Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Luka yang kembali terbuka
Perjalanan pulang menuju Solo terasa jauh lebih panjang dan sunyi dibandingkan saat berangkat pagi tadi. Sepanjang perjalanan, Rania lebih banyak menunduk dan memandang ke luar jendela, matanya kosong seolah pikirannya melayang ke tempat lain.
Pertemuan tak terduga dengan Bara di pantai Parangtritis tadi benar-benar menyisakan perasaan yang campur aduk di hatinya.
Luka yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam, luka yang tercipta saat pria itu pergi begitu saja tanpa pesan, tanpa penjelasan, dan tanpa kepastian bertahun-tahun yang lalu, kini seolah terbuka kembali dengan perih yang sama.
Beberapa kali ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, dan butiran air mata hampir saja meluncur bebas membasahi pipinya. Namun, dengan sekuat tenaga ia menahannya. Ia tidak ingin Dika dan Naya melihatnya menangis.
Ia tidak mau merusak kebahagiaan sederhana yang baru saja mereka rasakan seharian ini—kebahagiaan bermain di pantai, berjalan-jalan melihat pemandangan, dan membeli berbagai barang kecil yang membuat mata kedua anaknya berbinar.
Bagi Rania, senyum dan tawa anak-anaknya adalah hal terpenting yang harus ia jaga, apapun yang terjadi di hatinya.
Jalanan dari Yogyakarta menuju Solo sempat macet di beberapa titik, terutama di daerah dekat perbatasan.
Kendaraan berjalan lambat, membuat suasana di dalam mobil terasa semakin hening. Dika sesekali bertanya sesuatu, tapi Rania selalu menjawab dengan suara lembut dan senyum yang ia paksakan agar anaknya tidak curiga ada yang tidak beres.
Sedangkan Naya, yang sejak tadi terlihat sangat antusias, kini sudah mulai terlelap di pangkuan ibunya, lelah setelah seharian berlarian dan bermain pasir.
Setelah perjalanan yang memakan waktu cukup lama, akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah rumah kontrakan sederhana yang menjadi tempat tinggal mereka. Rania menghela napas panjang, berusaha menenangkan hatinya sejenak sebelum turun.
Ia membayar biaya sewa mobil beserta jasa sopirnya dengan tertib, lalu menggendong Naya yang masih terlelap dan meminta Dika berjalan di sampingnya.
Baru saja melangkah masuk ke dalam rumah, ia tidak bisa menahan senyum tipis melihat Naya yang terus tidur nyenyak, seolah-olah tidurnya di perjalanan belum cukup memulihkan tenaganya.
Rania segera berjalan menuju dapur, meletakkan semua barang bawaan dan memisahkan pakaian-pakaian kotor yang penuh pasir dan air laut dari hasil bermain mereka.
Mbak Siti, yang sudah bekerja dan membantunya selama beberapa tahun terakhir, segera menghampiri dengan senyum ramah. “Biarkan saya yang mencuci pakaian ini, Bu. Ibu dan anak-anak sebaiknya segera mandi dan beristirahat saja, hari sudah mulai menjelang senja,” ujar Mbak Siti dengan sopan. Rania mengangguk setuju, merasa sangat terbantu dengan kehadiran wanita itu.
Setelah mandi dan berganti pakaian, mereka pun berkumpul untuk makan malam yang sederhana namun lezat.
Suasana makan malam berjalan tenang, Dika sesekali bercerita tentang hal-hal yang ia lihat dan rasakan di pantai, sementara Naya masih terlihat mengantuk. Setelah selesai makan dan membereskan segala sesuatunya, Rania masuk ke kamar Naya untuk menidurkannya.
Ia membaringkan si kecil di tempat tidur, menutupinya dengan selimut, lalu mengusap-usap lembut kepalanya sambil menyanyikan lagu pengantar tidur pelan.
Tak lama kemudian, napas Naya sudah teratur dan matanya terpejam rapat.
Perlahan-lahan Rania melangkah keluar kamar dan menuju kamar Dika. Ia membuka pintu sedikit dan mengintip ke dalam, ternyata anak lelakinya itu juga sudah terlelap dalam posisi miring, lelah setelah beraktivitas seharian.
Melihat kedua buah hatinya tidur dengan tenang dan damai, hati Rania terasa sedikit lebih lapang, meskipun perih di dadanya belum sepenuhnya hilang.
Ia berjalan kembali ke ruang tengah dan meminta Mbak Siti untuk segera beristirahat juga, mengingat hari sudah semakin larut malam.
Begitu ia masuk ke kamarnya sendiri dan menutup pintu rapat-rapat, barulah pertahanan yang selama ini ia bangun runtuh seketika.
Air mata yang sejak siang tadi ia tahan dengan susah payah akhirnya mengalir deras membasahi pipinya.
Ia duduk di tepi tempat tidur, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan membiarkan semua rasa sakit, kecewa, bingung, dan bahkan sedikit rindu yang terpendam selama bertahun-tahun ini tumpah begitu saja.
Di tengah isak tangisnya yang berusaha ia redam agar tidak terdengar, satu pertanyaan terus berputar berulang kali di dalam benaknya, seolah menusuk hatinya berulang kali: Kenapa Bara tega melakukan semua ini padaku?
Kenapa ia pergi begitu saja tanpa berkata sepatah kata pun, tanpa memberikan penjelasan sedikit pun, meninggalkanku berjuang sendirian membesarkan Dika dan Naya? Apakah selama ini kami tidak pernah berarti apa-apa baginya?
Apakah kenangan yang pernah kita miliki tidak cukup berharga baginya untuk setidaknya berpamitan?
Rania terisak semakin kencang, merasakan kembali rasa sakit yang dulu sempat ia obati perlahan dengan berjalannya waktu dan kasih sayang kedua anaknya.
Ia tidak mengerti mengapa takdir mempertemukan mereka kembali, hanya untuk mengingatkannya pada masa lalu yang menyakitkan dan membuka kembali luka yang belum sepenuhnya sembuh sempurna.
Malam itu, di dalam kesunyian kamarnya, ia menangis bukan hanya karena kepergian Bara, tapi juga karena pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tidak pernah terjawab dan ketidakpastian yang masih menyelimuti hatinya hingga saat ini.