Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
...🌻🌻🌻🌻🌻...
“Situ waras?” tanya Jenny, dengan senyum meremeh kan.
Alan terkekeh, “Sangat waras malah! Aku bahkan tidak pernah merasa sewaras ini sebelum aku kenal dengan mu, mbak!”
Jenny tersenyum mengejek, “Bagi mu waras, tapi bagi ku! Kau itu terlihat bocah yang kehilangan arah! Alias gak waras, hilang akal sehat!”
Saking gemes nya pada Alan, Jenny bah kan menunjuk kepala kanan atas nya dengan jari telunjuk nya sendiri, “Kamu tau apa itu hilang akal? Gila tau!”
“Benarkah?”
Jenny menghembuskan nafas nya kasar, “Sudah lah! Gak ada guna nya juga aku marah marah dengan mu! Otak ku bakal ikut gila seperti mu, kalo aku terus meladeni mu, bocah yang gak waras!”
Alan mengeratkan cengkraman nya pada setir kemudi. Dengan nada serius, “Lalu, apa mbak gak takut dengan bocah gak waras, gila seperti ku? Orang yang hilang akal itu, bisa berbuat nekat loh mbak! Jauh lebih berbahaya dari pria waras mana pun!”
Jenny mengerdik kan dagu nya, “Kamu bukan Tuhan yang harus aku takuti! Kamu bukan pula sang pencipta! Memang siapa kamu, sampai aku harus takut pada mu? Bocah sma!”
Alan berseringai, “Bocah sma yang gak ada adab ini, bisa bertindak jauh dari apa yang mbak bayangkan sebagai manusia waras!”
Jenny mengerdik kan bahu nya, membuang pandangan ke luar jendela mobil.
“Gak usah banyak omong udah! Antar aku ke rumah papa! Ke tempat tadi kamu menjemput ku!” kilah Jenny.
Alan menggantung kalimat nya, “Aku memang akan mengantar mu pulang, mbak, tapi ... “
‘ … tidak sekarang. Sebelum aku perlihat kan, seberapa berbahaya nya bocah gak ada adab seperti ku!’ imbuh Alan, meski dalam batin nya.
Jenny menoleh, menatap Alan tajam. Ia bahkan mencondong kan tubuh nya miring ke arah Alan, “Tapi apa? Jangan sekali pun kamu berani merencanakan hal buruk untuk ku! Kalo gak ingin menghadapi amukan papa ku!”
Alan menaik kan satu alisnya, “Memang kenapa kalo aku punya rencana buruk hm? Toh om Jaya sudah memberi ku lampu hijau dengan hubungan kita! Gak ada masalah aku akan memulang kan mbak lusa atau pun tidak!”
Jenny menegak kan punggung nya kembali, menatap Alan tajam.
“Masalah besar bagi ku! Yang menjalani hubungan itu aku! Bukan papa! Aku yang lebih berhak memutus kan hidup ku! Mau itu dengan mu atau pria lain!” tegas Jenny, menatap Alan galak.
Alan menyugar rambut nya kebelakang, dengan nada bersalah, “Maaf nih mbak! Aku harus membuka luka mbak yang palu nya aja belum di ketuk.”
Jenny menelan salivanya sulit, “Eh maksudnya apa nih?”
Siku kanan Alan bertumpu pada jendela mobil, lalu melirik sekilas Jenny, “Mbak sudah di beri kesempatan, menjalani hidup dengan pria yang mbak inginkan. Selama 2 tahun, apa mbak menjalani nya dengan bahagia?”
Jenny membola, dan gak langsung menjawab, namun tangan nya terkepal di atas pangkuan nya.
‘Sialan! Nih bocah kenapa pake bahas mas Jo? Biar gimana pun, aku… aku pernah mencintai mas Jo sepenuh hati. Aku pernah mengingin kan mas Jo lebih dari apa pun! Tapi mengingat perlakuan mas Jo pada ku belakangan terakhir.
Melihat penghianatan mas Jo, rasa nya seperti… aku di paksa menenggak racun kehidupan yang selama ini aku pikir akan selalu berjalan manis seperti yang aku ingin kan.’
“Cintanya palsu, mbak! Dia gak sekali pun mencintai mu! Dia hanya memanfaat kan mu!” celetuk Alan tanpa saringan.
“I- itu … a- aku bahagia. Sangat bahagia.” dusta Jenny dengan senyum yang ia paksa kan.
Jenny memalingkan wajah, menyeka bulir bening yang menerobos tanpa dapat di cegah. Bibir bisa berdusta, tapi hati dan mata nya seakan seirama, kompak mendustai kalimat yang baru ia katakan pada Alan.
Alan membuang nafas kasar, mengelus puncak kepala Jenny tanpa permisi dengan tangan nya yang lain.
“Gak usah berdusta, mbak! Mbak itu gak pandai berdusta! Lihat tuh! Mata mu menangis! Buang aja udah pria kaya gitu! Masih ada aku, mbak! Laki laki yang akan memberi mu kebahagiaan dan kegilaan!”
Plak.
Bersambung…