"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Keras Kepala
"Aduh... maaf, ya? Tadi gue nggak tau kalo suami lo ada di sana. Biasanya juga gue masuk ke kamar lo selalu kayak gitu..."
Tawa lembut lolos dari bibir Kharisma mendengar Kinnar yang sejak tadi tak henti-hentinya meminta maaf setelah menerobos masuk ke dalam kamarnya. Memang benar sahabatnya itu sejak dulu seperti itu. Yah... mungkin karena mereka sudah sangat akrab sejak dulu.
"Iya, tidak apa-apa, kok. Maaf juga karena Mas Prabu tadi marah-marah, dia memang seperti itu," ucap Kharisma, menggeleng pelan saat mengingat bagaimana reaksi Prabujangga begitu melihat Kinnar tiba-tiba masuk.
Suaminya itu langsung mengumpat dan berbalik badan memasang kembali kancing kemejanya. Tapi yang Kharisma tidak duga-duga, laki-laki itu membentak Kinnar dan memerintahkan perempuan itu untuk keluar. Suaranya sama seperti saat dia memarahi Meara dan para pelayan begitu mereka melakukan kesalahan dalam bekerja.
Kharisma jadi tak enak hati.
"Kalo itu sih nggak papa ya, suami lo itu..." Kinnar memberi sedikit jeda, matanya melirik ke arah belakang—tempat di mana kamar Kharisma berada. "Dia memang berhak marah. Tapi seharusnya nggak semarah itu, kan? Gue kan sahabat lo."
Kharisma menghela napas dan mengangguk, mengerti jika sahabatnya itu mungkin merasa tersinggung. "Maaf ya, nanti aku bicara pada Mas Prabu."
Kinnar berdecak. "Udahlah, santai aja," ujarnya, sembari mengibas-ngibaskan tangan.
Langkah mereka berhenti saat mencapai ruang tamu. Aroma pengharum ruangan membuat Kharisma tersenyum, bernostalgia pada masa-masa sebelum pernikahannya. Ia menatap lembut Kinnar yang mendaratkan diri pada sofa, tubuhnya terlentang santai.
"Eh, ngomong-ngomong, suami lo itu namanya siapa? Gue lupa." Kinnar sedikit menegakkan tubuhnya untuk menatap Kharisma.
Kharisma tersenyum, mendaratkan diri pada sofa di seberang. "Prabujangga Wimana," jawabnya pelan. "Kenapa?"
Kharisma mengamati reaksi Kinnar dengan penasaran, sahabatnya itu terlihat terus-terusan melirik ke arah lantai atas, tempat kamarnya berada. Kira-kira apa yang sedang dia pikirkan?
"Prabujangga Wimana... yang megang Wimana Group itu?" Kinnar berujar hati-hati, matanya menatap Kharisma cukup serius.
Kharisma mengangguk. "Iya, memangnya kenapa?"
Jujur saja, Kharisma sedikit bingung saat melihat Kinnar tiba-tiba serius seperti ini. Bukan apa-apa, hanya saja biasanya dia selalu ceria dan terkesan konyol setiap kali bersamanya. Apakah dia benar-benar tersinggung karena amarah Prabujangga tadi?
"Emm... nggak papa, kok." Kinnar tersenyum dan menggeleng pelan, dia bangkit dari sofa dan duduk di sisi Kharisma, gerakannya sedikit kaku.
"Gue itu sebenernya lagi cari-cari lowongan kerja gitu. Biasalah, lo tau kan gue gimana," ujar Kinnar tiba-tiba, bibirnya meluncurkan desahan lelah. "Kalo misalnya nggak keberatan... bisa tanyain ke suami lo, nggak?"
Kharisma mengerjap. "Bertanya tentang apa?"
"Soal lowongan kerja," jawab Kinnar. "Nanti tanyain aja gitu soal posisi yang kosong. Lo kan istrinya, terus gue juga sahabat lo, pasti dapet posisi yang bagus," ujarnya jenaka, menaik turunkan alis dengan main-main.
Kharisma tertawa ringan dan menggeleng pelan. "Jadi... kamu mau kerja? Katanya pacar-pacar kamu itu udah kaya-kaya semua," godanya, mendapatkan reaksi cemberut dari Kinnar.
Perempuan itu memberengut. "Ih? Gue kan mau coba mandiri! Gimana sih lo," decaknya kesal, membuat Kharisma lagi-lagi tertawa geli.
Itu memang benar adanya. Kinnar ini menurutnya adalah perempuan yang memiliki pemikiran yang sedikit berbeda. Dia pintar sekali menggunakan pesonanya hingga pria-pria kaya diluaran sana terpikat. Tapi jika seandainya Kinnar mulai jenuh mempermainkan mereka dan ingin menghasilkan uang sendiri, itu terdengar lebih baik, kan?
"Iya, iya, nanti aku coba untuk bicara dengan Mas Prabu, ya? Siapa tau memang ada lowongan pekerjaan," tanggap Kharisma setuju, membuat Kinnar langsung memeluk tubuhnya dengan antusias. Dia mengguncang-guncang tubuh Kharisma dengan semangat.
"Lo beneran? Beneran mau nanyain lowongan kerja buat gue?" tanya Kinnar gembira, tangannya melingkari tubuh Kharisma, menekan sahabatnya itu kuat-kuat ke tubuhnya.
"Kinnar lepas! Sesak tau!" Kharisma sedikit meronta saat merasa sedikit tercekik. "Iya! Nanti aku tanyakan pada Mas Prabu! Tapi lepas dulu!"
Barulah saat Kinnar perlahan-lahan melonggarkan pelukannya, ia bisa menghirup udara dengan rakus. Sahabatnya itu konyol sekali. Namun meskipun begitu, pada akhirnya mereka berpelukan kembali untuk melepaskan kerinduan.
"Makasih ya... lo memang sahabat terbaik gue."
...***...
Beberapa hari terakhir ini Prabujangga sudah banyak bertemu dengan orang-orang konyol yang sepertinya dengan sengaja memancing emosinya. Pertama-tama adalah sang kakak yang ingin membawa istrinya pergi ke belahan dunia lain, dan sekarang ditambah lagi dengan sahabat istrinya yang entah mengapa membuatnya jengkel setengah mati.
Sudahlah pagi-pagi buta mengganggu waktunya, dan sekarang saat pulang dari kerja dan kelelahan, istrinya lagi-lagi membahas tentang wanita tidak tau diri itu. Wanita yang tidak tau tata krama dalam memasuki kamar orang lain.
"Ayolah Mas Prabu... bantu, ya? Dia kan sahabat aku." Kharisma mengerjapkan matanya, memohon dengan bibir manyun-manyun membujuk yang kali ini tidak mempan di hadapan Prabujangga.
"Saya tidak tau kamu ini bodoh atau ada sebutan lainnya yang jauh lebih buruk lagi," ujarnya datar, mendorong lembut kening Kharisma dengan ujung jarinya. "Kamu sejak tadi menceritakan tentang teman kamu itu seolah-olah saya peduli. Saya ini lelah, tidak ingin disambut dengan ocehan tidak penting seperti ini."
Kharisma bergumam sebal sembari mengelus keningnya. "Mas kenapa mengatai aku bodoh? Dan kenapa tidak peduli dengan orang yang membutuhkan bantuan? Jahat sekali," gerutunya, tapi Prabujangga tetap tak hirau dan mulai melepaskan kancing kemejanya. Tak lupa laki-laki itu mengunci pintu sebelum melangkah melewati Kharisma mendekati meja rias.
Ia tidak akan mentoleransi gangguan kali ini.
"Saya selalu mengatakan tentang fakta. Jika saya beranggapan kamu bodoh, berarti memang begitu," celetuk Prabujangga acuh, melipat asal kemejanya dan meletakkannya di atas meja rias. Dia memutar tubuh, menghadap Kharisma dengan bagian atas tubuhnya yang telanjang.
"Kamu mengatakan pada saya bahwa dia sebelumnya memang berasal dari keluarga kurang mampu. Tapi saat dia berhasil memutar otak, memikat pria-pria kaya di luaran sana untuk memenuhi kecukupannya, dia bisa memenuhi standar hidupnya. Lalu untuk apa dia ingin bekerja sekarang?" Prabujangga menatap istrinya dengan tatapan datar.
"Karena ingin berubah. Ingin menghasilkan uang sendiri," balas Kharisma percaya diri, mengangkat dagu tinggi-tinggi seolah-olah menantang Prabujangga.
Sikap inilah yang membuatnya jengkel dan tertarik dalam satu waktu.
Prabujangga melangkah maju, tangannya bersedekap hingga otot-ototnya meregang. "Dan kamu percaya kalau dia benar-benar ingin bekerja? Ingin hidup mandiri?"
Kharisma mengangguk kukuh.
Prabujangga mulai beranggapan bahwa istrinya ini tidak hanya polos, tapi juga mudah sekali dibodoh-bodohi. Hatinya mudah sekali dimenangkan, terlalu lembut dan rapuh. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan hidupnya yang selama ini diisi oleh pengkhianat yang bertempat satu atap dengannya.
"Keras kepala." Prabujangga menghela napas, menjitak pelan kening Kharisma yang terus menatapnya dengan berani. "Saya harap anak saya nanti tidak ketularan sifat keras kepalamu ini," gumamnya.
Tatapan Prabujangga beralih turun pada perut datar Kharisma yang ditutupi oleh gaun tidur tipis. Tangannya melayang di udara, sedikit lagi menyentuh bagian di mana anaknya tumbuh. Tapi tiba-tiba saja jari-jari mungil Kharisma menahan pergelangan tangannya.
"Tidak boleh menyentuh adik bayi jika tidak setuju untuk memberikan Kinnar pekerjaan," larangnya dengan berani, membuat kekesalan melintas di wajah Prabujangga. Tapi ia segera menutupi dengan raut datarnya yang biasa.
"Kamu mungkin tidak mengerti dengan maksud saya, Kharisma, tapi saya tetap tidak setuju." Prabujangga menarik tangannya dari genggaman Kharisma. Matanya menatap dengan intensitas berbahaya. "Saya membawa kamu kemari untuk menjauh dari masalah, bukan untuk mencari masalah baru. Percaya tidak percaya, temanmu itu mencoba untuk mendekati saya."
Kharisma terbelalak mendengar ucapan Prabujangga. Bibirnya terbuka dan terkatup seakan-akan tak percaya. "Mas kenapa berkata seperti itu?! Kinnar itu sahabat aku! Mana mungkin seperti itu—"
"Saya tidak peduli dia sahabat kamu atau bukan, saya tetap saja tidak setuju," selanya tegas. "Kamu ini terlalu naif, Kharisma."
Prabujangga melangkah melewati Kharisma menuju kamar mandi dengan langkah panjangnya. Ia tak lagi menoleh ke belakang, di mana Kharisma pasti tercengang dengan kata-katanya.
Perempuan itu pada akhirnya terpaksa menyerah untuk membujuknya.
Bersambung...
di kalau ga denger atau melihat dengan mata kaki kepala nya susah untuk percaya