NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI ANTARA DUA PILIHAN DAN SEBUAH TONGGAK BARU

Kesuksesan novel *He Is My Imam, Not My Oppa* ternyata tidak berhenti di angka penjualan toko buku saja. Pagi itu, sebuah taksi berpelat nomor Jakarta memasuki gerbang Pesantren Al-Hidayah. Dari dalam mobil, turun seorang wanita berkacamata hitam dengan gaya modis khas produser film ibu kota, membawa map tebal berlogo rumah produksi ternama.

Mentari menerima tamu tersebut di teras rumah didampingi Gus Zikri.

"Mbak Mentari, kami dari *Spectrum Pictures* ingin membeli hak adaptasi novel Anda untuk difilmkan," ujar produser bernama gita itu tanpa basa-basi. "Kami melihat potensi besar. Tapi, ada satu syarat utama. Kami ingin Mbak Mentari terlibat langsung sebagai penulis skenario dan co-produser di Jakarta selama minimal tiga bulan proses pra-produksi."

Mentari tertegun. Tiga bulan di Jakarta artinya ia harus meninggalkan pesantren, meninggalkan rutinitas damai yang baru ia cintai, dan yang paling berat: bagaimana dengan Gus Zikri dan Zayan?

Malam harinya, setelah Zayan tertidur pulas di boks bayinya, keheningan yang mencekam kembali melanda kamar mereka. Gus Zikri duduk di tepi ranjang sambil memandangi tasbih kayunya, sementara Mentari sibuk merapikan meja kerja.

"Mas... bagaimana menurut Mas tentang tawaran siang tadi?" tanya Mentari membuka percakapan, mencoba membaca ekspresi suaminya.

Zikri menarik napas dalam-dalam. "Tiga bulan di Jakarta itu bukan waktu yang sebentar, Mentari. Dunia perfilman itu dinamis, penuh dengan tekanan, dan lingkungan yang... sangat berbeda dengan apa yang kita jalani di sini."

"Aku tahu, Mas. Tapi ini kesempatan untuk menyebarkan pesan baik dari buku kita ke khalayak yang lebih luas lewat layar lebar," bela Mentari, suaranya sedikit bergetar. "Aku bisa bawa Zayan bersama aku ke Jakarta. Mama juga pasti senang bisa bantu jaga."

Zikri menoleh, tatapannya dalam dan sarat akan kekhawatiran. "Lalu bagaimana dengan saya? Tugas saya di pesantren tidak bisa ditinggalkan begitu saja untuk ikut ke Jakarta. Mas bukan meragukan niatmu, Sayang. Mas hanya takut... gemerlap Jakarta perlahan-lahan akan menarikmu kembali ke dunia yang dulu pernah membuatmu tersesat."

Mentari terdiam. Kata-kata Zikri terasa seperti sebuah keraguan terhadap keteguhan hatinya. Malam itu, mereka kembali tidur dalam diam, menyisakan tanya yang belum terjawab di bawah langit pesantren.

Keesokan paginya, aura mendung di wajah Mentari langsung terbaca oleh Bondan dan Fahma saat mereka berkumpul di dapur asrama.

"Gila, Tar! Novel lo mau difilmkan?! Itu namanya naik kelas!" seru Bondan heboh, namun ekspresinya langsung berubah saat melihat Mentari cemberut. "Eh, tapi kok mukanya kayak habis makan pare mentah gitu?"

"Gus Zikri nggak kasih izin, Bon," keluh Mentari sambil mengaduk tehnya dengan kasar. "Dia takut aku berubah lagi kalau balik ke Jakarta tiga bulan."

Fahma yang sedang mengemil kerupuk kaleng langsung menyahut, "Gus Zikri bukan nggak kasih izin karena pelit, Tari. Mungkin Gus Zikri cuma kangen duluan sebelum kamu pergi. Kan biasanya kalau tidur ada kamu yang bisa dipijitin pinggangnya."

Hafizah masuk membawa nampan berisi kue, ikut duduk di dekat mereka. "Tari, dalam Islam, rida suami adalah kunci. Coba bicarakan lagi baik-baik. Cari jalan tengah di mana syiar lewat film tetap berjalan, tapi ketenangan rumah tangga kalian tidak dikorbankan."

Dua hari berlalu tanpa keputusan, hingga akhirnya Gus Zikri memanggil Mentari ke ruang perpustakaan pribadinya sore itu. Di atas meja, sudah ada beberapa berkas yang dicetak rapi.

"Mentari, kemarilah," panggil Zikri lembut.

Mentari mendekat dengan ragu. Zikri menarik kursi untuk istrinya lalu menggenggam tangannya.

"Mas sudah memikirkan ini matang-matang, juga sudah meminta petunjuk lewat istikharah," ucap Zikri dengan senyum tulus yang membuat hati Mentari seketika melunak. "Mas tidak akan menahan langkahmu untuk berdakwah lewat film. Tapi, Mas punya solusi."

Zikri menunjukkan berkas di meja. "Mas sudah bernegosiasi dengan pihak Spectrum Pictures. Proses penulisan skenario dan koordinasi pra-produksi bisa dilakukan secara hybrid. Kamu hanya perlu ke Jakarta dua hari dalam seminggu untuk rapat besar, dan sisanya kamu kerjakan dari rumah ini. Mas yang akan menjaga Zayan selama kamu di Jakarta, dan Bondan serta Fahma juga sudah bersedia membantu."

Mentari menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. "Mas... beneran?"

"Iya, Sayang. Mas sadar, Mas tidak boleh memenjara bakatmu hanya karena ketakutan Mas sendiri. Tugas Mas adalah menjagamu dan mendukungmu," Zikri mengecup kening Mentari dengan sangat lama.

Hari pertama Mentari harus berangkat ke Jakarta untuk rapat perdana pun tiba. Mengenakan pakaian muslimah yang sangat stylish namun tetap syar'i, Mentari bersiap naik ke mobil travel yang menjemputnya.

Bondan dan Fahma sudah berdiri di teras rumah bersama Zayan. Bondan memakai ikat kepala bertuliskan "Zayan's Super Nanny".

"Tenang aja, Tar! Pergi sana dengan tenang! Zayan aman sama tim elit di sini!" seru Bondan penuh percaya diri.

"Iya Tari, nanti kalau Zayan kangen, aku bakal ajak dia liat kambingnya Abah biar dia terhibur," tambah Fahma polos.

Zikri menggendong Zayan, lalu mendekati Mentari. Ia memberikan kecupan perpisahan di kening istrinya. "Hati-hati di jalan, Sayang. Jaga hati, jaga niat. Kami menunggumu pulang di sini."

Saat mobil perlahan melaju meninggalkan gerbang Pesantren Al-Hidayah, Mentari melambaikan tangan lewat jendela. Ada rasa haru yang membuncah di dadanya. Ia kembali ke Jakarta bukan lagi sebagai gadis yang mencari jati diri di tengah gemerlap malam, melainkan sebagai seorang istri, ibu, dan penulis yang membawa misi suci.

Dan di teras rumah kecil itu, Gus Zikri tersenyum melepas kepergian istrinya, tahu bahwa sejauh apa pun Mentari melangkah, hatinya telah tertambat erat di pesantren ini di dalam pelukan sang Imam yang selalu mendoakannya di sepertiga malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!