Alceena Brox Riccardo (26 tahun), seorang diva papan atas Hollywood, mendapati dunianya runtuh saat kekasihnya mengirimkan undangan pernikahan tanpa kata putus.
Terluka dan menolak terlihat malang oleh paparazzi, ego Alceena memberontak.
Di sebuah bar eksklusif di Los Angeles, dia meluapkan amarahnya dan secara impulsif mengajak seorang pria asing yang dikiranya gigolo untuk menjadi pria simpanannya.
Pria itu adalah Xander Hayes-Stone (25 tahun), seorang pemuda kaya asal Chicago yang juga sedang melarikan diri dari pengkhianatan cinta.
Malam di penthouse mewah Alceena menjadi awal dari ikatan kontrak yang rumit di antara mereka.
Berawal dari pelampiasan dendam dan ego badai dua manusia yang patah hati, hubungan tanpa status ini perlahan menyeret mereka ke dalam pusaran, rahasia masa lalu, dan takdir baru yang tak terduga di bawah gemerlapnya kota Los Angeles.
~~~~~~
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Koridor sayap timur mansion Riccardo seketika berubah menjadi medan perang darurat dalam hitungan detik setelah kalimat provokasi gila itu meluncur dari bibir Xander.
Bualan maut tentang Alceena yang sedang mengandung "Junior Xander" laksana sebuah pemantik api yang langsung menyambar tong mesiu di dalam kepala Navarro.
Wajah tampan remaja lima belas tahun itu yang biasanya datar dan tanpa emosi, mendadak berubah menjadi teramat pekat oleh amarah.
Dia melempar apel merah di tangannya hingga hancur membentur lantai marmer.
"Aku akan membunuhmu, Stone!!!" teriak Navarro, suaranya yang biasa dingin kini meninggi laksana lolongan serigala muda yang siap mengoyak mangsa.
Bocah iblis itu langsung memasang kuda-kuda bertarung, tubuh rampingnya melesat maju kembali dengan kecepatan yang jauh lebih gila daripada saat di ruang tamu tadi.
Tangannya bergerak ke belakang pinggang, siap melepaskan serangan kombinasi mematikan untuk benar-benar menghancurkan rahang pria Chicago yang berani menodai kehormatan kakak sulungnya.
Namun, di luar dugaan, respons Alceena justru jauh dari wibawa seorang diva papan atas.
Alih-alih melerai dengan teriakan anggun, kepanikan murni membuat insting protektifnya melompat keluar.
Dengan gerakan yang tidak kalah cepat, Alceena memutar tubuhnya, meraih kenop pintu kayu jati kamarnya, dan membukanya lebar-lebar.
"Sembunyi, Xander! Cepat masuk!!" jerit Alceena histeris.
Dengan sekuat tenaga rampingnya, dia menarik lengan raksasa Xander, menyeret pria berbobot hampir sembilan puluh kilogram itu masuk ke dalam kamar laksana seorang ibu yang sedang menyembunyikan anaknya dari kejaran anjing gila.
Begitu tubuh besar Xander melewati ambang pintu, Alceena langsung membanting daun pintu itu dengan keras.
Brak!!
Dengan cepat, jemari ramping Alceena memutar kunci ganda dari dalam hingga berbunyi klek-klek yang teramat rapat, lalu menyandarkan seluruh bobot tubuhnya di balik daun pintu, terengah-engah dengan dada yang naik turun gila.
"Nggak dapat, nggak dapat! Wlee!" seru Alceena dengan nada mengejek yang teramat kekanak-kanakan, melupakan sepenuhnya status sebagai aktris termahal Hollywood.
Dia memukul permukaan pintu kayu itu dari dalam, berteriak kencang agar suaranya menembus keluar.
"Awas kalau kau berani mengusik Xander, Navarro! Aku akan mengadukanmu pada Mommy karena telah menghancurkan lantai koridor dengan apelmu! Pergi sana, Bocah Gila!!"
Di sisi luar pintu, hantaman keras langsung terdengar. Navarro memukul pintu jati itu dengan tinjunya hingga bergetar hebat.
Kenop pintu kuningan di balik punggung Alceena bergerak-gerak naik turun dengan kecepatan gila, diputar berulang kali dari luar secara paksa.
"Buka!! Kak Ceena, buka pintunya!! Aku akan membunuhmu, Kak Xander! Keluar kau dari sana, Bajingan Chicago! Aku tahu kau hanya berakting sakit tadi! Keluar!!" teriak Navarro dari luar, suaranya dipenuhi oleh rasa frustrasi yang teramat sangat pekat karena sasarannya berhasil melarikan diri ke dalam zona aman.
Alceena mengabaikan gedoran brutal adiknya.
Dia menghembus napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup laksana ditabuh palu. Namun, saat dia memutar tubuhnya untuk melihat kondisi Xander, langkahnya seketika terhenti.
Di tengah kamar tidur bernuansa merah marun dan emas yang luas itu, Xander Hayes-Stone sedang berdiri.
Dan untuk pertama kalinya selama lima hari berturut-turut mereka bersama, pria raksasa yang biasanya dingin, kaku, dan teramat irit bicara itu... sedang tertawa.
Bukan sekadar kekehan rendah atau senyuman miring yang biasa dia pamerkan.
Xander benar-benar tertawa puas.
Suara tawa baritonnya yang berat, renyah, dan teramat lepas menggema indah membelah keheningan kamar.
Pria itu bahkan sampai membungkuk sedikit, menempatkan satu tangan besarnya untuk memegang perutnya sendiri yang berguncang akibat rasa geli yang teramat luar biasa melihat bagaimana seorang diva Alceena Riccardo baru saja bertingkah laksana bocah sekolah dasar demi menyembunyikannya dari kejaran remaja lima belas tahun.
Alceena terpaku di tempatnya berdiri. Sepasang mata indahnya menatap wajah tampan Xander yang kini terlihat begitu cerah, garis-garis keras di wajahnya melembut, dan lesung pipit tipisnya menonjol dengan teramat seksi di bawah pendar cahaya lampu kamar.
Tanpa sadar, sudut mata Alceena mendadak menitikkan sebutir air mata kecil—bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru dan kelegaan yang teramat dalam melihat sisi manusiawi dari pria yang selama ini selalu mengunci emosinya di balik dinding es masa lalu Chicago.
Xander perlahan meredakan tawanya, menyeka sudut matanya sendiri, lalu menatap Alceena dengan tatapan mata heterochromia yang kini berkilat begitu hangat dan penuh kasih.
Alceena berdehem pelan, membuang muka untuk menyembunyikan rasa malunya yang kembali merayap.
"Sudahlah, berhenti tertawa. Kau terlihat seperti orang gila," lirih Alceena, suaranya mendadak melunak.
Dia berjalan menuju sofa santai di dekat jendela, meletakkan tas tangannya. "Tidurlah di ranjang itu jika dadamu masih terasa tidak nyaman. Aku akan ke kamar mandi sebentar untuk membersihkan riasanku yang berantakan karena ulahmu."
Namun, di luar dugaan, Xander tidak bergerak menuju ranjang. Langkah kaki besarnya justru berjalan cepat, memotong jalur Alceena sebelum wanita itu sempat mencapai pintu kamar mandi.
Tubuh raksasanya kembali berdiri tegak di depan Alceena, mengunci pergerakan sang diva.
Xander teringat dengan tujuan pertamanya sejak berada di ruang televisi tadi—alasan mendasar mengapa dia begitu bersikeras menanyakan letak kamar pribadi Alceena di mansion ini.
Dan tujuan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan rasa sakit akibat pukulan Navarro.
Xander menundukkan kepalanya, menatap tepat ke dalam manik mata Alceena dengan tatapan gila yang dipenuhi oleh kilatan gairah posesif yang teramat intens.
"Jangan pergi dulu, Ceena," ucap Xander dengan suara baritonnya yang mendadak merendah hingga menyerupai desahan parau yang teramat seksi.
"Aku ingin mengatakan ini padamu... aku ingin mencoba bercinta di kamar ini."
Deg.
Mata Alceena seketika membelalak sempurna mendengarnya.
Rahangnya hampir saja jatuh ke lantai mendengar kelancangan yang luar biasa dari pria Stone ini.
"Sudah kuduga...!" lirih Alceena dengan suara yang gemetar menahan malu yang teramat sangat pekat.
"Kau... kau benar-benar tidak punya urat malu, Xander! Di luar sana adikku sedang bersiap mendobrak pintu, dan di dalam sini kau malah mengajakku melakukan hal gila itu?!"
Xander justru terkekeh rendah, dia melangkah maju satu kali, mendesak tubuh ramping Alceena hingga punggung wanita itu menyentuh dinding dekoratif kamar.
Tangan besarnya naik, bertumpu di samping kepala Alceena, mengunci wanita itu di bawah dominasi mutlak tubuhnya.
"Ini bukan hal gila, Sayang," bisik Xander, napas hangatnya yang beraroma kayu gaharu berembus di kulit wajah Alceena.
"Kau tumbuh besar di kamar ini, Ceena. Seluruh kenangan masa kecil dan remajamu ada di sini. Dan aku... aku ingin anak kita kelak juga bisa merasakan kunjungan pertamaku disaat aku berada di dalam kamar mommy-nya. Aku ingin menandai setiap jengkal tempat yang pernah kau sentuh."
Mendengar detail alasan gila yang dibalut dengan bualan romantis nan mesum itu, Alceena merasa seluruh urat saraf di kepalanya mendadak menegang.
"Lupakan alasan konyolmu itu, Xander Hayes-Stone! Aku tidak akan hamil secepat itu, Brengsek! Kau benar-benar pria yang memiliki terlalu banyak akal bulus untuk memuaskan nafsumu!"
Xander tersenyum puas, sama sekali tidak merasa terganggu oleh makian Alceena.
Dia menurunkan wajahnya hingga ujung hidungnya bergesekan manja dengan pelipis Alceena.
"Sebentar saja, Ceena... kumohon. Aku akan selesai dalam waktu tiga puluh menit. Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut agar Navarro di luar tidak mendengar apa pun."
Alceena mendengus frustrasi, memutar sepasang matanya dengan jengah melihat bagaimana simpanannya ini mendadak berubah menjadi makhluk paling keras kepala jika menyangkut urusan ranjang.
"Kau gila? Kau benar-benar sedang berada di puncak birahimu, Xander! Tiga puluh menit?! Dalam mimpimu!"
Alceena mendorong dada bidang Xander dengan kedua tangannya, memberikan kelonggaran jarak di antara mereka.
Dia menatap wajah tampan Xander dengan seulas senyuman miring yang penuh kemenangan, memberikan sebuah penawaran darurat yang teramat kejam bagi seorang pria dewasa.
"Lakukan!" sentak Alceena dengan nada mendikte seorang majikan. "Tapi harus selesai dalam waktu sepuluh menit!"
Duarr!!
Bagaikan disengat petir di pagi hari yang cerah, seluruh senyuman puas di wajah tampan Xander seketika lenyap tanpa sisa.
Pria yang biasanya terlihat begitu tangguh dan menakutkan di depan musuh-musuhnya, kini memasang ekspresi wajah yang teramat memelas dan frustrasi.
Matanya menatap Alceena dengan pandangan tidak percaya.
"Sepuluh menit?!" seru Xander, suaranya naik satu oktav karena syok murni.
"Dalam sepuluh menit tidak akan pernah cukup, Sayang! Membuka kancing gaun rajutmu ini saja sudah memakan waktu dua menit, dan kau mengharapkanku menyelesaikan sisanya dalam delapan menit?! Itu adalah penyiksaan bagi seorang Stone, Ceena!"
Alceena justru melipat kedua tangannya di depan dada, mendongak menatap Xander dengan keangkuhan yang teramat mutlak.
"Sepuluh menit... atau tidak sama sekali, Xander Hayes-Stone? Pilihan ada di tanganmu, dan waktumu... baru saja berjalan dari sekarang."