NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Umpan

​Pagi itu, udara di Desa Sukomaju terasa lebih segar bagi Agus, namun ada keangkuhan yang menyesakkan di dalam dadanya. Ia tidak tahu—dan mungkin tidak peduli—bahwa di Desa Karang Jati, sahabatnya, Sugeng, sedang terkapar dalam genangan darahnya sendiri. Kabar tentang tebasan golok Wiwin belum sampai ke telinganya karena Agus sudah berangkat sejak subuh menemui Juragan Tono.

​Rencananya berjalan mulus. Juragan Tono, sang tuan tanah yang serakah, langsung terpancing saat Agus membisikkan ada "orang kaya baru dari kota" yang berniat membangun supermarket besar. Tanpa banyak tanya, Juragan Tono memberikan mandat penuh kepada Agus untuk menjadi perantara, membekalinya dengan beberapa berkas denah tanah strategis yang berbatasan langsung dengan jalan raya Sukomaju.

​Agus merasa di atas angin. Baginya, tugas ini adalah tiket emas untuk mencicipi kembali Ratri, namun kali ini bukan sebagai "penjarah" di ladang jagung, melainkan sebagai lelaki yang memiliki posisi tawar menawar.

​"Ratri, Ratri... kalau Sugeng yang kurus begitu saja bisa dapat, apalagi aku," gumam Agus sambil mematut diri di depan cermin motornya.

​Ia mengenakan kemeja safari terbaiknya, rambutnya disisir klimis dengan minyak rambut yang aromanya menusuk. Ia merasa sangat jantan. Di kepalanya, ia membayangkan bagaimana Ratri akan bertekuk lutut melihat keperkasaannya yang selama ini dipuja-puja oleh Surti sang biduan. Agus percaya diri bahwa ukuran "senjatanya" yang di atas rata-rata—yang sering ia sebut ukuran jumbo—akan membuat Ratri ketagihan dan melupakan suaminya yang di kota.

​Di rumah gedong minimalis itu, Ratri sudah berdiri di balkon lantai dua, mengamati kedatangan Agus melalui celah gorden. Ia melihat pria itu turun dari motor dengan gaya yang sangat jumawa, menepuk-nepuk debu di bahunya seolah-olah ia adalah tamu paling agung.

​Ratri tersenyum, namun senyum itu tidak sampai ke mata. Matanya tetap dingin, setajam silet yang siap menyayat.

​"Datang juga si sombong ini," desis Ratri.

​Ia memanggil Mbok Nah untuk menyiapkan minuman spesial. Kemudian, Ratri berjalan menuju lemari pakaiannya. Ia memilih sebuah dress tanpa lengan dengan model kemben modern berwarna merah marun gelap. Dress itu sangat panjang, hingga menyentuh mata kaki, namun memiliki belahan yang sangat tinggi di sisi kanan hingga mencapai pangkal paha. Kainnya yang jatuh mengikuti lekuk tubuh memberikan kesan seksi yang elegan namun sangat menggoda.

​Ratri memoles bibirnya dengan warna merah menyala, membiarkan rambut hitamnya tergerai indah di satu bahu. Ia sengaja menampilkan kesan wanita kaya yang haus namun berkelas.

​Di bawah, Pak Hans, sang satpam, memberikan isyarat melalui interkom. "Nyonyah, ada tamu bernama Agus. Katanya utusan Juragan Tono soal urusan tanah."

​"Persilahkan masuk, Pak Hans. Bawa ke ruang tamu tengah," jawab Ratri dengan suara yang lembut namun berwibawa.

​Agus melangkah masuk ke dalam rumah dengan tatapan liar yang mengagumi setiap inci interior rumah itu. Lantai marmer yang dingin, lampu kristal yang berkilauan, dan wangi pengharum ruangan yang mahal membuatnya merasa sedang berada di istana. Mbok Nah menyambutnya dengan wajah datar, mempersilahkannya duduk di sofa beludru yang empuk.

​"Silahkan diminum, Pak Agus. Nyonyah segera turun," ucap Mbok Nah sambil meletakkan segelas air sirup berwarna merah cerah dengan es batu yang gemerincing.

​Agus menyesap minuman itu dengan sekali teguk. Rasa manisnya langsung menjalar ke tenggorokan, namun anehnya, tak lama kemudian ia merasakan sensasi hangat yang merambat ke area perutnya. Ia merasa sangat percaya diri, sangat bertenaga.

​Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang halus dari arah tangga. Tak... tak... tak...

​Agus menoleh, dan matanya nyaris melompat keluar.

​Ratri turun dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Setiap langkahnya membuat belahan dress-nya terbuka, menampilkan paha yang sangat putih, mulus, dan kencang. Cahaya lampu dari atas menyinari bahu Ratri yang terbuka, memperlihatkan kulit yang tampak begitu bersih seolah tidak pernah tersentuh debu desa.

​Agus terpaku. Ingatannya tentang Ratri yang dulu kusam dan menangis seketika musnah. Wanita di depannya ini adalah dewi kecantikan yang mematikan.

​"Selamat pagi, Mas Agus. Sudah lama sekali kita tidak bicara," ucap Ratri dengan nada suara yang rendah dan merdu.

​Ratri mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Agus dengan cepat menyambar tangan itu. Kulit Ratri terasa sangat dingin, namun bagi Agus yang sudah terbakar gairah liar, kedinginan itu justru terasa menyegarkan. Ia memegang tangan Ratri lebih lama dari seharusnya, sambil menatap wajah wanita itu tanpa berkedip.

​"Nyonyah Ratri... ah, maksud saya, Ratri. Kamu... kamu cantik sekali. Benar-benar seperti bukan orang yang sama yang dulu tinggal di Karang Jati," puji Agus tiada henti, matanya tidak bisa lepas dari garis leher dan belahan dress Ratri.

​Ratri tertawa kecil, sebuah tawa yang dibuat-buat namun terdengar sangat menggoda di telinga Agus. Ia menarik tangannya pelan, lalu duduk di sofa yang berseberangan dengan Agus. Dengan sengaja, Ratri menyilangkan kakinya dengan gaya yang sangat anggun, membuat belahan kain dress-nya tersingkap lebar hingga memperlihatkan paha putihnya hampir secara keseluruhan.

​Agus menelan ludah dengan keras. Gairah liarnya bangkit seketika. "Senjata" jumbo-nya yang ia banggakan mulai bereaksi secara paripurna, menegang keras hingga ia merasa celana safarinya yang tebal menjadi sangat sesak dan tidak nyaman. Ia mencoba membenarkan posisi duduknya berkali-kali, namun ketegangan itu justru semakin menjadi-jadi.

​Ratri, yang memiliki indra tajam dari susuk Suanggi-nya, tentu saja menyadari apa yang sedang terjadi di balik celana Agus. Ia melihat "sesak" itu dan tersenyum manis—senyum seorang pemburu yang melihat mangsanya sudah masuk ke dalam jaring.

​"Terima kasih atas pujiannya, Mas Agus. Kamu sendiri tampak semakin gagah. Kudengar sekarang sudah jadi orang kepercayaan Juragan Tono?" tanya Ratri, suaranya seolah membelai telinga Agus.

​Agus mencoba kembali fokus, meski pikirannya sudah melayang ke ranjang. Ia berdehem, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu.

​"Betul, Ratri. Juragan Tono dengar kamu sedang cari tanah untuk supermarket dan toko-toko lainnya. Kebetulan, Juragan punya beberapa lahan strategis yang tidak akan diberikan kepada sembarang orang. Tapi karena aku yang minta, dia bersedia melepaskannya untukmu," ujar Agus sambil mengeluarkan beberapa map dari tasnya.

​Ia mencoba menyodorkan berkas-berkas itu, namun tangannya sedikit gemetar. Posisinya yang duduk condong ke depan membuat ia bisa melihat lebih jelas ke dalam celah baju Ratri. Aroma melati yang kuat dari tubuh Ratri mulai memabukkannya, membuat logika Agus perlahan-lahan menguap, digantikan oleh naluri yang haus akan kepuasan.

​"Ini ada lahan di perbatasan Sukomaju-Karang Jati, luasnya dua hektar. Sangat cocok untuk supermarket modern yang kamu rencanakan. Lalu ada lahan lagi di dekat pasar yang bisa dibangun ruko sepuluh pintu," Agus menjelaskan dengan suara yang agak serak, matanya terus berpindah-pindah antara berkas tanah dan paha putih Ratri yang berkilau.

​Ratri menerima map tersebut, jemarinya sengaja bersentuhan dengan jari Agus saat mengambilnya. "Wah, menarik sekali. Mas Agus memang sangat bisa diandalkan. Aku memang butuh orang yang mengerti seluk beluk tanah di sini agar pembangunannya lancar."

​Ratri membuka map itu dan membacanya perlahan. Sesekali ia mencondongkan tubuhnya ke arah Agus untuk menunjuk gambar denah tanah, membuat Agus semakin merasa disiksa oleh nafsu. Di mata Agus yang sudah terhipnotis oleh sihir susuk, Ratri bukan lagi sekadar menawarkan kerjasama bisnis, melainkan sedang memberikan kode untuk sesuatu yang lebih jauh.

​"Tanahnya bagus, Mas Agus. Tapi, aku tidak hanya butuh tanahnya," bisik Ratri sambil menatap mata Agus dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang menghisap jiwa pria itu. "Aku juga butuh 'kekuatan' untuk menjagaku di sini. Kamu tahu kan, wanita sendirian sepertiku pasti banyak yang mengincar."

​Agus merasa dadanya membusung. "Kamu tidak usah khawatir, Ratri. Selama ada aku, tidak akan ada yang berani menyentuhmu. Aku akan menjagamu... luar dan dalam."

​Agus tertawa licik, merasa bahwa umpan bisnisnya telah berhasil menarik Ratri ke dalam pelukannya. Ia sudah membayangkan bagaimana ia akan menundukkan Ratri siang ini juga, membuktikan bahwa ia adalah lelaki sejati yang berbeda dengan Sugeng atau Karno.

​Tanpa Agus sadari, di balik bayangan sofa tempat Ratri duduk, asap hitam tipis mulai merayap di lantai, melingkari kaki Agus seperti ular yang sedang bersiap membelit mangsanya. Suanggi di dalam tubuh Ratri sudah mulai mengeluarkan lidahnya, siap menyambut hidangan "jumbo" yang baru saja datang dengan penuh kesombongan.

1
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!