Rania adalah seorang janda muda dengan satu anak. Meski hidupnya tidak mudah, kecantikannya yang mempesona dan sifatnya yang lembut membuat banyak pria terpikat padanya.
Di tengah usahanya membesarkan anaknya sendirian, dua pria muda tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Arga, pria brondong yang ceria dan berani, selalu terang-terangan menggoda dan mendekati Rania. Sementara itu ada Damar, pria muda yang dingin, tampan, dan diam-diam selalu memperhatikan Rania dari jauh.
Dua pria.
Satu wanita.
Siapa yang akhirnya akan memenangkan hati janda cantik itu?
Di antara masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan godaan cinta dari dua pria yang lebih muda…
Akankah Rania membuka kembali pintu hatinya?
Atau justru cinta baru itu akan mengubah hidupnya selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal yang Tidak Selalu Mudah
Pagi itu datang dengan perasaan yang berbeda.
Bukan lagi kebingungan.
Bukan lagi ketakutan yang menyesakkan.
Namun sesuatu yang baru.
Sesuatu yang hangat… tapi juga sedikit canggung.
Rania berdiri di dapur sambil mengaduk teh.
Tangannya bergerak pelan, tapi pikirannya masih teringat pada kejadian kemarin.
Ia sudah memilih.
Arga.
Nama itu kini terasa lebih dekat dari sebelumnya.
Lebih nyata.
Namun di saat yang sama…
Ada bagian kecil di hatinya yang masih terasa kosong.
Damar.
Rania menunduk pelan.
“Apa dia baik-baik saja…” gumamnya lirih.
“Bunda!”
Suara Rafa langsung membuatnya tersadar.
“Iya, Nak?”
Rafa berlari masuk dengan wajah ceria seperti biasa.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
“Arga sudah datang!”
Rania sedikit terkejut.
“Sudah?”
Rafa mengangguk cepat.
“Iya! Dari tadi nunggu di luar!”
Rania langsung menoleh ke arah pintu.
Dan benar saja…
Arga berdiri di depan rumah.
Namun kali ini…
Ia tidak masuk seperti biasanya.
Ia hanya berdiri di sana.
Seolah menunggu izin.
Rania berjalan mendekat.
“Kenapa tidak masuk?”
Arga tersenyum kecil.
“Aku tidak tahu… sekarang aku harus bersikap bagaimana.”
Rania terdiam sejenak.
Lalu tersenyum.
“Masuklah.”
Arga mengangguk.
Namun langkahnya terlihat sedikit kaku.
Berbeda dari biasanya yang santai dan penuh percaya diri.
Mereka duduk di ruang tamu.
Rafa bermain di lantai seperti biasa.
Namun suasana di antara Rania dan Arga terasa… aneh.
Canggung.
Tidak seperti sebelumnya.
Arga menggaruk belakang kepalanya.
“Jadi…”
Rania menatapnya.
“Iya?”
“Kita sekarang… apa?”
Pertanyaan itu membuat Rania terdiam.
Ia tidak menyangka akan ditanya secepat ini.
Namun Arga melanjutkan dengan suara pelan.
“Aku hanya ingin tahu… posisiku sekarang.”
Rania menarik napas dalam.
Lalu menjawab dengan jujur.
“Kita… sedang mencoba.”
Arga mengulang pelan.
“Mencoba…”
Rania mengangguk.
“Aku tidak ingin terburu-buru.”
“Aku ingin menjalani ini dengan pelan.”
Arga tersenyum kecil.
“Itu terdengar seperti kamu.”
Namun tiba-tiba Rafa datang dan duduk di antara mereka.
“Bunda!”
“Iya, Nak?”
“Sekarang Arga boleh tinggal di sini terus?”
Rania langsung tersedak kecil.
“Rafa…”
Arga tertawa keras.
“Wah, itu pertanyaan berat.”
Rafa menatapnya polos.
“Kenapa?”
Arga menatap Rania.
Lalu menjawab dengan santai.
“Karena aku harus minta izin dulu sama bundamu.”
Rafa langsung menoleh ke Rania.
“Boleh?”
Rania hanya bisa tertawa kecil.
“Kamu ini…”
Namun di dalam hatinya…
Pertanyaan itu terasa jauh lebih dalam dari yang terlihat.
Siang hari, Arga membantu Rania di dapur.
Hal sederhana yang sebelumnya terasa biasa…
Kini terasa berbeda.
Lebih dekat.
Namun juga lebih membuat jantung berdebar.
“Ini aneh ya,” kata Arga tiba-tiba.
“Apa?”
“Dulu aku bebas masuk ke sini.”
“Sekarang… malah jadi deg-degan.”
Rania tersenyum kecil.
“Aku juga.”
Mereka saling menatap.
Dan tanpa sadar…
Ada jarak yang terasa lebih dekat.
Namun juga lebih berarti.
Sore hari, Rafa bermain di halaman seperti biasa.
Arga menemaninya.
Namun kali ini…
Rania hanya duduk di teras.
Memperhatikan mereka dari jauh.
Ia tersenyum melihat tawa Rafa.
Namun di balik senyum itu…
Ada perasaan lain.
Ia melirik ke arah jalan.
Kosong.
Tidak ada mobil hitam.
Tidak ada sosok Damar yang biasanya berdiri di sana.
Hatinya kembali terasa sedikit perih.
Arga menyadari itu.
Ia berjalan mendekat dan duduk di samping Rania.
“Kamu memikirkannya, ya?”
Rania tidak langsung menjawab.
Namun ia tidak menyangkal.
“Iya…”
Arga menghela napas pelan.
“Aku tidak marah.”
Rania menoleh.
“Benarkah?”
Arga tersenyum tipis.
“Dia orang baik.”
“Kalau aku di posisinya… mungkin aku juga akan seperti dia.”
Kalimat itu membuat hati Rania terasa hangat.
Namun juga semakin bersalah.
“Aku merasa jahat…”
Arga menggeleng.
“Kamu tidak jahat.”
“Kamu hanya jujur.”
Malam hari, setelah Rafa tertidur…
Rania duduk di teras.
Seperti biasanya.
Namun kali ini…
Arga duduk di sampingnya.
Tidak ada banyak kata.
Hanya keheningan yang terasa nyaman.
“Aku masih tidak percaya,” kata Arga pelan.
“Apa?”
“Kalau kamu memilih aku.”
Rania tersenyum kecil.
“Kenapa?”
Arga menatap langit.
“Karena kamu punya alasan untuk memilih dia.”
Rania menatapnya.
“Dan aku juga punya alasan untuk memilihmu.”
Arga terdiam.
Namun senyum di wajahnya perlahan muncul.
Beberapa detik kemudian…
Arga berkata lagi.
“Aku tidak akan menyia-nyiakan ini.”
Rania menunduk.
Hatinya terasa hangat.
Namun juga sedikit takut.
Karena ia tahu…
Ini bukan akhir dari segalanya.
Ini adalah awal.
Dan setiap awal…
Tidak selalu mudah.
Angin malam berhembus pelan.
Langit terlihat tenang.
Rania menatap ke depan.
Hatinya perlahan mulai menemukan ritmenya.
Ia sudah memilih.
Namun perjalanan ini masih panjang.
Masih banyak yang harus ia pelajari.
Tentang cinta.
Tentang kehilangan.
Dan tentang bagaimana menjaga apa yang sudah ia pilih.
Ia menoleh ke arah Arga.
Pria itu tersenyum padanya.
Dan untuk pertama kalinya…
Rania merasa bahwa meskipun jalannya tidak mudah…
Ia tidak akan berjalan sendirian lagi.