ayo, ibu-ibu di sini ikut saya. Kita mulai dari menguleni adonan dengan benar," katanya sambil tersenyum ramah kepada para warga.
Beberapa wanita desa langsung mendekat, mengikuti gerakannya.
Tak jauh dari sana, Yin Chen tampak berusaha membantu para pria.
"Aku bisa angkat ini!" katanya sambil mencoba mengangkat karung gandum kecil.
Yin Guo Shan tertawa kecil. "Pelan-pelan, jangan dipaksakan."
Namun seorang pria desa menepuk bahunya.
"Bagus! Ayo bantu kami memisahkan gandum ke sini." Wajah Yin Chen langsung berbinar bangga.
Di sisi lain, Xiao Lan dan Lin Meli tidak mau kalah. "Kakak! Kami mau bantu juga!" seru Xiao Lan.
Yin Yin tersenyum, lalu berjongkok agak sejajar dengan mereka. "Baik, tapi kalian bantu yang ringan saja, ya."
"Iya, bantu yang bagian mana Kak?" tanya Lin Meli penasaran.
"Kalian biasa membantu mengoles madu di atas roti sebelum dipanggang."
"Yeaaay! Siap kak!" mereka bersorak bersamaan.
Dengan penuh semangat, Lin Meli dengan hati-hati memegang kuas kecil, mengoleskan madu ke permukaan adonan.
"Seperti ini, kan?" tanyanya.
Ya, bagus sekali," puji Yin Yin.
Xiao Lan yang di sampingnya sedikit berantakan, madu sampai menetes ke tangannya.
"Hehe.... Manis!" katanya sambil menjilat jarinya.
Suasana balai desa yang tadinya hanya penuh rasa penasaran, kini berubah menjadi hangat dan penuh kebersamaan.
Paman Luo yang melihat itu menyilangkan tangan sambil tersenyum. "Kalau begini, bukan cuma roti yang jadi, tapi juga kebersamaan yang melekat."
Shen Baichuan mengangguk pelan. "Sudah lama desa ini tidak seramai ini."
Yin Yin memperhatikan semuanya, ibunya yang membimbing para wanita, Yin Chen, Yin Guo Shan yang sibuk membantu para pria, serta Lin Meli dan Xiao Lan yang tertawa riang. Hatinya terasa hangat melihat keluarga senang.
Tak lama kemudian, sudah lebih banyak roti masuk ke dalam tungku, satu per satu matang dengan sempurna. Warga mulai mencoba membuatnya sendiri, meniru langkah-langkah yang diajarkan.
DING!
[Progres tugas meningkat]
[Penduduk desa mulai bisa membuat roti gandum madu mencapai 45%]
Yin Yin sedikit terkejut melihat peningkatan yang begitu cepat. Dia tersenyum tipis melihat semua orang ikut membantu, membuat pekerjaan ini terasa jauh lebih ringan, dan Desa Shanyin perlahan, mulai ramai.
Bersambung....