Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tantangan demi dia
Sebagai putra satu-satunya, Ibas memang anak kesayangan Saraswati. Tapi, bukan berarti jika Saraswati harus terus memanjakan putranya itu.
Ibas sudah dewasa. Sudah seharusnya, Ibas mulai bersikap sesuai dengan usianya. Apalagi, dia pewaris satu-satunya. Cepat atau lambat, semua usaha yang sang suami bangun pasti akan jatuh ke tangan Ibas juga.
Ibas harus belajar menerima. Ibas harus belajar menghormati keputusan orang lain. Ibas juga harus belajar memperjuangkan apa yang dia inginkan. Termasuk, Aliya.
"Ini..." Saraswati menyerahkan sebuah kartu kepada Ibas. "... Sebelum pergi, Aliya menitipkan ini pada Bunda. Katanya, dia nggak perlu uang sebanyak itu. Dia cuma mengambil dua ratus juta saja. Dia bilang, dua ratus juta itu anggap saja nafkah dia selama ini dan juga nafkah mut'ah untuknya."
Dengan tangan sedikit gemetar, Ibas menerima kartu itu. Bibirnya tersenyum miris. Dia pikir, Aliya sudah membawa semua uang itu. Tapi, ternyata dia salah. Aliya mengembalikannya. Dia tak mengambil uang satu miliar itu sama sekali.
"Kenapa dia ngambilnya sedikit sekali?" lirih Ibas. "Dua ratus juta terlalu kecil, Bun. Gimana kalau Aliya kekurangan uang di luar sana?"
"Ya... mau bagaimana lagi?" timpal Saraswati. "Itu keputusan Aliya. Dia bilang, dia nggak akan menerima uang satu miliar itu. Dulu, dia membantu kamu karena kamu juga pernah membantu dia. Jadi, dia menganggap semuanya hanya bentuk balas budi."
Ibas tersenyum kecut. Selama dinas diluar kota, ingatannya akhirnya pulih seratus persen. Hal yang dulu sempat dia lupakan, kini sudah dia ingat kembali.
Terutama, tentang Naqiya. Gadis polos dengan rambut yang selalu dikuncir kuda serta tatapan mata sejernih air di danau.
Ibas ingat, gadis itu adalah cinta pertamanya. Sosok yang pertama kali mengajarkan Ibas tentang kepedulian terhadap sesama manusia.
"Bas..." Tepukan di pundaknya membuat Ibas tersentak dari lamunan. "... terima saja semuanya. Kamu harus belajar mengikhlaskan Aliya."
Reflek, Ibas menggeleng. Mungkin, dia sudah melewatkan Aliya. Namun, bukan berarti Ibas tak bisa berbalik dan kembali mengejar Aliya.
"Bun, kasih tahu aku! Dimana Aliya sekarang?"
"Bunda nggak akan kasih tahu," jawab Saraswati dingin.
"Bun..." Ibas merengek putus asa.
"Aliya sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Tolong, jangan ganggu lagi!"
Saraswati berbalik. Memutuskan untuk pergi agar terhindar dari cecaran pertanyaan Ibas.
"Apa Bunda rela kalau Aliya jadi menantu orang lain?" tanya Ibas yang seketika menghentikan langkah Saraswati.
Perempuan paruh baya itu mendongak ke atas sambil menghela napas. Dia kembali berbalik menghadap Ibas dengan mata berkaca-kaca.
"Rela," jawabnya dengan suara parau. "Selama Aliya disayang dan dihargai, Bunda rela melihatnya dengan suami dan mertua barunya."
"Bun, kok Bunda bisa bilang gitu, sih?" protes Ibas.
"Mau gimana lagi, Bas? Kalau anak orang lain bisa memperlakukan Aliya dengan baik, kenapa enggak?" sahut sang Ibu. "Percuma dia dapat mertua seperti Bunda kalau suaminya sebrengsek kamu."
Jleb!
Kata-kata sang Ibu semakin menyakitkan saja. Ibas benar-benar tak menyangka jika sang Ibu akan berbicara terus terang begitu terhadapnya.
"Bun!" Ibas tiba-tiba berlutut. "Tolong beritahu keberadaan Aliya! Please!"
"Kamu benar-benar mau tahu dimana Aliya?"
Dengan cepat, Ibas mengangguk.
"Kalau begitu, tunjukkan dulu pada Bunda kalau kamu memang pantas untuk Aliya. Bunda beri kamu waktu dua bulan. Kalau dalam dua bulan kamu bisa naik jabatan di perusahaan, Bunda akan kasih tahu posisi Aliya sama kamu. Gimana?"
Ibas mengepalkan kedua tangannya. Tantangan ini terlalu berat. Waktu dua bulan terlalu cepat jika harus menaikkan jabatan. Namun, waktu dua bulan juga terlalu lama jika harus mendapatkan informasi terkait keberadaan Aliya.
Bagaimana jika sudah ada pria disamping Aliya setelah dua bulan nanti? Sanggupkah Ibas bersaing?
"Bas... apa kamu mau terima tantangan Bunda?" tanya Saraswati sekali lagi.
"Aku terima," angguk Ibas dengan keyakinan penuh.
coba Lo nyesel setengah Modarrrr kan Lo
bas ya begitulah hukuman buat laki laki yang suka menyepelekan cinta wanita ,,,,,padahal Aliya kurang apa berpendidikan juga cantik,,,, berdoalah semoga Alisa mau membukan hati nya buat mu❤️,,,
. walau pernah kecelakaan namun hati kalau sudah terpaut sukar berpaling,namun Ibas tidak.Berarti mereka tidak berjodoh.
sedikit melawan lah ini belum malah sudah memaki,,,sedang menantu nya baik dan sayang sama kedua orang tua suaminya,