NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Musim gugur yang biasanya terasa romantis kini mendadak berubah menjadi kelabu bagi Aurora. Pagi itu, ia terbangun dengan perasaan yang teramat aneh di sekujur tubuhnya. Kepalanya terasa pening seperti dihantam benda tumpul, persendiannya lemas, dan entah mengapa, ia merasa jauh lebih mudah lelah dibandingkan hari-hari biasanya.

Aurora mendudukkan diri di tepi tempat tidur, memijat pelipisnya perlahan dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

"Mungkin aku cuma kurang tidur," gumam Aurora pada diri sendiri.

Ia mencoba rasional. Beberapa minggu terakhir ini jadwalnya memang luar biasa padat. Kuliah yang semakin menyita waktu, jam kerja paruh waktu di kafe yang menguras fisik, tumpukan tugas kampus, belum lagi waktu yang ia habiskan bersama Alexander. Tubuhnya mungkin hanya sedang melayangkan protes kecil.

"Aurora!" Teriak Lily dari luar kamar, menggedor pintu dengan panik. "Ayo cepat! Kita bisa telat masuk kelas!"

Aurora langsung tersentak bangkit. "Iya, Lily! Aku keluar sekarang!"

Dan seperti biasa, Aurora memilih untuk menepis rasa tidak nyaman itu jauh-jauh. Ia memaksakan langkah kakinya bergerak, mengabaikan sinyal bahaya yang mulai dikirimkan oleh tubuhnya.

---

Namun, keputusannya untuk abai berbuah petaka saat kelas berlangsung. Di tengah penjelasan dosen, rasa pusing itu kembali menyerang Aurora dengan intensitas yang lebih parah. Pandangannya mendadak mengabur. Tulisan di papan tulis putih di depan kelas mulai terlihat berbayang, berputar-putar hingga membuat kepalanya semakin berdenyut nyeri. Aurora meremas pulpennya kuat-kuat, mati-matian mempertahankan kesadarannya.

"Aurora?" bisik Lily lirih dari bangku sebelah.

Aurora menoleh patah-patah dengan sisa kesadaran yang menipis.

Lily membelalakkan matanya, raut wajahnya berubah cemas. "Kamu pucat banget, ra. Putih kayak kertas. Kamu sakit?"

Aurora memaksakan sebuah senyuman tipis agar sahabatnya itu tidak panik. "Aku baik-baik saja, Lily. Cuma agak pusing sedikit."

Lily mengangkat sebelah alisnya, jelas-jelas merasa tidak puas dengan jawaban itu. "Kamu yakin? Kalau nggak kuat, kita ke ruang kesehatan sekarang."

Aurora menggeleng cepat, meyakinkan. "Nggak usah, beneran aku nggak apa-apa."

Padahal, kenyataan yang terjadi di dalam tubuhnya justru berbanding terbalik.

---

Siang harinya, Aurora tetap memaksakan diri untuk datang bekerja di kafe. Meskipun langkah kakinya terasa semakin berat dan tubuhnya kian lunglai, ia menolak untuk mengambil izin sakit. Di dalam benaknya, setiap dolar yang ia hasilkan dari memeras keringat di kafe ini teramat sangat berharga untuk kelangsungan hidup dan tumpukan beban keluarganya.

Namun, kekuatan tekad Aurora ternyata tidak sebanding dengan kondisi fisiknya yang terus merosot. Saat ia sedang berjalan membawa nampan berisi pesanan pelanggan, pandangannya mendadak gelap seketika. Seluruh pasokan oksigen di sekitarnya seolah menguap.

Bruk!

Nampan di tangannya terlepas. Gelas-gelas kaca berisi minuman itu jatuh menghantam lantai, hancur berkeping-keping. Suara pecahan yang begitu nyaring seketika membuat seluruh atensi pengunjung kafe terpusat pada Aurora.

Aurora membeku di tempatnya berdiri, napasnya memburu berantakan. Jantungnya berdegup luar biasa kencang. Ia bukan takut karena akan dimarahi oleh sang manajer, melainkan karena ia menyadari satu hal mengerikan: beberapa detik yang lalu, ia benar-benar hampir kehilangan kesadarannya sepenuhnya.

"Hei, Aurora!" Manajer kafe langsung berlari menghampiri dengan raut wajah panik. "Kamu baik-baik saja? Ada yang luka?"

Aurora mengerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan kembali fokusnya yang berserakan. "I-iya, Pak. Saya baik-baik saja. Maaf, saya tidak sengaja menjatuhkannya."

Manajer itu menatap Aurora dari atas ke bawah dengan pandangan penuh keraguan. "Kamu terlihat sangat tidak sehat, Aurora. Wajahmu pucat sekali."

Melihat kondisi karyawannya yang mengkhawatirkan, sang manajer akhirnya mengizinkan Aurora untuk beristirahat sejenak di ruang belakang. Di saat Aurora sedang duduk menyandarkan kepalanya yang berdenyut di kursi, ponsel di dalam saku celananya mendadak bergetar.

Alexander Calling...

Aurora menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan intonasi suaranya sebelum menggeser layar ponsel ke tombol hijau. "Halo, Alex."

"Hei," suara Alexander terdengar begitu renyah dan ceria di seberang sana. "Aku baru saja selesai rapat direksi. Kamu lagi apa?"

Aurora mengulas senyum tipis, merasa sedikit tenang hanya dengan mendengar suara pria itu. "Baguslah. Aku lagi istirahat di kafe."

Namun, keceriaan di suara Alexander mendadak lenyap dalam sekejap. Keheningan sempat menjeda beberapa detik sebelum pria itu kembali bersuara. "Aurora."

"Hm? Kenapa, Alex?"

"Kenapa suaramu lemas sekali?" tanya Alexander dengan nada suara yang mendadak berubah berat dan penuh selidik.

Deg.

Aurora refleks memejamkan matanya rapat-rapat. Pria ini benar-benar memiliki kepekaan yang terlalu tinggi jika itu menyangkut dirinya. "Nggak apa-apa, Alex," bohong Aurora, mencoba terkekeh kecil agar terdengar meyakinkan. "Aku cuma agak capek saja karena tugas kuliah menumpuk."

Alexander terdengar sama sekali tidak yakin dengan alasan klise itu. "Kamu serius? Jangan berbohong padaku, Aurora Quinn."

Aurora menghela napas pendek, menekan rasa pening di kepalanya. "Iya, Alexander. Aku beneran cuma kecapekan. Nanti setelah pulang dan istirahat juga sembuh sendiri."

---

Setelah sambungan telepon berakhir, Aurora menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan lemas. Ia melayangkan tatapan kosong ke langit-langit ruangan. Ia sengaja berbohong karena sama sekali tidak ingin membebani Alexander dengan kekhawatiran yang tidak perlu. Ini pasti hanya kelelahan biasa akibat kurang beristirahat, batinnya mencoba menenangkan diri.

Namun, tebakan Aurora meleset total.

Malam harinya, Alexander tetap bersikeras datang berkunjung ke apartemen tempat tinggal Aurora. Pria itu datang dengan tangan penuh, membawakan kantong berisi makanan hangat favorit gadis itu.

Begitu pintu apartemen dibuka dan sosok Aurora menyambutnya, helaan napas berat langsung lolos dari bibir Alexander. Alisnya menukik tajam. "Kamu pucat sekali, Aurora."

Aurora rasanya ingin mengumpat dalam hati. Kenapa semua orang yang ia temui hari ini melontarkan kalimat yang persis sama?

"Aku baik-baik saja, Alex. Sudah minum air putih yang banyak juga tadi," elak Aurora sembari melangkah masuk, membiarkan Alexander menutup pintu.

Alexander menyipitkan matanya, menatap Aurora dengan pandangan mengintimidasi yang tajam. "Jangan berbohong. Aku bisa melihatnya dengan jelas."

Aurora memaksakan tawa kecil untuk mencairkan ketegangan di antara mereka. "Ih, siapa yang berbohong, sih? Aku beneran—"

Kalimat Aurora terputus di tengah jalan saat Alexander tiba-tiba melangkah lebar, memangkas jarak di antara mereka. Tanpa permisi, pria itu menempelkan punggung tangannya di atas dahi Aurora. Detik itu juga, guratan cemas langsung tercetak jelas di wajah tampan sang CEO.

"Kenapa badanmu panas begini?" tanya Alexander dengan nada menuntut yang tegas.

Aurora tertegun, mendadak kehilangan kata-kata. "Hah? Masa, sih? Perasaan biasa aja..."

Alexander menarik tangannya kembali, lalu menghela napas panjang sembari menatap Aurora lekat-lekat. Sifat protektifnya yang dominan kini keluar sepenuhnya.

"Besok kita ke rumah sakit."

Aurora langsung membelalakkan mata dan menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak perlu, Alex! Nggak usah berlebihan. Aku cuma butuh tidur malam ini."

"Kita tetap pergi ke rumah sakit, Aurora," potong Alexander dengan intonasi suara yang mutlak, tidak menerima bantahan apa pun.

"Alex, tolonglah... aku cuma kecapekan biasa," bujuk Aurora lagi, mencoba menawar.

"Aurora Quinn."

Alexander memanggil nama lengkapnya dengan nada suara yang sangat serius dan dalam. Aurora seketika bungkam. Jika Alexander sudah menggunakan intonasi dingin seperti itu, maka itu artinya segala bentuk perdebatan dan negosiasi telah resmi berakhir. Pria itu tidak akan pernah bisa digoyahkan.

"Besok pagi aku jemput. Kita ke rumah sakit. Titik," ulang Alexander menegaskan.

Aurora akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah, menurunkan bahunya yang tegang. "Baiklah... besok kita pergi."

Mendengar jawaban patuh itu, gurat tegas di wajah Alexander perlahan memudar, digantikan oleh senyuman tipis yang teramat lembut. Ia mengulurkan tangannya, mengusap pelan puncak kepala Aurora dengan penuh kasih sayang.

"Aku tidak suka melihatmu sakit seperti ini, Aurora. Itu membuatku tidak bisa fokus memikirkan hal lain."

Deg.

Dada Aurora seketika menghangat. Sentuhan dan perhatian tulus dari Alexander selalu berhasil mengalirkan rasa nyaman yang luar biasa ke dalam hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!