NovelToon NovelToon
Luka Rembulan

Luka Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Keluarga / Kutukan
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XXV—RUNTUHNYA LANGIT SENJA

Sinar matahari sore itu terasa lebih hangat dari biasanya, memantul di kaca jendela kelas yang mulai kosong oleh isinya. Bagi Chandra Baswara, perasaan ini adalah sesuatu yang asing namun mulai ia nikmati. Berjalan di koridor sekolah tidak lagi terasa seperti melewati lorong penuh duri. Meskipun ia masih menunduk saat berpapasan dengan siswa lain yang berbisik-bisik, atau menarik napas panjang saat merasakan tatapan sinis dari kejauhan, segalanya terasa berbeda ketika ia menoleh ke samping kiri dan kanannya.

Di sana ada Arka, yang sedang sibuk mengoceh tentang skor pertandingan basket tadi siang, dan Alera, yang sesekali menimpali dengan tawa renyahnya sambil membenarkan letak tas ranselnya. Chandra mencoba sesuatu yang setahun lalu mustahil ia lakukan yaitu tersenyum. Bukan senyum tipis yang dipaksakan untuk sopan santun, melainkan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya. Matanya menyipit, dan beban yang biasanya menggelayut di bahunya seolah menguap tertiup angin sore.

Bersama Arka dan Alera, Chandra telah menemukan dunianya sendiri. Sebuah zona aman di mana tanda lahir atau sejarah kelam keluarganya tidak menjadi bahan penghakiman. Ia mulai bisa bercerita tentang hobinya yang mendengarkan musik, tentang ketakutannya terhadap kaki seribu, hingga hal-hal konyol seperti ketidaksukaannya pada sayur brokoli. Ia telah membuka pintu hatinya lebar-lebar untuk kedua sahabatnya itu, meski kepada dunia luar, pintu itu masih menyisakan celah yang sempit.

“Chandra, nanti malam kita main game daring, ya? Kakak payah sekali, masa kalah terus sama aku,” goda Alera sambil menyenggol lengan Arka.

“Heh! Itu karena koneksiku lambat, Alera! Lihat saja nanti malam, akan kubuat kalian berdua bertekuk lutut,” balas Arka dengan nada sombong yang jenaka.

Chandra tertawa kecil. “Aku ikut saja. Tapi jangan salahkan aku kalau kalian yang kalah dariku.”

Ketiganya berjalan keluar gerbang sekolah menuju parkiran, lalu memutuskan untuk mengantar Chandra pulang terlebih dahulu menggunakan mobil Arka. Suasana di dalam mobil dipenuhi musik radio dan perdebatan ringan tentang tempat makan yang enak. Chandra merasa, untuk pertama kalinya, ia hidup selayaknya remaja normal. Ia tidak lagi merasa seperti 'Rembulan yang Gagal'. Ia merasa agak berhasil.

Namun, perasaan damai itu menguap seketika saat mobil Arka berhenti tepat di depan pagar rumah Chandra. Mata Chandra menyipit, alisnya bertaut erat.

“Ada yang aneh,” gumam Chandra.

“Kenapa, Chan?” tanya Alera yang duduk sampingnya.

“Pintu rumahku... terbuka lebar,” jawab Chandra pelan. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ibunya, Bu Mandira, adalah tipe orang yang sangat teliti. Beliau tidak pernah membiarkan pintu depan terbuka begitu saja, apalagi saat hari sudah mulai sore dan angin mulai mendingin.

Tanpa menunggu Pak Cipto mematikan mesin mobil dengan sempurna, Chandra langsung melompat keluar. Perasaan janggal itu berubah menjadi kecemasan yang mencekik. Ia berlari kecil menuju teras. Langkah kakinya terdengar berat di atas lantai semen. Begitu ia sampai di ambang pintu, dunianya seolah berhenti berputar.

“Bu?” suara Chandra bergetar.

Di ruang tamu yang remang-remang, di atas lantai ubin yang dingin dan keras, tubuh ibunya terbaring lemas. Bu Mandira tampak seperti orang yang baru saja terjatuh saat hendak menuju ruang tamu. Posisinya miring, dengan satu tangan terulur seolah mencoba meraih sesuatu yang tak terjangkau.

“BU!” teriakan Chandra pecah, membelah kesunyian rumah itu.

Ia segera menghambur ke lantai, berlutut di samping tubuh ibunya. Tangan Chandra yang gemetar menyentuh bahu wanita yang selama ini menjadi satu-satunya kekuatannya itu.

“Bu, bangun! Ini Chandra, Bu! Chandra sudah pulang! Ibu kenapa?” ia mengguncang bahu ibunya dengan lembut, lalu semakin keras karena kepanikan mulai mengambil alih logikanya. “Ibu, jangan bercanda! Ayo bangun, dingin di sini, Bu!”

Namun, tidak ada respons. Wajah ibunya pucat pasi, bibirnya sedikit membiru, dan napasnya terdengar sangat tipis, hampir tak terdengar. Mata ibunya tertutup rapat, seolah terlelap dalam kelelahan yang luar biasa dalam.

Arka dan Alera yang menyusul masuk terpaku di depan pintu. Alera menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya kebingungan tak tahu mau apa. Chandra terus berteriak, suaranya parau, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya, membasahi tanda lahir yang selama ini selalu ingin ia sembunyikan. Saat ini, ia tidak peduli pada apa pun kecuali denyut nadi ibunya.

“Ibu... tolong bangun..., Bu... Ibu bilang ingin lihat Chandra bahagia, kan? Ayo bangun...” rintihnya tersedu-sedu.

Arka adalah yang pertama tersadar dari keterpakuannya. Ia tahu mereka tidak punya waktu untuk sekadar menangis. Logikanya bergerak cepat. “Chand! Minggir dulu, kita harus bawa Ibu ke rumah sakit sekarang!”

Arka berlari keluar menuju pagar sambil berteriak kencang, “PAK CIPTO! PAK CIPTO, KE SINI! CEPAT!”

Pak Cipto, sopir keluarga Arka yang sedang membersihkan kaca spion mobil, segera berlari masuk dengan wajah tegang. Melihat situasi di dalam rumah, ia langsung mengerti keadaan darurat yang terjadi.

“Bantu saya, Pak! Kita bawa ke mobil!” perintah Arka tegas.

Pak Cipto dengan sigap membopong tubuh Bu Mandira yang terasa sangat ringan, seolah beban hidup telah menggerogoti berat badannya selama ini tanpa disadari Chandra. Chandra mengikuti dari belakang dengan langkah terhuyung-huyung, tangannya masih berusaha memegang tangan ibunya yang terkulai lemas.

“Alera, kunci rumah Chandra! Cepat!” instruksi Arka lagi sambil membantu Pak Cipto memasukkan Bu Mandira ke kursi belakang mobil.

Alera dengan cekatan mencabut kunci yang masih tergantung di pintu dan menguncinya, lalu ikut masuk ke dalam mobil. Chandra duduk di kursi belakang, memangku kepala ibunya di pangkuannya. Ia terus membisikkan kata-kata penyemangat, meski suaranya habis tertelan isak tangis.

“Pak Cipto, secepat mungkin ke RS Anggrek! Terobos saja kalau perlu!” seru Arka dari kursi depan.

Mobil itu melesat membelah jalanan sore yang mulai padat. Di dalam mobil, suasana terasa begitu mencekam. Hanya terdengar suara napas Chandra yang tersengal dan isak tangis Alera yang berusaha diredamnya agar tidak menambah kepanikan.

Chandra menatap wajah ibunya di bawah temaram lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Ia teringat betapa sering ibunya menyembunyikan batuknya di balik sapu tangan, dan betapa ibunya selalu berkata bahwa ia “baik-baik saja” setiap kali Chandra bertanya. Rasa bersalah yang teramat sangat mulai merayap di hati Chandra. Ia terlalu sibuk dengan kebahagiaan barunya bersama teman-temannya hingga ia lupa memperhatikan bahwa pilar utama dalam hidupnya sedang rapuh.

“Maafkan Chandra, Bu... maafkan Chandra kurang memperhatikan Ibu” bisiknya lirih, menciumi punggung tangan ibunya yang terasa sedingin es.

Arka terus memantau dari kaca spion tengah, tangannya terkepal kuat. Ia ingin menenangkan sahabatnya, tapi ia tahu kata-kata tidak akan berguna sekarang. Alera menggenggam tangan Chandra yang bebas, memberikan kekuatan dalam diam.

Setibanya di Unit Gawat Darurat (UGD), petugas medis langsung sigap membawa brankar. Tubuh Mandira dipindahkan dengan cepat. Chandra ingin ikut masuk ke dalam ruang tindakan, namun langkahnya tertahan oleh seorang perawat.

“Maaf, Dek, tunggu di sini. Dokter akan melakukan pemeriksaan awal,” ucap perawat itu dengan nada datar namun tegas.

Pintu putih itu tertutup rapat. Lampu merah di atasnya menyala, menandakan ada nyawa yang sedang diperjuangkan di dalam sana. Chandra jatuh terduduk di kursi tunggu yang dingin. Ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Tubuhnya berguncang hebat saat ini.

Dunia yang baru saja ia bangun dengan penuh warna, dunia di mana ia bisa tersenyum dan merasa diterima, tiba-tiba terasa runtuh seketika. Langit jingga yang tadi indah kini tampak seperti api yang membakar sisa-sisa harapannya.

“Dia akan baik-baik saja, Chan. Ibu wanita yang kuat,” Arka duduk di sampingnya, merangkul bahu Chandra dengan erat.

Chandra mendongak, matanya merah dan sembab. “Bagaimana kalau tidak, Ka? Dia satu-satunya yang aku punya. Kalau dia pergi...”

Alera berjongkok di depan Chandra, mengambil tisu di sakunya dan mengusap air mata di wajah Chandra. “Kamu tidak sendirian lagi, Chand. Ada kami. Dan Ibu Mandira pasti ingin kamu tetap kuat. Kita berdoa saja, ya?”

Chandra terdiam. Di koridor rumah sakit yang berbau karbol itu, ia menyadari bahwa ujian hidupnya belum berakhir. Kebahagiaan yang ia rasakan tadi siang seolah menjadi ketenangan sebelum badai besar datang menerjang. Di tengah ketakutan yang luar biasa, ia hanya bisa berharap agar Tuhan tidak mengambil cahaya terakhirnya di saat ia baru saja belajar bagaimana cara berjalan di kegelapan tanpa merasa takut.

Waktu seolah melambat. Setiap detik detak jam di dinding rumah sakit terasa seperti hantaman palu di dada Chandra. Ia terus menatap pintu UGD, menanti sebuah kabar, menanti sebuah harapan bahwa senyum yang baru saja ia pelajari tidak akan hilang untuk selamanya. Di luar sana, malam benar-benar telah jatuh, dan rembulan muncul di sela-sela awan, tampak retak dan pucat, seolah ikut merasakan duka yang dialami oleh sang pemilik nama Baswara.

1
Roar22
jarang banget sih genre kayak gini, semangat-semangat aja thor/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!