NovelToon NovelToon
Gadis Hina

Gadis Hina

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:629
Nilai: 5
Nama Author: KheyraPutri

Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertengkar

" Kak bentar dulu, pelan-pelan jalannya" Ucap Reina yang terseok-seok mengikuti langkah Bramasta yang panjang karena perbedaan kaki dan di seret.

Bramasta menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Reina." Oh maaf ya Re...habis aku udah laper banget." Ucap Bramasta merasa bersalah.

Bramasta pun beralih ke tangannya yang menggandeng tangan Reina. " Ah ini...tadi aku juga reflek." Ucap Bramasta langsung salah tingkah.

" Iya nggak papa kak...Tapi makannya di cafe depan aja ya kak." Ucap Reina saat mereka  berjalan bersebelahan.

" Mmm...ya udah nggak papa,tadi sih niatnya mau ngajak jalan-jalan ke mall." lirih Bramasta tapi masih bisa di dengar Reina.

" Maaf ya kak,lain kali aku temani deh... sekarang aku ada urusan soalnya." Ucap Reina tidak enak.

" Oh nggak papa kok." Ucap Bramasta lembut.

Mereka pun sampai di cafe depan rumah sakit dan duduk di meja yang sama. Saat pelayan datang dan menyodorkan buku menu Reina bingung mau makan apa.

" Saya pesan nasi goreng spesial aja mbk sama coffe latte" Ucap Bramasta lalu beralih menatap Reina. " Kamu pesen apa Re ?" Tanya Bramasta karena Reina yang tak kunjung memesan.

" Mmmm samain aja kak minumnya jus alpukat." Jawab Reina yang tak mau pusing.

" Itu aja ?" Tanya pelayan lagi.

" Iya udah itu aja kak." Jawab Reina, Bramasta hanya mengangguk.

" Baik di tunggu pesanannya ya." Ucap pelayan itu dan berlalu pergi.

Bramasta melihat ke arah Reina yang hanya diam setelah kepergian pelayan tadi. Mereka sama-sama bingung harus mengobrol apa. Cukup lama mereka diam akhirnya Bramasta pun memulai terlebih dahulu.

" Mama katanya kangen sama kamu, kalau ada waktu kamu di suruh main ke rumah." Ucap Bramasta berbohong agar Reina ke rumahnya.

" Iya kak nanti kalau udah selesai ulangan aku main tapi nggak janji ya." Ucap Reina yang menatap Bramasta dengan malu-malu.

" Oh,ok nanti aku bilang ke mama." Ucap Bramasta.

Tidak lama pesanan mereka datang dan menatanya di meja.

" Makasih kak." Ucap Reina ramah.

" Iya saya permisi selamat menikmati." Ucap pelayan itu berlalu pergi.

Reina dan Bramasta pun langsung memakan makanan mereka masing-masing tanpa ada lagi obrolan. Selesai makan Reina langsung pamit ke Bramasta.

" Kak aku pergi duluan ya." Pamit Reina sebelum berdiri.

" Oh iya,kita bareng aja aku juga mau ke parkiran." Ajak Bramasta yang berdiri terlebih dahulu dan membayar makanannya.

" Biar aku bayar sendiri aja kak." sergah Reina saat Bramasta ingin membayar semuanya.

" Udah sekalian aja." Ucap Bramasta ke pegawai kasir. Pegawai itu pun langsung menjadikan satu tagihannya.

" Makasih kak,aku berhutang banyak ke kakak." Ucap Reina melihat Bramasta dengan mata berkaca-kaca.

" Udah nggak usah di pikirin,nanti kalau kamu udah sukses kamu bisa balikin kalau kamu menganggap itu hutang...jadi belajar yang rajin ya." Ucap Bramasta lembut sambil mengusap kepala Reina.

Mendapatkan perlakuan manis seperti itu Reina merasa begitu bahagia masih ada orang yang mau membantunya dengan tulus.

" Iy-iya kak." Ucap Reina gugup dan langsung menundukkan kepalanya.

Mereka berjalan berdampingan sampai parkiran. Saat sampai di parkiran motor Bramasta melihat Reina terlebih dahulu menghampiri motornya.

" Kok kakak nggak ke parkiran mobil ?" Tanya Reina.

" Aku nungguin kamu keluar duluan." Jawab Bramasta.

" Ya ampun kak,aku udah gede." Ucap Reina tersenyum.

" Bukannya kamu masih kecil kan kamu masih sekolah." Ucap Bramasta tertawa.

" Ya maksutnya bukan itu kak." Reina langsung cemberut mengerucutkan bibirnya.

" Ok ok udah cepetan jalan tadi katanya ada keperluan." Bramasta mengingatkan.

" Ya udah makasih kak,kakak hati-hati ya" Ucap Reina sebelum menjalankan motornya.

" Iya sama-sama kamu juga hati-hati." Ucap Bramasta sambil tersenyum.

Reina tidak menjawab dia hanya hormat lalu menjalankan motornya meninggalkan Bramasta yang tersenyum melihat tingkah Reina.

Ia pun berbalik dan menuju ke mobilnya yang tidak jauh dari tempat parkiran motor. Bramasta juga meninggalkan parkiran rumah sakit dan menuju untuk pulang.

-------

Sesampainya di rumah Bramasta masuk ke dalam rumah namun saat ia ingin membuka pintu rumah ia mendengar lagi-lagi pertengkaran kedua orang tuanya.

Bramasta mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah dan memilih berbalik ke mobil namun ia urungkan karena mendengar teriakkan bi Inah.

" Tolong...jangan tuan cukup tolong jangan sakiti nyonya tuan...kasian nyonya sudah sangat menderita !!" Teriak bi Inah sambil menangis.

Bramasta langsung masuk ke dalam rumah dan melihat ibunya yang sudah duduk di lantai dengan sudut bibir yang berdarah.

Ia pun menghampiri ibunya dan menolong ibunya. Namun saat sudah berdiri Bramasta melihat ayahnya tidak sendiri melainkan bersama wanita yang lebih muda dari Bramasta.

" Kenapa kamu melihat papa dengan begitu,apa kamu juga ingin protes kalau papa nikah lagi?" Tanya papa Bramasta.

Wanita yang bersama papanya Bramasta tidak malu bergelayut di lengannya.

" Mau papa nikah lagi atau tidak pulang sekalian Bram tidak peduli." Ucap Bramasta penuh penekanan.

" Bagus, kalau begitu." Ucap papa Bramasta berlalu pergi ke kamarnya dengan wanita itu.

Bramasta menuntun mamanya keluar dari rumah dan memasuki mobil. Bramasta membalikkan badan saat melihat bi Inah yang mengikutinya di belakang dengan menangis.

" Bibi tenang,biar mama aku bawa ke apartemen aja. Bibi di sini dulu ya jaga rumah." Ucap Bramasta menenangkan bi Inah agar berhenti menangis.

" Iya mas, hati-hati di jalan." Ucap bi Inah menunduk.

Tersenyum lalu membalikkan badannya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pelataran rumahnya yang sekarang tidak lagi seperti rumahnya.

Sambil menyetir Bramasta memegang stir dengan kuat untuk menyalurkan emosinya. Ia begitu emosi dengan tindakan papanya yang membawa Pela*ur secara terang-terangan dan ingin menceraikan ibunya.

Sungguh Bramasta sangat muak dengan semua ini. Namun ia tidak boleh memperlihatkan kelemahannya di depan ibunya karena ibunya jauh lebih sakit dari ini. Bramasta bingung harus bagaimana untuk menghentikan tangisan ibunya yang sangat menyayat hatinya.

Sampai di apartment Bramasta kembali menuntun ibunya masuk ke dalam apartemen miliknya. Rita hanya mengikuti anaknya karena dia sedang tidak ingin berbicara.

Setelah sampai di dalam apartemen Bramasta mendudukkan ibunya di sofa dan ia pergi ke dapur untuk mengambil kotak obat dan air minum.

" Harusnya mama terima aja kalau papa ngajak cerai." Ucap Bramasta lembut sambil memberikan air minum ke Rita.

Rita masih bungkam ia masih meneteskan air matanya tanpa bersuara dengan tatapan kosong.

" Maaaa ada Bram yang masih sayang sama mama. Mama jangan sedih dong." Ucap Bramasta sambil memeluk ibunya agar ibunya tidak merasa sendiri.

Perlahan Rita membalas pelukan itu dan mengusap punggung Bramasta saat mendengar isakan lirih.

" Maafin mama ya sayang." Ucap Rita mengusap punggung Bramasta lembut.

--->>>

1
hanawati sumaharjana
bafhs utk mengusi wkt
hanawati sumaharjana
menarik utk trs diikuti smp tamat nih
Dewi KheyraPutri: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!