Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 – Jejak yang Tak Terlihat
Ketiga orang itu akhirnya duduk.
Meja kayu sederhana di sudut restoran menjadi tempat mereka. Tidak terlalu mencolok, namun cukup strategis untuk mengamati keadaan sekitar.
Shen Ning berdiri di depan mereka, membawa papan kecil dan kuas tulis.
Senyumnya masih cerah, meski tadi sempat kebingungan.
“Apa yang ingin kalian pesan?” tanyanya sopan.
Wanita berjubah itu membuka mulut—
Namun—
“Bukankah kau bilang menu populer di sini adalah ramen?”
Pria tua berjanggut putih memotong dengan nada tenang.
Shen Ning langsung mengangguk cepat.
“Iya!”
“Kalau begitu…” pria itu tersenyum tipis, “kami pesan tiga.”
“Baik!”
Tanpa ragu, Shen Ning segera mencatat pesanan itu dengan cekatan. Gerakannya cepat, seperti sudah terbiasa.
“Mohon tunggu sebentar!”
Ia membungkuk ringan, lalu berlari kecil kembali ke dapur.
Pria tua itu tertawa kecil melihatnya.
“Anak yang penuh semangat.”
Namun—
“Hmph.”
Wanita di sampingnya mendengus tidak puas.
Tatapannya dingin, mengikuti kepergian Shen Ning.
“Kenapa kakek menahanku tadi?” katanya pelan, tapi jelas. “Orang-orang rendahan seperti mereka… seharusnya diberi pelajaran.”
Suasana di meja itu langsung berubah.
Pria muda di sampingnya menegakkan punggung, jelas merasa canggung.
Sementara pria tua itu—
Menghela napas panjang.
Seolah sudah lelah.
“Kakek tahu,” katanya perlahan, “kau memiliki jiwa keadilan yang kuat.”
Ia menoleh, menatap wanita itu dengan lembut namun tegas.
“Tapi kau harus belajar mengendalikan emosimu.”
Wanita itu menyipitkan mata.
“Ingat,” lanjut pria tua itu, “kenapa kita berada di Kota Pingxi ini.”
Wanita itu mendengus lagi.
“Tetap saja mereka—”
Namun—
Seorang pelayan datang.
Salah satu mantan bandit.
Tangannya sedikit gemetar saat meletakkan cangkir teh di meja mereka.
“Si—silakan tehnya…”
Suaranya gugup.
Terutama karena—
Tatapan wanita itu menusuknya tajam.
Seperti menilai.
Seperti menghakimi.
Pria muda itu akhirnya tidak tahan.
“Nona,” katanya pelan, “saya mohon… tenangkan diri Anda.”
Wanita itu langsung menoleh.
“Oh?” suaranya dingin. “Jadi kau memihak kakek?”
Ia menyilangkan tangan.
“Apa kau tidak curiga bahwa teh kita diracuni?”
“…!”
Pria muda itu tertegun.
Matanya membesar.
Untuk sesaat, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Pria tua itu kembali menghela napas.
“Benar apa kata putra suci klan kita,” katanya santai. “Kau harus menjaga sikapmu. Jangan membuat masalah yang lebih besar.”
Wanita itu terdiam.
Tidak membalas.
Namun ekspresinya jelas tidak puas.
Sementara itu—
Pria muda itu akhirnya berbicara lagi, kali ini dengan nada lebih serius.
“Tetua… apakah tidak apa kalau kita menyusup seperti ini?”
Ia melirik sekeliling.
“Bukankah Kota Pingxi sudah berada di tangan kultus iblis itu?”
Nada suaranya merendah.
“Kita bahkan menyelinap dari pemeriksaan di gerbang masuk kota…”
Pria tua itu mengangguk pelan.
“Semua sudah aku pertimbangkan.”
Ia mengambil cangkir teh.
Namun belum meminumnya.
“Terlebih…” matanya menyipit sedikit, “…setelah merasakan fluktuasi Qi yang kuat.”
Pria muda itu tertegun.
“Fluktuasi Qi?”
Wanita itu juga menoleh.
Pria tua itu menatap mereka berdua.
“Apakah kalian mengingat… kawah kecil di tengah jalan kota saat perjalanan kita ke sini?”
Keduanya langsung terdiam.
Mereka mengingatnya.
Jelas.
Kawah itu—
Tidak besar.
Namun…
Tidak wajar.
Wanita itu mengangguk pelan.
“Aku juga merasakan… jejak Qi yang tipis,” katanya serius. “Tapi… mengerikan.”
Pria tua itu tersenyum tipis.
“Bukan hanya tipis.”
Ia menatap ke depan.
Dalam.
“Bagi ahli tua sepertiku…”
Ia mengangkat cangkirnya perlahan.
“…aku bisa merasakan gelombang kekuatannya… bahkan dari jarak ribuan mil.”
…!
Kedua orang di hadapannya membeku.
Udara di meja itu mendadak berat.
Wanita itu menelan ludah.
“Maksud kakek…” suaranya sedikit menurun, “…ada seorang ahli tersembunyi di kota ini?”
Pria tua itu mengangguk pelan.
“Kemungkinan besar begitu.”
Ia akhirnya menyesap teh itu.
Tenang.
Seolah tidak ada yang aneh.
“Aku ingin tahu…” lanjutnya, “siapa ahli hebat itu… dan apa tujuannya berada di kota ini.”
Pria muda itu menatapnya dengan serius.
“Tetua… apakah Anda bisa memperkirakan kekuatannya?”
Pria tua itu tidak langsung menjawab.
Ia meletakkan cangkirnya perlahan.
Matanya menyipit.
Seolah mengingat kembali sensasi yang ia rasakan sebelumnya.
“Dari seberapa murni dan terkendalinya Qi itu…”
Ia berhenti.
“…kemungkinan besar ahli itu berada… di bawah penasihat agung kekaisaran.”
…!!
Kedua orang itu langsung membeku.
Wajah mereka berubah drastis.
“A—apa itu mungkin!?” pria muda itu hampir berseru.
Wanita itu juga tak kalah terkejut.
“Ahli setingkat itu… di kota kecil seperti ini?”
Pria tua itu langsung mengangkat tangannya.
“Kecilkan suara kalian.”
Nada suaranya tetap tenang.
Namun tegas.
Keduanya langsung terdiam.
Menahan diri.
Wanita itu menunduk sedikit, lalu—
Senyum perlahan muncul di wajahnya.
Berbeda dari sebelumnya.
Lebih… bersemangat.
“Kalau begitu…” katanya pelan, “apa yang kita tunggu, kakek?”
Matanya berbinar.
“Kita harus menemukan ahli kuat itu… dan menjalin hubungan baik dengannya!”
Pria muda itu langsung mengangguk.
“Nona benar! Ini kesempatan bagi klan kita untuk bangkit!”
Semangatnya menyala.
“Kita bisa melambung lebih tinggi… bahkan mengembalikan kejayaan kita dengan bantuan ahli misterius itu!”
Pria tua itu tertawa kecil.
“Tenang sedikit, anak muda.”
Ia menggeleng pelan.
“Kita bahkan belum tahu… apakah ahli itu berada di jalan kebenaran… atau sebaliknya.”
Kata-katanya seperti air dingin.
Memadamkan semangat mereka sedikit.
Namun—
Ia belum selesai.
“Dan ada satu hal yang aneh…” lanjutnya.
Keduanya menoleh.
“Para warga di kota ini…”
Ia menyipitkan mata.
“…tidak mengetahui siapa yang membuat kawah itu.”
Sunyi.
Wanita itu mengernyit.
“Padahal… itu jelas terlihat.”
Pria muda itu juga terlihat bingung.
“Iya… itu tidak masuk akal…”
Ia terdiam.
Lalu—
Matanya perlahan membesar.
“Jangan-jangan…”
Kata-katanya menggantung.
Pria tua itu menatapnya.
Dalam.
Lalu—
Mengangguk.
“Teknik manipulasi ingatan.”
…!!
Seketika—
Suasana di meja itu membeku.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang bergerak.
Bahkan suara ramai restoran di sekitar mereka seolah menjauh.
Wanita itu menggenggam tangannya.
Kuat.
“Kalau itu benar…” bisiknya pelan, “…berarti ahli itu…”
Pria muda itu melanjutkan dengan suara kering.
“…bukan hanya kuat…”
Tatapan mereka bertiga saling bertemu.
“…tapi juga… sangat berbahaya.”
Pria tua itu tidak menyangkal.
Ia hanya menatap ke depan.
Dalam.
Dan tanpa mereka sadari—
Di balik dapur—
Seseorang sedang mendengarkan.
Zhao.
Ia berdiri diam.
Tangannya masih memegang mangkuk.
Namun matanya…
Sedikit menyipit.
Senyum getir muncul di sudut bibirnya.
Seharusnya ku semen aja jejak pertarungan waktu itu...
Namun dengan cepat ia kembali seperti biasa, santai, seolah tidak ada yang terjadi.
Ia lalu menoleh.
“Lu Qiang.”
Suara itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat pria besar itu langsung sigap.
“Ya, tuan!”
Lu Qiang segera mendekat. Namun begitu berdiri di depan Zhao, ekspresinya berubah sedikit kaku.
Ia menunduk.
“Maafkan atas sikap saya tadi, tuan…”
Nada suaranya penuh penyesalan.
Zhao mengangkat alis.
“Aku memanggilmu bukan untuk memarahi.”
“…?”
Lu Qiang sedikit tertegun.
Zhao menunjuk ke arah meja pojok.
“Aku hanya menyuruhmu mengantar pesanan pelanggan di sana.”
“Ah…”
Lu Qiang berkedip.
Ekspresinya berubah canggung.
“Ba—baik, tuan…”
Zhao menepuk bahunya pelan.
“Tak apa.”
Nada suaranya ringan.
“Pelanggan macam itu pasti ada satu atau dua.”
Ia melirik sekilas ke arah meja tersebut.
Tatapannya santai.
“Yang penting… kita harus sabar dan profesional karena mereka adalah pelanggan saat masuk kesini.”
Ia menatap Lu Qiang.
“Meski kita merasa kesal dengan sikapnya.”
Lu Qiang mengangguk.
Kali ini lebih mantap.
“Saya mengerti, tuan.”
Zhao tersenyum lebar.
Namun—
Detik berikutnya—
Nada suaranya berubah sedikit nakal.
“Tapi…”
Lu Qiang berkedip.
“Kalau mereka keluar…” Zhao mencondongkan tubuh sedikit, suaranya direndahkan, “…langsung gebukin saja.”
“…?”
“…?!”
Lu Qiang membeku.
Otaknya seperti tidak memproses kalimat itu dengan benar.
Ia menatap Zhao.
Lalu menatap pintu.
Lalu kembali ke Zhao.
“Karena…” lanjut Zhao santai, “mereka bukan lagi pelanggan kita.”
Sunyi.
Sangat sunyi.
Lu Qiang benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Apakah ini… perintah?
Atau… candaan?
Atau… ujian?
Sementara ia masih terdiam—
“Hahaha!”
Zhao tiba-tiba tertawa.
“Tenang saja,” katanya sambil menepuk bahu Lu Qiang lagi. “Aku hanya bercanda.”
Lu Qiang berkedip.
Satu kali.
Dua kali.
“…Ah.”
Zhao menggeleng.
“Kau terlalu kaku, Lu Qiang.”
Ia menyilangkan tangan.
“Dengan sikap seperti itu… bagaimana caramu mendapatkan istri di masa depan?”
Kalimat itu datang begitu saja.
Namun dampaknya—
Langsung terasa.
Lu Qiang tersenyum canggung.
“Ha… ha…”
Ia menggaruk belakang kepalanya.
“Sejujurnya… saya sudah memutuskan untuk tidak pernah menikah.”
Zhao mengangkat alis.
“Oh?”
Lu Qiang menatap ke arah dapur, tepatnya ke arah Yueling yang sedang sibuk memasak.
Wajahnya berubah sedikit serius.
“Setelah melihat nyonya…” katanya jujur, “saya pikir… kehidupan rumah tangga terlalu keras untuk saya.”
“….”
Zhao terdiam.
Wajahnya perlahan berubah.
Bukan marah.
Bukan juga tersinggung.
Melainkan—
Lesu.
Sangat lesu.
Ia menghela napas panjang.
“…Kau benar.”
Nada suaranya datar.
Kosong.
“Itu sangat melelahkan dan… ekstrem.”
Lu Qiang mengangguk cepat.
Seolah menemukan orang yang sepemikiran.
“Iya, tuan! Saya juga berpikir—”
“Terlalu ekstrem,” potong Zhao, menatap kosong ke depan. “Tiap hari harus menjaga perasaan… salah sedikit bisa berbahaya…”
Ia menggeleng pelan.
“Benar-benar dunia yang menakutkan.”
Lu Qiang menatapnya dengan penuh empati.
“Betul sekali, tuan—”
Namun—
“Kalian sedang membicarakan apa?”
Suara lembut itu datang tiba-tiba.
Dan seketika—
Udara berubah.
Zhao membeku.
Perlahan.
Sangat perlahan…
Ia menoleh.
Yueling berdiri di sana.
Senyumnya manis.
Matanya lembut.
Namun—
Entah kenapa—
Atmosfer di sekitarnya terasa… berbeda.
Zhao tersenyum kaku.
“A—ah… tidak ada apa-apa.”
Yueling memiringkan kepala.
“Sepertinya seru sekali.”
Nada suaranya ringan.
Namun tatapannya—
Tidak.
Zhao langsung menjawab cepat.
“Aku hanya… menasihati Lu Qiang bagaimana cara menangani pelanggan kasar.”
Ia menepuk bahu Lu Qiang.
“Iya kan?”
Lu Qiang langsung mengangguk cepat.
“Be—benar sekali! Tuan Zhao memberikan banyak nasihat berharga!”
Suaranya terlalu cepat.
Terlalu semangat.
Yueling menatap mereka berdua beberapa detik.
Lalu—
Senyumnya kembali muncul.
“Begitu ya.”
Ia mengangguk kecil.
“Baguslah.”
Suasana perlahan mencair.
Lu Qiang langsung mengambil nampan pesanan dengan gerakan sigap.
“Saya akan mengantar pesanan dulu!”
Ia hampir berlari pergi.
Seperti melarikan diri dari sesuatu yang tidak terlihat.
Yueling menatapnya.
Lalu tersenyum.
“Wah… dia semangat sekali.”
Zhao tertawa kecil.
Agak canggung.
“Ya… seperti itulah dia.”
Namun di dalam hatinya—
Nyaris saja…
Ia menghela napas pelan.
Sementara itu—
Di meja pojok—
Pria tua berjanggut putih itu perlahan mengangkat cangkir tehnya.
Namun matanya…
Tidak melihat ke dalam cangkir.
Melainkan—
Ke arah dapur.
Lebih tepatnya—
Ke arah Zhao.
Sejak tadi.
Tanpa terlihat mencolok.
Ia mengamati.
Gerak-gerik.
Nada bicara.
Reaksi.
Semuanya.
Senyum tipis muncul di wajah tuanya.
Pemilik restoran… ya?
Ia menyesap teh itu perlahan.
Hangat.
Namun pikirannya jauh lebih tajam.
Dia orang yang… unik.
Matanya menyipit sedikit.
Tidak ada fluktuasi Qi yang mencolok…
Namun… juga tidak bisa dibaca.
Ia menatap Zhao yang kini kembali bekerja seperti biasa.
Santai.
Seolah tidak peduli pada apa pun.
Namun—
Justru itu yang mencurigakan.
Menarik…
Pria tua itu tersenyum dalam hati.