Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 30
Celina tiba di rumah mertuanya setelah dirawat 2 malam di rumah sakit. Celina dijemput Mama Andin dan Azka juga turut mengantarnya.
"Kamu boleh pulang!" ucap Andin kepada putranya.
"Ini 'kan rumahku juga, Ma!" kata Azka.
"Setelah menikah, rumahmu bukan di sini. Sudah sana pulang!" usir Andin.
"Istriku di sini, tidak mungkin aku sendirian di rumah kami!" kata Azka beralasan.
"Ada pelayan dan penjaga rumah, kamu tidak sendirian!" ucap Andin.
"Tapi aku tidak mau jauh dari istriku, Ma!" rengek Azka.
"Celina tak mau dekat-dekat denganmu. Jangan ganggu menantu dan calon cucu Mama!" kata Andin.
"Ya ampun, Mama. Kenapa aku sekarang seperti anak yang dibuang?" protes Azka.
"Jangan banyak protes, sudah sana pergi!" Andin mendorong tubuh putranya keluar dari rumahnya.
"Ma.. izinkan aku tinggal di sini bersamanya!" mohon Azka.
"Celina itu masih kesal denganmu, jangan ganggu ketenangannya!" kata Andin menjelaskan, ia ingin putranya berjuang merebut hatinya Celina.
"Ma, aku janji tidak mengganggunya!" Azka mengangkat dan mengapit jari manis dan telunjuk tangan kanannya.
"Itu hanya kata-katamu saja. Mama sudah tak percaya lagi dengan janji-janji perubahanmu!" cetus Andin.
"Kali ini aku serius, Ma!" ucap Azka dengan yakin.
"Buktikan dengan perbuatan, jangan cuma ucapan saja!" singgung Andin.
Azka pun kembali ke rumah milik Celina, ia telah membujuk dan merayu ibunya agar mengizinkannya tinggal bersama istrinya tapi gagal.
Sementara itu, Celina sedang menikmati beberapa hidangan makanan yang tersaji dihadapannya. Hari ini Andin sengaja meminta pelayan memasak makanan yang cukup banyak.
"Tambah lagi!" kata Andin.
"Sudah kenyang, Ma!" ucap Celina memegang perutnya.
"Kamu baru makan sedikit!" kata Andin lagi.
"Sudah cukup, Ma!" tolak Celina dengan sopan.
"Makan ini sedikit!" Andin menaruh potongan semur daging sapi di piring menantunya.
Celina tak dapat menolak, ia pun menyantapnya.
-
Malam harinya, Azka yang bosan dan rindu dengan istrinya. Berangkat ke rumah orang tuanya dengan mengendarai mobil sendirian. Ia singgah ke toko kue buat membeli cemilan untuk Celina.
Saat memarkirkan kendaraannya, netra matanya menangkap sosok yang dikenalnya tampak sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya. Azka tak terlalu mempedulikannya karena berpikir mungkin saudaranya Tante Ana.
Azka masuk ke toko kue dan membeli 2 kotak kue dengan bentuk serta rasa berbeda. Setelah membayar pesanannya, ia keluar dan melihat Tante Ana di parkiran restoran yang letaknya tepat di depan toko kue.
Lagi-lagi Azka tak menggubrisnya karena memang bukan urusannya mengurusi kehidupan orang lain. Masuk ke mobil dan meninggalkan toko kue.
Begitu sampai, Azka harus melewati penjagaan yang ketat. Mama Andin berdiri di depan pintu dengan berkacak pinggang. "Mau apa lagi kamu ke sini?"
"Ya ampun, Mama, memangnya tidak boleh anaknya sendiri datang berkunjung ke rumah orang tuanya?"
"Biasanya kamu jarang ke sini kalau bukan kami yang memintamu datang!" singgung Andin sebab kesibukan Azka di perusahaan.
Azka hanya tersenyum nyengir.
"Sudah sana pulang, kami mau tidur!" Andin beralasan.
"Mama dan Papa silahkan saja tidur, aku mau ketemu dengan istriku!" kata Azka.
"Celina juga sudah tidak bisa!"
"Cepat sekali?" Azka melihat arloji di tangan kanannya baru menunjukkan pukul 8 malam.
"Besok pagi saja ke sini, nanti kamu kemalaman pulangnya!" Andin lagi-lagi memberikan alasan.
"Aku 'kan bisa numpang tidur di rumah ini!" kata Azka.
"Tak ada kamar kosong!" ucap Andin.
"Tidur di mana saja pun tak masalah!" kata Azka dengan santainya.
"Tidak bisa!" tegas Andin.
"Ma, biarkanlah dia masuk!" Angga muncul menjadi penyelamat Azka yang kesulitan menemui istrinya.
"Nanti dia membuat Celina marah dan kesal, Pa. Mama tak mau dia menjadi stres!" ucap Andin menjelaskan.
"Coba tanya Celina dulu mau atau tidak dia bertemu dengan Azka!" kata Angga.
"Dia tidak mau!" ucap Andin asal padahal belum tentu Celina menolak menemui Azka.
"Belum dicoba, sudah bilang tak mau," sahut Azka dengan wajah manyun.
"Ya sudah tunggu di sini!" Andin kemudian melangkah ke kamar menantunya.
Tak lama kemudian, Andin kembali menemui putranya dan memberikan izin Azka bertemu Celina dengan durasi waktu 1 jam saja.
"Tidak apa-apa yang penting bisa bertemu!" kata Azka tersenyum sembari melewati kedua orang tuanya.
"Semoga saja hubungan mereka semakin membaik, ya, Ma!" harap Angga menatap punggung putranya dari kejauhan.
"Iya, Pa, Mama juga berharap begitu!"
Masih cinta km sama si upik abu elma tercintamu