seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Suasana di dalam ruangan bergaya kolonial itu mendadak beku. Penghulu sudah siap di posisinya, buku nikah sudah terbuka, dan Dika sudah menggenggam tangan Alan dengan getaran yang berusaha ia sembunyikan. Namun, tepat sebelum kalimat ijab terucap, pintu kayu besar di ujung ruangan terbuka dengan dentuman pelan namun berwibawa.
Langkah sepatu hak tinggi yang tajam memecah kesunyian. Sosok wanita dengan balutan gaun sutra berwarna hitam pekat dan perhiasan mutiara yang berkilau melangkah masuk.
Sofia Ryuga.
Alan seketika berdiri, melepaskan jabatan tangan Dika. Wajahnya mengeras, urat lehernya menegang. Ia melangkah cepat menghadang ibunya di tengah karpet merah. "Mama... jangan di sini. Aku sudah bilang, jika Mama datang hanya untuk menghancurkan hidupku, lebih baik Mama pergi sekarang," desis Alan dengan nada mengancam.
Namun, Sofia tidak tampak marah. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang sulit dibaca. Ia menatap Alan dengan tenang. "Apakah kau begitu rendah menganggap ibumu, Alan? Sampai kau pikir aku akan berteriak seperti wanita jalanan di hari pernikahan putra tunggal Ryuga?"
Sofia menggeser posisi Alan dengan gerakan anggun, matanya kini tertuju pada Dinda yang duduk gemetar di kursi pengantin. Dinda menunduk dalam, tangannya meremas kebaya putihnya. Ia merasa ajalnya sudah dekat di tangan wanita ini.
"Kau tidak ingin meminta restu ibumu dulu, Alan?" tanya Sofia lembut, namun suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu.
Sofia melangkah mendekati Dinda. Dika sudah siap berdiri untuk melindungi kakaknya, namun isyarat tangan Dinda menahannya. Sofia berhenti tepat di depan Dinda, lalu perlahan ia membungkuk dan memeluk bahu Dinda. Pelukan itu terasa dingin namun erat.
"Cantik sekali," bisik Sofia di telinga Dinda. "Pantas saja putraku kehilangan akal sehatnya."
Alan terpaku. Ia memberikan kode mata pada Dinda agar berdiri. Dengan kaki yang lemas, Dinda bangkit. Alan membimbing tangan Dinda, membawa wanita itu bersimpuh di depan Sofia, mengikuti tradisi meminta restu yang seharusnya dilakukan sejak awal.
"Mama... mohon restui kami," ucap Alan, suaranya sedikit serak karena ketidakpercayaan.
Sofia mengusap kepala Dinda dengan lembut, sebuah gerakan yang nampak sangat tulus namun terasa janggal bagi siapa pun yang mengenal kekejamannya. "Aku merestui kalian. Pernikahan ini harus tetap berjalan. Alan, jaga istrimu baik-baik."
Kejutan itu membuat Dika mengerutkan kening. Ia menatap Sofia dengan selidik; ia tidak percaya wanita yang kemarin menghina kakaknya sebagai "sampah" kini memberikan restu begitu mudah. Pasti ada sesuatu yang direncanakan wanita tua ini.
Sofia menoleh ke arah penghulu yang nampak bingung. "Tunggu apa lagi? Lanjutkan acaranya. Saya ingin melihat putra saya resmi menjadi seorang suami."
Sofia duduk di kursi barisan terdepan, melipat tangannya dengan tenang. Matanya tidak lepas dari punggung Dinda. Di balik kerudung transparan yang dikenakan Dinda, Sofia melihat sosok Mahesa—musuh besarnya. Ia baru saja menyadari identitas Dinda pagi tadi dari laporan terakhir asistennya. Dan alih-alih meledak, Sofia justru merasa memiliki mainan baru yang lebih menarik.
**
Penghulu kembali berdehem, mencoba mengembalikan suasana khidmat. Dika kembali duduk di hadapan Alan. Ia menarik napas panjang, menatap tangan Alan yang kini menjabat tangannya dengan erat.
"Saudara Allandra Ryuga bin William Ryuga," suara penghulu bergema. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan kakak kandung saya, Adinda Maheswari binti Mahesa, dengan mas kawin berupa uang tunai seratus dua puluh lima juta rupiah dan satu set perhiasan dibayar tunai!"
Alan menjabat tangan Dika dengan mantap. Suaranya terdengar lantang tanpa keraguan sedikit pun. "Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Maheswari binti Mahesa dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"SAH?" tanya penghulu pada para saksi.
"SAH!"
Seketika, air mata Dinda tumpah. Bukan karena bahagia, melainkan karena rasa lega bercampur perih yang luar biasa. Ia resmi menjadi Nyonya Ryuga. Ia telah menjual dirinya demi masa depan Dika dan nama ayahnya.
Dika melepaskan tangan Alan dengan kasar, lalu segera memalingkan wajah untuk menghapus air matanya sendiri. Ia telah menyerahkan kakaknya.
Saat Dinda mencium tangan Alan sebagai tanda bakti pertamanya, Alan mengecup kening Dinda cukup lama. "Kau aman sekarang, Dinda. Tidak akan ada yang menyentuhmu lagi," bisik Alan.
Namun, di kursi depan, Sofia Ryuga tersenyum puas. Ia berbisik dalam hati, "Selamat datang di neraka, Putri Mahesa. Kau pikir pernikahan ini adalah penyelamatan? Ini adalah awal dari pembalasan dendam yang tertunda sepuluh tahun lalu."
***
Setelah prosesi akad nikah yang singkat dan terasa begitu sunyi, tidak ada sorak-sorai pesta atau dentum musik resepsi. Hanya ada kepasrahan yang membeku di udara. Alan sempat berbincang formal dengan penghulu dan beberapa saksi, sementara Sofia tetap duduk di kursinya dengan keanggunan yang mengancam, matanya terus mengikuti setiap gerik Dinda seolah sedang memetakan mangsa baru.
Begitu urusan administratif selesai, Alan menghampiri Dinda yang masih terduduk lemas dengan kebaya putihnya.
"Kita pulang sekarang," ucap Alan, tangannya meraih jemari Dinda yang dingin. "Mobil sudah siap."
Dinda mendongak, matanya yang sembab menatap Alan dengan penuh permohonan. "Tuan... maksud saya, Alan... bolehkah saya tetap tinggal di Mansion Maheswara? Saya baru saja kembali ke sana. Saya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan kenangan Ayah dan Ibu... dan Dita."
Alan mengernyitkan dahi. "Dinda, aku sudah menyiapkan mansion pribadi untuk kita. Sebuah rumah yang jauh lebih modern dan aman, di mana kau bisa memulai hidup baru sebagai istriku. Bukan tinggal di rumah yang penuh dengan hantu masa lalu."
Di sisi lain, Sofia melangkah mendekat dengan senyum tipis yang tak pernah lepas dari bibirnya. "Alan, kenapa harus repot-repot pindah ke rumah baru? Mansion Utama Ryuga sangat luas. Bawalah istrimu tinggal bersamaku. Bukankah lebih baik jika aku bisa membimbing menantu baruku ini secara langsung?"
Dika yang berdiri di belakang Dinda langsung menegang. Ia tahu persis 'bimbingan' apa yang dimaksud wanita ular itu. "Kak Dinda tidak akan tinggal di rumahmu, Nyonya Sofia," desis Dika tajam.
Alan menoleh pada ibunya dengan tegas. "Terima kasih atas tawarannya, Ma. Tapi aku sudah memutuskan untuk mandiri sejak lama. Aku tidak akan membawa Dinda ke Mansion Utama untuk menjadi sasaran kritik Mama setiap hari."
"Lalu kau mau menuruti permintaannya untuk tinggal di rumah tua itu?" Sofia mencibir, melirik sinis ke arah gedung kolonial tempat mereka berada.
Alan menatap Dinda yang tampak begitu rapuh. Ia melihat ketakutan yang nyata di mata istrinya. Akhirnya, ego Alan luluh. Ia menghela napas panjang.
"Baiklah," ucap Alan, suaranya merendah. "Kita akan tinggal di Mansion Maheswara untuk beberapa hari ke depan. Anggap saja ini sebagai masa transisi. Tapi setelah itu, kita akan pindah ke kediaman pribadiku. Dan Dika..." Alan melirik adik iparnya itu. "Kau tetap tinggal di sana. Rumah itu milikmu sekarang. Aku akan memastikan semua fasilitas dan penjagaan tetap berjalan untukmu."
Dika hanya diam, tidak mengucapkan terima kasih, namun ia merasa sedikit lega karena setidaknya ia tidak perlu melihat wajah Alan setiap pagi di rumah peninggalan ayahnya itu.
**
Mobil mewah itu membawa mereka kembali ke Mansion Maheswara. Kali ini, status mereka sudah berbeda. Dinda masuk ke dalam rumah itu bukan lagi sebagai tamu atau orang asing, melainkan sebagai pemilik sah yang terikat pada pria di sampingnya.
Sesampainya di dalam, Alan meminta para pelayan untuk membawa barang-barang Dinda ke kamar utama—kamar yang dulu ditempati oleh Mahesa dan Iswara.
"Kenapa di kamar ini, Tuan?" tanya Dinda saat mereka berdua berdiri di ambang pintu kamar yang megah itu.
"Karena ini kamar terbaik di rumah ini, Dinda. Dan karena sekarang kau adalah nyonya di rumah ini, bukan lagi gadis kecil yang tidur di kamar tamu," jawab Alan. Ia menutup pintu kamar itu perlahan, menguncinya, dan membuat Dinda tersentak kecil karena bunyi kunci yang berputar.
Dinda berdiri mematung di tengah ruangan. Ketakutan yang sejak tadi ia tahan mulai memuncak. "Alan... soal syarat yang tadi..."
Alan mendekat, melepas jasnya dan melemparkannya ke kursi jati. Ia melonggarkan dasinya sambil menatap Dinda dengan intensitas yang membakar. "Aku sudah memenuhi semua syaratmu, Dinda. Rumah ini, perusahaanmu, dan pendidikan adikmu. Sekarang, sudah saatnya kau memenuhi kewajibanmu sebagai istriku."
Dinda mundur selangkah hingga punggungnya menabrak tiang ranjang yang tinggi. "Tolong... jangan lakukan karena paksaan... saya masih butuh waktu."
Alan berhenti tepat di depan Dinda. Ia meraih helai rambut Dinda yang terlepas dari sanggulnya. "Aku tidak akan memaksamu sepert waktu itu, Dinda. Aku ingin kau memberikan dirimu padaku karena kau sadar bahwa kau adalah milikku sekarang. Secara hukum, secara agama, dan secara kontrak."
Di luar kamar, Dika berdiri di balkon lantai dua, menatap langit malam yang mulai berbintang. Ia menggenggam erat buku harian Dita. Suasana rumah ini terasa begitu asing meski ini adalah rumahnya. Ada keheningan yang menyesakkan dari balik pintu kamar kakaknya.
"Dita... doakan Kak Dinda kuat di dalam sana," gumam Dika parau.
Sementara itu, di Mansion Utama Ryuga, Sofia sedang duduk di ruang kerjanya yang gelap. Ia membuka sebuah laci rahasia dan mengeluarkan sebuah foto lama—foto Mahesa yang sudah dicoret-coret dengan tinta merah.
"Kau pikir kau menang karena anakmu kembali ke rumah itu, Mahesa?" Sofia tertawa pelan, suara tawanya menggema dingin. "Aku akan membiarkan mereka menikmati bulan madu ini. Dan saat mereka lengah, aku akan menunjukkan pada putrimu bagaimana rasanya kehilangan segalanya untuk kedua kalinya. Alan mungkin mencintainya, tapi dia adalah darah Ryuga. Dan darah Ryuga tidak pernah bisa bersatu dengan darah Maheswara tanpa ada yang hancur."
***
Bersambung...