"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Berkenalan Di Depan Kediaman
Rasa cemas kian menghantui Kharisma saat tak melihat batang hidung Kinnar yang konon katanya akan kembali setelah melamar pekerjaan ke kantor suaminya. Ia tidak tau bagaimana sekiranya reaksi Prabujangga setelah melihat Kinnar datang ke sana setelah perdebatan mereka kemarin malam.
Yang terpenting, ia hanya ingin tau apakah Prabujangga benar-benar memiliki perempuan lain di kantornya. Itulah alasan mengapa sekarang ini ia berada di luar kediaman Respati untuk menunggu Kinnar.
Di saat-saat membosankan itu, tiba-tiba dari arah kanan terlihat sebuah mobil merah mengkilap melaju dengan kecepatan sedang, lalu semakin memelan hingga berdiri tepat di hadapannya. Ia melangkah mundur sedikit, memiringkan kepala dengan penasaran.
Apa ini teman Papanya?
Saat kaca mobil diturunkan, Kharisma terbelalak melihat sosok di dalamnya. Seorang laki-laki tampan yang kalau dilihat dari parasnya sepertinya bukanlah orang dari negara ini. Rambutnya pirang, rahangnya kokoh, dan matanya berwarna hijau menawan.
"Kenal dengan Pak Prabujangga?" Bahkan suaranya juga terdengar hangat dan manis.
Kharisma menggeleng, mencoba menjernihkan pikiran. "Pak siapa?"
"Pak Prabujangga." Laki-laki itu mengulangi, diiringi tawa ringan. "Katanya dia sekarang berada di kediaman Respati. Apa benar?"
Kharisma tersenyum dan mengangguk, entah mengapa merasa tidak gugup berinteraksi dengan orang asing ini. "Iya, Mas Prabu memang tinggal di sini sementara. Memangnya ada kepentingan apa, ya? Aku istrinya."
Laki-laki itu membulatkan mata mendengar pengakuannya. "Istrinya?"
Kharisma mengangguk.
Ia jadi bertanya-tanya kenapa laki-laki tampan ini terlihat terkejut. Mata hijaunya itu mengerjap.
"Ada apa, ya?" Ragu-ragu Kharisma melambaikan tangannya di wajah laki-laki itu, membuatnya tersadar dan mengukir cengiran ramah.
"Oh, tidak apa-apa, kebetulan saja kalau begitu kita bertemu," ucapnya, menatap Kharisma cukup lama sebelum mengulurkan tangan.
Kharisma menatap uluran tangan itu dengan bingung. Apakah laki-laki asing ini mengajaknya berjabatan? Tapi untuk apa?
Laki-laki itu tertawa saat ia tak segera menerima uluran tangannya. "Maaf, maaf, aku lupa bahwa yang berdiri di hadapanku ini adalah nyonya Wimana," ucapnya jenaka. "Hanya ingin memperkenalkan diri."
Kharisma menghela napas lega. Ia kira laki-laki itu memiliki maksud lain ingin mengajaknya berjabat tangan. Ternyata ingin berkenalan. Maklum saja, selama ini ia tidak pernah bergaul dengan orang lain selain Kinnar.
"Oh, tidak apa-apa kok." Kali ini Kharisma yang mengulurkan tangan ke arah laki-laki itu. "Nama aku Kharisma, kalau kamu? Kamu pasti temannya Mas Prabu, ya?"
Laki-laki itu tersenyum, lantas membalas jabatan tangan Kharisma. "Benjamin," ucapnya, melirik ke arah tangan mereka yang bertautan. "Dan saya bukan teman suamimu. Tapi teman kakaknya."
...***...
"Berhenti di sana."
Perintah Prabujangga terdengar menggelegar, memantul pada tembok-tembok ruangan kerjanya yang tebal. Kesabarannya habis, dibuktikan dengan caranya meletakkan ponsel dengan kasar ke atas meja.
Sudahlah pikirannya panas karena sang kakak yang mengancam akan membawa kabur istrinya, sekarang ia dihadapkan oleh masalah baru—sahabat istrinya.
Prabujangga menatap wanita itu—Kinnar—yang tengah berdiri di hadapannya. Bukan di jarak yang dekat, namun jarak yang cukup jauh. Ia di meja kerja, dan perempuan itu di ambang pintu.
Sekali lagi Prabujangga menilai penampilannya, dan sangat bodoh jika ia tidak tau apa maksud perempuan ini datang kemari.
"M-maaf, tadi sudah izin kepada—"
"Kepada siapa? Istri saya?" Prabujangga memotong tegas, rahangnya mengeras. "Dia tidak memiliki hak dalam pekerjaan saya. Dia tidak berhak memutuskan siapa saja yang bisa masuk ke ruang kerja saya."
Kinnar menegang, matanya terbelalak.
"Saya dengar kamu mencari perkerjaan, benar?"
Kinnar mengangguk.
"Tunjukan CV-mu kalau begitu."
Kali itu, Prabujangga bisa melihat Kinnar mengangkat kepala. Perempuan itu terlihat gugup, bisa dilihat jelas dari gestur tubuhnya yang meringkuk dan matanya yang liar mencari-cari alasan.
Kinnar mungkin berpikir bahwa ia bisa dibodohi. Dari apa yang ia dengar dari Kharisma kemarin tentang perempuan ini, tentang bagaimana selama ini dia bertahan hidup mengandalkan pria-pria kaya, ia tidak bodoh untuk tidak mengira bahwa ia adalah sasaran selanjutnya. Yang bodoh di sini jelas Kharisma, selalu beranggapan bahwa sahabat tidak mungkin melakukan hal semacam itu.
"Maaf, tadi CV saya... ketinggalan di taksi karena terburu-buru, Pak." Kinnar menjawab, kepalanya tertunduk dalam.
"Ketinggalan?" ulang Prabujangga, wajahnya dingin tanpa ekspresi. "Lalu untuk apa datang?"
Prabujangga melangkah menjauh dari mejanya, mendekati Kinnar dan berhenti tepat satu langkah di hadapan perempuan itu. Matanya dengan penuh perhitungan menilai kembali penampilan sosok yang konon katanya tertarik untuk dipekerjakan di perusahaanya yang penuh tuntutan.
"Jika memang kamu datang untuk melamar pekerjaan, maka hal terpenting yang harus kamu pastikan adalah memenuhi segala persyaratan." Ia menunjuk ke arah wajah Kinnar yang menunduk. "Jika persyaratan utama berupa CV saja tidak ada, lalu apa yang kamu lakukan di sini?"
Kinnar dibuat semakin terdiam.
"Dan saya juga sangat yakin bahwa di perusahaan manapun kamu melamar dengan pakaian tidak sopan seperti ini." Telunjuk Prabujangga turun ke arah pakaian Kinnar yang ketat dan minim. "Kamu tidak akan diterima. Pelajari etika berpakaian dengan baik."
Prabujangga bisa melihat jari-jari Kinnar yang mengepal, tapi ia tidak peduli. Jika Kharisma tidak bisa menunjukkan ketegasan, maka terpaksa ia yang harus melakukannya. Masalahnya sudah terlalu banyak, dan ia tidak akan menambahnya lagi dengan drama rumah tangga.
"Anda kira Anda bisa mengomentari pakaian saya saat saya sendiri datang kemari untuk melamar pekerjaan?" Tanpa disangka-sangka, kini Kinnar membalas. Suaranya meninggi. "Saya kemari untuk mencari pekerjaan ya, Pak. Bukan untuk memamerkan penampilan saya!"
Prabujangga memejamkan matanya saat Kinnar meninggikan suara, seakan-akan mencoba agar seluruh orang di gedung besar ini mendengarnya.
"Jadi atasan itu seharusnya profesional! Jangan malah membawa masalah personal!" Kinnar menimpali keras. "Orang mau ngelamar pekerjaan bukannya ditanyai tentang pengalaman malah memperhatikan pakaian! Jangan-jangan Anda selalu begitu, ya? Matanya jelalatan?"
Kali ini, Prabujangga sudah tidak tahan lagi. Buku-buku jarinya memutih, menahan diri untuk tidak menggampar orang asing di hadapannya ini. Selama ini ia tidak pernah berhadapan dengan orang modelan seperti ini.
"Jangan berani-beraninya kamu berteriak pada saya," ancam Prabujangga dingin. "Jangan membicarakan tentang profesionalitas pada seseorang yang sudah menghabiskan seluruh hidupnya untuk bekerja. Ingat, kamu berada jauh di bawah saya soal ini."
Ancaman Prabujangga tidak pernah main-main. "Jika saya tidak profesional, maka saya tidak akan menanyakan CV kamu terlebih dahulu dan langsung mengusirmu dari sini saat kamu masuk dengan sangat tidak sopan ke dalam ruangan saya," imbuhnya tajam. "Dan saya bukan tipe pria yang bisa mudah tergoda oleh wanita. Saya sudah menikah, dan istri saya jauh lebih menarik dari pada kamu."
Kata-kata terakhir Prabujangga berhasil membuat Kinnar menelan kalimatnya.
"Keluar, sebelum saya meminta keamanan untuk menyeretmu keluar."
...***...
Jika ditanyai apakah Prabujangga memiliki hari yang jauh lebih buruk dari hari ini, maka ia akan langsung menjawab 'tidak'. Selama hidupnya, ia selalu dilanda oleh masalah yang itu-itu saja. Tuntutan keluarga, lalu masalah pada perusahaan. Berbeda dengan hari ini.
Ia tidak mengerti mengapa Kinnar memiliki wajah yang begitu tebal. Ia sudah terang-terangan menunjukan rasa tidak sukanya sejak awal pertemuan mereka yang tidak menyenangkan.
Kemarin. Jika saja perempuan itu tidak tiba-tiba masuk, mungkin ia bisa mendapatkan jatah pagi dari istrinya. Dari sana saja ia bisa menilai bahwa Kinnar benar-benar tidak punya sopan santun.
Dengan garakan kasar Prabujangga membanting pintu mobilnya tertutup. Ia memejamkan mata, mencoba meredakan kekesalan yang berpusat di dadanya. Ada hal yang lebih penting yang harus ia atasi sekarang ini.
Prabujangga memutar stir dan mengeluarkan mobil dari parkiran, tatapannya terfokus pada jalanan meskipun pikirannya tidak.
Ia hanya berpikir tentang Kharisma sekarang. Dan tentu saja, apa yang sedang kakaknya itu rencanakan.
Lihana akan melakukan apapun untuk memenuhi keinginan tuan besar.
Prabujangga membelokkan stir pada tikungan, dadanya terasa sedikit ringan saat ia sudah semakin dekat pada kediaman Respati. Tapi saat ia melajukan mobilnya semakin dekat, matanya tak sengaja menangkap sosok yang sangat dikenalinya berdiri di sisi jalan.
Gaun merah muda selutut dengan motif bunga, rambut hitam legam tergerai sepunggung, dan yang paling khas adalah senyuman manis dan binar mata kepolosan. Istrinya. Sedang apa Kharisma berada di luar?
Perlahan-lahan Prabujangga menepikan mobilnya, menurunkan kaca mobil hingga ia bisa melihat istrinya itu dengan lebih jelas.
Jari-jari Prabujangga mencengkeram stir dengan lebih erat—sangat erat—hingga buku-buku jarinya memutih. Garis-garis wajahnya menunjukkan kemurkaan yang nyata saat melihat Kharisma tengah menjabat tangan seorang laki-laki.
Bersambung...
di kalau ga denger atau melihat dengan mata kaki kepala nya susah untuk percaya