NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuan Muda

Menjadi Istri Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romantis / Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.

Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.

*

Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Tidak lama kemudian, mobil Lucio memasuki gerbang. Ia turun dari mobil, matanya menatap tajam sejenak ke arah Tuan Tuqman sebelum ia langsung berlari menghampiri Naya dan memeluknya erat.

“Maaf, aku butuh waktu agak lama,” bisik Lucio sambil mendekap istrinya. Sebelah tangannya mengusap lembut punggung Naya, mencoba menenangkan ketakutan yang masih tersisa pada tubuhnya.

Naya mendongak, menatap wajah Lucio, lalu mengangkup pipinya dengan kedua tangan. “Kamu baik-baik saja?” suaranya lembut dan penuh kekhawatiran.

“Ya,” jawab Lucio sambil menggertakkan giginya. Ia merasakan tangan Naya yang gemetar memegang pipinya.

Di sekeliling mereka, polisi bergerak cepat, mencoba menahan dan meringkus Tuan Tuqman beserta anak buahnya. Suara sirine, langkah kaki, dan komando tegas memenuhi halaman, sementara Naya akhirnya bisa menarik napas lega di pelukan Lucio.

Tuan Tuqman dan anak buahnya tidak menyerah begitu saja. Begitu polisi bergerak untuk meringkus mereka, Tuan Tuqman melontarkan perintah cepat, dan beberapa anak buahnya langsung mengeluarkan senjata.

“Jangan sampai mereka membawa kita!” teriak Tuan Tuqman sambil menekan pelatuk pistolnya. Suara tembakan pecah membelah keheningan halaman, peluru menembus udara dengan dentuman keras.

Polisi segera menangkis dengan tembakan balik, menciptakan baku tembak yang menegangkan. Percikan api dan asap peluru memenuhi udara, membuat suasana kacau dan mencekam.

Di tengah kekacauan itu, Tuan Tuqman menatap Naya yang masih berada di dekat Lucio. Matanya berkilat dingin, dan dengan gerakan cepat, ia mengangkat pistol, mengarahkan larasnya ke arah Naya.

“Jangan bergerak, Nak!” teriaknya, penuh ancaman dan kemarahan.

Lucio merasakan jantungnya hampir berhenti. Refleks ia menahan Naya, menundukkan tubuhnya sedikit ke belakang, sementara tangannya mencoba menutupi Naya dari bidikan Tuan Tuqman.

Polisi yang melihat arah tembakan Tuan Tuqman segera bereaksi, menembak kembali dengan presisi.

“Apapun konsekuensinya, kamu harus mati malam ini.” kata Tuan Tuqman, dengan tatapan penuh kebencian. Satu peluru tersisa, lalu mengarahkan pistolnya ke pada Naya.

Suara letusan senjata menggema keras, dan Naya terhenti seketika, tubuhnya membeku ketakutan.

Namun sebelum peluru itu mengenai Naya, Lucio mendorongnya ke belakang dengan sekuat tenaga, menahan tubuh Naya di dadanya. Peluru itu menembus bahu Lucio. Lucio terhuyung, matanya melihat Naya yang menatapnya dengan panik.

“N-naya…!” Lucio berdesis sambil menahan rasa sakit, sementara darah mulai mengalir dari lukanya.

Polisi segera memanfaatkan momen itu, melumpuhkan anak buah Tuan Tuqman yang tersisa dan akhirnya meringkus Tuan Tuqman sendiri. Suara sirine polisi dan teriakan perintah membanjiri halaman, menandai berakhirnya ancaman langsung dari Tuan Tuqman.

Naya, dengan air mata mengalir deras, memeluk Lucio yang terguncang di dadanya. Suara tangisnya pecah, dan ia segera mengeluarkan ponsel.

“Ambulans… cepat! Suamiku… terluka, tolong segera ke alamat ini!” Naya berteriak sambil menekankan tombol panggil.

Lucio menggenggam tangan Naya dengan lemah, mencoba menenangkan dirinya. “N-naya… aku baik-baik saja… aku… hanya sedikit sakit…” bisiknya dengan suara parau.

Namun Naya tahu, ini serius. Ia terus menahan Lucio, menatapnya penuh cemas, sambil menunggu ambulans tiba untuk membawa pria itu ke rumah sakit secepat mungkin.

“Jangan menangis, ini bukan apa-apa.” Kata Lucio mencoba untuk duduk namun Naya menahannya dan terus memeluknya.

“Jangan banyak gerak,” bisik Naya.

Lima belas menit kemudian, sirine ambulans terdengar dari kejauhan Naya berlari mendekati pintu belakang, masih memeluk Lucio yang kini mulai kehilangan kesadaran perlahan. Darah menodai bajunya, dan napas Lucio terengah-engah, tapi tangannya tetap menggenggam erat tangan Naya.

Beberapa detik kemudian, pintu belakang ambulans terbuka, dan para paramedis segera keluar dengan tandu.

“Segera letakkan di sini, dan stabilkan pasien!” teriak salah seorang paramedis, sementara rekannya menyiapkan peralatan medis.

Naya menunduk, air mata mengalir di pipinya, namun tangannya tidak lepas dari tubuh Lucio. “Tolong… tolong dia… suamiku terluka parah!” suara Naya hampir pecah saat berbicara.

Hampir bersamaan dengan kedatangan ambulans, Mario melesat masuk dari halaman, wajahnya tegang dan penuh kecemasan. “Nona! Bagaimana keadaannya?” tanyanya sambil menoleh ke Naya.

“Dia terluka di bahu,” Naya hampir terengah menjelaskan.

Mario langsung membantu paramedis menempatkan Lucio ke atas tandu, menahan tubuh Lucio dengan hati-hati agar tidak menambah luka. Naya mengikuti dari samping, tak mau melepaskan genggaman tangannya.

“Bawa dia ke rumah sakit terdekat sekarang juga!” perintah Mario kepada sopir ambulans, suaranya panik sekali.

Ambulans melesat, lampu biru dan sirine menyala, meninggalkan halaman rumah. Naya duduk di bangku samping Lucio di ambulans, memegang tangannya, menatap wajah pria itu yang pucat dan kesakitan.

“Lucio, tolong bertahan, kamu harus baik-baik saja.” Naya berbisik. Mario duduk di dekat pintu, mengawasi dan sesekali memantau kondisi Lucio bersama paramedis.

Ambulans meluncur cepat menembus malam, membawa Lucio ke rumah sakit, sementara Naya terus menatapnya dengan mata yang basah oleh air mata dan hati yang dipenuhi kekhawatiran.

...***...

1
saptonah dppkad
Naya yg bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!