NovelToon NovelToon
After Married

After Married

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zahra

apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Thalia

Raungan mesin mobil memecah kesunyian aspal saat Cavin memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.

Bunyi klakson dari pengendara lain yang ia salip bagaikan simfoni kemarahan yang tak ia gubris.

Baginya, setiap detik adalah pertaruhan, dan ketika jalanan membentang lengang, ia kian dalam menginjak pedal gas, membiarkan kemelut di dadanya berpacu dengan putaran roda.

Setibanya di depan gerbang megah itu, dua orang penjaga tampak tergesa membuka pagar dengan tangan gemetar. Antara kelalaian yang menghantui atau ketakutan akan kehilangan pekerjaan, wajah mereka pucat pasi.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" suara Cavin menggelegar, dingin dan tajam, saat salah satu satpam membukakan pintu mobilnya.

"S-saya tidak tahu, Tuan. Tadi saya ke belakang sebentar, dan Pak Ari sedang ke warung," ucap satpam itu terbata, berusaha menyamai langkah lebar Cavin yang menuju pintu utama.

Cavin tak menyahut. Baginya, deretan alasan hanyalah tempat berlindung bagi mereka yang tidak becus mengemban tanggung jawab. "Kembali ke pos," perintahnya mutlak sebelum jemarinya menekan bel rumah yang terkunci rapat dari dalam.

"Baik, Tuan."

"Bi, apa kuncinya sudah ditemukan?" tanya Cavin sesaat setelah pintu terbuka. Meski penjagaan di gerbang depan begitu ketat, pintu utama tetap harus terkunci rapat demi keamanan yang lebih intim.

"Belum, Den," sahut Bi Ranti dengan raut cemas, jemarinya masih sibuk menggeledah laci. "Sebenarnya ada apa? Bibi sudah mencoba menghubungi Nyonya untuk memberi tahu soal Tata."tanya cavin menuntut penjelasan

"Tata?"tanya bi Ranti bingung

"Tata itu maksudnya Thalia" ujar Cavin mengulang,

"Maksudnya Thalia, istri Den Cavin." tanya bi Ranti yang di angguki oleh Cavin

"Oh, panggilannya 'Kesayangan'," gumam Bi Ranti lirih, nyaris tak terdengar, namun telinga Cavin menangkapnya.

"Tadi nomor Tuan dan Nyonya tidak aktif saat Bibi telepon."

"Sudah, biar aku saja yang bicara pada Mama nanti. Bibi tidak perlu telpon lagi,"

"Baik, Den. Ini kuncinya," Bi Ranti menyerahkan kunci dengan bandul bertuliskan nama Cavin.

"Terima kasih, Bi. Silakan kembali bekerja."

Cavin berdiri di depan pintu kamar—ruang yang ia bagi bersama Thalia saat mereka menginap di rumah orang tuanya.

Ia mengetuk pelan, namun kesunyian adalah satu-satunya jawaban.

Tidak mungkin dia mengunci diri karena takut padaku, batin Cavin. Dengan sisa ketenangan yang ada, ia memasukkan kunci cadangan ke dalam lubang pintu.

Ceklek.

Pintu terbuka, dan pemandangan di dalamnya seketika meremas ulu hatinya. Kamar itu berantakan; buah-buahan berserakan di lantai bak puing-puing kekacauan.

Tatapannya terjatuh pada gorden yang menari liar dipermainkan angin dari jendela yang terbuka lebar.

"Tidak mungkin..." bisiknya, menepis segala kemungkinan buruk. Ia melangkah ke balkon, menatap ke bawah, namun tak ada yang aneh di sana. Tiba-tiba, indranya menangkap suara napas yang terengah, berat dan penuh beban.

Cavin menoleh ke arah ranjang. Di sana, Thalia—gadis yang biasanya ceria dan lincah layaknya mentari pagi—tampak hancur.

Meskipun hatinya belum sepenuhnya berlabuh pada gadis itu, Cavin tak sanggup melihat sosok yang biasanya penuh energi kini meringkuk ketakutan.

"Thalia..." panggilnya, selembut embun.

Tak ada reaksi. Cavin mendekat, lalu menyentuh bahu gadis itu dengan ujung jemarinya.

"Hei."

Sentuhan itu justru memicu ketakutan yang lebih dalam. Thalia refleks memeluk lututnya semakin erat, isak tangisnya pecah memecah keheningan kamar. Ia menyembunyikan wajahnya, seolah ingin hilang dari dunia.

"Jangan mendekat... tolong jangan mendekat... aku bukan orang jahat..." kalimat itu meluncur berulang kali dari bibirnya yang bergetar, diiringi gelengan kepala dan air mata yang membanjiri pipi.

Hati Cavin mencelos. Tanpa kata, ia merengkuh tubuh mungil yang tengah menggigil hebat itu.

Thalia terus mencengkeram bagian depan bajunya yang sedikit robek, sebuah tanda bisu dari kemalangan yang baru saja menimpanya.

"Tha, lihat aku. Ini aku, Cavin," ucapnya sambil menangkup wajah istrinya. Meski mata Thalia terpejam rapat, kristal bening terus mengalir dari sudut matanya.

"Kakak?" bisik Thalia lirih saat menyadari aroma tubuh suaminya.

"Aku bukan orang jahat, Kak... aku bukan orang jahat... hiks..." tangisnya kembali pecah dalam pelukan Cavin.

"Ada apa sebenarnya? Ceritakan padaku," bisik Cavin, suaranya kini penuh dengan proteksi yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Aku bukan orang jahat, Kak... sungguh..." hanya itu yang mampu Thalia ucapkan, sebuah pembelaan diri yang lahir dari trauma yang mendalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!