Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikahi Dia sebagai Permaisuri
Bab 32 : Nikahi Dia sebagai Permaisuri
Langit ibu kota diselimuti awan kelabu.
Udara terasa berat.
Seolah badai besar sedang menggantung… menunggu saat untuk jatuh.
Di dalam istana, Yan Yuxing berdiri tegak, namun tubuhnya jelas belum pulih sepenuhnya.
Balutan di bahunya masih basah oleh darah yang merembes perlahan.
Setiap tarikan napas terasa menusuk, tetapi wajahnya tetap dingin.
Tenang.
Terlalu tenang.
Ia tahu kata-kata Liang Guozheng hanyalah penghiburan.
Namun ia juga tahu, ini bukan waktunya kehilangan kendali.
Jika Su Ye Lan benar-benar berada dalam bahaya maka satu langkah gegabah saja akan menghancurkannya sepenuhnya.
Matanya perlahan menggelap.
Pembunuhan malam itu bukan kebetulan.
Bukan pula serangan biasa.
Itu adalah jebakan yang dirancang sempurna.
Targetnya jelas: dirinya.
Dan siapa pun yang berdiri di sisinya harus ikut mati.
“Siapa… yang begitu ingin aku mati?”
Gumamannya lirih.
Namun di baliknya, amarah yang membara.
Nama-nama mulai muncul di benaknya.
Satu per satu.
Namun ia tidak terburu-buru.
Ia akan memastikan lalu menghancurkan mereka tanpa sisa.
Setelah Liang Guozheng pergi para pejabat mulai berdatangan.
Satu demi satu.
Ucapan simpati.
Wajah prihatin.
Namun bagi Yan Yuxing semuanya terasa menjijikkan.
Penuh kepalsuan.
Dan di antara mereka, satu sosok membuat udara di ruangan itu langsung membeku.
Yan Yuxing bahkan tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu siapa itu.
Aroma parfum lembut, terlalu manis.
Terlalu dibuat-buat.
Zhao Ruxi.
Wanita itu melangkah masuk dengan anggun.
Jubah sutra berwarna pucat bergoyang lembut mengikuti langkahnya.
Wajahnya cantik nyaris sempurna.
Namun di mata Yan Yuxing, ia hanya melihat racun.
Secara resmi dia adalah selir kekaisaran.
Wanita yang pernah dinikahinya.
Namun, itu hanyalah kesepakatan.
Tidak lebih.
Sejak awal ia sudah berkata dengan jelas:
Ia bisa memberinya status.
Kehormatan.
Kedudukan sebagai selir, bahkan sebagai Permaisuri Xianghuang di masa depan.
Namun tidak akan pernah ada cinta.
Tidak akan ada sentuhan.
Tidak akan ada kehidupan sebagai suami istri.
Namun wanita ini tampaknya telah melupakan batasnya.
Yan Yuxing mengangkat mata perlahan.Tatapannya dingin.
Tajam.
Menusuk.
Ia masih mengingat bagaimana wanita ini pernah menjebak Su Ye Lan untuk mengenakan pakaian milik Shen
Lanrou.
Hanya untuk memancing emosinya.
Dan ketika itu gagal, ia melangkah lebih jauh.
Lebih berbahaya.
“Wabah bintang terkutuk…”
Gumamannya hampir tak terdengar.
Namun cukup membuat udara di sekitar Zhao Ruxi menegang.
Meskipun belum ada bukti, nalurinya tidak pernah salah.
Wanita ini terlibat.
Dan perannya tidak kecil.
“Aku sedang tidak ingin berbicara.”
Satu kalimat.
Dingin.
Tanpa emosi.
Namun cukup untuk mengusirnya.
Tanpa memberi ruang untuk bertahan.
Senyum Zhao Ruxi membeku.
Namun ia tetap membungkuk anggun.
“Kalau begitu, hamba mohon diri.”
Begitu ia pergi ruangan terasa lebih ringan.
Namun hati Yan Yuxing semakin gelap.
................
Di sisi lain istana
Di dalam kamar yang hangat,
Yan Longquan duduk di tepi ranjang.
Wajah kecilnya pucat.
Matanya sembab.“Ayah…”
suaranya pelan.
Rapuh.
“Su Jiejie… benar-benar aman, kan?”
Yan Yuxing menatap putranya.
Dan untuk pertama kalinya, hari itu ekspresinya melembut.
“Tentu saja,” jawabnya.
“Kapan dia kembali?”
“Segera.”
Anak itu menggenggam selimutnya erat.
Lalu dengan polos, ia berkata:
“Ayah… kalau Su Jiejie kembali…”
ia menatap ayahnya dengan mata penuh harap,
“bolehkah Ayah menikahinya… agar dia jadi ibuku?”
Waktu seakan berhenti.
Yan Yuxing terdiam.
Namun bukan karena terkejut melainkan karena sesuatu di dalam hatinya tersentuh.
Ia mengulurkan tangan.
Mengusap kepala anak itu dengan lembut.
Senyum tipis yang jarang terlihat terukir di bibirnya.
“Anakku…”
suaranya rendah, hangat,
“kau ingin dia jadi ibumu?”
Yan Longquan mengangguk mantap.
“Dia baik… dia selalu menemaniku… dia tidak pernah marah…”
Yan Yuxing memejamkan mata sejenak.
Lalu membuka kembali dengan keputusan yang telah bulat.
“Baik.”Satu kata.
Namun seberat janji hidup.
“Begitu dia kembali…”
ia menatap anaknya dalam-dalam,
“…aku akan menikahinya.”
Bukan hanya sebagai selir.
Bukan hanya sebagai permaisuri.
Namun sebagai satu-satunya wanita di sisinya.
Anak itu tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya, tidur dengan tenang.
----------------
Di sisi lain, malam itu tidak ada yang tidur nyenyak.
Tiga ratus mil dari ibu kota.
Kereta berguncang pelan di jalan berbatu.
Suara roda berderit.
Angin dingin menyelinap masuk dari celah tirai.
Di dalam ruang sempit itu, Su Ye Lan duduk kaku.
Tubuhnya tegang.
Seolah setiap inci udara di sana menekan dirinya.
Di hadapannya, Yan Tianming duduk santai.
Terlalu santai.
Seolah perjalanan ini hanyalah hiburan.
Kereta itu kecil.
Terlalu kecil.
Lutut mereka hampir bersentuhan.
Lengan mereka beberapa kali saling bersinggungan, setiap kali itu terjadi tubuh Su Ye Lan langsung menegang.
Ia ingin menjauh.
Namun tidak ada ruang.
“Su Guniang…” suara Yan Tianming tiba-tiba terdengar.
Lembut.
Namun mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Apakah aku… melakukan sesuatu yang membuatmu tidak bisa memaafkanku?”
Su Ye Lan membuka mata perlahan.
Tatapannya tenang.
Namun dingin.
“Mengapa Tuan berkata begitu?”
Yan Tianming tersenyum tipis.
“Selama kau di tempatku… aku memperlakukanmu dengan baik.”
Ia sedikit condong ke depan.
Tatapannya menajam.
“Namun kau selalu menjaga jarak. Tidak pernah benar-benar berbicara.”
Hening.
Su Ye Lan tersenyum sopan.
Namun jaraknya terasa seperti jurang.
“Aku hanya gadis biasa,” jawabnya pelan,
“tidak terbiasa berbicara dengan orang seperti Tuan.”
Kereta tiba-tiba terguncang.
Dalam sepersekian detik, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Dan jatuh.
Langsung ke dalam pelukan Yan Tianming.
Tubuh pria itu hangat.
Terlalu hangat.
Tangannya langsung melingkari pinggangnya tanpa ragu.
Tanpa canggung.
“Aku sebenarnya tidak ingin percaya…” bisiknya pelan,
“tapi sekarang…” ia menunduk sedikit, suaranya semakin rendah,
“…kau membuktikannya sendiri.”
Darah Su Ye Lan langsung naik ke kepala.
Ia segera mendorongnya.
Menjauh.
“Jangan salah paham!”
Nada suaranya tajam.
Matanya berkilat marah.
“Itu hanya karena kereta!”
Yan Tianming tidak marah.
Tidak tersinggung.
Ia hanya tersenyum.
“Maksudmu… aku salah?”
“Tentu saja!”
“Jadi…”
ia menatapnya lurus,“kau tidak membenciku?”
Su Ye Lan terdiam.
Sejenak.
Namun hanya sejenak.
“Mengapa aku harus membencimu?”
Yan Tianming tertawa pelan.
Namun matanya gelap.
“Kalau begitu…”
ia bersandar santai,
“…mengapa kau begitu ingin menjauh dariku?”
Hening.
Di dalam kereta sempit itu, udara tiba-tiba terasa berat.
Menekan.
Mencekik.
Dan di antara mereka bukan hanya jarak fisik yang dekat tetapi juga permainan yang semakin berbahaya.