Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Warisan Debu dan Desis Serangga
Kegelapan di dalam ruang makam kuno itu seolah bernapas, pengap oleh aroma tanah basah dan sisa-sisa kejayaan yang membusuk. Di tengah kesunyian yang mencekam, Aura tetap duduk tenang. Punggungnya menyandar pada dinding batu yang dingin, wajahnya memancarkan kedamaian yang kontras dengan atmosfer horor di sekelilingnya.
Tepat di hadapannya, berdiri sesosok anak kecil. Penampilannya ganjil kulitnya sepucat rembulan yang tertutup awan, mengenakan pakaian compang-camping dari sutra kuno yang sudah lapuk dimakan usia. Anak itu tidak menyerang. Ia hanya berdiri mematung, sepasang matanya yang besar dan gelap menatap tajam ke arah Aura, seolah sedang membedah isi jiwa wanita di depannya.
Aura membalas tatapan itu dengan kelembutan yang tak tergoyahkan. "Apa kamu sedang mencari orang tuamu?" tanyanya lirih. Suaranya bergema halus, memantul di pilar-pilar batu yang retak.
Anak itu tetap diam. Ia hanya melotot, matanya memancarkan rasa ingin tahu yang bercampur dengan kecurigaan purba. Keheningan di antara mereka terasa tebal, hampir bisa disentuh.
Di sudut lain ruangan, ketegangan berada di titik didih. Kieran dan Falix bergerak dalam bayang-bayang, langkah kaki mereka nyaris tak terdengar saat mencoba mengitari ruangan. Tangan Kieran mengepal erat pada gagang senjatanya, matanya tak lepas dari sosok mungil yang berada terlalu dekat dengan Aura.
"Pelan-pelan," bisik Falix, suaranya parau karena kecemasan. "Kita tidak tahu apa yang bisa dilakukan makhluk itu."
Di sisi berlawanan, Jack memberikan isyarat tangan kepada anak buahnya. Wajahnya keras, penuh perhitungan. "Mendekat secara berhati-hati. Jangan lepaskan tembakan kecuali aku yang memerintah," instruksinya dengan suara rendah yang tegas. Mereka bergerak seperti predator yang mengincar mangsa, namun di tempat ini, mereka merasa seperti pihak yang sedang diawasi.
Tiba-tiba, suara serak dan kecil memecah kesunyian. Suara itu terdengar seperti gesekan kertas tua.
"Kamu... kenapa dengan orang tuaku?" Anak itu akhirnya bicara. Suaranya bergetar antara amarah dan kesedihan yang mendalam. "Apa kamu membunuh mereka berdua?"
Aura tidak bergeming. Ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun meski dituduh dengan keji. "Aku tidak membunuhnya," jawab Aura dengan nada yang menenangkan, seolah sedang berbicara dengan seorang teman lama. "Kalau kamu ingin tahu, aku bisa membagi kisah yang aku ketahui kepadamu. Tapi..."
Aura melirik ke arah Kieran dan rombongan Jack yang semakin mendekat. "...dengan sikapmu yang seperti ini, bukan aku yang akan celaka, melainkan dirimu. Mereka tidak akan segan-segan bertindak jika merasa aku dalam bahaya."
Anak kecil itu mendongak, telinganya berkedut. Ia rupanya menyadari kehadiran para penyusup di sekelilingnya lebih cepat dari yang diduga. Sebuah seringai tipis muncul di wajah pucatnya. Tanpa peringatan, ia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan siulan melengking yang menusuk telinga.
Fiiiuuuuttt!
Suara siulan itu memantul di dinding-dinding makam, menciptakan resonansi yang membuat jantung siapa pun yang mendengarnya berdegup kencang. Kieran, Falix, dan anak buah Jack mendadak terhenti. Mereka membeku, mata mereka liar mencari sumber suara aneh yang menyusul kemudian.
Sreeek... sreeek... sreeeeekkk!
Suara itu datang dari celah-celah dinding, dari balik retakan ubin, dan dari langit-langit yang gelap. Ribuan, mungkin jutaan, serangga hitam mengkilap keluar dengan kecepatan luar biasa. Mereka merayap seperti gelombang pasang yang gelap, memenuhi lantai dan dinding dalam hitungan detik.
"Mundur! Mundur!" teriak Jack, namun sudah terlambat untuk mendekat.
Gelombang serangga itu membentuk barikade hidup yang tebal, melingkari Aura dan si anak kecil, menutup akses bagi siapa pun untuk masuk. Cahaya senter mereka hanya mampu menembus permukaan hitam yang menggeliat itu, menciptakan bayangan-bayangan mengerikan yang menari di dinding.
Di tengah pusaran serangga yang berisik, Aura tetap tenang. Ia melihat serangga-serangga itu dengan tatapan penuh selidik namun tidak merasa terancam.
"Apa yang kamu lakukan kepada mereka?" tanya Aura santai, menunjuk ke arah serangga-serangga itu. "Kamu tidak akan melukai mereka, bukan?"
Anak itu menatap Aura sejenak, lalu perlahan menggelengkan kepalanya. Ketegangan di tubuh kecilnya tampak mengendur. Dengan gerakan yang sangat manusiawi dan mengejutkan, anak itu berjalan mendekat dan dengan santai duduk di pangkuan Aura. Ia merasa aman di sana, di tengah badai serangga yang ia ciptakan sendiri.
Aura menghela napas panjang, tangannya bergerak ragu sejenak sebelum akhirnya mengusap kepala anak itu dengan lembut. "Jadi, kamu ingin mendengar kisah orang tuamu, ya? Aku akan mengatakannya, tapi kamu harus berjanji untuk bisa menerima semuanya. Kebenaran terkadang lebih tajam daripada pedang."
Anak kecil itu mengangguk dengan sungguh-sungguh. Matanya yang besar kini tampak berkaca-kaca. "Namaku... aku MetaJaya," bisiknya pelan.
Aura sedikit memiringkan kepalanya, mencoba meresapi nama yang terasa sangat tua dan penuh beban sejarah tersebut. "MetaJaya..." gumamnya. "Nama yang gagah."
Aura terdiam sejenak, mengumpulkan kepingan memori dan informasi yang ia miliki tentang tempat terkutuk ini. "MetaJaya, dengarkan aku baik-baik. Orang tuamu sudah tiada sejak beberapa tahun lalu. Mereka bukan meninggalkanmu karena keinginan mereka sendiri."
MetaJaya terpaku. Tubuhnya yang kecil sedikit gemetar di pangkuan Aura.
"Mereka berdua terbunuh karena pemberontakan kerajaan lain pada waktu itu," lanjut Aura dengan suara jujur yang menyayat hati. "Dunia di luar sana sangat kejam kala itu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, mereka sangat menyintaimu. Mereka menggunakan tubuh mereka sendiri untuk melindungimu saat kamu masih bayi di tengah amukan api pemberontakan."
Aura menatap wajah anak itu dalam-dalam, mencari jejak kehidupan di balik kulit pucat tersebut. "Aku tidak tahu bagaimana caranya kamu masih hidup dan ada di dalam makam ini setelah sekian lama. Tapi aku tebak... kamu melewati tahun-tahun ini dengan tubuh yang tidak berkembang, atau mungkin kamu adalah jenis yang tumbuh dengan sangat lambat karena energi tempat ini."
Kesunyian kembali turun, namun kali ini terasa berbeda. Bukan lagi kesunyian yang mengancam, melainkan kesunyian yang penuh dengan duka yang telah lama terpendam. MetaJaya menundukkan kepalanya. Bahunya yang kecil berguncang tanpa suara. Ia telah menunggu jawaban ini selama puluhan, mungkin ratusan tahun dalam kesendirian yang dingin.
Tiba-tiba, MetaJaya mendongak. Ia memberikan satu tatapan terakhir yang penuh rasa terima kasih dan kepedihan kepada Aura. Sebelum Aura sempat berkata apa-apa lagi, tubuh anak itu perlahan menjadi transparan, seperti kabut yang tertiup angin, hingga akhirnya menghilang sepenuhnya dari hadapan Aura.
Seiring dengan hilangnya MetaJaya, ribuan serangga yang tadi mengerumuni mereka mulai bergerak mundur dengan cepat. Mereka masuk kembali ke dalam celah-celah dinding seolah-olah dipanggil oleh perintah gaib. Suara desis yang berisik mereda, menyisakan keheningan makam yang kembali seperti semula.
Begitu barikade serangga itu lenyap, Kieran adalah orang pertama yang bergerak. Ia berlari kencang, melompati puing-puing batu, dan segera berlutut di samping Aura yang masih duduk santai di lantai.
"Aura! Kamu baik-baik saja?" Kieran mencengkeram bahu Aura, matanya memeriksa setiap inci tubuh wanita itu untuk mencari luka. Napasnya tersengal-sengal karena panik yang baru saja mereda. "Ke mana mereka pergi? Apa yang makhluk itu lakukan padamu?"
Falix dan Jack menyusul tak jauh di belakang, wajah mereka masih pucat pasi melihat fenomena serangga yang baru saja terjadi.
Aura menoleh ke arah Kieran, memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Aku baik-baik saja, Kieran. Tenanglah."
"Tapi anak itu... dan serangga-serangga tadi..." Falix menimpali dengan nada tidak percaya.
"Sudah pergi," jawab Aura singkat sambil berdiri dan membersihkan debu dari pakaiannya. "Dia sudah mendapatkan apa yang dia cari. Aku juga tidak tahu dia pergi ke mana, tapi aku rasa dia akhirnya bisa beristirahat dengan tenang."
Aura menatap ke arah kegelapan di sudut ruangan tempat MetaJaya menghilang. Ada rasa kehilangan yang aneh di hatinya, namun juga rasa lega. Ia telah memberikan satu hal yang paling berharga bagi jiwa yang tersesat, sebuah kebenaran.
"Ayo kita lanjutkan," kata Aura datar, kembali ke mode tenangnya yang biasa. "Tempat ini tidak akan bertahan lama setelah pelindungnya pergi."
Kieran menatap Aura dengan penuh tanda tanya, namun ia tahu ini bukan saatnya untuk mendesak. Ia hanya bisa bersyukur bahwa wanita di depannya tetap selamat, meski misteri yang menyelimuti Aura terasa semakin dalam seiring mereka melangkah masuk ke dalam jantung makam tersebut.