Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 Pertandingan seni bela diri?!
Dragon and Phoenix adalah pertandingan seni beladiri musiman yang selalu di adakan lima tahun sekali, adapun lokasinya selalu bergiliran di antara 5 wilayah besar. Seperti Wudang, Shicuan, Luoyang, Hangzhou dan Chang'an.
Namun, tempat yang seharusnya menjadi lokasi Dragon and Phoenix tahun ini harus di ubah, dikarenakan sebuah insiden.
Pemimpin aliansi murim lalu memindahkan event tersebut ke Hangzhou, dimana itu adalah markas utama aliansi murim.
Wei Ying yang pada dasarnya berasal dari dunia lain, dimana tempat itu di isi oleh para monster kapitalis mampu melihat sebuah potensi yang menghasilkan uang. Sebuah acara yang menyedot perhatian seperti pertandingan bela diri Dragon and Phoenix, yang jelas akan di hadiri oleh para petinggi sekte dan keluarga besar.
"Oh! Bukankah ini adalah saatnya jiwa pecinta uangku untuk menunjukkan diri!" bisiknya dengan senyum tipis yang penuh dengan ambisi.
Segera setelah acara belanja bersama Lu Shu dan dua adiknya, Wei Ying kembali ke penginapan. Lu Shu dan Lu Bao memilih untuk bermain di sekitar sembari mengenal lingkungan dimana dirinya akan tinggal nanti, begitu pun dengan Lu Xue.
Sedangkan itu di kamar, Wei Ying sibuk dengan rencananya.
"Oke, space hole ku sang penyelamat! Beri aku kacang!"seru Wei Ying.
Wei Ying menarik nafas panjang lalu membalik tas kecil miliknya, sembari menutup mata ratusan bahkan ribuan kacang meluncur seperti air terjun dari tas kecil itu.
"Haha, ide jenius ku tak perlu di ragukan! Untung saja aku bisa membuat space hole itu bergabung dengan tas kecil ini, ini lebih efisien dan tak perlu takut terlihat aneh!"
Setelah itu Wei Ying memasukan semua kacang itu ke dalam keranjang yang terbuat dari anyaman bambu.
"Aku lupa! Jagung juga!" seru Wei Ying lagi.
Kini ia punya dia keranjang penuh yang berisi kacang dan jagung. Bahkan Wei Ying juga menyiapkan wadah bungkus untuk kacang-kacangan itu nanti yang di buat dari kertas.
Tapi saat semua sudah siap, ia termenung. "Tapi, apa aku boleh membuka lapak? Apa harus meminta izin dulu?"
.
.
Keesokan harinya Wei Ying mendatangi Serikat Dagang Gu, ia menyapa Nyonya Wei sembari membawa kacang dan jagung sebagai buah tangan.
"Nona Wei?!" Sapa Nyonya Gu dengan ramah.
"Halo, Nyonya Gu..." sapa Wei Ying.
"Oh, apa ini? Jagung dan kacang!" seru Nyonya Wei. "Ayo, kemari masuk.."
Wei Ying berjalan beriringan bersama Nyonya Gu, setelah nyonya Gu memanggil seorang pelayan wanita ia menyerahkan Kacang dan jagung yang di bawa Wei Ying padanya.
Menikmati teh dan kudapan tanpa anak-anak di sekitarnya, membuat Wei Ying sedikit asing dengan suasana itu.
"Dimana anak-anak?" tanya Nyonya Gu.
"Kemarin mereka bertemu dengan teman baru, tadi Lu Shu meminta izin untuk bermain bersama."
Obrolan terus mengalir, hingga akhirnya Wei Ying mengatakan niat dari kedatangannya.
"Nyonya Gu, saya berniat untuk membuka kedai kecil. Apakah anda punya saran untuk hal itu?" tanya Wei Ying.
Nyonya Gu mengangkat satu alisnya, "Kedai?"
"Ya, hanya sementara.. sebelum rumah selesai di bangun saya berniat untuk mencoba dulu."
Nyonya Gu menganggukkan kepalanya, lalu menjentikkan jari telunjuknya. "Serikat Dagang Gu juga menyewakan kios kecil, jika Nona Wei mau, saya bisa menyewakannya dengan harga di bawah pasar? Bagaimana?"
Wei Ying tertawa kecil, "Pemilik Serikat dagang memang tidak mengecewakan.." bisiknya dalam hati.
"Tentu saja nyonya.."
Nyonya Gu kemudian membawa Wei Ying untuk melihat-lihat tempatnya, dalam perjalanan Wei Ying pun memberikan beberapa hal yang di inginkan. Seperti harus di tempat yang ramai atau tempat yang bisa menarik perhatian. Setelah berjam-jam berkeliling mencari dan melihat, Nyonya Gu pun membawanya ke tempat terakhir.
Berdasarkan apa yang di sebutkan oleh Wei Ying itu, Nyonya Gu membawanya ke sebuah tempat yang cukup strategis.
"Bagaimana, Nona Wei?" tanya Nyonya Gu.
Wei Ying melihat sekitar kedai kecil itu, jalanan bagus dan ramai lalu lalang karena ada di dekat pasar dan alun-alun. Tempatnya pun bersih, tinggal merapikannya sedikit itu akan sangat bagus.
"Saya suka, nyonya Gu.."
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭