Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Mengapa rasanya berbeda?
Menatap sosok yang dulu pernah menjadi segalanya, kini justru terasa begitu asing. Kedekatan yang dulu hangat berubah menjadi jarak yang menyesakkan, seolah ada dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka.
Naya mencengkeram kusen jendela semakin erat. Ujung jarinya memucat, namun ia tidak peduli. Rasa sakit fisik itu kalah jauh dibandingkan sesak yang memenuhi dadanya.
“Kenapa papa melakukan semua ini?” suara Naya terdengar serak. “Papa bisa mengambil semuanya… tapi kenapa harus menyakitiku dan mama?”
Tuan Tuqman justru tertawa.
Tawa itu keras, menggema memenuhi ruangan, namun tidak membawa sedikit pun kehangatan. Ia kemudian duduk santai di pinggir ranjang, satu kaki disilangkan, menatap Naya seolah gadis itu adalah objek paling lucu.
Tawa Tuan Tuqman perlahan mereda, namun senyum dingin masih bertahan di wajahnya. Ia menatap Naya beberapa detik lebih lama, sebelum akhirnya menghela napas pendek.
“Baiklah,” ucapnya datar, ia memberi isyarat kecil dengan tangannya pada orang-orang yang datang bersamanya.
“Bawa dia.”
Dua pria di belakangnya segera bergerak maju.
Mata Naya membelalak. “Jangan…jangan sentuh aku!”
Ia ingin mundur semakin jauh namun ruang geraknya sudah habis. Saat salah satu pria mencoba meraih lengannya, Naya dengan refleks menepis tangan itu.
“Lepasin aku!” teriaknya, suaranya bergetar karena marah dan takut. Ia mendorong pria di depannya sekuat tenaga, bahkan mencoba menyelinap ke samping untuk kabur. Namun pria lain dengan cepat menangkap pergelangan tangannya.
“Lepas! Aku bilang lepas!”
Naya meronta, menendang, bahkan mencoba menggigit tangan yang mencengkeramnya. Nafasnya memburu, rambutnya mulai berantakan, dan air matanya tanpa sadar mulai jatuh.
Namun jumlah mereka terlalu banyak.
Salah satu pria berhasil memelintir tangannya ke belakang, membuat Naya meringis kesakitan.
“Papa, tolong… jangan begini…” suaranya melemah, menatap sang ayah putus asa.
Namun Tuan Tuqman hanya berdiri dari tempat duduknya, merapikan jasnya dengan tenang. Tidak ada sedikitpun rasa iba di wajahnya.
“Kalau kamu menurut dari awal, semua ini tidak perlu terjadi, Naya.”
Naya menggeleng kuat, tubuhnya masih berusaha melawan meski tenaganya mulai habis.
“Aku selalu menurut pada papa.” Katanya lagi.
“Membawa Lucio ke dalam hidup kita adalah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan.” Tuan Tuqman memberi isyarat lagi supaya anak buahnya membawa Naya padanya. Dua orang yang memegangi Naya dengan sedikit kasar mendorongnya.
“Papa pembunuh!” Naya mengepalkan tangannya, mendongakkan kepala dan menatap Tuan Tuqman penuh kebencian. “Papa membunuh mama. Apa salah mama sama papa? Kenapa tega melakukannya? Apa demi warisan?”
PLAK!
Kepala Naya tertoleh ke samping saat tamparan keras mendarat di pipi kanannya.
“Jaga bicaramu.” Peringat Tuan Tuqman, mencengkram kuat tangan Naya kemudian melemparkannya pada salah satu anak buahnya. “Bawa dia.”
“Ya, Tuan.”
“PAPA! PAPA NGGAK BISA MEL—”
Namun suaranya tenggelam saat anak buah itu menyeretnya keluar dari kamar dengan paksa.
Harapannya seakan ikut terseret bersama langkah-langkah kasar yang menyeretnya keluar dari kamar.
Mereka membawa Naya menuruni tangga menuju lantai dasar. Sepanjang perjalanan, matanya bergerak liar, mencari sesuatu atau siapa pun yang bisa menolongnya.
Namun tidak ada siapa-siapa.
Tidak ada pelayan.
Tidak ada penjaga.
Ke mana mereka semua?
Mustahil rumah sebesar milik Lucio dibiarkan tanpa penjagaan. Semua ini terlalu aneh, seolah sudah direncanakan sebelumnya.
Dari belakang, Tuan Tuqman berjalan santai mengikuti mereka. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
Senyum puas.
Mereka menyeret Naya hingga ke halaman depan. Udara malam yang dingin langsung menyergap kulitnya, namun tidak mampu meredakan rasa panik yang membakar di dalam dada.
Sebuah mobil hitam sudah terparkir dengan mesin menyala, mobil yang disiapkan untuk membawanya pergi.
“Masukkan dia.”
Perintah Tuan Tuqman dari belakang.
“Tidak! Lepaskan aku!” Naya kembali meronta saat tubuhnya didorong mendekati pintu mobil. Ia berusaha menahan dengan mencengkeram sisi pintu sekuat tenaga.
“Lepas! Aku bilang lepas!”
Namun salah satu pria itu dengan kasar menarik tangannya.
“Ah!”
Kulit telapak tangannya tersayat bagian tajam dari pintu mobil. Rasa perih langsung menjalar, darah segar mengalir dari lukanya.
Naya meringis, namun tetap berusaha melawan. Ia menendang, meronta, bahkan mencoba menjatuhkan dirinya agar tidak dimasukkan ke dalam mobil.
“Cepat!” bentak salah satu dari mereka.
Dua pria itu akhirnya mengangkat tubuh Naya dengan paksa.
“PAPA! JANGAN—!”
Belum sempat ia menyelesaikan teriakannya—
Wiuuu… wiuuu…
Suara sirine memecah keheningan malam.
Semua orang seketika terdiam.
Lampu merah dan biru berkilatan mendekati gerbang, diikuti beberapa mobil polisi yang berhenti mendadak di depan rumah.
“POLISI! SEMUA BERHENTI!”
Suara tegas itu menggema.
Cengkeraman pada tubuh Naya langsung mengendur. Ia terengah, tubuhnya gemetar, matanya membelalak menatap ke arah gerbang yang kini dipenuhi aparat berseragam.
Tuan Tuqman yang semula berdiri tenang kini membeku di tempatnya. Ekspresi wajahnya berubah.
Terkejut.
Matanya menyipit tajam, rahangnya mengeras saat menatap ke arah polisi yang datang tanpa ia duga.
“Siapa yang berani…” gumamnya pelan.
Sementara itu, Naya terjatuh lemas di dekat pintu mobil. Tangannya yang terluka masih berdarah, napasnya tersengal.
Setidaknya masih ada harapan.
Akhirnya ada yang datang.
...***...