Salam dari author untuk pembaca 😊✨🙏
Putri Adelia yang biasa di panggil adel, usianya kini menginjak 24 tahun. Dia menjalani kisah cinta yang romantis dan begitu membuat iri orang-orang.
Kisah cintanya dengan devan alvano begitu indah dan tampak sempurna di mata siapa pun yang melihatnya.
Devan adalah sosok pria yang hampir tidak memiliki celah—tampan, mapan, dan selalu bersikap lembut pada Adel. Di hadapannya, Devan seperti pria yang hanya hidup untuk mencintai satu wanita.
Tapi tiba-tiba semuanya runtuh ayah adel memutuskan untuk menjodohkan nya dengan kakak Devan, yaitu Lucas yang usianya sudah 36 tahun terpaut jauh dari usia adel.
HEHEH SEMOGA SUKA YA SAMA NOVEL AKU 🙏😁✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tayanlee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33.
" Lucas " sapanya lembut, Ia berhenti tepat di depan Lucas dan Adel.
Tatapan matanya sekilas melirik Adel yang berdiri di samping Lucas, lalu kembali lagi ke Lucas.
" sedang apa kamu di sini? " tanyanya, dengan senyum tipis.
" karina " ucap Lucas.
" kami akan makan siang " jawab Lucas datar.
Perlahan Adel memeluk lengan Lucas dengan mesra, lalu tersenyum hangat pada karina.
Sekilas Lucas menoleh, Ia tidak melepaskannya Lucas membiarkan Adel menempel seperti itu, entah kenapa Ia tidak merasa terganggu
Justru ada sensasi asing yang sulit di jelaskan, sesuatu yang tidak biasa bagi dirinya.
Karina terlihat tentang dari pertemuan tadi malam, dia bahkan terlihat lebih dewasa dari sebelumnya, meski Adel memancingnya.
" Makan siang " ulang karina, lalu tatapannya menoleh ke arah Adel yang memeluk lengan Lucas.
" Iya " jawab Adel dengan senyum tipis, tapi jelas Adel memprovokasinya.
" Hm... bukankah ini hamil tidak boleh makan makanan mentah " sindir karina, lembut.
Adel terdiam untuk sesaat.
Senyumannya tidak luntur, justru semakin tenang.
Lucas menoleh ke arah Adel, wajahnya datar tanpa ekpresi, namun di matanya jelas dia menuntut penjelasan dari Adel.
" Bukan aku yang ingin makan di restoran ini "
" tapi suamiku " ucap Adel lembut, namun jelas menusuk perlahan.
" iya kan, sayang " ucap Adel, Ia menekankan kata sayang agar Lucas mengerti jalan permainannya.
Lucas terdiam.
tatapannya beralih dari Adel ke karina, lalu kembali lagi ke wanita yang menggenggam tangannya.
Ada jeda singkat, tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka memegang.
Tanpa mengubah ekpresi dinginnya, Lucas mengangkat sedikit dagunya.
" iya" satu kata, tenang, tegas dan tanpa ragu.
Adel berkedip pelan, meski itu yang dia inginkan, tetap saja membuat nya sedikit terkejut, ada sesuatu dari cara Lucas mengatakannya yang terasa berbeda.
Karina jelas merasa terganggu dengan jawaban Lucas, senyumnya masih ada, tapi matanya tidak lagi ikut tersenyum.
" Jadi kamu yang ingin makan? " ucap karina, nada suaranya tetap lembut tapi kini lebih tajam.
" Aku kira, istrimu tidak tahu bahwa makanan mentah tidak baik untuk calon bayi " lanjut karina.
Karina melihat jam tangannya, lalu kembali menatap Lucas dengan senyum tipis.
" aku masih ada rapat penting " ucapannya.
" Sorry membuat kalian merasa terganggu " ucap karina, nadanya lembut tapi terasa menusuk, karina jelas tidak ingin melepaskan Lucas begitu saja.
Karena Lucas adalah seseorang yang dia butuhkan di duni bisnis yang kejam dan jahat ini.
Lucas menatap karina tanpa banyak perubahan ekpresi, dingin dan sulit di tebak.
" tidak masalah " jawab Lucas datar.
Adel masih menempel di sampingnya, namun kali ini tatapannya ikut mengamati, lebih tajam.
Karina tersenyum.
" bagus kalau begitu " ucapannya dengan nada yang lembut.
Karina merapikan sedikit rambutnya, lalu melangkah mendekat, satu langkah cukup untuk membuat jarak mereka menjadi lebih sempit.
" aku akan menemuimu di kantor " ucap Karina ringan.
tatapannya turun sekilas pada Karina yang kini berdiri lebih dekat dari sebelumnya, lalu kembali naik, dingin seperti biasa.
" hubungi sekertarisku " ucap Lucas dingin tanpa cela.
Karina masih tersenyum tipis, Ia masih bisa menerima sikap dingin Lucas.
" baik, aku akan menjadwalkan pertemuan kita nanti " ucapnya pelan.
Karina melirik sekilas ke arah Adel, lalu kembali ke Lucas, Ia pun melangkah pergi meninggalkan mereka berdua dengan suasana tegang.
" Burung unta itu mengibaskan ekornya dengan anggun " gumam Adel, melirik Karina yang sudah pergi sedikit lebih jauh.
Adel mendongak ke atas, menatap Lucas, lalu melepaskan pelukannya.
" ayo " ajak Adel ketus, Ia berjalan lebih dulu masuk ke dalam restoran.
" apa yang kau katakan padanya? " tanya Lucas, Ia menjatuhkan dirinya di kursi.
" tidak ada " jawab Adel dengan cepat.
" Hamil!!??... " ucap Lucas datar, menatap Adel meminta penjelasan.
" aku berbohong padanya " jawab jujur Adel.
" pura-pura hamil? "
" iya, "
" habisnya dia gak bisa diam, sampai masalalu dia tidur denganmu saja dia... "
Lucas menatap Adel tanpa berkedip, tatapannya tajam, jelas menangkap potongan kalimat yang menggantung itu.
" lanjutkan " kata Lucas.
" dia hampir bilang... soal masa lalu kalian " lanjut Adel, meski ada nada kesal yang terselip.
" jadi aku hentikan saja dengan cara yang paling cepat " kata Adel santai.
Lucas menyipitkan matanya.
" dengan berpura-pura hamil? "
" iya, efektif kan " jawab Adel ringan, seolah itu hal biasa.
Lucas menghela nafas panjang, bukan kesal, tapi sepenuhnya tidak setuju dengan kebohongan Adel.
" kamu membuat masalah baru " ujar Lucas.
" lebih baik dari pada dia terus bicara yang tidak perlu " ucap Adel, sambil mengangkat bahunya sedikit.
Hening sejenak.
Pelayan datang membawakan buku menu ke meja mereka, lalu pergi lagi setelah mencatat pesanan singkat dari Lucas.
Adel menatapnya lama.
" kamu tidak menyangkalnya " ucap Adel tiba-tiba.
Lucas menoleh ke arah Adel.
" apa" tanyanya.
" tentang masa lalu kalian " ucap Adel langsung.
Lucas tidak langsung menjawab, Ia menyandarkan punggungnya, menatap Adel beberapa detik lebih lama dari biasanya.
" itu masa lalu " jawabnya singkat.
Adel mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis tanpa kehangatan.
" jadi... benar? "
Lucas hanya diam, tidak membenarkan, tapi juga tidak menyangkalnya dan itu sudah cukup untuk Adel mengerti.
Adel mengalihkan pandangannya, memainkan sendok di piring.
" jadi semua yang dia katakan benar " ucap Adel pelan.
" kamu keberatan? " tanya Lucas datar dan dingin.
" tidak, untuk apa aku keberatan "
" aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan di masa lalu, atau sekarang, yah.... mungkin saja sekarang kau punya banyak wanita... di balik wajah kaku itu "
Lucas menatap Adel dengan tajam.
" apa kau serius? "
" menuduhku seperti itu, ? "
Lucas menyilangkan tangannya di dada.
" Adel apa di matamu aku pria seperti itu? " tanya Lucas.
" bisa sajakan " jawab Adel ketus.
" Dengar, aku bukan pria murahan yang menyimpan banyak wanita di sampingku "
" jika aku memang tipe pria seperti itu " suara Lucas merendah, berat dan penuh tekanan.
" Aku tidak akan repot-repot menikahimu, apalagi meladeni sandiwara konyolmu yang tentang kehamilan di depan karina " ungkap Lucas.
Adel terdiam, tangannya yang semula memainkan sendok kini berhenti, Ia menatap Lucas dalam dan sedikit kesal.
" kau...."
" jika kamu ingin terus bedebat, lebih baik kita pulang dan selesaikan di rumah " potong Lucas cepat.
Pelayan datang meletakkan makanan yang di pesan tadi.
Tatapan Adel tak lepas dari Lucas.
Saat makan, tidak ada lagi perbincangan di antara mereka, tuan ada lagi perdebatan, yang ada hanya suara orang-orang yang terdengar samar di telinga Adel.
***
Sesampainya di apartemen, Adel melemparkan tas di sofa, Ia terus berdecak kesal di sepanjang jalan.
" kita akan pulang ke jakarta dalam satu minggu " ucap Lucas tiba-tiba, tanpa menunggu jawaban dari Adel, Ia melangkah masuk ke dalam kamar.
meninggalkan wanita itu sendiri di ruang tamu.
Lu doyan ma perempuan kaga sih 🙄🙄🙄🙄
a elaaaaaaah lu lambat banget jadi cwo.
Readers kecewa nih 😒😒😒
Reader : elu nyesel khan Cas, yg begitu lu anggurin.
Udeh buruan lu tubruk deh...udah halal juga khan
Lu gimana sih Lucaaaaaasss, masa iya lu diem aja dibilang laki ga normal.
Harusnya tuh lu tunjukin ke Adel...kasih paham ke Adel, kl lu laki tulen
Hanya Othorlah pemegang kendali atas segalanya
Tunjukkan kl kamu ga terpengaruh ocehan Karina, biar Karina tidak memandangmu remeh.