【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Mobil sedan hitam mewah itu berhenti dengan halus tepat di depan pekarangan rumah milik Pak Rahman. Begitu roda kendaraan benar-benar berhenti berputar, Tina langsung melepas sabuk pengamannya dengan gerakan yang teramat gugup. Jantungnya masih berdegup kencang akibat rentetan kejadian di sekolah PAUD tadi. Tanpa menunggu lama, ia segera membuka pintu mobil dan turun dengan sangat cepat, seolah-olah sedang diburu oleh waktu.
Andry yang berada di kursi kemudi ikut mematikan mesin mobilnya. Pria itu sudah memegang gagang pintu, berniat untuk ikut turun dan mengantarkan Tina hingga ke tangga depan rumah. Namun, melihat gelagat itu melalui pantulan kaca, Tina langsung berbalik dan menahannya.
"Eh, Andry... jangan ikut turun, Pak... eh, Andry," cegah Tina dengan nada sopan namun tersirat kepanikan yang jelas di wajahnya. "Cukup antar sampai di sini saja. Terima kasih banyak untuk tumpangannya dan makan siangnya."
Andry menatap Tina dengan senyuman maklum yang menghiasi wajah tampannya. Ia tahu gadis desa ini masih dilingkupi rasa canggung yang luar biasa. "Baiklah, Tina. Masuklah, sampaikan salamku untuk Abah dan Mama."
Tina hanya mengangguk cepat, lalu berbalik dan berjalan setengah berlari memasuki pagar pekarangan. Langkah kakinya yang terburu-buru itu tentu saja langsung mengundang perhatian. Di teras depan rumah batu tua itu, tampak Rika sedang duduk menimang Ali, sedangkan Lisa sedang asyik memotong sesuatu dengan gunting.
Kedua saudara kandung Tina itu kompak menghentikan aktivitas mereka. Mata mereka melebar sempurna, memandangi Tina yang berjalan cepat melewati mereka tanpa menyapa, bahkan terkesan mengabaikan keberadaan mereka di teras.
"Kak Tina? Kok pulangnya naik..." Ucapan Lisa menggantung di udara karena Tina sudah lebih dulu mendorong pintu kayu depan dan menyelinap masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
Sementara itu, Andry yang masih berada di dalam kabin mobil tersenyum tipis melihat tingkah menggemaskan Tina. Sebelum melajukan kembali kendaraannya, ia menurunkan kaca jendela mobilnya hingga tandas, lalu melongokkan kepalanya sedikit ke arah teras rumah batu tua tersebut. Dengan ramah, ia melambaikan tangannya ke arah Rika dan Lisa.
"Mari, Kak Rika, Lisa! Saya pamit dulu, Assalamu’alaikum!" seru Andry dengan suara baritonnya yang lantang dan sopan.
"Wa’alaikumussalam, Pak Andry!" sahut Rika dan Lisa kompak, ikut melambaikan tangan dengan senyuman lebar sampai mobil sedan hitam itu perlahan bergerak menjauh dari depan rumah mereka.
Begitu mobil Andry benar-benar sudah pergi dari pandangan, Lisa tidak bisa lagi menahan rasa penasaran yang sudah membakar dadanya sejak tadi. Gadis remaja itu langsung meletakkan guntingnya di lantai teras, bangkit berdiri, dan berlari kencang masuk ke dalam rumah. Ia langsung menuju kamar tidur yang ia tempati bersama Tina, mendapati kakaknya itu sedang duduk di tepi ranjang sembari mencoba menata napasnya yang memburu.
"Kak Tina!" seru Lisa sembari bersedekap di ambang pintu kamar. "Ayo mengaku! Kenapa Kakak bisa pulang berdua dengan Pak Andry? Naik mobil mewah lagi! Ada kejadian apa sampai-sampai kakak di antar sama pak Andry, hah?"
Tina yang sedang membuka jarum pentul jilbabnya tersentak. Wajahnya yang semula sudah mulai mendingin kini kembali merayap hangat. "Tidak ada apa-apa, Lisa. Tadi... tadi dia cuma mengantarkan berkas bantuan renovasi dari yayasan ke sekolah, terus kebetulan searah pulang."
Saat Lisa baru saja hendak membuka mulut untuk melancarkan interogasi berikutnya, sebuah teriakan khas seorang ibu terdengar nyaring memotong dari arah dapur belakang.
"Tina! kamu sudah pulang nak. Ayo sini makan dulu! Kamu kan belum makan pagi sama sekali saat pergi ke sekolah tadi!" teriak Bu Aminah sembari membawa sebuah piring berisi lauk ke meja makan tengah.
Tina sedikit melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar, lalu menyahut dengan keras. "Sudah, Ma! Tina sudah makan tadi di sekolah!"
Mendengar sahutan itu, mata Lisa langsung berbinar jenaka. Ia menyenggol lengan kakaknya dengan jahil. "Kakak makan di mana? Katanya tadi di sekolah cuma menyerahkan ijazah?"
"Sama... sama Andry di kantor sekolah tadi," jawab Tina lirih, mencoba menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah.
"Cie... cie!" seru Lisa seketika dengan nada memanjang, membuat Tina panik bukan main. "Jadi Kakak tadi lagi makan bersama dengan Pak Andry? Dan tunggu dulu... barusan Kakak panggil dia apa? Andry? Wah, jadi Kakak sudah enggak memanggilnya dengan sebutan 'Pak' lagi? Berarti Kakak sudah menerima lamarannya, ya? Dan juga tadi diantar sampai depan rumah lagi dengan selamat!"
"Lisa! Berisik, ih!" tegur Tina dengan panik, wajahnya benar-benar sudah sewarna buah tomat matang. Tanpa pikir panjang, ia langsung mendorong pundak adiknya dengan gemas agar keluar dari dalam kamar. "Sudah, keluar sana! Jangan mengganggu Kakak yang mau ganti baju!"
Lisa tertawa terpingkal-pingkal di luar kamar, merasa sangat puas karena telah berhasil menggoda kakak keduanya hingga mati kutu.
Beberapa saat kemudian, setelah berganti pakaian dengan daster rumahan yang longgar dan menyeka wajahnya dengan air segar, Tina melangkah keluar dari kamarnya. Suasana di dalam rumah batu tua itu tampak sepi, namun sayup-sayup suara tawa terdengar dari arah teras depan. Rupanya, semua orang rumah—termasuk Bu Aminah dan Pak Rahman—sedang berkumpul di teras menikmati angin siang yang sepoi-sepoi.
Tina melangkah keluar, berdiri di ambang pintu sembari memandangi tumpukan benda asing yang ada di lantai teras. "Lagi pada ngapain, sih? Ramai sekali."
"Oh, ini, Na... pesanan kain milik Kakak sudah datang dari kota," jawab Rika sembari menunjukkan segulung kain satin berwarna pastel yang tampak sangat halus.
Tina mendekat, dahinya berkerut memandangi tumpukan kain dan beberapa kotak kardus di sudut teras. "Kain? Kain-kain untuk apa sebanyak ini, Kak?"
Sebelum Rika sempat menjawab, Bu Aminah yang sedang duduk di kursi rotan tua menimpali dengan senyuman bangga. "Itu loh, Na... Kakakmu kan berencana mau membuka usaha dekorasi kecil-kecilan untuk acara haqiqa , lamaran atau nikahan di desa kita."
Tina mangut-mangut paham, ia tahu kalau Rika memang ingin buka usaha dekorasi tapi ia mengira itu semua hanya rencana saja apalagi uangnya habis di ambil sama fandi. "Kakak sudah beli kain sebanyak ini, terus apa lagi yang Kakak beli?"
"Itu, ada bunga-bunga dekorasi tiruan di dalam rumah, sudah dibongkar dan dirapikan sama Lisa tadi di ruang tengah," sahut Rika sembari tersenyum penuh arti ke arah Tina.
Lisa yang sejak tadi diam mendadak menyeletuk dengan wajah tanpa dosa. "Nanti, orang pertama yang harus pakai jasa dekorasi buatan Kak Rika ini adalah Kak Tina sendiri!"
Tina yang sedang merapikan ujung kain satin itu seketika membeku. Ia melotot ke arah adik bungsunya. "Lisa! Ngomong apaan sih, kamu!"
"Lho, kan emang benar kan, Ma? Iya kan, Kak Rika?" bela Lisa, mencari dukungan dari ibu dan kakaknya sembari menahan tawa. "Daripada bayar dekorasi orang kota yang mahal, mending pakai buatan Kak Rika sendiri."
Rika tertawa kecil, ikut mengompori suasana. "Iya, Na... rencananya kain-kain dan bunga ini mau aku pakai untuk pertama kali di acaramu nanti dengan Pak Andry. Sekalian untuk iklan gratis ke orang-orang desa kalau dekorasi kita ini bagus."
Wajah Tina kembali terasa terbakar. Tawa dan canda mereka yang tiada hentinya menggoda Tina baru terhenti saat sayup-sayup suara tangisan Ali terdengar memecah keheningan dari arah kamar dalam, membuat Rika buru-buru meletakkan kainnya dan masuk untuk menenangkan anaknya.
Malam pun tiba, membawa selimut kesunyian di atas atap rumah batu tua keluarga Pak Rahman. Jam di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan seisi rumah perlahan mulai mengistirahatkan tubuh mereka setelah seharian beraktivitas.
Di dalam kamar tidur yang temaram, Lisa sudah lebih dulu berbaring di atas kasur dengan posisi menyamping, menyelimuti tubuhnya hingga sebatas dada. Sementara itu, Tina baru saja selesai merapikan mukena dan sajadahnya setelah menunaikan shalat malam. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di samping sang adik, bersiap untuk memejamkan mata.
Namun, saat suasana kamar sudah benar-benar sunyi, Lisa yang tadinya dikira sudah terlelap tiba-tiba bersuara dengan nada berbisik.
"Kak..."
Tina mengembuskan napas pendek, matanya tetap terpejam. "Hmm... ada apa lagi, Lis? Sudah malam, ayo tidur."
Bukannya menuruti perintah kakaknya, Lisa justru bergerak membalikkan badannya, lalu bangun dan duduk di atas kasur sembari menatap Tina dengan mata yang berbinar di kegelapan. "Kak, apa yang aku ucapkan tempo hari... betul, kan?"
Tina terpaksa membuka sebelah matanya, menatap adiknya dengan sisa-sisa rasa kantuk.
"Tentang apa sih, Lisa? Tolong jangan mulai lagi."
Lisa mencondongkan tubuhnya ke depan, berbisik heboh. "Itu loh! Waktu Ibu Yuna selalu ngasih kamu sesuatu, aku kan pernah bilang ke Kakak... jangan-jangan Ibu Yuna itu diam-diam mau menjodohkan Kakak dengan keluarganya. Dan sekarang, lihat sendiri... semua yang Lisa bilang terbukti benar, kan?"
Tina yang mendengar kalimat itu langsung mendengus pasrah. Menyadari bahwa adiknya tidak akan berhenti mengoceh jika diladeni, Tina buru-buru menarik selimutnya tinggi hingga menutupi seluruh wajahnya, lalu membalikkan badannya memunggungi Lisa.
"Sudah, tidur sana! Jangan malah mau beralih profesi jadi peramal kamu malam-malam begini," sahut Tina dari balik selimut dengan suara yang diredam.
"Ih, Kakak... kan emang kenyataannya benar!" gerutu Lisa sembari mengerucutkan bibirnya, namun ia akhirnya kembali merebahkan tubuhnya di atas bantal dengan senyuman puas.
Di balik selimutnya, Tina tidak benar-benar tidur. Ia membuka matanya kembali, menatap dinding batu kamar mereka yang kokoh dalam kegelapan.
Sebuah senyuman tipis tanpa sadar terukir di bibirnya saat ia merenungkan perkataan Lisa.
Benar atau tidaknya tebakan adiknya itu, satu hal yang pasti: takdir Allah telah menuntun langkahnya menuju sebuah muara yang tidak pernah ia sangka sebelumnya, dan malam itu, di dalam rumah batu tua yang penuh kehangatan tersebut, Tina tidur dengan hati yang teramat lapang dan damai.