NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Keanehan yang Tak Bisa Diabaikan

Sementara itu, di rumah Anjani...

Anjani mulai merasakan keanehan dan kebingungan yang semakin sulit ia abaikan.

Sejak kedatangan Alden yang tiba-tiba, pengakuannya yang mengejutkan, hingga permintaan maafnya yang begitu dalam, semuanya terasa asing bagi Anjani.

Bahkan sikap dan cara bicaranya tidak lagi seperti Alden yang ia kenal dulu.

Yang paling jelas terlihat adalah perubahan pada penampilannya. Alden kini jauh lebih kurus, kulit yang cerah tampak lebih pucat, dan langkahnya tidak lagi segagah sembilan tahun lalu.

Bahkan, di balik topi yang ia kenakan, Anjani yakin ada sesuatu yang sengaja ia sembunyikan.

Apakah dia sakit? Kenapa dia tidak bercerita? Apa sebenarnya tujuan semua ini? Mengaku cinta, tetapi tidak ingin menjalin hubungan? Atau hanya ingin melunasi semua yang dulu tak sempat ia ucapkan? Hanya itu?

Alden tiba-tiba datang setelah bertahun-tahun menghilang hanya untuk mengatakan semuanya.

Kenapa baru sekarang?

Kenapa tidak sejak dulu?

Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benak Anjani, membuatnya semakin bingung dan curiga.

Anjani masih duduk di kursi itu setelah kepergian Alden.

Ia belum beranjak.

Pandangannya kosong menatap halaman rumah yang mulai sepi, sementara pikirannya terus kembali pada percakapan mereka beberapa menit yang lalu.

Pertemuan yang begitu emosional itu telah berakhir, tetapi justru menyisakan sesuatu yang belum selesai di dalam hatinya.

Anjani menghela napas pelan.

Semakin ia mencoba melupakan percakapan tadi, semakin banyak hal yang terasa mengganjal.

Kakinya terasa berat, seolah enggan bergerak dari tempatnya. Perasaan yang semula hanya berupa kebingungan perlahan berubah menjadi kecurigaan yang semakin sulit diabaikan.

Ia mencoba mengingat kembali setiap detik pertemuan itu.

Cara Alden berbicara yang terlalu hati-hati.

Kalimat-kalimatnya yang terdengar seperti perpisahan, meski tak pernah benar-benar mengucapkannya secara langsung.

Nada suaranya yang sesekali bergetar, bukan seperti seseorang yang sekadar meminta maaf, melainkan seperti orang yang sedang menahan sesuatu jauh di dalam dirinya.

Dan tatapannya...

Tatapan yang tidak pernah benar-benar bertahan lama.

Seolah ada batas tak terlihat yang sengaja ia jaga sendiri.

Anjani mengernyit pelan.

Kenapa semua itu terasa tidak lengkap?

Kenapa justru setelah Alden pergi, semuanya terasa semakin janggal?

Ia menunduk, menatap lantai teras di bawah kakinya sendiri.

Napas yang keluar dari bibirnya terasa berat.

Lalu tanpa sadar pikirannya melompat jauh ke masa lalu.

Ke Alden yang dulu.

Alden yang ia kenal saat SMA bukan orang yang seperti malam ini.

Pria itu selalu terlihat memiliki terlalu banyak energi.

Terlalu banyak komentar.

Terlalu banyak keberanian.

Ia jarang terlihat ragu pada apa pun.

Bahkan ketika salah, Alden tetap akan membela pendapatnya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengaku kalah dengan terpaksa.

Ia juga jarang bisa diam.

Kalau sedang berkumpul bersama teman-temannya, biasanya justru Alden yang paling berisik.

Yang paling cepat menanggapi sesuatu.

Yang paling mudah tertawa.

Dan yang paling sulit terlihat lelah.

Karena itulah sosok yang datang malam ini terasa begitu berbeda.

Terlalu tenang.

Terlalu hati-hati.

Terlalu... lelah.

Anjani memejamkan mata sesaat.

Bayangan Alden ketika berdiri dari kursinya kembali muncul di kepalanya.

Saat itu ia tidak terlalu memikirkannya.

Namun sekarang, setelah semuanya berakhir, detail-detail kecil mulai bermunculan satu per satu.

Cara Alden duduk.

Punggungnya yang beberapa kali tampak kaku saat bersandar.

Gerakannya yang lebih lambat dibandingkan yang ia ingat.

Beberapa kali pria itu juga menarik napas lebih dalam sebelum melanjutkan pembicaraan.

Saat itu Anjani mengira Alden hanya sedang gugup.

Wajar saja.

Mereka tidak bertemu selama bertahun-tahun.

Tetapi semakin dipikirkan, semakin terasa ada sesuatu yang tidak beres.

Karena bukan hanya sekali.

Bukan hanya dua kali.

Sepanjang percakapan, Alden berkali-kali terlihat seperti sedang mengatur napasnya sendiri.

Seolah berbicara dalam waktu lama saja sudah cukup menguras tenaganya.

Anjani membuka mata perlahan.

Keningnya semakin berkerut.

Dan ada satu hal lain yang baru sekarang ia sadari.

Tangan Alden.

Beberapa kali jemari pria itu bergerak ke sisi tubuhnya.

Hanya sebentar.

Hampir tidak terlihat.

Seolah sekadar mencari posisi yang lebih nyaman.

Namun sekarang, ketika mengingatnya kembali, gerakan itu terasa terlalu sering untuk disebut kebetulan.

Anjani menggeleng pelan.

Tidak.

Mungkin ia memang terlalu banyak berpikir.

Mungkin Alden hanya kelelahan karena perjalanan jauh.

Mungkin pria itu baru turun dari pesawat lalu langsung datang ke sini.

Mungkin itu alasannya.

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Namun anehnya, semakin keras ia mencari penjelasan yang masuk akal, semakin besar pula kegelisahan yang muncul di dalam dadanya.

Karena ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata lelah.

Wajah Alden.

Mata Alden.

Dan terutama cara pria itu memandangnya.

Bukan seperti seseorang yang baru mendapatkan kesempatan kedua.

Melainkan seperti seseorang yang sedang mengucapkan selamat tinggal.

Pikiran itu membuat Anjani langsung menggeleng lebih keras.

"Jangan aneh-aneh," gumamnya pelan kepada dirinya sendiri.

Ia menarik napas panjang.

Mencoba menenangkan pikirannya.

Tapi bayangan Alden yang berdiri di hadapannya kembali muncul tanpa izin.

Wajah yang lebih tirus.

Rahang yang terlihat lebih tegas karena tubuhnya jauh lebih kurus.

Kulit yang tampak pucat saat terkena cahaya lampu teras.

Dan lingkar kelelahan samar di bawah matanya yang tidak sepenuhnya berhasil disembunyikan.

Sembilan tahun memang waktu yang lama.

Orang bisa berubah.

Penampilan bisa berubah.

Cara berpikir bisa berubah.

Tapi perubahan yang ia lihat pada Alden terasa lebih dari sekadar pengaruh waktu.

Seolah ada sesuatu yang perlahan menggerus pria itu selama bertahun-tahun.

Dan entah kenapa, pikiran itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Anjani mengembuskan napas panjang.

Lalu menyandarkan tubuh ke kursi.

Matanya kembali menatap jalan perumahan yang kini sudah kosong.

Tidak ada lagi mobil yang tadi membawa Alden pergi.

Tidak ada lagi sosok yang berdiri di halaman rumahnya.

Yang tersisa hanya keheningan.

Namun justru di tengah keheningan itulah pikirannya semakin berisik.

Ia kembali mengingat kata-kata terakhir Alden.

"Aku nggak akan datang lagi."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tapi semakin dipikirkan, semakin terasa berat.

Karena Alden mengucapkannya dengan cara yang aneh.

Bukan seperti ancaman.

Bukan pula seperti seseorang yang kecewa.

Melainkan seperti orang yang sudah menerima sesuatu jauh sebelum malam ini terjadi.

Dan itulah yang membuat Anjani semakin tidak tenang.

Kenapa semuanya terdengar begitu final?

Kenapa semuanya terasa seperti sudah diputuskan sejak awal?

Seolah Alden datang bukan untuk melihat apa yang akan terjadi.

Melainkan hanya untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah lama ia siapkan.

Anjani menundukkan kepala.

Jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan.

Semakin ia memikirkan semua itu, semakin terasa ada bagian yang hilang dari pertemuan mereka.

Kalimat-kalimat Alden terdengar utuh.

Penjelasannya masuk akal.

Permintaan maafnya tulus.

Tetapi entah kenapa semuanya tetap terasa tidak lengkap.

Seolah ada satu potongan terakhir yang sengaja tidak diberikan.

Dan ketidaktahuan itu perlahan berubah menjadi kegelisahan yang menetap.

Ia mengangkat tangan lalu mengusap wajahnya pelan.

Berusaha mengusir pikiran-pikiran yang terus berputar tanpa henti.

Namun gagal.

Karena yang paling mengganggunya bukan lagi pengakuan Alden.

Bukan lagi tentang perasaan yang ternyata disimpan pria itu selama bertahun-tahun.

Melainkan cara Alden datang.

Dan cara Alden pergi.

Terlalu cepat.

Terlalu rapi.

Terlalu seperti seseorang yang sedang menuntaskan daftar terakhir sebelum melangkah menjauh.

Dan yang paling mengganggunya bukan hanya Alden yang telah pergi...

Melainkan dirinya sendiri yang membiarkan pria itu pergi begitu saja.

Kenapa aku diam saja tadi?

Kenapa aku tidak menghentikannya?

Bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!