Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Lampu-lampu jalanan Jakarta yang temaram membiaskan cahaya oranye pada aspal basah. Armand melangkah masuk ke dalam kantor kecil di sudut Panti Asuhan Cahaya Harapan. Aroma kertas tua dan pembersih lantai murah menyengat hidungnya. Di depannya, seorang wanita paruh baya dengan kacamata yang melorot di hidung, Bu Desi, membolak-balik arsip usang.
"Jadi, Anda mencari anak bernama Kael?" tanya Bu Desi, suaranya parau.
Armand mengangguk tegas. "Benar. Dia ditemukan di sekitar stasiun kereta api belasan tahun lalu. Saya punya alasan kuat untuk percaya dia adalah bagian dari keluarga yang hilang."
Bu Desi menghela napas, jemarinya berhenti pada satu map biru yang pinggirannya sudah robek. "Memang ada. Kael. Anak itu pendiam, matanya tajam seperti elang. Dia ditemukan meringkuk di peron tiga, hanya mengenakan kaos garis-garis yang kotor. Tapi dia tidak tinggal di sini lagi, Pak Armand. Dia sudah lama keluar, tapi sesekali dia datang membawa donasi. Dia anak yang sukses, meski jalannya gelap."
"Boleh saya minta alamatnya?" Armand merogoh saku jasnya, jemarinya bergetar halus karena antisipasi.
"Dia tinggal di Apartemen Sky View, lantai dua puluh. Tapi anak itu jarang ada di rumah pada jam-jam seperti ini." kata Bu Desi sembari menyodorkan secarik kertas.
Armand tidak membuang waktu. "Terima kasih, Bu. Ini sangat berarti."
Dia bergegas menuju mobilnya, mesin menderu saat dia membelah kemacetan malam. Sesampainya di apartemen, sunyi menyambutnya. Ketukan di pintu nomor 2004 tak terjawab. Armand merutuk dalam hati. Dia segera mengeluarkan ponsel, menekan nomor asisten kepercayaannya.
"Cari posisi Kael sekarang. Gunakan pelacak GPS dari nomor yang terakhir dia hubungi lewat jaringan bawah tanah. Aku butuh lokasinya dalam lima menit!" perintah Armand, suaranya menggelegar di lorong apartemen yang sepi.
...----------------...
Di sisi lain kota, kebisingan mesin motor yang meraung-raung memecah kesunyian malam di jalanan lingkar luar yang jarang dilalui. Bau karet terbakar dan bensin menyengat udara. Ryuga turun dari motor sport hitamnya, tangannya menggenggam erat jemari Quinn.
Quinn, dengan rambut kuncir kudanya yang bergoyang-goyang, menatap sekeliling dengan mata berbinar sekaligus ngeri. "Ryuga, ini tempat apa? Kenapa banyak orang pakai jaket kulit dan mukanya seram-seram begini?"
Ryuga menarik Quinn lebih dekat ke tubuhnya, memposisikan gadis itu di bawah ketiaknya seolah ingin menelan Quinn masuk ke dalam perlindungannya. "Arena balap liar, Sayang. Bukannya kamu juga pernah ke tempat kayak gini?"
Quinn pun berdecak. "Iya sih. Tapi tempat ini beda."
Ryuga tersenyum. "Jangan jauh-jauh dari aku kalau kamu nggak mau hilang ditelan kegelapan."
"Woi, Ga! Tumben lo bawa Quinn?" suara cempreng Zayden memecah suasana. Dia bersandar di motor sport hijaunya, menyeringai lebar.
Keano ikut menimpali sambil mengunyah permen karet. "Gila, Ryuga! Lo bawa cewek seimut Quinn ke kandang macan? Nggak takut dia sawan denger suara knalpot?"
"Berisik lo semua." sahut Ryuga dingin, matanya menyapu kerumunan.
Elric, yang sejak tadi berdiri diam dengan tangan bersedekap, mendekati Ryuga. Wajahnya serius. "Ryuga, hati-hati. Kael ada di sini. Dia dari tadi nanyain lo."
"Kael?" Quinn bergumam, telinganya menangkap nama itu. "Dia ikut balapan juga?"
"Iya." jawab Ryuga ketus.
Tak lama, sesosok pria dengan jaket kulit hitam gelap dan tatapan yang sedingin es melangkah keluar dari bayang-bayang. Kael. Dia berhenti tepat di depan Ryuga dan Quinn.
"Lama nggak ketemu, Ryuga." ucap Kael menyeringai tipis.
Quinn menatap Kael tak seperti biasanya. Kali ini dengan rasa ingin tahu yang aneh. Entah mengapa ia baru menyadari bahwa ada sesuatu pada wajah pria itu yang terasa familiar, seperti melihat bayangan di air yang keruh. "Halo, Kael." sapa Quinn ragu.
Kael melirik Quinn. "Halo, Quinn."
"Jangan sok akrab sama cewek gue." ketus Ryuga, rahangnya mengeras.
"Nggak akrab. Cuma pernah beberapa kali ketemu." jawab Kael tanpa emosi.
Quinn tidak bisa melepaskan pandangannya dari Kael. Dia ingat cerita ibunya tentang saudara kembarnya yang hilang, yang memiliki tanda lahir tahi lalat kecil di bawah telinga kirinya. Pikiran itu menghantuinya. Dia harus tahu.
"Kael, boleh gue lihat telinga lo?" tanya Quinn tiba-tiba, membuat semua orang di sana terdiam.
Zayden tertawa pendek. "Wah, modus baru nih? Mau liat telinga?"
Quinn mengabaikan mereka. Dia mendekat ke arah Kael. Ryuga mencoba menahan lengannya, tapi Quinn melepaskannya dengan lembut. "Sebentar aja, Ga."
Quinn berjinjit, jemarinya yang kecil menyentuh daun telinga kiri Kael. Jantungnya berdegup kencang seirama dengan raungan mesin di latar belakang. Dia menyibak rambut Kael yang sedikit panjang di bagian samping. Di sana, tepat di bawah telinga, terdapat sebuah tahi lalat kecil berwarna merah gelap.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Quinn. "Tanda ini..." bisiknya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Kael menepis tangan Quinn dengan kasar, tapi matanya menunjukkan kilatan kebingungan. "Apa yang lo lakuin?"
Ryuga yang melihat interaksi itu merasakan api cemburu membakar dadanya. Dia menarik Quinn kembali ke pelukannya dengan sentakan kasar. "Jangan sentuh dia. Dan Ra, berhenti bertingkah aneh!"
Kael menyeringai sinis, sebuah ekspresi yang jarang terlihat di wajah kaku itu. "Kenapa? Takut mainan lo gue ambil?"
"Dia bukan mainan! Dia milik gue!" bentak Ryuga, suaranya menggelegar melampaui suara musik techno yang berdentum dari mobil-mobil di sekitar.
"Kalau gitu, ayo buktiin di aspal." tantang Kael. "Kita balapan satu lawan satu. Kalau gue menang, lo serahin Quinn buat gue. Dia bakal ikut gue pulang malam ini."
Keano tersedak permen karetnya. "Anjir, taruhannya Quinn? Kael, lo gila?"
Zayden membelalakkan mata. "Ryuga, jangan mau! Ini jebakan!"
Ryuga menatap Kael dengan tatapan yang bisa membunuh. Matanya yang gelap semakin menghitam, penuh dengan kebencian dan posesivitas yang meluap. "Gue nggak akan pernah kasih Quinn sama siapa pun, apalagi sampah kayak lo. Tapi kalau lo mau hancur di tangan gue, gue layani."
"Ryuga, jangan!" Quinn memohon, menarik-narik jaket Ryuga. "Jangan balapan demi aku, aku bukan barang!"
Ryuga menangkup wajah Quinn dengan satu tangan, jemarinya mencengkeram pipi Quinn dengan kekuatan yang menuntut kepatuhan. "Diam di sini, Ra. Tonton gimana aku hancurin siapa pun yang berani nyentuh apa yang jadi hak milikku."
Sebelum balapan dimulai, Ryuga menarik Quinn ke balik dinding beton yang gelap di area parkir yang sepi, jauh dari kerumunan. Emosinya meluap, bukan hanya amarah, tapi nafsu yang dipicu oleh rasa takut kehilangan.
Ryuga menyudutkan Quinn ke dinding, tubuhnya yang kekar menghimpit tubuh mungil gadis itu. "Kamu milikku, Ra. Punyaku!"
"Ryuga, kamu nyakitin aku..." Quinn merintih, tapi matanya mencerminkan gairah yang sama liarnya.
Ryuga tidak membalas dengan kata-kata. Dia meraup bibir Quinn dalam ciuman yang kasar dan menuntut. Lidahnya memaksa masuk, menjilat langit-langit mulut Quinn, menghisap lidahnya dengan rakus sampai Quinn kehabisan napas. Saliva mereka menetes di dagu, berkilauan di bawah cahaya bulan yang tipis.
Ryuga mengakhiri ciuman tersebut, lalu menyatukan kening mereka dengan napas yang masih terengah. "Tunggu aku."
Quinn hanya mengangguk dengan wajah merona.
...----------------...
Balapan dimulai. Garis start dipenuhi asap putih dari ban yang berputar di tempat. Kael di motor sport birunya, Ryuga di motor sport hitamnya. Begitu bendera dijatuhkan, keduanya melesat bagai peluru.
Quinn berdiri di pinggir jalan, jantungnya serasa mau copot. Dia tidak peduli lagi dengan siapa yang menang, dia hanya ingin semua ini berakhir. Di benaknya, wajah Kael terus terbayang. Tahi lalat itu. Itu adalah tanda yang sama yang diceritakan ibunya, tentang kakaknya yang hilang.
"Ayo, Ryuga! Habisi dia!" teriak Keano dari kejauhan.
Tapi di tikungan tajam pertama, bencana terjadi. Kael mencoba menyalip Ryuga dari sisi dalam yang sangat sempit. Ryuga tidak memberi ruang sedikit pun. Motor Kael menyenggol pembatas jalan, kehilangan keseimbangan, dan terpental hebat.
Tubuh Kael melayang di udara sebelum menghantam aspal dengan keras, terseret puluhan meter hingga menabrak tumpukan drum minyak kosong. Motornya meledak, menciptakan bola api yang menerangi kegelapan malam.
"KAEL!!!" Quinn menjerit histeris. Dia berlari sekencang mungkin menuju tempat kecelakaan, mengabaikan teriakan Zayden dan Elric yang menyuruhnya berhenti.
Ryuga mengerem mendadak, ban motornya mencicit panjang di aspal. Dia turun dari motor, wajahnya pucat. Dia tidak berniat membuat Kael celaka separah itu.
Quinn sampai di samping tubuh Kael yang terkapar. Darah segar mengalir dari balik helm Kael yang pecah. Quinn jatuh berlutut, mengangkat kepala Kael ke pangkuannya. "Kael! Bangun! Jangan mati, gue mohon!"
Quinn menangis sejadi-jadinya, air matanya jatuh membasahi wajah Kael yang berlumuran darah. Dia tidak peduli bajunya kotor oleh cairan merah pekat itu. "Lo kakak gue, kan? Kael, jawab gue!"
Ryuga mendekat, tangannya gemetar. Melihat Quinn memeluk pria lain—meski dalam keadaan sekarat—memicu sisa-sisa kegelapan di hatinya. Dia menarik bahu Quinn. "Ra, lepasin dia! Ambulans udah dihubungi!"
"Jangan sentuh aku, Ryuga!" Quinn berteriak, matanya menyala penuh kemarahan yang belum pernah dilihat Ryuga sebelumnya. "Dia kakakku! Aku tahu itu! Lihat tahi lalatnya! Dia Kael yang dicari Papa selama ini!"
Ryuga tertegun. Tangannya menggantung di udara. "Apa?"
"Cepat panggil ambulans lagi! Dia banyak darah, Ga! Tolong!" Quinn meraung, tangannya mencoba menekan luka di leher Kael yang menyemburkan darah setiap kali jantung pria itu berdenyut lemah. Bau amis darah menyelimuti mereka, menyesakkan dada.
...----------------...
Suasana Rumah Sakit Medika Pusat sangat mencekam. Lampu neon di lorong UGD berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang gelisah. Quinn duduk di kursi tunggu, tubuhnya gemetar hebat. Bajunya yang tadi penuh noda darah sudah ditutupi jaket milik Ryuga.
Ryuga berdiri di depannya, bersandar pada dinding dengan kepala tertunduk. Rasa bersalah dan cemburu bertarung di dalam dirinya. Dia mendekati Quinn, mencoba duduk di sampingnya.
"Sayang..." suara Ryuga rendah, hampir seperti bisikan.
Quinn tidak menjawab. Dia hanya menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat.
Ryuga menghela napas, lalu menarik Quinn ke dalam pelukannya. Awalnya Quinn kaku, tapi perlahan dia luluh dan membenamkan wajahnya di dada Ryuga, terisak pelan. "Kalau dia nggak selamat, aku nggak akan pernah maafin diri aku sendiri, Ga."
Ryuga mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala Quinn. "Dia bakal selamat. Kael itu kuat. Dia nggak bakal mati semudah itu setelah nantang aku."
"Dia kakakku, Ryuga. Aku bisa rasain itu," bisik Quinn. "Waktu aku sentuh dia, ada sesuatu yang aneh. Kayal aku udah kenal dia lama."
"Aku tahu. Maafin aku karena udah dibutakan cemburu." kata Ryuga, suaranya tulus meski tetap terdengar berat.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terburu-buru bergema di lorong. Armand muncul, wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sangat panik dan lelah. Dia berhenti saat melihat Quinn di sana.
"Quinn? Kenapa kamu di sini?" Armand bertanya, matanya menyapu sosok putrinya dan Ryuga.
"Papa?" Quinn berdiri, suaranya pecah. "Papa... Kael di dalam."
Armand membelalak. "Kael? Gimana kamu bisa tahu tentang Kael?"
"Aku lihat tanda lahir itu, Pa. Di telinganya. Sama kayak yang Mama bilang. Dia balapan sama Ryuga dan... dan kecelakaan," Quinn menjelaskan sambil menangis lagi.
Armand menatap Ryuga dengan tatapan tajam, namun ada kilatan kesedihan yang mendalam di matanya. Dia tidak marah, dia hanya terlihat hancur. "Jadi benar... Kael yang selama ini Papa cari, yang hidup di jalanan gelap itu... adalah dia."
Seorang dokter keluar dari ruang operasi, melepaskan maskernya. Wajahnya tampak letih. "Keluarga saudara Kael?"
Armand maju paling depan. "Saya ayahnya. Gimana keadaan anak saya, Dok?"
Dokter itu menghela napas panjang. "Benturan di kepalanya sangat keras. Dia kehilangan banyak darah. Saat ini dia dalam keadaan koma. Kita sudah melakukan yang terbaik untuk menghentikan pendarahan internalnya, tapi 24 jam ke depan adalah masa kritisnya."
Quinn merosot ke lantai, tangisnya pecah lagi. Ryuga segera berlutut di sampingnya, mendekapnya erat. "Dia masih hidup, Ra. Itu yang terpenting."
Armand menatap pintu ruang ICU tempat Kael akan dipindahkan. Dia mendekati Ryuga dan Quinn. "Ryuga, terima kasih sudah menjaga Quinn. Tapi mulai sekarang, semuanya akan berubah."
Ryuga menatap Armand, lalu beralih ke Quinn yang ada di pelukannya. Dia tahu, badai baru saja dimulai. Tapi melihat betapa rapuhnya Quinn saat ini, dia bersumpah dalam hati bahwa dia tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan mereka. "Aku bakal di sini, Ra. Nggak akan ke mana-mana." bisik Ryuga di telinga Quinn.
Sementara di kejauhan, fajar mulai menyingsing, membawa cahaya pada malam yang penuh dengan darah, rahasia, dan air mata.
...----------------...
Beberapa jam kemudian, di dalam ruang ICU yang sunyi, hanya terdengar suara detak jantung dari monitor. Kael terbaring kaku dengan berbagai selang menempel di tubuhnya. Perban melilit kepalanya. Quinn duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan Kael yang dingin. "Kak Kael, bangun ya. Gue punya banyak cerita buat Kakak. Papa juga udah di sini."
Ryuga berdiri di luar kaca, mengamati dari jauh. Dia melihat bagaimana Quinn begitu menyayangi pria yang baru ditemuinya itu. Rasa posesifnya masih ada, tapi dia mulai belajar bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki, tapi juga tentang berbagi ruang bagi orang-orang yang berarti bagi pasangannya.
Zayden, Keano, dan Elric datang membawa kopi dan makanan ringan. Wajah mereka tidak lagi ceria seperti biasanya.
"Gimana kondisinya?" tanya Zayden pelan.
"Masih kritis." jawab Ryuga singkat.
"Gila ya, dunia sempit banget," gumam Keano. "Siapa yang sangka musuh bebuyutan lo di aspal ternyata calon kakak ipar lo sendiri?"
Elric hanya menepuk bahu Ryuga. "Lo harus siap, Ryuga. Kalau Kael bangun, dia pasti nggak bakal biarin lo deketin adiknya semudah itu, apalagi setelah apa yang terjadi semalam."
Ryuga menyeringai tipis, sebuah seringai yang penuh tantangan. "Gue udah pernah ngalahin dia di aspal, gue bisa ngalahin dia lagi kalau soal Quinn. Tapi kali ini, gue bakal lakuin dengan cara yang beda."
Di dalam ruangan, jari-jari Kael bergerak sedikit. Sangat halus, hampir tak terlihat. Quinn tersentak, matanya melebar. "Dokter! Tangannya gerak! Papa, Kak Kael gerak!"
Armand yang sedang berbicara dengan polisi di ujung lorong segera berlari masuk. Harapan yang selama ini padam kini menyala kembali dengan terang. Di tengah ketegangan yang masih menyelimuti, sebuah keluarga yang hancur mulai menemukan kepingan-kepingan mereka kembali, meski luka-luka yang ada mungkin butuh waktu lama untuk sembuh.
Drama di arena balap liar malam itu bukan hanya tentang kecepatan, tapi tentang takdir yang menemukan jalannya pulang lewat jalur yang paling tak terduga. Dan bagi Ryuga dan Quinn, perjalanan mereka baru saja memasuki babak baru yang lebih menantang dari sekadar balapan maut.
...****************...
sekarang aku mendukungmu.. 😁
semoga dg bertemu langsung dg quinn kakek jadi berubah haluan dari yg awalnya jodohin ryuga dg naomi jadi ke quiin
naomi pasti terbang ini